Japan Stories: Persiapan Traveling ke Jepang

5.6.15


Salah satu rumah cantik di Tottori

Di akhir bulan Mei 2015 ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi JEPANG. Ya, JEPANG. Negeri sakura itu. Hehehe.. Excited banget, karena sebagai manga holic, saya punya mimpi untuk mengunjungi Jepang suatu saat nanti. Dan, cita cita itu sudah terpenuhi! :D

Berbagai persiapan saya lakukan sebelum berangkat ke Jepang. Banyak deh, mulai dari hal kelihatan sampai hal nggak kelihatan (dalam kasus ini, bukan hantu ya), dari hal yang paling simpel sampe yang paling ribet. 

Nah, dalam riset persiapan sebelum ke Jepang, internet amat sangat membantu saya memberikan referensi. Maka dari itu saya ingin membagi pengalaman saya. Tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa postingan. Tapi, di postingan kali ini saya hanya akan berfokus pada persiapan apa saja yang dibutuhkan sebelum berangkat ke Jepang. Jika ada yang ingin ditanyakan, monggo tinggalkan komentar anda di kolom komentar di bawah postingan ini. Atau, jika kamu sudah pernah ke Jepang dan ingin menambahkan satu dua hal, tuliskan juga dalam komen ya, nanti akan saya tambahkan :)

So, inilah hal hal yang perlu dipersiapkan sebelum traveling ke Jepang versi on the spot Diaz Lovato



1. TIKET PESAWAT


Ini yang paling penting. Kamu harus punya tiket untuk pergi ke Jepang karena Jepang nggak bisa dicapai dengan berjalan kaki (please yaz, stop being jayus). Hehe, tapi bener lho, tiket juga harus direncanakan secara matang dan berkesinambungan (ehm). Saya sudah mempersiapkan tiket sejak September 2014, alias delapan bulan sebelum keberangkatan. Karena teman saya sudah setahun lebih dulu beli tiket ke Jepang (dari tahun 2013) dan diundur keberangkatannya karena satu dan lain hal, saya yang nimbrung dalam trip ini, langsung cus menyesuaikan dengan tiket yang telah mereka beli. Tiket PP (pulang pergi) yang saya pegang adalah Jakarta-Kuala Lumpur-Haneda, Haneda-Kuala Lumpur-Jakarta.

Biasanya, rute favorit traveler adalah berangkat dari Tokyo dan Pulang dari Osaka, atau sebaliknya. Tapi tiket yang saya pegang dua-duanya dari dan pulang di Tokyo. Kami sih ndak mempermasalahkan karena kami berencana untuk membeli JR Pass (akan diceritakan di poin berikutnya). Tapi the choice is yours :)

Kami memilih maskapai Air Asia. Kenapa? Karena budget kami yang terbatas. Hahahaha. Harganya? Nggak murah-murah banget dan nggak mahal-mahal amat. Saya baca review dan bertanya ke teman-teman yang pernah ke Jepang, ada beberapa yang dapat tiket lebih murah, ada juga yang dapat lebih mahal. Buat saya, itu gak penting-penting amat. Prinsip saya, liburan atau traveling adalah pengalaman yang nggak bisa disandingkan dengan nilai mata uang. Uang masih bisa dicari bro, tapi kesempatan nggak datang dua kali. Maka buat kamu yang ingin dapat tiket murah, rajin-rajinlah pantengin situs maskapai penerbangan. Siapa tau kamu hoki dan dapat tiket murah. Hihihi… Kalau saya, belum pernah sih dapat tiket yang murah banget. Mungkin nongkrongnya kurang lama. HIhihi ^^


2. CUTI


The Team
Setelah tiket di tangan, tantangan selanjutnya adalah cuti. Bagi budak perusahaan media macam saya, cuti adalah barang yang sulit didapat. Apalagi cuti dalam jangka waktu yang panjang. Prosesnya, nggak sekedar ngiderin tanda-tangan dan ngasih surat ke HRD trus dapet libur. Nggak tweeps, nggak segampang itu *nangis bercucuran air mata*

