#1 Overflowing Memories

15.5.13


Source

Sella masih meringkuk di bawah selimut. Temperatur ruangan kamarnya bersuhu 18 celcius padahal sinar matahari di luar sudah berada tepat di atas kepala. Terima kasih pada kotak pendingin ruangan yang membuat Sella betah meringkuk tertutup selimut di sekujur tubuhnya. 

Entah untuk berapa lama Sella bersembunyi di bawah selimutnya. Matanya menerawang jauh, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Kenapa? Selalu itu tanyanya.
 
Tes.
 
Bantal yang dipakai Sella sudah basah oleh airmata sejak sembilan jam yang lalu, ketika Sella pertamakali membuka mata dari tidurnya yang tidak nyenyak. Sella tak peduli lagi dengan rencana hari ini yang hancur berantakan akibat ketidakmampuannya untuk beranjak dari tempat tidur. Ia benar-benar tidak peduli sebelum perutnya bunyi keroncongan. Lalu ia mulai ingat, perutnya belum diisi apa-apa sejak siang kemarin.
 
Perlahan, Sella menyibak selimut yang menutupi wajahnya. Sinar matahari yang memaksa masuk dari celah gorden yang sedikit terbuka membuat mata Sella mengerjap. Pukul berapa ini? Tanyanya dalam hati.
 
Sella lalu duduk di pinggir kasur. Kakinya menginjak lantai kayu yang dingin. Tak jauh dari kakinya, tergeletak sebuah jaket jeans milik Armand.
 
Armand. Lelaki itu. Sella berlagak tak acuh dengan keberadaan jaket itu. Ia lalu melaluinya untuk menuju dapur.
 
Wussh. Uap dingin menyergap muka Sella ketika ia membuka kulkas. Tidak banyak isi kulkasnya. Sederet kotak susu UHT yang beberapa tutupnya sudah terbuka, sebotol kecil cola yang isinya hanya tinggal setengah, sisa spagethi yang belum habis dimakan... Brak! Sella menutup kulkas dengan keras.
 
Ia lalu beralih ke meja makan, membuka toples roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang. Sebenarnya Sella benci selai kacang, tapi hanya itu pilihannya. Selai cokelat kesukaannya habis ia cemili kemarin pagi sambil menonton televisi berdua dengan Armand.
 
Ya, Armand. Lelaki itu. Semua ruangan dalam rumah ini mengingatkannya pada Armand. Lantai kayu cokelat tua yang Armand pilih, karpet putih tulang di ruang televisi yang Armand beli sebagai buah tangan dari India, minuman cola yang baru diminum setengah dan ditinggalkan Armand di kulkas, jaket jeans yang tergeletak begitu saja di lantai kamar... Semuanya khas Armand.
 
Drrrrrtt...
 
Ponsel Sella bergetar, suara meja kayu bergema. Suasana rumahnya yang sepi siang itu membuat getar ponsel Sella terdengar sampai dapur. Bergegas, Sella lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya: Dinda.
 
“Ya?”

“Sella, lo baik-baik aja? Dimana sekarang? Dari tadi di telepon nggak diangkat...” ujar Dinda dari ujung telepon terdengar gelisah.

“Sori. Gue di rumah...”

“Gue kesana ya?” Suara Dinda makin terdengar cemas.

“Nggak usah...” Sella duduk di pinggir kasur. Tangan kanannya memegang kening, menahan kepalanya yang semakin berat dengan pikiran-pikirannya yang menerawang kembali ke kejadian tadi malam.

“Duh.. Apa kita keluar? Lo pasti lagi nggak mau di rumah kan? Gue jemput ya? Kita ke Motsach, ngobrol... Ya?” pinta Dinda sedikit memelas.
 
Sella memijit-mijit pelipisnya yang berdenyut. Matanya terpejam, bayangan semalam datang lagi. Saat itulah ia tahu kalau ia butuh kafein. “Nggak usah, gue ke Motsach sendiri aja. Ketemu disana, ya?”
 
“Lo kuat nyetir sendiri?”
 
Sella membuka matanya dan menghela napas, berharap bayangan kejadian selamam yang kembali datang bisa sedikit ikut hilang dalam hembusan napasnya. Tapi tidak. Bayangan itu tetap ada.
 
“Kuat. Ketemu disana 30 menit lagi. Gue langsung berangkat.”
 
“Oke. Pelan-pelan aja nyetirnya, Sell..”
 
“Ya...”
 
Telepon lalu terputus.
 
Sella berjalan menuju wastafel dan menatap bayangan dirinya di cermin. Ia tidak kenal sosok dalam cermin itu. Matanya sembab, merah, dan pipinya membentuk jalur guratan disana-sini akibat lipatan seprai bantal. Bergegas, Sella lalu menggosok gigi dan menyuci mukanya. Ia lalu berjalan kembali ke kamar tidur dan memutuskan untuk tidak usah berganti pakaian. Celana tidur panjang dan kaos wisata bali yang sudah lusuh. Toh ia bukan mau bertemu bosnya di kantor dan presentasi tentang rencana pemasaran...
 
Tinggal tiga langkah keluar kamar, Sella lalu berhenti. Ia memejamkan matanya seolah berperang dengan pemikirannya sendiri. Tak lama, ia lalu berbalik, mengambil jaket jeans Armand yang masih tergeletak dan memakainya.
 
Jaket itu tampak kebesaran. Dua kali lipat ukuran tubuh Sella. Aroma Armand yang menempel di jaket itu langsung merebak memenuhi rongga hidung Sella. Ia rindu kehadiran Armand...
 
Mata Sella mulai memerah. Penglihatannya kabur oleh airmata yang kini menjadi bendungan di pelupuk matanya. Sebelum menetes dan kembali larut dalam kesedihan, Sella berlari kearah garasi, mengambil kunci mobil, dan lalu melajukan Jazz birunya.
 
Stater pertamanya disambut oleh lagu yang bergema melalui radio di speaker mobilnya
 
“Strong enough to leave you
But weak enough to need you
Cared enough to let you walk away
I took that dirty jacket
From the trash right where you left it...”
[1...]

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!