Sedikit Bercerita...

4.1.09

Kemarin beberapa orang (oke, tepatnya dua) nge sms aku yang isinya kurang lebih kayak gini:

“yaz, aku denger C mau jadian sama P ya? Kamu gak papa?”

Oke, aku ngaku waktu pertama kali aku dapet kabar itu aku langsung syok. Oh my god, i can’t believe that happened to me. Tapi aku kembali positif thinking. Lagipula, aku nggak terlalu nganggep dia serius. Maksudku, bukan hanya aku yang suka sama dia. Semua orang dan KAMI suka sama dia. Pipit, temen kos dan temen kampusku selalu beranggapan bahwa dia (P) adalah “cenceman”ku, bukan “gebetan”ku. And hell, yeah, kurang lebih reaksiku terlalu berlebih saat dia sms, dan aku selalu gugup waktu kita ngobrol. Tapi that’s all! Gak ada yang lebih dari itu. Bukannya itu reaksi yang wajar ketika berhadapan dengan orang yang (mungkin) kita anggap spesial?

Aku nggak pernah nganggep C sebagai cewek yang bisa dengan seenaknya pindah hati. Akupun harus mengakui inisiatifku ketika berada di pihaknya (walaupun aku tau aku nggak akan pernah berada di pihaknya, menjadi sudut pandangnya) mungkin akan melakukan hal yang sama. Tapi, masalah yang kuhadapi disini adalah masalah cinta. Masalah yang semua orang pasti pernah mengalaminya, masalah yang sebagian besar diantaranya tak dapat terpecahkan dengan logika dan akal pikiran manusia. Karena ini semua menyangkut perasaan. Dan aku hanya mengalami se-persekian bagian kecil dari bongkahan rasa itu.

”wah, kamu denger juga ya gosip itu. Hhahha biarin aja lah. We were born not for that kind of relationship...”

Itu sms balesan dariku. Agak lega juga waktu bisa nulis-nulis hal kayak gitu. Bisa melupakannya seperti perasaan air yang selalu kubuang saat mencuci. Sebegitu mudahnya kah? Mungkin saja iya. Karena, believe me, rasaku yang satu ini nggak menggebu.

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!