Maka dari itu, saya harus atur strategi: nggak boleh ambil cuti lain selain untuk pergi ke Jepang. Sebenarnya jatah cuti saya kala itu masih banyak: 14 hari. Tapi demi perjalanan 8 hari ke Jepang, nggak saya sentuh sama sekali tuh cuti :’) Disaat temen-temen yang lain pada ambil cuti seminggu untuk pulang ke rumah, liburan sama keluarga, saya tetep di kantor, terjun ke lapangan, dan liputan. *elus dada* *dada ayam kfc*

Trik lainnya: ajukan cuti jauh-jauh hari. Sehari setelah beli tiket ke Jepang, saya langsung cerita sama produser saya saat itu kalau saya mau cuti tahun depan untuk ke Jepang. Alhamdulillah, saya punya produser yang amat sangat suportif, baik hati, dan tidak sombong :D *dadah-dadah ke Mas Adrian dan Mas Firza* Saya diizinkan untuk cuti dan disarankan untuk mengajukan cuti jauh hari sebelumnya. Maka, untuk menghindari hal-hal tak terduga, izin cuti saya sudah di ACC sejak awal Januari 2015 :’)


3. E-PASSPOR


foto diambil dari website kantor imigrasi

Buat yang belum tau (tapi pasti udah pada tau sih) sekarang Warga Negara Indonesia bisa bebas Visa ke Jepang! Yippiee! Eits, ada syaratnya tapi, kalian harus memiliki e-passport. Apa itu e-passport? E-passport adalah passport yang di cover depannya diselipkan chip, yang berisikan data kita. Mengurus e-passport gampang kok. Tinggal datang ke kantor Imigrasi yang telah ditunjuk: di seluruh kantor imigrasi Jakarta,  Kantor Imigrasi Surabaya, dan Kantor Imigrasi Batam (nggak harus sesuai dengan tempat tinggal kita di KTP kok. Contoh: KTP saya Sukabumi, saya ngurus E-passport di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan).

Kamu tinggal datang pagi-pagi buta ke kantor imigrasi terdekat (yep, kritik saya buat kantor pemerintahan: walaupun sudah berbaiskan website/online, tapi kita harus tetap datang ke kantor imigrasi PAGI-PAGI), mengisi formulir yang sudah disediakan, serahkan passport lama kamu (kalau sudah pernah punya), foto, dan voila, jadi deh. Jangan lupa, siapkan biaya Rp.355.000 untuk pembuatan E-Passport yang dibayarkan setelah pengambilan foto. Selain itu, nggak dipungut biaya sama sekali :). Untuk pengalaman dan info lebih lanjut, bisa dibaca di blognya Mbak Trinity atau langsung mengunjungi website Kantor Imigrasi.

Perlu diingat, kuota E-passport ini amat terbatas. Saran saya, registrasi online dulu di web imigrasi sebelum mengajukan E-Passport. Tapi kemarin saya nggak bisa registrasi di web. Katanya sudah over load. Dalam sehari kantor imigrasi di Jakarta hanya boleh mengeluarkan 100 E-Passport. Jadi be prepared ya!


4. VISA


Kuitansi Yang Diberikasn Setelah Berkas Visa Diserahkan
(Diambil dari Path Dwi :D)
 Buat yang nggak niat bikin E-Passport, kalian juga bisa mengurus visa kok. Ada cerita lucu. Jadi, setelah E-Passport saya jadi di awal 2015, saya membantu sahabat saya, Dwi, yang juga ikut trip ini membuat Visa. Kenapa Dwi memutuskan untuk buat Visa? Karena E-Passport gak jelas. Yep, sebulan sebelum berangkat, tepatnya tanggal 17 April, dari jam setengah enam kita udah stand by di kantor imigrasi Jakarta Selatan. Memang sebelumnya di website kantor Imigrasi dikatakan kalau blanko untuk E-Passport habis. Tapi, ada update kalau per tanggal 17 E-Passport sudah kembali tersedia.

