Baca Majalah Apa?

7.5.12

Source
Entah kenapa hari ini rasanya saya pengen ke Gramedia. Pengen berada di himpitan rak-rak buku besar yang menggoda untuk dibuka segelnya. Ingin membaca keseluruhan sinopsis novel-novel yang saya taksir covernya. Iya, intinya cuma pengen dapet atmosfernya aja kok, karena apapun bukunya, belinya kan di togamas (<-- mantan karyawan, #eh :p)

Setelah menjelajah kesana-kemari dan puas baca sedikit buku yang segelnya terbuka, saya kemudian terdampar di rak majalah. Ini awal bulan, besok awal minggu. Artinya, sudah waktunya saya membeli majalah karena saya baru dapat uang mingguan.

Mengkonsumsi majalah tiap bulan itu hukumnya wajib bagi saya. Entah majalah pinjaman, download-an, ataupun majalah yang saya beli sendiri. Ada kesenangan tersendiri saat baca majalah. Tapi sebenarnya dari beberapa minggu kebelakang ini saya dibuat bingung dengan jenis majalah apa yang harus saya konsumsi. Simpel aja sih alesannya, usia saya 21 yang artinya saya sudah memasuki tahap "remaja expired". Biasanya tiap bulan saya rutin beli majalah GoGirl, tapi ya karena alasan "remaja expired" tadi, rasanya ada sesuatu yang hilang ketika saya membaca majalah tersebut.

Kembali ke beberapa tahun silam, masa SMP, adalah masa-masanya gaul bagi saya. Kala itu saya berlangganan majalah Gadis, walaupun sesekali selingkuh dengan KaWanku. Saat itu, saya yang tergila-gila dengan Hilary Duff dan Simple Plan selalu teriak histeris kalau menemukan sepercik artikel atau foto-foto terbaru tentang mereka. Kalau saya sedang berantem-beranteman sama teman se geng juga saya tinggal membuka rubrik friendship dan membaca habis semua artikelnya. Nggak sesimpel itu sih, tapi setidaknya masalah saya sedikit terurai. Ya, masa-masa itu membuat saya menemukan majalah yang tepat. Eh, tunggu, atau malah majalah itu yang menemukan saya di masa-masa yang tepat?

Lanjut ke masa SMA, yaitu masa-masa redup, dimana saya menayadari kalau saya sengaja salah jurusan karena saya masih belum tahu mau ambil kuliah jurusan apa. Di masa SMA ini kegiatan saya disibukan dengan membaca komik dan menonton serial Amerika seperti Heroes dan Smallville. Kegiatan membaca majalah sempat terhenti karena orang tua saya berhenti mengalokasikan sebagian anggaran rumah tangga untuk membelikan saya majalah (opo to bahasane ki --___--). Pelarian saya ya saat itu hanya dua, baca komik dan nonton serial. Majalah hanya sesekali saya beli ketika saya sudah menyisihkan uang untuk beli komik dan kepingan dvd. Itupun belinya majalah bekas. Kalo dipikir-pikir lagi kok kasian banget ya saya ini... Tapi tiap bulan teuteup sih, saya rutin pinjem Animonster-nya teman saya. Yoi, anime, manga, japan, yu rok! \m/

Balik lagi ke 2012, majalah apa yang harus saya beli? setelah muter-muter ngeliatin majalah yang ada di Gramedia saya tertarik sama tiga majalah ini: Chic, Horizon, dan Martha Stewart Living. Chic, tagline-nya magazine for career girl. Career? hemmm.. mungkin minggu depan, kalau jadi, baru bisa dibilang career girl :p. Tapi kenapa ya ngerasa juga masih ada yang hilang pas sekilas baca majalah ini. Momen yang belum saya rasakan, atau artikel yang tidak saya mengerti? Entahlah.. Lalu Horizon, majalah sastra yang dari dulu bikin saya penasaran pengen baca, dan dari dulu bikin saya nggak jadi-jadi terus belinya. Entahlah, isinya bagus tapi mungkin dalemnya kurang colorful (ya iyalaaah, mau ngarep apa emang dalemnya? Ngebahas tentang fashion? :p)... Martha Stewart Living, belum pernah baca sebelumnya karena nggak pernah nemu majalah ini yang tanpa segel. Tapi saya pernah baca majalah ini versi baratnya yang edisi khusus pernikahan. BAGUS gilak, ngasih info tentang cara bikin sesuatu. Tapi entahlah yang versi Indonesianya ini.

Lain hal, beberapa minggu yang lalu saya iseng mampir ke Periplus dan menemukan majalah ini, Frankie. Tampilannya ciamik, unik, dan segelnya kedip-kedip minta di robek. Tapi apa daya harganya mahal gilak, 185ribu. Sama sekali belum oke buat kantong mahasiswa kayak saya. Setelah gelundungan googling sana-sini ternyata itu adalah majalah dari Australia. Pantes aja yak mahal. Tapi pengen banget sayaaa... masih penasaran sampe sekarang.

Well, intinya adalah saya masih bingung dengan majalah apa yang harus saya konsumsi. Teh Intan pernah bertanya di sela-sela obrolan soal skripsinya yang mengangkat tentang majalah, sebenarnya apa sih yang dicari perempuan ketika dia membaca majalah -which is, fashion? Apa hanya membaca artikelnya tanpa melihat-lihat foto-foto, atau melihat-lihat fotonya untuk mendapatkan tren terbaru tanpa membaca artikelnya? Kalau saya sih, termaksuk jenis pembaca yang pertama. I'm not into fashion. Kalu ngeliat foto-foto model dengan baju yang pas, paling saya cuma begumam, "lucuk!" sambil ngebayang-bayangin kalau badan saya se kerempeng si model (hehehe ;p) Mungkin hal itulah yang membuat sensasi hilang ketika saya baca majalah sekarang. Majalah perempuan, nggak jauh dari tren fashion, dimana saya agak sungkan untuk bergabung di dalamnya. Entahlah, ternyata milih baca majalah aja bisa bikin bingung kayak gini...




Terimakasih buat Dimas yang nganter ke Gramedia, muter-muter bacain buku satu-satu, ikut milihin majalah (Men's Health, grrr --____--), dan diusir dari Gramedia karena udah mau tutup. Ma'aciihhh :D

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!