Simbol

27.12.09

Saya pusing. Benar-benar pusing. Rasanya berat banget buat nulis ini. Tapi saya juga nggak bisa mendem ini terus. Tulis di buku harian?? well, rasanya itu nggak cukup buat menggugah niat orang lain untuk baca dan menyelami pemikiran saya. Lagipula, siapa sih yang mau baca buku harian saya? Eh, ada deng. Beberapa teman SMP saya yang dengan kurang ajarnya membuka tas saya ketika pelajaran olahraga dan membaca diam-diam buku harian yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Tapi itu dulu, hampir enam tahun yang lalu.

Oke, sebenernya apa yang membuat saya ingin menumpahkannya disini adalah rasa kecewa saya. Kecewa terhadap sebagian kaum yang tentunya pernah kita temui. Memang sebelumnya saya pernah menduga bahwa mereka mompunyai motif dibalik sikap dan perlakuan mereka, tapi kemarin, tepatnya hari Rabu tanggal 23 Desember 2009 saya baru benar-benar yakin karena saya melihat itu semua dengan mata kepala saya sendiri. Kala itu pukul 4 lebih beberapa menit. Saya dan beberapa orang sepupu hendak menonton film Sang Pemimpi di XXI.

Yogyakarta. Merupakan kota yang sama sekali tidak bersahabat bagi siapapun yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Beruntunglah bagi mereka yang mempunyai sepeda, motor, ataupun mobil karena mereka bisa leluasa pergi ke tempat yang mereka mau dengan kendaraannya masing-masing. Baik nasibnya bagi orang yang mampu mengeluarkan puluhan ribu untuk menggunakan taksi demi mencapai tujuannya. Namun, bagi saya, untuk sekedar jalan-jalan dengan sepupu dan hanya menonton, saya lebih memilih untuk naik bis. Toh nggak terlalu jauh juga dari kos-kosan. walaupun saya harus pintar membagi waktu karena ketika pukul 5 sore bis sudah lagi tidak beroperasi.

Cerita dimulai ketika saya sudah didalam bis, memandang keluar jendela di lampu merah perempatan Kentungan. Saya melihat seorang ibu-ibu berjilbab yang usianya kurang lebih 40 tahun-an. Kalau tidak salah, beliau membawa bekas botol akua gelas (atau sejenisnya). Ya, beliau adalah seorang pengemis. Ibu itu tiba-tiba masuk kedalam bis. Saya kira mau mengamen, tapi ternyata tidak, dia malah duduk dan tiba-tiba dihampiri oleh kenek bis. Ibu itu lalu memberikan uang sejumlah dua ribu lima ratus. Oh, ibu itu baru pulang dari mencari nafkah. Pikir saya kala itu.

Walaupun tidak sebangku, tapi posisi ibu itu di sebelah saya. Jadi saya bisa melihat jelas apa yang diperbuatnya. Tiba-tiba saja dia melepas jilbabnya. Ya, DILEPAS. Jilbab itu lalu dimasukkannya kedalam tas kecil warna hitam yang dari tadi di selempangkan di bahunya.

Saya kaget.

Bahkan udara kala itu tidak panas (bukan alasan yang tepat untuk membuka jilbab DITEMPAT UMUM, memang). Bayangkan, jam empat sore.

Dan seketika saya langsung merasa malu.

Jadi, apa maksudnya??! Saya benar-benar nggak habis pikir kenapa ibu itu dengan gampangnya melepas jilbabnya di dalam bis?? apa jilbab yang dia kenakan hanya SEKEDAR PROPERTI untuk mengemis??!

Saya malu.

Sangat malu.

Menurut saya, selain kewajiban seluruh wanita muslim, jilbab merupakan suatu simbol, suatu identitas yang dimiliki wanita muslim. Keberadaannya menjadi penanda kepercayaan. Dan itu tidak bisa lepas begitu saja karena wanita berjilbab secara tidak langsung sudah mempunyai prinsip.

Dan saya pribadi merasa ibu-ibu itu menginjak harga diri saya. Saat itu saya benar-benar kesal!! Melebihi kekesalan saya terhadap semua wanita JIPON!! (JIPON=Jilbab Poni. Itu lho, orang-orang berjilbab tapi poninya tetep dilihatin!)

Oke, You may say im not perfect with my hijab at all. Iya, saya baru pakai jilbab dari SMA dan saya masih belajar untuk tetap teguh terhadap prinsip saya. Saya belum sempurna. Tapi yang perlu ditekankan disini adalah saya sadar bahwa selama ini saya membawa simbol. Ya, bukan perkataan ataupun tindakan. Melainkan simbol.

Katakanlah kalau ibu itu tidak ingin menggunakan jilbab, lantas, kenapa ketika mengemis ia harus menggunakannya??! Apakah dia pikir dengan menggunakan jilbab orang yang melihatnya langsung mengasihi dan lebih banyak memberikan uang untuk menyambung hidupnya?? Menurut saya, TIDAK. Dan apakah dia sadar kalau dia juga turut membawa simbol itu??!!



arrgh. Saya benar-benar kesal karena hanya ini yang bisa saya lakukan!!

You Might Also Like

2 comment(s)

  1. ini jadi masalah cuma karena di Indonesia. Di sini jilbab sudah tidak dipandang sebagai simbol islam.
    tapi simbol "orang baek" "sodara" karena baek dan sodara, jadi pliis help me.
    dengan jilbab dia ingin menyasar orang2 seperti anda ini. Yang muslim, lalu berpikir... ya ampun, saya harus membantu sesama muslim. dan lain sebagainya.
    So? kalau sudah paham kalau itu sebatas simbol. berhati-hatilah..

    *Coba kalo dia ngemis di Jepang? kagak ngaruh tu jilbab*
    hahaha

    ReplyDelete
  2. haha,
    iya juga mas. makasih udah sharing ya :D

    ReplyDelete

So, what do you think? Leave your comments below!