Nyatanya? E-Passport masih belum ada. Saya sempat telepon Kepala Imigrasi Jakarta Selatan tapi gak ada respon. Beruntung, Kepala Imigrasi Jakarta Utara menjawab telepon saya dan menjelaskan memang masih ada kendala dalam pembuatan E-Passport. Beliau menyarankan kami untuk menggunakan passport biasa dan mengurus visa. :’)

Jadilah kami banting stir menuju Kedutaan Besar Jepang di daerah Sudirman, Jakarta Selatan, setelah sebelumnya kami mempersiapkan persyaratan mengurus visa. Cukup mudah kok syaratnya, bisa dibaca disini :)

Sesampainya di Kantor Kedutaan Besar Jepang, birokrasinya mantap. Serba tertib, teratur, dan rapi. Jepang banget deh. :) Dulu banyak yang bilang kalau ngurus visa itu menakutkan dan banyak syaratnya. Tapi pengalaman saya nganter Dwi kemarin, bikin visa gampang-gampang aja kok. Asalkan syaratnya dipenuhui semua, langsung deh kami disuruh bayar sekitar Rp.320.000 dan diberitahu kalau visa sudah bisa diambil pekan depan :)


5. JAPAN RAIL PASS (JR PASS)

Penampakan JR Pass dan Reserved Ticket
Percaya deh, rute kereta di Jepang tidak sepelik kisah cinta kalian :’). Yep, kami memutuskan menggunakan kereta sebagai sarana transportasi selama di Jepang. Kenapa? Karena jadwalnya sangat rapi, aksesnya yang mudah, dan harganya yang bisa dikompromikan. Karena masing-masing dari kami belum pernah ada yang ke Jepang, kami membuat itinerary dan rute kereta selama di Jepang dengan bantuan google maps.

Yang perlu diingat: JR Pass TIDAK DIJUAL di Jepang. Jadi harus beli dulu ketika di Indonesia. Kenapa? Karena JR Pass ini dikhususkan bagi turis. Keuntungannya banyak banget. Apalagi saya menjelajah lima kota di Jepang menggunakan kereta dan shinkansen. Menggunakan JR Pass amat sangat hemat! Bayangkan saja, jika tidak menggunakan JR pass saya bisa mengeluarkan uang hingga Rp.1.500.000 untuk sekali perjalanan menggunakan Shinkansen! Kami sudah planning akan naik shinkansen lebih dari dua kali. Jadi JR Pass adalah pilihan yang tepat. Well, ini kembali lagi ke kebutuhan travel kamu. Apakah kamu akan menggunakan kereta sebagai transportasi utama atau tidak. Ada juga kok beberapa traveler yang pergi ke Jepang dan tidak menggunakan JR Pass. Jadi,. Perlu digarisbawahi ya, perencanaan perjalanan harus dipikirkan matang-matang :)

Kami membeli JR Pass regular dengan durasi 7 Hari. Harganya  ¥29.110. Dengan harga ini, kami bisa menggunakan kereta dibawah naungan JR sepuasnya! Termasuk menggunakan shinkansen! Eits, tapi kecuali Shinkansen tercepat seperti Nozomi dan Mizuho ya. Tapi Shinkansen Hikari dan Kodama sudah cukup nyaman dan cepat kok :)

Jika menggunakan kereta JR untuk perjalanan jarak jauh, saya sarankan untuk memesan kursi terlebih dahulu. Di kereta shinkansen, gerbong dipisahkan menjadi gerbong reservasi, dan gerbong tanpa reservasi tiket. Keuntungan reservasi tiket: duduknya bisa samping-sampingan karena seatnya 3-3. Reservasi tiket gratis-tis-tis dan bisa dilakukan di kantor JR di stasiun-stasiun di Jepang. Petugas JR Pass ada di setiap stasiun dan mereka amat sangat membantu. Walapun ada yang nggak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka akan membantu kita semaksimal mungkin :)

Oh ya, atas rekomendasi teman, saya beli JR Pass di Jalan Tour, Jakarta Selatan. Caranya, datang langsung kesana, pesan, dan langsung bayar. Bisa menggunakan yen, debet, dan kredit. Praktis! 

