Kerja di Televisi? - Ekspansi

10.10.17

Image source: Pinterest

Hari ini salah satu kenalan saya banyak “bercerita” tentang industri media khususnya pertelevisian di Indonesia. Dia bilang industri media di Indonesia itu setengah jalan menuju kematian, dan dia meminta saya untuk mengakuinya dalam kalimat lantang. Tentu saja tidak saya turuti.

“Gue nih ya contohnya, balik kerja udah ngurusin anak-anak, ngurusin rumah tangga. Malemnya capek. Ya paling kalau lagi pengen update berita baru nonton TV. Itupun malem. Paginya riweuh ngurusin anak-anak dan tentu aja siangnya gue kerja kan. Mana sempet gue nonton TV. Siapa coba yang sekarang nonton TV? Hahahaha..” jelasnya ketika dia tau kalau saya kerja di TV. Dia lalu nyerocos selama 10 menit lamanya bak kereta. Lancar tanpa jeda.

Saya cuma bisa diam (tanpa manggut-manggut), seperdelapan (iya seperdelapan, bukan setengah) setuju dengan pertanyaannya.

“Terus ya, kalau gue lagi butuh berita, butuh informasi, tinggal lihat aja hape gue. Per detik ada tuh update-nya. Nggak usah ngandelin TV lagi.” Lanjutnya. “Iya kan? Udah deh lo akuin aja!”

Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Mau nyanggah juga nggak bisa karena ada satu-dua hal yang menyebabkan komunikasi kami tidak dua arah.

Dia pun lanjut bercerita kalau temannya, seorang pemimpin redaksi di salah satu majalah, membuat peraturan baru dimana setengah dari jumlah reporternya bekerja dari rumah, bukan kantor. Dengan ini, kantornya bisa menghemat hingga 50% anggaran karena gaji wartawannya minus uang jalan dan makan. Sedih. Hidup segan mati tak mau. Sadis memang pemimpin redaksi zaman now.

Sementara, dia juga sering mendapat curhat dari temannya yang lain, seorang petinggi di salah satu televisi yang sering mengeluhkan jam kerjanya yang tidak menentu. Nah kalau di bagian ini saya manggut-manggut setuju. “Tapi pekerja TV itu mentalnya juara, tahan banting di kondisi apapun. Gue bisa lihat di diri lo kalau lo itu hard worker,” lanjutnya yang entah hanya berbasa-basi nggak enak melihat saya tertekan karena semua cerita intimidasinya, atau karena saya pernah cerita jam kerja saya dari jam 8 pagi sampai 9 malam.

Dan satu ucapannya yang benar-benar memecut pemikiran saya (kuda kali dipecut): “Coba kalau lo akuin aja sekarang kerja di media itu nggak ada masa depannya lagi. Ya kan?”

Dikatain gitu kayak ngegerus panadol tanpa air. Pait.

Tapi saya tetap diam.

Pada dasarnya saya memang males nanggepin hal seperti ini karena kenyataannya nggak selalu seperti yang dia pikirkan. Males aja gitu kalau ujung-ujungnya debat kusir karena pengen pada bener (wkwk). Topik gini enaknya didiskusikan, dilihat dari fenomena dan prakteknya kayak gimana di lapangan. Dunia media itu dinamis, Sis.

One to be clear, in my opinion, dunia media di Indonesia itu bukan setengah jalan menuju kematian, tapi sedang dalam proses ekspansi.

Gini ya, pertama, mungkin bagi dia, seorang yang berpendidikan, mapan, dan career oriented, pastilah waktunya didominasi oleh pekerjaan dan urusan rumah tangga dan betul, pasti nggak akan punya waktu banyak untuk menonton TV.  Maka janganlah mengeneralisasikan hal dari satu sudut pandang saja. Mungkin dia masuk ke SES A atau B, tapi ada golongan lain yang masih butuh hiburan dari TV karena gampang diakses dan gratis. Di zaman now yang serba kejam dan sulit ini (cie gitu), dimana lagi sih orang-orang yang tidak memiliki akses hiburan mahal bisa mendapatkan kesenangan? Melalui TV lah salah satunya.

