Kritik Menggelitik

27.5.12

Rasanya kayak digelitik tapir yang lagi ngamuk di ragunan.

Saya geli banget baca tulisan di notes facebook seseorang yang nggak saya kenal. Ia mengkritik kalau beberapa buku yang ia temukan di toko buku atau perpustakaan "hanyalah sampah yang tak layak dibaca, yang beruntung dipungut penerbit" (yang saya kasih tanda kutip itu asli saya copy dari notes-nya.)

Geram? Iya.

Apa patokan dia menilai buku-buku tersebut? Bukankah seorang pembaca, sama dengan penulis, berhak untuk masuk dan turut meliarkan imajinasinya dalam membaca setiap buku? Buku apa yang ia anggap sebagai "sampah" itu? Harus berkriteria seperti apa emangnya buku yang layak terbit dan layak masuk di perpustakaan itu?

Membaca adalah kegiatan yang lahir dari sebuah proses. Proses kebiasaan ataupun dibiasakan. Bagi saya, saya tidak bisa membaca buku bila dipaksakan. Saya mulai baca buku ketika saya kecil, dengan buku-buku ringan yang cocok untuk usia saya. Buku-buku ringan sesuai dengan usia saya itulah yang kemudian mengantar saya ke jenjang cangkupan buku-buku yang lebih luas lagi. Dan begitu seterusnya.

Saya adalah penggemar berat buku berjenis teenlit. Semua buku teenlit saya lahap, saya kumpulkan uang jajan untuk melengkapi koleksi teenlit. Saya datangi teman-teman yang punya banyak koleksi buku teenlit untuk saya teror pinjam. Hingga suatu hari, salah seorang teman bilang untuk apa membaca buku seperti itu? Nggak ada gunanya. Nggak ada isinya.

Geram? Iya.

Saat itu saya nggak bisa membantah selain tetap tutup telinga dan terus melanjutkan kegiatan membaca saya. Toh saya ini yang baca, bukan dia. Saya hanya bisa bergumam dalam hati, tulisan yang kalian sebut nggak berguna itu, apa kalian bisa menulisnya? Apa kalian bisa menghasilkan karya seperti itu? Lama berselang, saya kemudian menemukan tulisan salah satu penulis favorit saya, Dyan Nuranindya yang ini dan saya seperti merasakan kegelisahan yang sama.

Pada akhirnya, frame of references dan field of experience-lah yang sedikit banyak berpengaruh dalam kegiatan membaca. Benar kata Dyan, perlahan, saya mulai meninggalkan rak teenlit ketika berkunjung ke toko buku. Saya baca buku lebih banyak lagi untuk menemukan apa yang sedang saya cari. Saya mencari pijakan lain untuk mulai melangkah lebih jauh.

Bukankah pijakan diperlukan untuk memulai sesuatu hal?

Kenapa harus membatasi buku apa yang mana yang harus berada di toko buku dan perpustakaan? Apa kriteria seseorang untuk menuduh suatu buku layak terbit atau tidak jika ia tidak tahu separuh populasi lain ternyata membutuhkan buku tersebut? Kenapa mesti menyalahkan daya tarik twitter dan facebook sebagai media untuk berpromosi? Kenapa tutup mata dengan kemajuan teknologi? Kenapa tidak mulai berkenalan dengan liteasi media jika tidak ingin terjangkit "virus" kemajuan teknologi? Kenapa oh kenapa *mendadak dangdutan*


Pada akhirnya, menurut saya tidak ada buku yang lebih bagus atau lebih jelek. Waktu yang pas akan lebih bersinkronisasi dengan buku yang sedang dibaca. Tapi membaca lebih banyak itu lebih baik daripada tidak membaca sama sekali.

Salam manis untuk penulis notes,
-d-

You Might Also Like

2 comment(s)

  1. Setuju Iaz, setuju banget. Secara pribadi aku melihat nggak ada ceritanya membaca itu 'useles'. Secara sadar ato nggak pola berpikir, kemampuan menulis, pengetahuan umum sekecil apapun mesti bakal kita tangkep dari membaca. Yang jelas useless itu ya orang yang gak suka baca (apalagi ngata-ngatain orang yang baca).

    ReplyDelete

So, what do you think? Leave your comments below!