Ketika membuat itinerary, saran saya gunakan peta atau google maps untuk menentukan rute. It’s really helpful! Karena ada rute perjalanan dan perkiraan biaya transportasi.


6. WIFI ROUTER


Penampakan Wifi Router Ketika Sedang Low Bat :P
Bukan rahasia lagi kalau kebutuhan orang Indonesia akan koneksi internet tinggi banget. Kalau buat saya, nggak hanya social media, saya juga butuh buka email dan 9Gag setiap hari. Hehe, iya saya kecanduan 9Gag sejak pertamakali mengunduh aplikasinya di handphone. Well, selain untuk hal-hal itu, beberapa orang menyarankan google maps dan aplikasi berbasis internet lainnya untuk membantu saya selama perjalanan di Jepang. Kenapa? Karena peta di jepang dan rute kereta dijelaskan secara mendetail disana. Saya juga berencana untuk mematikan sementara nomor Indonesia saya dan mengandalkan Whatsapp dan Line sebagai sarana komunikasi di Jepang. Jadi, internet is a must have item!

Ada banyak penyewaan wifi router di Jepang. Kalau nggak sempat booking dari Indonesia, di bandara seperti di Haneda, Narita, dan di Osaka juga ada kok. Tapi, kami sudah booking wifi router dari Indonesia. Sistemnya cukup simpel. Setelah mengisi form penyewaan dan melakukan pembayaran, wifi router akan dikirimkan ke tempat yang kita inginkan. Awalnya saya berencana untuk mengirimkan wifi ke bandara Haneda. Jadi begitu saya sampai Haneda, saya bisa langsung pakai wifinya. Tapi sayang, di Bandara Haneda nggak ada kantor pos. Jadi, saya meminta wifi router dikirimkan ke hostel di Osaka. Selama di Bandara Haneda, saya memaksimalkan fasilitas wifi bandara.

Seperti yang saya bilang, ada banyak pilihan wifi router. Setelah browsing dan baca banyak referensi, saya memutuskan untuk menyewa dari Blank Wifi. Harganya lumayan terjangkau, ¥7.260 untuk sewa selama 8 hari. Wifi router bisa di share sampai 10 orang, tapi karena saya berangkat dengan dua orang sahabat, lumayan lah harga segitu masih bisa dibagi tiga :D

Servis Blank wifi cukup memuaskan! Walaupun awalnya sempat kecewa karena sampai kedatangan saya di hostel wifi routernya belum sampai, tapi tim Blank Wifi sangat responsif. Waktu itu saya sampai hostel sekitar pukul 1 siang waktu setempat. Sementara, saya minta wifinya sudah datang dari pukul 7 pagi waktu setempat. Mengetahui wifi router belum juga sampai, saya menelepon ke Blank Wifi menggunakan telepon koin. Beruntung mereka bisa Bahasa Inggris. Saya pun menjelaskan kalau wifi router-nya belum sampai. Mereka sangat menyesal karena adanya keterlambatan, karena ketika di cek, paket seharusnya sudah tiba dari pagi, atau paling lambat pukul 3 sore. Tapi saya tidak bisa menunggu karena ingin jalan-jalan keliling Osaka sesuai dengan itinerary yang telah dibuat. Saking menyesalnya mereka, saya mendapatkan diskon penyewaan sebesar  ¥1.000! Hehe, lumayan bisa buat jajan onigiri :D 

Setelah jalan-jalan, sesampainya di hostel wifi router saya sudah sampai! Koneksinya cepat banget! Yes, kami tidak jadi fakir wifi lagi :D


7. HOSTEL


Penginapan Kami di Hakone :)
Sesuai itinerary, kami berencana mengunjungi lima kota selama di Jepang. Dan, kami akan menginap di empat hostel yang berbeda! :D kenapa hostel? Karena kami belum sanggup menginap di hotel :’) *puk puk diri sendiri* Tapi jangan khawatir, hostel di Jepang bersih-bersih, petugasnya ramah, dan bikin betah! Berikut daftar hostel yang kami inapi:

