SOCIAL MEDIA

18.11.11

Plok-Plok-Plok

Tepuk tangan yang riuh pasti ada bersamaan dengan atraksi yang menakjubkan. Katakanlah siang ini, ketika saya terjebak di salah satu warnet paling cihuy se-Yogyakarta karena aspal sedang dihujam air dari langit, saya disuguhi satu tontonan menarik. Yang saking menariknya, saya terkesan, berdiri, dan bertepuk tangan meriah. Saya jadi ingat kalau pikiran saya juga sedang riuh-ricuh. Pikiran saya sedang bertepuk tangan. Bukan, bukan tepuk tangan sorak sorai meriah seperti yang baru saya lakukan, tapi tepukan pelan yang dapat diuntai.

PLOK! Rasanya tuntutan untuk segera memulai skripsi mulai datang bertubi-tubi. Padahal tidak ada bahkan seorangpun yang menuntut saya untuk segera meng-ganjil-kan kuliah. Kecuali yang pada nanya 'kapan lulus' sih.

PLOK! Gini yah rasanya ditolak, Bukan cinta, tapi judul. Bukan ditolak sih, lebih tepatnya di revisi. Tapi teteuup. Saya ini minus sekali kalau urusan menganalisis. Analisis terakhir yang saya lakukan adalah: saya mendiagnosa diri saya sendiri sebagai vampir. See? Kenapa ya, mungkin karena saya terlalu mengalir. Eh, nggak nyambung juga sih. Yah, pokoknya saya gak pintar menganalisis, gak teoritis, terlalu spontan, terlalu sering berganti-ganti, terlalu berisik, terlalu oh terlalu...

PLOK! Kebanyakan mikir tanpa tindakan nggak bakal ngehasilin apa-apa. Mungkin sekarang yang saya butuhkan adalah belajar beranalisis yang teoritis dan romantis untuk bermetamorfosis. Gak nyambung. Lagi. Biarin.

PLOK! Atau yang saya butuhkan 'kabur' sejenak. Refreshing apalah gitu. Njait, nulis, foto-foto narsis, nyanyi-nyanyi di kamar mandi, ngepump, atau apalah yang penting jangan makan. Tumpukan sisa pembakaran yang tidak habis ini menjerit minta menghilang soalnya.

PLOK! Pilihan lain adalah saya kembali ke realita. Menyelesaikan apa yang seharusnya di revisi. Tapi oh tapi kemampuan analisis tidak datang seperti rasa mules di pagi hari. Oh, bahkan analisis kalah ya sama sampah perut.

PLOK! Dan aspal jalanan masih licin ketika saya selesai menulis ini. Licin yang membuat orang terpeleset. Hati-hati kalau pulang.
17.11.11

Bela Cullen

Tiga hari yang lalu, ketika bangun tidur saya mendapati diri dengan kondisi badan yang aneh. Padahal saya menyelesaikan pagi dengan rutinitas biasa: bangun tidur terkaget-kaget karena alarm yang jerit-jerit minta ditimpuk, matiin alarm, tidur lagi, bangun lagi, solat subuh, tiduran lagi, nyalain leptop, dengerin musik, dan nyetor. See? normal kan? Trus kenapa ya, rasanya ada yang aneh di badan saya. Nengok kanan, nggak ada yang aneh. Nengok kiri, aw! leher saya sakit sekali.

Ternyata ada benjolan kecil di leher belakang saya bagian kiri (ribet banget ngejelasinnya). Bentol-bentol merah yang rasanya perih banget. Rasa perih itu nggak hilang padahal udah saya olesin bedak bayi, caladin, dan herosin bergantian. Ada apa dengan leher saya? Karena penasaran, saya mulai menganalisa penyebab leher saya sakit. Analisa bodoh sekaligus menakjubkan yang (maksa) masuk diakal adalah: saya digigit Vampir.

Mungkin pada malam hari saat saya tidur saya nggak sadar kalau Edward Cullen masuk ke kamar saya. Lewat mana? Mungkin lewat jendela karena jendela bagian atas kan jarang saya tutup kalau malam. Tapi kan jendelanya bertralis? Mungkin Edward punya kekuatan baru: bisa menciutkan diri dan kemudian masuk lewat celah-celah tralis. Trus ngapain Edward gigit-gigit saya? Mungkin dia mau mencari pengganti Bella. Bela dengan satu 'l', bukan dua (ya, itu saya!!!) Are you serious? Hm... atau mungkin Edward suka ngeliat posisi tidur saya yang kayak baling-baling gak bisa diem. Baling-baling is the new sexy (maksa)... 

