Mas Anang dan Pilihannya

12.3.17



Percaya nggak kalau jiwa yang bahagia itu adalah jiwa yang bebas menentukan pilihan-pilihan, terutama pilihan hidup? Saya percaya. Memilih (dan meyakini) sebuah pilihan adalah tanda kebebasan dan tanda bahwa orang itu berpikir. Hidup tentu selalu menawarkan pilihan, dan disitulah tugas kita sebagai individu menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Pilihan A, B, atau C, semua ada konsekuensinya dan itu yang harus juga turut dipahami.

Sayangnya, konstruksi sosial kita masih dalam kungkungan dimana pemikiran terbanyaklah yang masih selalu dianggap benar. Kalau yang tidak sama dengan arus paling dilibas dalam pengakuan, atau menjadi bulan-bulanan sosial, terutama (dan apalagi) di sosial media.

Semua orang bilang negara kita negara demokrasi. Tapi pikiran kita masih tanpa spasi.

Jarak (spasi) diperlukan sebagai jeda dalam pemikiran untuk kembali merenung. Atau setidaknya kembali berpikir ulang apa motivasi kita (atau orang lain) hingga kita (atau orang lain tersebut) memilih pilihan-pilihan itu. Kata pepatah asing: try to walk in her/his shoes before you judge them. Pemikiran itu yang masih langka dimiliki manusia jaman sekarang. Manusia-manusia pemuja keinstanan.

Beberapa minggu yang lalu saya membaca berita ini. Kisah terkini mengenai Anang Hermansyah yang memilih untuk divasektomi. Jujur saya bukan fans-nya Mas Anang. Bukan juga fans-nya A-Family yang beritanya selalu gencar keluar-masuk infotaiment. Tapi berita itu menggelitik rasa ingin tahu saya lebih dalam.

Jadi, (saya kutip disini kalau-kalau kalian malas buka link dan baca dari sumber berita aslinya) Mas Anang memutuskan untuk melakukan vasektomi. Mas Anang dan Ashanty menegaskan kalau mereka nggak ingin menambah anak lagi. Setelah dirembuk, tercetuslah keinginan (masih keinginan lho) Mas Anang untuk melakukan vasektomi, sebuah operasi kecil di area reproduksi yang efektif untuk mencegah kehamilan. Nggak tanggung-tanggung, Mas Anang pun menunjuk dokter dari Singapura untuk menangani operasi ini. Sebuah tindakan yang berani, bukan? Setahu saya metode ini masih jarang digunakan di Indonesia (correct me if I’m wrong). Selain Mas Anang, saya hanya tahu pesulap Limbad yang sudah menjalani operasi ini dan Henry DeTamble, karakter fiksi di film Time Travelers’ Wife (tentu yang terakhir nggak masuk hitungan)

Keputusan Mas Anang ini sangat menarik. Balik lagi, nggak banyak laki-laki yang mau daerah intimnya diutak-ataik, apalagi untuk masalah momongan. Mereka lebih sering mengambil pilihan KB entah itu pil, suntik, maupun sterilisasi yang MEMANG ditujukan untuk para perempuan. Apakah lantas saya menyalahkan KB? Ya nggak lah, KB itu cara yang digunakan (dan diusung pemerintah) untuk mengatur kehamilan secara efektif demi menghindari ledakan populasi, jumlah kelahiran yang tidak diinginkan, hingga menentukan jumlah anak. Lha saya dan adik saya juga hasil rancangan dari program yang dicanangkan di era Pak Harto ini juga kok.. Hehehe..

Balik lagi ke keberanian Mas Anang. Dengan keputusannya ini, Mas Anang bisa mendobrak stigma bahwa perempuanlah yang harus “dipasang alat kontrasepsi” kalau mau membatasi jumlah kelahiran anak. Saya setuju dengan ungkapan pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi pada perempuan adalah ketidakadilan gender bagi perempan di bidang kesehatan JIKA keputusan itu diambil secara sepihak. Masih banyak lho perempuan yang dipaksa untuk menggunakan alat kontrasepsi tanpa persetujuan mereka (atau setidaknya tanpa dirembuk terlebih dahulu). Sedikit banyaknya ini juga berpengaruh pada kesehatan perempuan itu. Fisik dan juga mental.

