Paruh Waktu

8.1.12


"Sebelum part time ini biasanya kamu ngapain, Yas?"

Pertanyaan itu terlontar dari atasan saya kala saya sedang serius meng-input beberapa majalah yang baru datang di kantor.

Saya diam sejenak.

"Maksudnya, mbak?" tanya saya yang masih agak nggak ngerti sama pertanyaannya.

"Ya... sebelum kamu gabung disini biasanya kegiatan kamu ngapain aja?"

"Hm.. Ya paling tidur mbak. Habis kuliah juga tinggal sembilan SKS, skripsi juga belum jalan mbak. Paling di kosan, baca buku, tidur, baca lagi, nonton film, trus tidur.. Pernah tuh, mbak, waktu itu aku seharian nggak keluar rumah. dari jam enam pagi sampai jam enam sore kerjaannya di atas kasur. Baca, tidur, nonton. Hahaha.."

"Iya yo, malahan enakan kerja kayak gini, dek, waktu kosongnya keisi. Kadang yo aku pas kuliah dulu pas tingkat akhir yo bingung mau ngapain aja di kosan." Sahut salah satu atasan saya yang lain dengan logat Jawanya yang kental.

Saya hanya bisa tersenyum sambil kembali menatap layar komputer tempat saya menginput sejumlah majalah tadi. Kedua atasan saya itu masih asyik bercerita tentang kegiatan-kegiatan semasa kuliahnya sementara saya sulit untuk kembali berkonsentrasi menatap layar. Disini, konsentrasi adalah kepentingan tingkat satu setelah ketelitian. Jika salah menginput nanti satu toko buku ini yang kena imbasnya.

Pikiran saya melayang diantara puluhan faktur konsinyasi. Apa yang saya lakukan sebelum part time ini?

Entahlah. Kini saya membayar setiap desah dalam tidur siang sebelumnya dengan kerutan di depan layar komputer. Lima jam per hari. Senin sampai sabtu. Konsinyasi dan kredit. Retur dan mutasi.

Belum genap sebulan, saya sudah belajar banyak dari tempat mungil ini. Saya melihat langsung wajah dan ekspresi orang keempat (bahkan kelima, atau keenam) dalam pendistribusian buku-buku yang kini sedang kamu pegang. Saya menandatangani kertas 3ply favorit saya setiap sore. Dan berhadapan dengan mesin fax setiap hari.

Hidup saya pun mulai teratur. (Berusaha) Bangun pagi, mandi dan browsing alakadarnya, madi, menuju kantor, pulang, tidur. Jika ada beberapa hal lain yang harus saya lakukan, maka saya akan menyocokan dulu dengan jawal. Mulai jam berapa, selesai jam berapa, membicarakan apa, pergi kemana, dengan siapa, butuh biaya berapa. Jadwal ketat, mengikat, dan padat.

Satu dua tiga masalah kadang mampir dan kembali menyapa. Wajar kan karena masalah selalu menjadi teman lama setiap orang. Marah, kesal, dan cacian tak jarang terlontar dari hati ataupun mulut (kadang sih kalau berani :p) tapi toh saya masih menikmatinya hingga kini.

Salah satu teman kerja saya pernah bertanya, "Buat apa kamu kerja disini?"

"Cari pengalaman lah.." jawab saya alakadarnya sambil membereskan tumpukan buku yang berantakan karena terlalu sering di obrak-abrik oleh pengunjung.

Dia tertawa. Matanya yang sipit makin hilang dibalik semburat garis lengkung itu. "Aneh kamu. Kalau cari pengalaman ya bukan disini tempatnya. Disini itu tempat ngisi waktu luang. Namanya aja part-time. Kalau mau cari pengalaman, ya sana kerjalah di Even Organizer. Sesuai juga kan sama jurusan kamu? Bukan disini tempatnya."

Kala itu saya berpikir. Hm... benar juga ya. Tapi sebagai pembelaan (yang mana pembelaan terhadap diri sendiri sangat di-kurang-sukai-oleh-si-pacar) saya hanya bisa menjawab, "Nggak juga. Lagian aku suka buku kok."

Saya lalu berlalu meninggalkan si teman dengan hutang jam magang untuk tugas akhirnya yang amat ia benci. Mungkin juga toko ini. Hawa toko hari itu dingin sekali. Di luar toko hujan deras, dan sama sekali tidak ada bau tanah tersiram air hujan. Hidung saya disesaki aroma buku. Saya suka.

Salah satu teman lain yang amat sangat mirip Erros so7 pernah bercerita, "Waktu masuk sini, aku sama sekali belum nyentuh skripsiku. Tapi aku berusaha disiplin waktu. Aku kebut, dan empat bulan kemudian skripsiku selesai tanpa pernah harus meninggalkan toko ini." Ungkapnya setelah selesai membantu salah satu customer yang mencari bukunya Pram.

"Wah, asik, aku ada temennya. Aku juga bingung sama skripsiku. Nggak ada kemajuan. Aku lemah kalau disuruh menganalisis. Tema dan rencana sih banyak..."

"Ya kamu harus berkomitmen sama kuliah dan pekerjaanmu. Kuncinya cuma konsisten." Perkataan itu menampar saya. Saya harus berguru banyak sama Mas Erros ini.

Satu teman lagi dari NTT yang juga menginspirasi saya. Logat timurnya yang kental selalu mengundang gelak satu kantor apabila dia pamit pulang dengan menggunakan bahasa Jawa. Keingintahuan tentang setan-setan yang 'populer' di tanah Jawa selalu menarik baginya yang tidak pernah tahu satu pun legenda tentang hantu dari pulaunya. Dia jadi orang yang paling heboh ketika mengetahui ada penampakan di kantor dan menjadi orang yang paling antusias ketika mengingat sinetron yang dimainkan oleh Poppy Bunga.

Padanya, saya pernah bertanya, "Kapan rencana kamu keluar dari toko ini?"

Jawabnya singkat dan sederhana. "Saya belum tahu, mungkin kalau saya sudah capek? Pokoknya sekarang saya jalani dulu."

***

Resolusi, resolusi, mengapa selalu diusung ketika langit malam tanggal satu penuh dengan warna-warni kembang api? Tak bisakah ia menunggu hingga semua yang dibutuhkan tercukupi sehingga manusia dapat berjalan menyongsongnya penuh percaya diri tanpa pernah takut jatuh?

Mungkin tidak, karena setiap manusia tidak akan pernah tahu kapan dirinya akan benar-benar siap. Manusia tidak akan pernah tahu kapan waktu yang tepat untuk memulai dan kapan waktu yang tepat untuk berhenti. Sebagian dari mereka yang tahu adalah mereka yang pernah jatuh, dan tetap bertahan untuk bangkit lagi.

Awal tahun baru ini saya diberikan teman, pekerjaan, pendidikan, dan kejadian yang penuh inspirasi. Semoga semua yang saya korbankan ini mendapat hasil yang memuaskan nanti. Mungin resolusi saya hanya satu: membuat jadwal padat dan ketat untuk terus dilaksanakan. Selamat tahun 2012.


Perpustakaan dan 'kantor' pribadi impian ketika saya punya rumah sendiri nanti. :)




Buat mamah dan bapak yang memperkenalkan saya pada buku dan kerja keras. Terima kasih.

You Might Also Like

2 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!