Fiksi Untuk Sebuah Malam

25.1.11

Yang sebenarnya saya butuhkan ketika 'ini' kembali terjadi adalah diam dan meresapi. Apa yang harus saya lakukan agar semuanya tak melebihi batas? Saat memejamkan mata dipenutup hari, saya selalu refleksi. Mengapa begini? Terjebak dan hampir jatuh untuk kedua kalinya. Ketegasan hilang ditutup rasa. Sungkan, enggan, dan menikmati. Kenapa saya menjadi seringan ini? dimana bantingan kuat yang memekakan telinga? 

Yang saya butuhkan hanyalah segelas air putih untuk pendamping obat. Bukan, bukan bantuan wafer cokelat yang dikunyah halus seperti kemarin malam.

Refleksi, refleksi, Diaz. Dua puluh-mu menanti. Siap menerkam dan menghantui. Apa yang telah kamu lakukan untuk perubahan??

Sahabatku, usai tawa ini, Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh. Pedihnya luka di dasar jurang kecewa. Dan kini sampailah, aku disini...
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku. Mencari teduhnya dalam mataku. Dan berbisik : "Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..."

Dan demi Tuhan, hanya itulah, yang Itu saja kuinginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,Tetapi...
Telah lama, kumenanti. Satu malam sunyi untuk kuakhiri. Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...

Untuk diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit. Menentang malam, tanpa bimbang lagi. Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."

Wahai tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

-Dewi Lestari, Curhat Buat Sahabat-

You Might Also Like

2 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!