Hidup Itu Sinetron??

7.3.10

Now Playing: Simfoni Hitam by Sherina Munaf

Hi Readers!
(Buset dah gaya banget. dipikir blog saya ini ada yang baca?? hahaha)

Saya baru pulang dari pelantikan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (PSM UGM). Dan please, saya bukan penyanyinya, tapi PC. yup. Seorang Prodaction Crew. Ya nasib sih, audisi jadi penyanyi tapi gak diterima, yaudah ikut audisi jadi PC nya juga. Dan Alhamdulilah diterima! :D Walaupun capek dan menyita banyak waktu, tapi aku mulai enjoy. Apalagi kemaren (7/3) acara pelantikannya keren banget. Kelompok saya menang sebagai yel-yel terbaik dan kelompok terkompak! (banzaiii!!)

Ehm. Kayaknya makin lama makin gak nyambung sama judulnya. Oke, saya bukan mau nyeritain mengenai proses pelantikan PSM UGM yang seru (maybe later) tapi saya mau sedikit bercuap-cuap tentang sedikit percikan tentang kehidupan..

Kuliah di dunia komunikasi, khususnya bagi saya dan sahabat-sahabat saya, pasti tau benar apa itu sinetron. Gak usah dibahas dari sejarahnya karena itu bakal menyita banyak waktu dan tenaga. Tapi, yang mau saya tekankan disini adalah: Siapa sih yang nggak ngakuin kalau sinetron itu ceritanya terlalu dibuat-buat? Terlalu irasional untuk diterima akal pikiran, terlalu sadis buat diterima jadi kenyataan, terlalu monoton karena inti cerita dan teknik pengambilan gambarnya selalu sama, bahkan terlalu gila untuk diakui masyarakat karena, come on girls, emang bulu mata Shireen Sungkar, atau Alyssa Soebandono yang asli se nyentrik itu sampe melengkungnya nyentuh kelopak mata?? Nggak kan..

karena Itu cuma make-up.

Semuanya butuh dipoles supaya menjadi sempurna. I Mean, "semuanya". Wajahnya di poles sampe menor, soundtracknya juga dicari yang mendayu-dayu (biar pas sama ceritanya yang adegannya nangis dari pagi sampe malem), teknik pengambilan gambarnya yang "selalu" zooming dipoles supaya menghemat waktu, sampai dengan ceritanya.

Ceritanya dipoles sesuai dengan keinginan penonton untuk mendapatkan ending yang bahagia. Semua orang suka happy ending. Nggak peduli jalan ceritanya kayak gimana. Makanya kita yang nonton sinetron (come on, ngaku deh kalo pernah nonton sinetron) suka pengen terus ngikutin "season"nya nggak peduli berapa jumlah episodenya demi mendapatkan suatu kepuasan. Ya, apalaigi kalau bukan kepuasan happy ending. Kepuasaan disaat sang pangeran menunggang kuda putihnya menuju seorang wanita dari rakyat jelata, mengungkapkan cintanya, dan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Siapa yang nggak suka??

Well, begitu pula dengan hidup. Semuanya butuh "dipoles". Semua yang kita alami dan kita lakukan kadang diluar akal sehat kita. Karena itu, nggak jarang kita melakukan kesalahan dan langsung menambal kesalahan itu dengan bintik-bintik kecil kebaikan dan ribuan maaf. Bahkan bagi sebagian orang, "wajib" hukumnya untuk "memoles" kehidupan, pendirian, dan ucapan mereka demi menjaga suatu image.

Tapi, kehidupan memberikan tantangan yang lebih hebat dibandingkan sinetron. Konflik yang terjadi di dalam kehidupan ribuan kali lebih kompleks dibandingkan dengan konflik sinetron. Dan kita, sebagai pihak yang "sengaja" berada dalam kehidupan nyata terpaksa melaluinya satu persatu. kuncinya? Harus Sabar.

Selain itu, di kehidupan nyata, kita nggak bakalan nemuin kisah cinta antara pangeran berkuda putih dan perempuan rakyat jelata yang hidup bahagia selamanya. Saya rasa cerita itu hanya 1000 persen dongeng. Karena dalam kehidupan khususnya dalam permasalahan cinta, kita terlalu memikirkan banyak hal, terlalu menjaga perasaan banyak orang, dan terlalu banyak berharap.. dan hasil akhirnya? Nol. Nihil..

Di permasalahan itu, saya lebih suka berada di pihak sinetron. Pihak dimana ketika saya tidak suka permasalahan yang terjadi, saya tinggal tekan tombol delete.. ketika saya lelah menunggu "sesuatu" saya akan tekan ff.. ketika saya ingin mengulang kembali momen bahagia, tinggal pencet rewind.. ketika saya sedang ingin terus mendapatkan momen yang tepat dan indah, saya hanya perlu menekan tombol record..

Gampang kan?

maaf postingannya aneh karena saya lagi Galau. Hmm...

You Might Also Like

4 comment(s)

  1. suka tulisannya! :) hehehe

    ReplyDelete
  2. manungsa kuwi yo amung iso sawang sinawang, nanging ra bakal iso ngerti jeroning jiwa lan kalbu ....

    (Mbah Angga lagi mabuk iki, haha... )

    ReplyDelete

So, what do you think? Leave your comments below!