#17 Lama-Lama Aku Bosan - THE CAMENERS

17.5.11

NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)
UPDATED! -- Berhubung beberapa waktu yang lalu blogger sempat error, jadi saya posting tulisan ke #13 dan #14 disini. Silakan mampir :)





"Jingga datang salam senyap
Ditelan malam ketika bulan menggumam
'Jangan, tunggu aku belum selesai menikmatinya,'
Tapi surya sudah tertata. Konstan. Tata Surya

Dalam sebuah perjalanan perasaanku mengambang
Seperti berjalan diatas bambu panjang
Gravitasi selalu mendekapku dengan tarikan vertikal
Yang membuatku terjungkal

Tak ada yang bisa dipegang
Apalagi untuk menjadi sandaran
Airmata terus kusembunyikan
Dibalik tegar dan keceriaan

Semua pergi saat dibutuhkan
Berdiam diri pun tak jua menghasilkan arti
Selain memberikan kesempatan bagi yang menghampiri
Membuka semua kunci-kunci

Jangan pernah lupa ketika surya mulai tenggelam
Selalu ada kejutan baru dari alam
Bukan ingkar menjelma hujan yang mengulum cerah
Tapi satu bulat bulan. Penuh.

Dan berterimakasihlah pada Bulan
Yang hadir indah menggantikan senja
Walau hanya meminjam cahaya surya
Tapi dia ada, dan nyata"

***

"Apa ini" tanya saya penasaran sambil memperhatikan puisi yang terdapat dalam buku tebal itu.

"Nenek moyangmu yang menulis ini. Setelah kunjungan spiritualnya ke Saturnus, beliau menulis ini," jelas Siluman Doraemon.

Mulutku ternganga. Saya masih tidak percaya.

Monster Panu yang melihat ekspresi kaget saya langsung mengeluarkan sebuah piringan hitam. "Puisi ini juga dibuat versi lagunya. Oleh nenekmu," Monster Panu lalu menuju pemutar piringan hitam dan memutar piringan hitam itu.

Lirik-lirik itu mengalun dalam suara indah. Suara jernih bernada. Bukan, jangan bayangkan suara The Cameners yang jelek sekali. Dan lagu-lagu itu terus berputar dalam otak saya. Indah, merdu, syahdu.


untuk bulan yang malam ini hadir terlalu indah. terimakasih :)

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!