Hakone : Hakone Tent
Kyoto : Ryokan Ohto

Karena kami bertiga, perempuan semua, jadi kami lebih memilih kamar private yang satu kamarnya berisi tiga ranjang. Walaupun agak mahal dari dorm perempuan yang berisikan 6-7 orang per kamar, tapi kami mendapatkan privasi lebih banyak. Gak malu sama bule-bule deh kalau pas tidur ngorok dan ngelindur gak jelas :D

Gak semua hostel yang saya tempati punya kamar mandi di dalam. Yang ada kamar mandi dalamnya hanya di Kyoto dan Tokyo. Tapi jangan khawatir, semua hostel yang saya sebutkan ini bersih-bersih! Bahkan kamar mandinya! Review lebih lanjut mengenai hostel akan saya bahas di beberapa postingan selanjutnya. Oh ya, harga hostel yang saya inapi ini berkisar ¥3.000 – ¥4.000 per orang, per malam. Lumayan banget gaes!

Hal terpenting yang saya perhatikan ketika memilih hostel adalah: harus tiga ranjang dalam satu kamar. Hehehe, karena biar lebih leluasa, baik dari soal kebersihan, ngorok dan ngigo, hingga ketika sholat. Kedua, letaknya yang strategis dari transportasi umum. Ketiga, review di beberapa situs traveling online dan blog-blog para traveler. Keempat, fasilitasnya seperti ketersediaan pengering rambut, wastafel, laundry coin, wifi, dll. 

Baiknya, banyak-banyak riset sebelum menentukan hendak menginap dimana. Baik itu harga, fasilitas, foto kamar, dll. Bahkan saya nggak ragu langsung chat pihak hostelnya sebelum memesan. Prinsipnya, lebih baik cerewet daripada menyesal kemudian :D


8. COLOKAN


Source
Colokan atau soket juga perlu disiapkan dari Indonesia. Saran saya sih beli aja colokan universal. Saya waktu itu beli di Ace Hardware Kuningan City dengan harga seratus sekian. Useful banget karena bisa dicolokin di berbagai colokan yang ada di dunia. Selain itu, ada colokan usb-nya juga jadi bisa charge hape dan alat elektronik lainnya sekaligus. Tapi sayang colokan saya ini mbledug waktu di Hakone karena dipakai buat colokan setrikaan sama si Sammy ;’( 

Untung beberapa hostel meminjamkan colokan gratis :D. Tapi tetep prepare bawa dari Indonesia sih saran saya. Kan bisa digunakan di bandara, stasiun, dll :D


9. MAKANAN

Botram Mie Gelas di Rooftop JHoppers, Osaka :D

Beberapa orang menyarankan saya untuk tidak membawa makanan di Jepang. “Ngapain,” katanya, “justru kamu di Jepang itu nyobain makanan khas sana. Jangan malah bawa bekal. Kebiasaan sih orang Indonesia gitu.”

Well, saya nggak bisa menyalahkan pendapat itu, semua kan punya dan berhak mengeluarkan opini. Tapi saya dan teman-teman tetap ingin bawa bekal berupa mie gelas, popmie, biskuit, dan yang paling niat si Sammy bawa satu loyang brownies! Terbukti, semua makanan habis ludes! :’D Seru banget habis capek jalan seharian kita kumpul bareng di rooftop sambil botram mie gelas, onigiri, dan ocha panas. Malam-malam ketika ingin mindo juga tinggal seduh air panas dan bikin popmi. Praktis dan sangat membantu!

Untuk makanan halal, harus cerdas memilih ya gengs. Di awal minggu kita rajin banget beli onigiri. Sammy, sahabat saya yang lumayan fasih Bahasa Jepang, bertugas meneliti tulisan kanji babi di setiap onigiri yang kami beli. Walaupun tulisannya isian ikan, lobak, telur, ayam, tetap kami teliti tulisannya.

Di akhir minggu, ketika di Tokyo, seorang petugas di Family Mart dekat hostel tempat saya menginap mengatakan kalau onigiri yang hendak saya beli mengandung babi. “This is not halal. I’ll show you the one you can eat.”

Hahhhh?? Jadi selama inii??

