SOCIAL MEDIA

29.12.10

Kelabu

Kapan seseorang akan belajar mengerti?

Pertanyaan itu terlintas tak sengaja ketika saya memikirkan sesuatu yang kelabu. Saya sedang berpikir, apakah yang saya lakukan ini baik? Inilah saya, kadang terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain. Seperti mampet. Kalau diibaratkan nyanyian, saya hanya akan berusaha bernyanyi dengan suara falset hingga suara saya menipis, memburuk, dan hilang, dibandingkan dengan teriakan bernada dengan sedikit resiko. Fals.

"Kapan seseorang akan belajar mengerti" adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang egois. Ya, saya tahu itu. Tapi kapan, kapan seorang manusia bisa lepas dari keegoisan?

Tentang kelabu ini, membuat saya sedikit bimbang. Saya terperangkap lagi. Ada seseorang yang menuang hitam diatas kelabu yang hampir saya buat menjadi putih. Kata seorang teman, "Kamu nggak bakal bisa, Yaz, merubah hitam jadi putih. Sebesar apapun usaha yang kamu lakukan, kamu hanya bisa membuat hitam itu menjadi Kelabu."

Dan kini, ketika semuanya melebur menjadi hitam lagi, saya hanya bisa bertanya dalam hati, "Kapan kamu  bisa belajar mengerti?".



AFI - Girl's Not Grey

I'll lay me down tonight, Much further down.Swim in the calm tonight. This art does drown.
What follows me as the whitest lace of light, will swallow whole, just begs to be imbrued? 
What follows has led me to this place where I belong with all erased.
What follows? All insects sing tonight, the coldest sound. I'd send Gods grace tonight, 
Could it be found?
What follows, Me as the whitest lace of light, Will swallow whole. Just begs to be imbrued
What follows has led me to this place where I belong with all erased
I lay me down tonight, Much further down.Watch stars go out tonight. On sinking ground 
I'll lay me down. I'll lay me down.
What follows me as the whitest lace of light. Will swallow whole. Just begs to be imbrued,
What follows, has led me to this place where I belong With all erased
What follows, Will swallow whole
What Follows, Will swallow whole 


Untuk yang lupa kalau saya juga punya hati.
Menulis sebelum semuanya gelap.
Yogyakarta, 01:16
15.12.10

JENUH!

1. Kita hidup dalam batasan privasi. Aku memang terbuka, tapi tidak untuk yang ini. Jangan mencoba menjadi ucapanku, yang aku sendiri pun belum tentu akan mengucapkannya.

2. Waktu memburuku. Bahkan tanpa spasi dan tak ada kata "sempat". Mereka memburuku. Dengan ancaman menggandakan waktu. Kata memburuku. Menjerit ingin dirangkai tanpa didasari apa-apa. Abjad pertama memburuku. Berbelas pun mereka tak sanggup karena mereka tak menahu.

3. Aku memiliki prioritas sehingga menyababkan semuanya semu. Dari awal aku memang tak mau. Gelar itu hantu. Yang terus datang dan merayapi pikiranku. Biarkan aku lepas, bukankah kita sama-sama bilang akan menghargai pendapat? Dengarkan alasanku, dan resapi pemikiranku. Dan biarkan aku lepas dari belenggu.

4. Aku pinjam sebagian darimu. Berusaha tanpa kau memperingatiku apa-apa. Apa ini? Apa kau sadar kalau kau sedang tertawa?

5. Hai Biru, di 365 hari yang lalu.


1+2+3+4+5
Dan saya benar-benar mencapai titik jenuh untuk menikmati hari. Muak, kesal, menjemukan!! Biarkan saya dalam selaput kasat mata, namun tetap larut untuk sekedar mengahbiskan waktu. 
4.12.10

Bohong: Kata Tanpa Makna


Dialog ini terjadi ketika saya dan Astiti sedang memperingati hari galau. Hari galau adalah hari setelah kita bercerita panjang lebar tentang keluh kesah kehidupan (lebay). Hahaha..

Jadi gini, malam itu saya dan astiti sih niatnya cuma muter-muter gak jelas ke Malioboro. Tapi, setelah tahu ternyata gak ada yang menarik di Malioboro, saya dan Astiti langsung puter balik menuju Angkringan Kopi Jos. Di Angkringan Kopi Jos, kami duduk di sebelah Bapak-Bapak Mencurigakan (BBM). Nggak ada angin nggak ada hujan, si BBM ngajak kita ngobrol. Kira-kira seperti inilah pembicaraannya:

BBM: Asli Kuliah ya, mbak?
Astiti (A): Iya
BBM: Dimana?
A: Teknik, pak.
BBM: Teknik apa? Sipil?
A: Bukan, arsitek
BBM: kalau itu mbaknya yang satu lagi?
Saya (S): *diem*
A: Sama, pak.
BBM: Angkatan berapa?
A: Angkatan Akhir pak.
BBM: Asli Jogja?
A: Bukan, Bogor.
BBM: Kalau mbaknya yang satu lagi?
S: *diem*
A: Kita tetanggaan pak, haha.
BBM: Loh, kok nggak malem mingguan?
A: Lha, ini lagi malem mingguan pak.
BBM: Pacarnya mana?
A: Hahaha, lagi pada KKN, pak.
BBM: Oh gitu, disini tinggal dimana?
A: Jakal
S: *diem*
BBM: Oh ya? Km berapa?
A: 5
BBM: Saya km 7
Saya: *dalem hati: SO WHATT!!*
--Terus tiba-tiba si BBM ngajak ngobrol tentang pernyataan SBY tentang DIY.--

Hm.. dari obrolan itu, 99% jawaban Astiti bohong. Ya iyalah, ngapain juga saya sama Astiti jujur banget sama BBM itu! HIYYY!!!! Gilaaaaa ya, tuh bapak-bapak SKSD banget. Saya paling sebel sama orang yang SKSD. Oke, sekarang yang mau saya bahas bukan bagaimana percakapan yang terjadi, tapi tentang bohong...

Andai hidup bisa sesimpel itu. Hanya perlu seikat kata tanpa makna dan semuanya selesai.

Hanya seucap kata, lalu saya menjelma jadi mahasiswa Arsitek.
Hanya seucap kata, lalu saya mendadak punya pacar yang lagi KKN.
Hanya seucap kata, lalu saya kembali ke kosan di jakal km.5.
Hanya seucap kata, lalu saya punya KTP Bogor.
Dan hanya dengan mengucap "SELESAI" saya pasti akan bisa mengakhiri perasaan ini.
Selesai.
Sesimpel itu.

gambar diunduh disini