#8 Inisial A

8.5.11


Membuka diary lama selalu membuatku ingin memutar  kenangan masa lalu. Ingatan dan rasa yang terangkum pada suaktu waktu, kadang membuatku rindu dan ingin bertemu. Rindu kamu, atlet renang kebanggaan SMA ku.

Aku ingat momen saat kelas kita bersebelahan dan kamu tersenyum setelah aku menerima salammu dari seorang teman yang ingin membantu. Sejak saat itu, aku selalu menghindari untuk lewat didepan kelasmu. Malu.

Aku ingat ketika kita sama-sama bolos mengikuti ceramah Jumat demi penggalan kalimat dan cerita tentang diri kita berdua. Waktu berhenti, sebuah kalimat “Boleh kenal, namaku A....” menjadi saksi hari-hari kita yang tak lagi sama. Lebih ceria!

Tiba-tiba aku ingin membaca tumpukan komik Shaman King yang sekarang mungin berdebu di dalam lemari komik di rumahku. Aku ingat kamu. Saat malu-malu mengembalikan Shaman King sambil berjalan pulang beriring. Katamu, kamu ingin pinjam lagi. Katamu, kamu suka ceritanya. Katamu, terimakasih karena aku telah meminjamkannya kepadamu. Sama-sama, atletku. Sama-sama.

Kenangan didalam kenangan berputar lagi dalam benakku. Kembali ketika masa MOS, dimana rambutku harus dikuncir tiga, berpita putih, dan memakai seragam putih-biru yang lipatan roknya makin meninggi, menolak adaptasi badanku yang menjulang. Kala itu aku dihukum senior untuk nyanyi berkeliling di semua kelas sepuluh. Termaksuk kelasmu. Wajahku merah padam. Semoga kamu tidak ingat kalau itu aku, yang disoraki senior tengil hanya karena ketahuan membawa satu jilid komik Doraemon.

Aku selalu benci naik ke kelas sebelas dan dua belas, karena kelasku terletak jauh dari kelasmu. Entah ada benang merah apa antara jalak kelas dan jarak hubungan kita yang sama-sama menjauh.

Terakhirkali kuingat, kita sama-sama duduk di kelas duabelas. Jam masih menunjukan pukul 10.30 siang. Istirahat pertama telah usai. Aku berjalan dari kantin menuju kelas, dan melihatmu berjalan tergesa-gesa keluar sekolah. Saat itu ingin rasanya aku berteriak memanggil namamu lantang dan mempertanyakan keberadaanmu, kondisimu, Shaman King-mu... Tapi aku terlalu malu untuk meneriaki namamu diantara gerombolan teman perempuanku. Padahal aku tahu, kamu hendak pergi ke kolam renang untuk membela SMA kita.

Apa sekarang kamu masih pandai berenang?

Apa sekarang kamu makin tinggi?

Apa sekarang kamu masih ingin baca Shaman King?


Untuk A: Semoga kamu baca! J

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!