#6 Now You Know

20.5.13


Lelaki Bermata Hazelnut itu menatap perempuan yang duduk di depannya. “Sejak kapan kau sampai disini?” tanyanya.

“Baru saja. Kau terlalu sibuk dengan bacaanmu.” Ucap si perempuan sambil mengambil majalah si lelaki dan membolak-baliknya. “Kapan kau berangkat?”

“Lusa. Mau ikut?” jawabnya bercanda.

Si perempuan hanya bisa tertawa sambil menggeleng. “Jadi aku harus meninggalkan tunanganku disini sendirian?”

Si Lelaki Bermata Hazelnut tertawa. “Ayolah, masih banyak tempat yang harus kau lihat, masih banyak pantai yang belum kau kunjungi, masih banyak lagu yang belum kau dengar sebagai backsound obrolan kita nanti..”

Si perempuan hanya bisa tertawa. “Kau terlalu banyak baca novel roman.”

Ia lalu menggeleng, berdiri berbalik arah, dan meninggalkan si Lelaki Bermata Hazelnut itu bertiga dengan espresso dan majalahnya. Si Lelaki Bermata Hazelnut mengambil majalahnya. Ia mencoba membaca namun pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya yang sedang duduk di cafe itu. Pikirannya melayang, berkelana sambil menangkap momen istimewa beberapa menit yang lalu. 

Baju yang dipakai oleh si perempuan hanya sebuah kaos hitam dipadu dengan rok yang jatuh lurus sampai ujung dengkulnya. Setelan yang sering ia gunakan selama bertahun-tahun pertemanan mereka, namun terasa berbeda. Rambutnya juga seperti biasanya, berponi lurus menutupi alisnya yang tidak begitu tebal, rambut belakangnya dibiarkan tergerai sementara sejumput rambut di kanan-kirinya diikat ke belakang. Tatanan rambut seperti biasanya, namun terasa berbeda. Senyumnya, tawanya, celotehannya, tetap sama seperti biasanya, namun terasa berbeda. Ia tampak lebih cantik hari ini.

Lelaki Bermata Hazelnut itu merekam gambaran si perempuan baik-baik. Besok dirinya akan meninggalkan negara ini. Mungkin tidak akan pernah kembali.

***

Bandara Internasional Tân Sơn Nhất tampak ramai sore itu. Sejauh mata memandang, tampak turis-turis beransel tinggi yang berlalu lalang. Perempuan itu berlari, terus berlari sampai ia tidak lagi merasakan napas dan degup jantungnya. Ia harus terus berlari.

“Permisi... maaf... permisi...” si perempuang berulangkali menabrak turis-turis itu. Namun ia tetap berlari.
Itu dia. Batinnya ketika melihat papan “Pemberangkatan Luar Negeri”. Perempuan itu bersandar di salah satu pilar bandara. Napasnya tersengal-sengal namun pandangannya tetap tajam memandang sekeliling mencari seseorang yang ia kenal, lelaki dengan warna mata hazelnut.

Semuanya terasa begitu kilat. Rasanya baru tadi ia sedang asyik berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan sebelum salah satu temannya keceplosan memberitahu bahwa si Lelaki Bermata Hazelnut itu sebenarnya akan berangkat keliling Asean dengan penerbangan malam ini, bukan malam besok. Secepat kilat, si perempuan langsung meninggalkan teman-temannya dan memicu mobilnya ke bandara ini. 

Nihil. Umpatnya dalam hati. Si Perempuan belum melihat sosok lelaku bermata Hazelnut itu. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, ia harus terus mencari sebelum semuanya terlambat.

Tak lama, pandangannya tertuju pada sosok lelaki tinggi dengan tas carier berwarna biru. Sosok itu mencuri perhatiannya. Ia sedang memberikan passpornya pada penjaga pintu. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum ia masuk ke ruang tunggu yang tidak bisa dimasuki siapapun kecuali yang mempunyai tiket. Perlahan, si perempuan berjalan mengikuti lelaki itu untuk memastikan. Itu dia. Batinnya

“Travng! Travng!” Panggil si perempuan. Sosok itu kemudian berbalik ke arahnya. Benar, si Lelaki Bermata Hazelnut sedang menatapnya kaget

Si perempuan lalu lari menghampiri lelaki itu dan langung memeluknya. Lelaki itu mundur beberapa langkah akibat sergapan si perempuan.

“Jess?” tanyanya kaget.

“Kau pembohong! Pembohong!” seru si perempuan sambil mencubit pinggang Travng.

Jess lalu melepaskan pelukannya. Matanya sudah basah oleh airmata, begitu pula kaos putih Travng.

“Kenapa kau membohongiku?” tanya Jess marah sambil menatap lekat-lekat mata Travng. Mata paling indah yang pernah ia lihat.

Travang kehilangan kata-kata. “A..aku memang tak pernah berencana memberitahumu.”

“Kenapa?”

Dan untuk kata tanya itu, Travng hanya bisa diam membeku. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya namun matanya mengisyaratkan banyak hal. Perasaan. Perasaan yang selalu ia pendam pada perempuan itu. Ia hanya bisa terdiam sambil menatap mata hitam Jess.

“Jangan pergi...” isaknya. Tangannya menggapai ransel besar Travng, menariknya. Sedetikpun ia tidak ingin melepas ransel itu. “Jangan pergi... Aku... aku...”

Kata-kata Jess terputus. Travng memeluknya. Tangan kanannya memegang bahu Jess yang bergetar hebat, sedangkan tangan kirinya mengelus rambut hitam Jess sekedar untuk menenangkannya. Airmata kini makin membanjiri pipi Jess, juga kaus Travng. “Jangan lanjutkan kata-katanya..”

"Kau bahkan tak menunggu sampai minggu depan untuk pergi meninggalkanku?”

Travng melepaskan pelukannya perlahan. Tentu saja. Minggu depan. Pernikahannya... 

Ia menggelang. “Ini adalah hadiah pernikahan untukmu, dariku...”

Travng menghapus airmata Jess yang kembali menetes. Ia menatapnya selama tiga setik sebelum membalikan badan dan beranjak dari tempatnya berdiri. Ia melangkahkan kaki menuju pintu pemberangkatan.

Jess mengejarnya beberapa langkah, “Lalu kapan kau kembali?”

Travng berhenti tapi tidak membelikan badannya. “Akan kukirimi kau kartu pos sebelum aku kembali kesini!” katanya sambil melambaikan tangan. Bahkan kali ini ia tidak punya kekuatan untuk menatap mata Jess.

Jess masih terisak, melihat lelaki yang diam-diam ia sayangi sejak bertahun-tahun yang lalu pergi menghilang di balik pintu.

Travng masih terpaku, mengubur keberaniannya untuk mengungkapkan rasa sayang yang ia pendam dari bertahun-tahun yang lalu. Ini buah dari sikap pengecutmu, Travng. Makinya dalam hati.

Dan malam itu, saat pesawat tinggal landas, Travng bertekad kalau ia juga turut meninggalkan kenangannya di Vietnam. Menyimpannya jadi satum dan menutup rapat-rapat luka itu di sudut hatinya.
 

[2...]
 
 
baca cerita sebelumnya disini

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!