Lalu si mas-mas bule itu menunjukan beberapa item yang bisa dan tidak bisa kami makan. Mas bule itu baik sekali. Saya lupa namanya tapi saya kerap memanggilnya Mas George :P. Alhasil, satu-satunya onigiri yang bisa kami makan adalah yang isian tuna, berbungkus nori di semua sudutnya, dan stiker di bungkusnya warna biru muda. Dan saya alergi tuna. Cobaan hidup ini berat sekali gengs :’) Kenapa ya Mas George bilang hanya onigiri itu yang bisa kita makan? Hmm.. Mungkin walaupun isian telur, lobak, dan ayam, ada bumbu yang mengandung babinya. Mas George berjasa sekali, thank you very much! :)

10. BARANG BAWAAN


Sebenernya, barang bawaan itu tergantung dari kebutuhan masing-masing orang. Saya gak bisa menggeneralisasikannya. Karena sudah niat bawa carier 40L, jadi saya meringkas bawaan. 5 baju lengan panjang, 2 celana panjang, 4 kerudung, 1 set baju tidur lengan panjang, 1 set baju dan celana pendek, 1 kain bali. Nggak lupa bawa perlengkapan solat, makeup, dan handuk kecil. Perlengkapan mandi sebenernya nggak usah bawa karena disediakan di hostel, tapi saya tetep bawa hehehe.

Di packing sedemikian rupa, isi carier 40L saya cuma terisi setengah dengan berat 7kg :D Mayan lah masih bisa lari-lari sambil gendong tas :D



Well, mungkin segitu dulu yang bisa saya share untuk persiapan ke Jepang. Kalau ada pertanyaan dan tambahan bisa ditanyakan melalui kotak komen di bawah. Selamat berlibur ke Jepang, dan sampai jumpa di postingan berikutnya! :D




===============
Japan Stories adalah postingan yang saya buat untuk menceritakan perjalanan dan pengalaman saya traveling ke Jepang selama delapan hari, terhitung dari tanggal 20-28 Mei 2015. Pertanyaan mengenai perjalanan dan itinerary bisa diajukan melalui komen di setiap postingan. Perjalanan bisa dibaca secara utuh disini, Enjoy reading! :)


You Might Also Like

10 comment(s)

  1. Mantaaaaaaapppppppppppp... endorse produk aku dong sis ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bicik lau, buruan travel jangan kerja muluk! :p

      Delete
  2. Wuih asyik nih!! Aku catet semuanya ah, terutama cara cuti :"""""""")

    ReplyDelete
  3. Hiii mba.... Ke tokyo nya naik flight apa?... Trus itu kopernya masuk bagasi apa kabin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haii.. Aku naik AirAsia.. Semua koper (dan carier) masuk bagasi :)

      Delete
    2. Oooo... Pada masuk bagasi yaa...nambah byr bagasi y?
      Aq rencana mei ini, koper 20" bisa k kabin ga ya?

      Delete
    3. Iya, waktu beli tiket sekalian beli bagasi :)
      Wah kurang tahu deh, kalau penerbangan dari Indonesia sih sepertinya aman, tapi waktu saya transit di Malaysia peraturannya sangat ketat. Apalagi pas pernerbangan pulang dari bandara Haneda. Tapi ada teman saya yang pakai carier 60L masuk kabin dan fine-fine aja. Saran saya sih beli bagasi aja biar aman :D

      Delete
  4. kak diazbela

    numpang tanya,

    utk hostelnya di atas itu bookingnya berapa hari sebelumnya dan kedua

    sistem pembayarnnya bayar penuh dimuka atau pay-later dengan jaminan kartu kredit ?

    tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, saya booking hostel sebulan sebelum keberangkatan. Sistem pembayaran ada beberapa yang bayar uang muka (dan gak bisa kembali kalau batal menginap disana), ada juga yang tidak pakai uang muka tapi pakai jaminan kartu kredit. Tiap hostel beda-beda tergantung pemesanannya lewat mana. Kalau langsung kontak ke hostelnya beberapa ada yang harus bayar DP :)

      Delete

So, what do you think? Leave your comments below!