9.4.12


Anggap saja ini tulisan balasan yang dibuat untuk menarik ujung-ujung bibir kamu menjadi senyuman. Itu lebih baik daripada menyatukan kedua alis tebal kamu yang mungkin selalu kamu lakukan ketika membuka blog ini. Jadi, jangan pernah bilang lagi kalau aku terlalu banyak menulis untuk yang dulu ya :)

Asal kamu tahu, tulisan ini sudah lama berdebu di sudut folder draft. Banyak suara bimbang yang tiba-tiba datang di pikiranku tentang mengubah semua yang aku rasakan tentangmu menjadi tulisan. Aku benar-benar harus berpikir berulang kali. Itu karena aku akan menulis tentang kamu, dan hal-hal yang tentunya telah kamu pahami tanpa perlu aku jelaskan lagi. Tidak ada yang dapat memahami dirimu dengan baik selain dirimu sendiri, bukan?

Tapi di pagi yang terlalu dini ini, aku memutuskan untuk mengubahmu dalam sedikit bentuk kata. Meminjam sedikit saja sosokmu yang baru berusia genap sembilan bulan untuk kembali aku cerna. Sebagian.
Siap-siap ya :P

Suatu siang aku pernah bertanya padamu tentang kehidupan dan reinkarnasi. Kamu membantah dengan keras kalau reinkarnasi itu ada, dan mencibirku karena pernah percaya dengan konsep itu. Maka aku padamkan pernyataan bahwa aku merasa pernah mengenalmu sebelumnya. Betapa keberadaanmu tak pernah ditolak semua inderaku. Betapa kamu selalu mendapat ruang di kehidupanku. Betapa kamu selalu penuh dalam pikiranku.

Lain hari, aku sedang tersulut emosi. Kamu adalah cermin dalam banyak aspek yang aku lakukan, termaksuk yang satu ini. Tak jarang kita sama-sama terbakar dan terlalu enggan menceburkan diri dalam kolam sejuk bertahtakan kesabaran. Kita sama-sama belum pernah cukup puas bermain kembang api.

Tau nggak sih kalau kamu itu hebat? Kemanapun kamu pergi, kamu selalu menemukan jalan dan ingat kemana harus pulang. Berjalan denganmu, aku bisa saja menutup mata dan percaya saja pada panduanmu. Tapi aku lebih memilih untuk lebar-lebar membuka mata, menikmati perjalanan sambil bernyanyi bersama-sama. Aspal berkabut asap knalpot mendadak menjadi panggung terindah untuk konser mini kita.

Terima kasih ya, Komandan, sudah membuatku tersenyum, marah, tertawa, nangis dengan sebab yang jelas. Aku percaya semua hal yang terjadi selalu dimaksudkan untuk sesuatu, kita dimaksudkan untuk sesuatu. :)



Salam fangki dari kepala suku Beruk Bojongkenyot \m/
Diaz Cantik.

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!