Pertanyaan selanjutnya, emang masih ada yang nonton TV? Tenang, masih ada kok. Cuma ya memang jumlahnya berkurang. Ini sudah dibuktikan dari riset terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism yang mencatat berkurangnya jumlah penonton TV sebanyak 3-4% sejak tahun 2012 di Amerika dan Inggris. Dan fenomena menurunnya penonton TV ini berbanding terbalik dengan meningkatnya akses terhadap media digital, khususnya smartphone. Takut nggak laris lagi, maka jangan heran kalau sekarang stasiun TV berlomba-lomba menyajikan siaran dan program yang amat sangat variatif dan “kreatif” untuk menarik penonton demi rating. Dari sinetron-sinetron penuh hidayah, sineron mahluk ganteng-jadi-jadian, reality show percintaan yang “narasumber utama”nya nggak bisa akting, sampai program pelunas hutang. Iya saya tahu buat beberapa orang program-program seperti ini annoying, tapi di lain sisi yang kayak gini menjual dan cukup menghibur kalangan tertentu. Lha njuk kudu piye? Ini bukan pembenaran saya terhadap munculnya program-program itu ya, tapi untuk melihat jenis hiburan yang banyak dinikmati oleh penduduk Indonesia. Kaitannya sama mental penonton soalnya. Fenomena ini sebenarnya menimbulkan masalah baru sampai-sampai Presiden Jokowi juga pernah memanggil beberapa direktur program TV Swasta terkait masalah rating dan kualitas program TV demi mengejar rating itu. Lalu mengubahnya gimana? Intinya masih jadi PR lah, panjang itu, nanti aja ceritanya.

Nah, terlepas dari fenomena masih banyak adanya penonton yang menonton televisi, ada juga nih fenomena TV lain dari ekspansi pelan-tapi-pasti-nya TV zaman now. Pernah merhatiin sekarang banyak stasiun TV yang punya channel YouTube sendiri? Kenapa coba kira-kira? Ya karena mereka dalam proses ekspansi. Mereka sadar dan melihat peluang kalau orang yang datang ke YouTube itu sedang mencari informasi yang spesifik, informasi yang pasti mereka tonton. Beda dengan ketika seseorang nonton TV yang programnya random, yang dengan kekuatan remot mereka bisa pindah dari satu channel ke channel lain dalam hitungan sepersekian detik. Bisa jadi program yang menurut riset punya rating jelek ketika tayang di TV, justru banyak viewers-nya di YouTube dan jadi viral! Nah kan, Jadi berlomba-lombalah itu stasiun TV untuk mengunggah tayangannya ke YouTube. Ekspansi.

Kedua, Disadari atau tidak, pencarian akan informasi itu sekarang masuk dalam kebutuhan sandang manusia lho. Informasi apapun lah itu, sekarang bisa dicari dari mana pun. Mau politik, ekonomi, atau bahkan gossip, itu adalah informasi dan insting kepo kita pun akan mendominasi untuk mencari tahu ada apa, apa yang terjadi, bagaimana itu bisa terjadi, dan seterusnya. Nah sekarang sadar nggak, Mbak, kalau informasi yang kamu baca melalui smartphone kamu itu juga produk media? Ekspansi media bukan mematikan media itu, pindah memang butuh waktu. Industri ini nggak mati, kami berekspansi.

Terakhir, sah-sah aja sih kalau ada yang bilang kerja di TV itu nggak ada masa depannya, dan sah-sah juga dong buat saya yang masih belum percaya. Ya mungkin yang berpendapat seperti itu belum mudeng gimana industri media itu bekerja dan gejolak apa aja yang ada didalamnya. Tapi menilai seorang individu akan ikut redup hanya karena tempat kerjanya sebentar lagi dianggap mati suri adalah pandangan yang sama sekali nggak masuk akal. Faktor individu ya ada di soft skill-nya. Tempat kerja hanya sebagai medium. 

Jadi ingat salah satu quotes favorit di film Fight Club: You are not your job, you're not how much money you have in the bank. You are not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You are not your f*ng khakis. You are all singing, all dancing crap of the world.


Ditulis dalam keadaan genting level 2,
Jakarta, 2 Oktober 2017.





**Kerja di Televisi merupakan subtema yang saya buat untuk berbagi cerita suka duka sebagai pekerja di bidang pertelevisian. Di update kalau selo atau lagi pengen nulis, wkwk :))

You Might Also Like

2 comment(s)

  1. "Ditulis dalam keadaan genting level 2" 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar nggak cuma richeese aja yang punya level :))

      Delete

So, what do you think? Leave your comments below!