#4 Fidélité

18.5.13

Source


Paris, Desember 1991.

Pagi ini Paris diselimuti es sisa hujan salju semalam. Sejauh mata memandang, semuanya tampak putih. Dari genting-genting rumah, pohon, lampu jalanan, hingga atap mobil. Salju-salju itu juga menutupi seluruh halaman rumah di Perumahan Boîtier. Terlihat mobil-mobil pengeruk salju di jalan sedang beroperasi, diikuti beberapa petugas yang juga mengeruk tumpukan salju dengan sekop. 

Suhu udara pagi ini minus sepuluh derajat celcius, kata pembawa acara perkiraan cuaca pagi ini di televisi. Troyes Haegen merapatkan jaketnya, menaik resletingnya sampai ke batas dagu. Ia lalu mengganti sandal rumahnya dengan sepatu boot. Ia hendak keluar rumah ketika Ibunya keluar dari kamar tidur.

"Pour l'amour de Dieu (demi Tuhan), Troyes! Ini baru pukul setengah tujuh! Kau mau kemana?"

"Maman!" jawab Haegen sedikit kaget. "Pagi ini aku berencana membuat roti cokelat, tapi semua bahan habis. Aku bermaksud membelinya ke pasar."

Madame Fllaurance menggeleng sambil merapatkan sweaternya. "Pagi ini bersalju. Berangkatlah agak siang ketika udara sedikit hangat."

"Tapi aku ingin membuatnya sekarang, Maman. Aku baru mendapatkan resep dan ingin segera mempraktekannya."

Madame Fllaurance hanya bisa menggeleng. Tidak ada yang bisa mengalahkan keinginan anaknya untuk memasak, bahkan salju! Ia lalu berjalan masuk ke kamarnya dan kembali dengan syal dan topi rajut berwarna hijau lumut peninggalan almarhum suaminya. "Pakailah ini." Ujarnya sambil melilitkan syal dan topi rajut bergantian. Belum cukup, ia juga menutup resleting jaket Haegan sampai resletingnya tidak bisa ditarik kemana-mana lagi.

"Maman... aku pergi dulu." Haegen melepaskan diri dari Madame Fllaurance yang sekarang hendak mengambilkan satu jaket lagi untuknya. Satu jaket saja cukup, Maman. Cuaca memang dingin, tapi aku tidak mau tampak seperti badut diluar sana. Batin Haegen

Madame Fllaurance mengantar anaknya sampai pintu keluar. "Mon cher fils (anakku), jangan pergi terlalu lama."

"Oui, Maman" Haegen mengangguk. Ia lalu membuka pintu dan berjalan keluar. Madame Fllaurance menatap anak semata wayangnya itu dari jendela. Anak lelakinya kini telah beranjak dewasa.



Paris, Desember 1995

"Joyeux anniversaire (selamat ulang tahun), Maman!" Haegen berjalan keluar dari dapur rumahnya sambil membawa seloyang kue coklat buatannya sendiri.

Madam Fllaurance yang kini berusia 65 tahun tampak kaget sekaligus senang dengan kejutan yang dibuat anaknya tersebut. Terdapat beberapa lilin kurus berwarna-warni tertancap diatas kue itu. "Ayo tiup lilinnya, Maman!" Seru Haegen tak sabar.

Madame Fllaurance mengikuti perintah anaknya dengan senang hati. Ia merasa haru sekaligus bahagia. Haru karena di usianya yang ke-65 ia masih diberi kesempatan untuk menikmati hari bersama anak lelaki yang dicintainya --walaupun suaminya telah pergi dalam keabadian lebih dari lima tahun yang lalu, dan bahagia karena anak lelaki semata wayangnya mampu menjaganya hingga detik ini.

"Ini..." Claura menyodorkan piring kecil, pisau, dan garpu pada Haegen.

Ini juga yang membuatku bahagia. Batin Madame Fllaurance sambil memandang Claura, menantunya.

Haegen dan Claura menikah setahun yang lalu. Walaupun kondisi keuangan mereka sangat memungkinkan untuk menyewa apartemen dan hidup di pusat kota berkat bisnis cafe Haegen yang sukses besar, namun mereka memutuskan untuk tetap tinggal bersama Madam Fllaurance.

"Kue pertama ini selalu untukmu, mon cher fils." Madame Fllaurance memberikan suapan pertama kue cokelat itu pada Haegen.

"Merci, Maman..." Haegen mengecup pipi ibunya. Mereka lalu makan kue cokelat itu bersama-sama.

"Kau tahu kalau kue ini adalah kue favoritku dibandingkan dengan kue-kuemu yang lain, Troyes" ujar Madame Fllaurance sambil menikmati piring keduanya.

