#10 When It Rains

24.5.13

Photo by Me.

Hujan tidak pernah selebat hari ini. Guntur menggelegar bersahutan tanpa henti, bulir air hujan bagai kerikil yang menghujam genting-genting, angin dingin berhembus dengan kekuatan yang mampu membalikkan payung setiap orang yang berani keluar rumah. Semeseta seperti berkonspirasi untuk membuatmu tetap berada di dalam ruangan. Atau, semesta sedang merefleksikan perasaanmu yang sedang kacau berantakan.

***

Sella tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia seperti berada di raga yang salah. Selalu melamun dan makin banyak menyendiri. Sella yang dikenal cerewet dan gemar memberikan ide-ide cemerlang untuk perusahaannya kini dikenal sebagi seorang yang pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya melamun dibandingkan dengan mengobrol saat waktu istirahat tiba. Pun ketika ia di rumah. Rutinitasnya sehari-hari hanya menonton tv ditemani semangkuk mie instan atau cup noodle panas. Matanya menatap tv namun pandangannya kosong, entah menerawang kemana. Ia tak peduli lagi  tentang kesehatan tubuhnya, pemikiran teman-teman kantor tentang dirinya... ia tak lagi peduli dengan Dinda maupun Armand yang sudah ratusan kali meninggalkan panggilan tak terjawab dan pesan singkat di ponselnya. Ia benar-benar tidak peduli.

Dinda menaruh kembali ponselnya di meja ketika lagi-lagi teleponnya hanya dijawab oleh suara mesin  operator. Sudah dua bulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Sella. Artinya, sudah dua bulan juga Dinda tidak berbicara dengan Sella. Segala upaya sudah ia tempuh: menghubungi semua nomer teleponnya, menanyakan kabarnya pada teman-temannya, hingga men-stalking akun media sosialnya. Hasilnya Nihil. Sella seperti hilang di telan bumi. Setelah berfirasat bahwa Sella sudah mengetahui semuanya, nyali Dinda mendadak ciut. Ia tidak berani bertemu Sella. Apalagi kini dengan perutnya yang semakin membesar.

Ketika bercermin, Armand selalu menatap bayangan dirinya sambil bergumam dalam hati: Ini adalah wajah lelaki pengecut. Sebagai pemimpin di perusahaannya sendiri, Armand merupakan sosok lelaki yang nyaris sempurna: tampan, berdedikasi tinggi pada pekerjaan, dan pernah mempunyai kehidupan yang sempurna. Ya, pernah. Sepertinya semua orang menganggapnya begitu. Betapa ia beruntung dapat bersama dengan seseorang seperti Sella, betapa hidupnya dulu sudah sempurna... Yang selalu membuat kening Armand berkerut, mengapa mereka semua tidak pernah tanya alasannya? Mereka tidak pernah tahu, ada rasa yang perlahan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan konstan yang mengubah cintanya menjadi hambar, ada sosok yang menjadi muara arus cintanya ketika bahkan seseorang yang berjanji untuk sehidup semati tidak lagi ia kenali. Ada banyak alasan yang tidak pernah diketahui. Karena, ya, ia terlalu pengecut.



[6...]


Baca cerita sebelumnya disini.

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!