Disappointment

31.10.16



I'm not even gonna get mad anymore. 
I'm just going to learn to expect the lowest out of the people I thought the highs of. 
(Anonymous)


It was raining that afternoon.
Secangkir black tea yang saya pesan mengeluarkan uap yang menari-nari, tak lama sebelum akhirnya lenyap bercampur udara. Sama halnya dengan uap itu, ekspektasi saya pun perlahan luntur, menguap hilang melebur bersama situasi. Tentang apa yang yang pernah terulur erat, dan tentang apa yang pernah ditasbihkan sebagai ekspektasi.

It's just a tea, not a coffee.
Saya tidak merencanakan akan terjaga sepanjang malam. But the truth is, I need caffeine more than I expected. Perannya sebagai stimulan pada sistem syaraf pusat belum lagi berfungsi. Semuanya berjalan sangat cepat, ketika saya hanya bisa memprosesnya secara perlahan, lambat, sambil mengendalikan emosi.

And when you expect this, you are setting yourself up for some fairly hideous disappointments.
Seberapa besar kamu pernah menaruh ekspektasimu pada seseorang? Sejauh mana kamu pernah merasa dikecewakan? Peristiwa itu pasti akan mempengaruhimu sebelum pada akhirnya kau akan kebas, akibat akumulasi dari apa yang dulu pernah dipendam dan belum sempat tercurahkan. Ketika kau merasa cukup dewasa dengan tidak mencari pelampiasan, jalan keluarnya adalah dirimu sendiri. Timbun, dan kontrol emosi walau kepalamu memanas karena aliran darah yang terpompa ke atas. Berusaha ambil sisi positifnya walau itu sulit. Sampai kapanpun jangan biarkan peristiwa itu melarutkanmu dalam lingkar hitam yang pelan-pelan akan memakanmu dari dalam. Karena waktu yang berjalan terlalu berhaga untuk mengurus hal remeh-temeh seperti itu.

Once you learn how to die, you learn how to live.
Setiap luka meninggalkan bekas, tapi jangan sampai itu memengaruhi persepsi, jalan, dan tujuan hidupmu. Biarkan dia menganga dan tetaplah berjalan sesuai dengan rencanamu. Perubahan itu bagus, tapi setiap orang wajib miliki tujuan dalam hidupnya. Bedakan itu dengan definisi "mutlak" yang wajib dicapai walau harus dengan menempuh cara apapun, bahkan cara licik sekalipun. Sayang, hidup tak sepicik itu. Pola pikir itu hanya akan memberi nutrisi pada sikap iri hatimu.

Pada akhirnya, kisah ini pun akan berlalu hilang dihempas peristiwa baru. Hujan akan tetap turun, teh akan tetap rutin diseduh, hidup akan terus berjalan, tapi ekspektasi akan diturunkan. Semua tidak akan pernah sama lagi.


You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!