"Oui, Maman." Haegen tersenyum bangga. Usaha kerasnya memadu berbagai jenis bumbu seperti cengkeh, kayu manis, bubuk vanili, sirup hazelnut, dan beragam tepung --seperti tepung ketan, terbayar sudah oleh ucapan Madame Fllaurance. "Apakah Maman ingat kalau resep kue ini aku ciptakan empat tahun yang lalu, ketika Maman hendak melarangku untuk membeli beberapa bumbu dapur. Hahaha.. kalau saja saat itu Maman melarangku, pasti kue ini tidak akan pernah ada."

Madame Fllaurance berusaha mengingat-ingat kejadian empat tahun yang lalu. Kejadian pagi yang bersalju itu. Ya, hari itu Haegan menciptakan kue Mort Par Le Chocolat, Death by Chocolate, kue yang sedang mereka nikmati ini. Ia lalu tersenyum. Bangga dengan hasil karya anaknya.

"Kau tidak ke cafe hari ini?" tanya Madame Fllaurance.

Haegan menggeleng. "Pas (tidak), Maman. Hari ini cafe libur."

"Lho, kenapa?" tanya Maman.

Haegan melirik istrinya, "Libur karena hari ini Maman ulang tahun. Hari ini aku dan Claura akan mengajak Maman jalan-jalan."

Madame Fllaurance tersenyum senang. Ini adalah hari terbaiknya!



Paris, Januari 2000

Musim dingin tahun ini terasa sangat buruk. Selain hawa dinginnya yang merajam tulang, di musim dingin ini Haegan kehilangan Madame Fllaurance. Komplikasi penyakit yang dideritanya membuat ibu satu anak itu harus menyerah pada penyakitnya sendiri.

Rumput makam Madame Fllaurance masih basah. Baru empat jam setelah jasad Madame Fllaurance dikebumikan namun Haegan masih enggan pulang. Padahal para pelayat sudah pulang dari tadi. Yang ada tinggal Haegan, berdiri di depan nisan Ibunya, dan Claura dan Agatha --anak pertama mereka, yang menunggu di mobil.

"Pulang?" Claura menepuk bahu Haegan dari belakang sambil membawakannya payung. Salju sudah mulai turun. Haegan mengangguk dan mengikuti instruksi istrinya untuk menuju mobil.

"Apa rencana kita setelah ini?" tanya Claura ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.

Haegan tampak berpikir sejenak. Ia lalu menggeleng. "Menurutmu?"

Claura memandang Agatha yang sedang tertidur pulas di jok belakang. Ia lalu mulai menyalakan mobil dan melajukannya pelan. "Entahlah, kau tahu aku benci musim dingin, ingin rasanya tinggal di negara tropis dimana kita akan melalui natal tanpa salju. Hahaha.. kalau memungkinkan. Bagaimana menurutmu?"

Claura melirik suaminya. Haegan sedang menatap keluar jendela, mengamati barisan pohon-pohon yang seolah berlari cepat menyaingi kecepatan mobilnya. "Entahlah, idemu terdengar sedikit gila tapi layak untuk dicoba. Paris selalu mengingatkanku akan Maman..."

***

Pemandangan 8th Arrondissement Street di malam hari selalu tampak indah. Di sisi kanan-kiri sepanjang jalan terbentang bangunan-bangunan gedung dengan arsitektur yang klasik. Warna bangunan yang didominasi oleh warna kuning keemasan, dibantu oleh lampu pencahayaan jalanan yang juga berwarna kuning redup niscaya mampu menawan mata siapa saja yang memandangnya. Belum lagi hiasan lampu kerlap-kerlip kecil yang sengaja dipasang merayap, meliuk-liuk menyambung antara satu gedung dan gedung lainnya sebagai peringatan ulang tahun kota.

Cafe Haegan berada di salah satu gedung tersebut. Hari ini cafe-nya tutup lebih awal. Pukul 20.00 waktu setempat, Haegan sudah berjalan pulang menelusuri 8th Arrodissement Street bersama Claura.

"Kabar apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Claura.

Haegan tersenyum jahil. "Coba tebak?"

Sebenarnya Claura sedikit kesal. Ia paling tidak suka jika pertanyaan yang ia lontarkan dijawab oleh pertanyaan lain. Ia hanya bisa menggeleng. Haegan tertawa melihat polah istrinya.

"Baiklah, ma princesse (puteriku), sepertinya aku akan mengabulkan permintaanmu untuk pindah ke negara tropis."

Claura membelalak tak percaya. "Vous plaisantez?! (apakah kamu bercanda?)"

Haegan menggeleng. "Non, chérie (tidak sayangku)."

"Lalu bagaimana bisnis cafe kita disini?"

"Monsieur Pierre bisa kurekrut menjadi kepala toko. Lalu kira rintis ulang cafe ini di negara tropis itu."

Claura masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lalu, kemana kita akan pindah?"

"Je ne sais Pas Encore. Peut-etre Indonésie? (Aku belum tahu. Mungkin Indonesia?)"



[1...]

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!