Adanya budaya patriarki di mana laki-laki dianggap lebih berkuasa dibanding perempuan juga menjadi salah satu minimnya keinginan laki-laki untuk melakukan vasektomi. Harusnya hal seperti ini dirembuk bersama, dan hasil akhirnya adalah pilihan pasangan suami-istri tersebut. Karena hamil itu adalah tanggungjawab bersama, bukan hanya tanggungjawab istri. Perempuan dan laki-laki punya hak yang sama atas tubuh mereka, dan setiap tindakan yang akan dilakukan harus merupakan keputusan keduabelah pihak. Bukan hanya keputusan salah satunya.

Nggak lama setelah baca berita ini, pagi-pagi waktu saya masih leyeh-leyeh di rumah bude sambal nonton tv, kebetulan saya menonton acara infotaiment (pagi-pagi udah ada infotaiment, bok!). Lha kebetulan banget sedang membahas keputusan vasektomi Mas Anang. Betah lah saya di depan tv sambil mengamati mau dibawa kemana alur info berita ini. Lalu saya kaget, framing beritanya mengarah pada tindakan Mas Anang merupakan tindakan tidak lazim, tidak aman, dan kesimpulannya harusnya perempuan saja yang melakukan KB!

Saya melongo sejadi-jadinya. Yang saya ingat dari berita itu: paket dibuka dengan footage keluarga Anang-Ashanty, cerita tentang anak-anaknya Mas Anang, cerita tentang keputusan vasektomi Mas Anang, wawancara Limbad sebagai orang yang pernah di vasektomi (waktu itu yang ngomong juru bicaranya), wawancara dokter, dan vox pop artis YANG SEMUANYA menyayangkan pilihan Mas Anang untuk vasektomi.

What just happened?

Sepanjang nonton berita itu saya hanya bisa melongo. Tidak ada narasi yang meyakinkan bahwa penggunaan kontrasepsi adalah sesuatu yang bisa dipilih oleh pasangan suami istri. Bahwa keputusan rencana Mas Anang vasektomi adalah sesuatu yang pastinya sudah dirembuk secara internal. Bahkan (saya masih ingat betul) isi vox pop artis-artisnya tidak ada yang pro, semua kontra! Padahal setahu saya sih nggak boleh cari vox pop dengan isi yang sama semua. Wawancara Limbad dan dokter pun masih saya nilai kurang karena hanya menyangkut permasalahan teknis kelamin, bukan masalah pilihan. 

Disitu saya merasa sedih. Kenapa pilihan tidak pernah disajikan sebagai bahan berita utama dan biarkan penonton yang menilai hasil akhirnya? Terlepas dari isu pemakaian KB pada perempuan yang dinilai bisa membuat gendut, rambut rontok, dan maslah fisik lainnya (yang juga turut dibahas dalam liputan itu) pasti Ashanty memiliki alasannya sendiri kenapa bukan dia yang memilih untuk KB. Dan terserah orang mau komentar apa karena sekali lagi, itu adalah pilihan yang pasti sudah dirembuk.

Mungkin ada yang heran, kenapa sih saya geregetan sendiri padahal kenal Mas Anang aja nggak. Well, dia itu adalah public figure, fans-nya bejibun. Keputusan dia tentu mempengaruhi banyak orang dalam berbagai bidang. Termasuk keputusannya berencana untuk vasektomi. Walaupun tidak ditiru secara tindakan, tapi keputusan rencana ini mungkin bisa menjadi pencerahan bagi bahan diskusi suami-istri, bahan pertimbangan keputusan, atau pemikiran-pemikiran lain bagi para pasutri diluar sana. Mengutip kata Pramoedya Anata Toer: adil sejak dalam pikiran.

Saya pribadi belum punya anak, dan belum tahu akan menggunakan alat kontrasepsi apa nantinya. Saya sih nggak masalah apapun keputusannya asalkan ada diskusi aktif yang mencerahkan. Keluarga kecil kami, kami yang mengatur dong! :D

Intiya, apapun keputusan akhir Mas Anang nanti, semoga Mas Anang sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan kelapangdada-an dalam menghadapi komentar dan pemberitaan yang beredar. Oh ya, dan semoga kelak ada pemberitaan infotaiment yang kostruktif membangun opini-opini, gagasan, dan diskusi bagi para penontonnya.


You Might Also Like

1 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!