Dan semua pertanyaan-pertanyaan lain menghampiri saya, berteriak minta dijawab.

Karena saya sadar sebentar lagi saya akan menjadi vampir, saya mau 'pamitan' sama Komandan. Berhubung si Komandan lagi ada di Cilegon, saya menceritakan kejadian gigit-menggigit ini lewat telepon. Intinya, saya bercerita kalau sebentar lagi saya akan bergabung jadi salah satu dari keluarga Cullen. Saya akan menjadi seribu kali lebih cantik, dan bisa kerlap-kerlip kalau kena sinar matahari. Saya juga mencoba me-legowo-kan hati komandan karena sebentar lagi saya mau jadi pasangannya Edward. Dan mendadak si komandan merasa dirinya sebagai.... *ehem* Jacob.

Posisi saya nanti di sebelahnya Edward. Ngegelayut di belakangnya ~(','~)(~',')~

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Edward gak kunjung datang buat ngejemput saya. Saya nggak tambah cantik, dan saya masih tetep item kalau kena sinar matahari, bukan kerlap-kerlip. Saya heran dan menatap cermin sambil melihat bintik-bintik gigitan yang mulai menyebar. Terjadi dua dialog dalam diri saya kala itu: 
(1) Sabar, Yaz. Edward lagi on the way. Mungkin ban motornya bocor. Tunggu yah.
(2) Get real, yaz. Ayo ke GMC.
Setelah semedi sambil ngaca dan kedip-kedip najis selama lima menit, akhirnya saya memutuskan untuk ke GMC.

Di GMC, sebelum menjelaskan analisa saya kalau saya terkena gigitan vampir, si Dokter yang meriksa saya langsung bilang, "Ini cuma digigit serangga kok. Emang lagi musimnya penyakit kayak gini."
Jleb.
Selamat tinggal wajah cantik, selamat tinggal kulit kerlap-kerlip, Edward saya ternyata adalah seorang serangga.




ps. Buat kamu yang sedang membaca tulisan ini dan merasa telah digigit Edward, sini saya kasih tahu satu tips: Gigitan Edward yang asli nggak menyebabkan kamu mendapatkan berloson-n betamethasone 17-valerate neomycin sulphate. Bukan, itu bukan nama keluarga vampir, tapi nama salep. Salep digigit serangga. *doh*
10.11.11

Berjuang

"Kalau rencanya udah dibuat sesempurna apapun juga percuma kalau kamu nggak mulai gerak!"

*plak*
Rasanya saya tertampar dengan artikel yang barusan saya baca itu.
Ya, rencana cuma bakal jadi rencana kalau saya nggak mulai gerak.
Ayo, ayo bergerak.
Bukan, bukan menari india seperti yang biasanya saya lakukan setiap hari di depan cermin.
Tapi bergerak maju meniti apa yang telah saya rencanakan.
Dari dasar.
Dari yang paling awal.
Semangat loh.
Ayo selesaikan form1!!!!! :D
30.10.11
"When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trus must be earned, over time."

Kevin Kelly, wired internet magazine editor.

Di batas yang tidak bisa disentuh, tempat kita berdua berada. Rindu ini sudah memuncak, yang akhirnya jatuh dalam butir air mata sehabis isakan doa. Apa yang harus aku perbuat? Kemana kamu selama ini pergi? Banyak pertanyaaan lain yang ingin aku lontarkan. Tapi aku bosan dengan sistem komunikasi searah ini. Tidak bisakah semua kembali seperti dulu? Tidak bisakah waktu berkompromi denganku dan memunculkan satu hal yang aku pinta karena aku butuh?

Ingin rasanya aku terbang kesana. Berkonsultasi apa yang seharusnya aku lakukan dan tidak kulakukan, bercerita dan mengenalkan semua teman-teman baruku disini, berdiskusi mengenai apa yang sedang menghangat di berita pagi ini...
29.10.11

ENZIM

Kunyahlah sepotong cracker yang asin selama beberapa waktu, maka kamu akan merasakan manisnya

ENZIM merupakan film pendek karya sutradara muda, Ditta Aprilia (@AprilDitta). Enzim diciptakan untuk mengikuti sebuah kompetisi film pendek. Silakan tonton dan jangan lupa klik "LIKE" button-nya ya. Selamat menonton! :)
23.10.11

Review: Kening

Rating: 4/5

Yep, penulis buku ini adalah Fitri Tropica alias Fitri Rakhmawati, presenter kocak yang ngocol dan bikin  ngakak itu. Awalnya saya nggak percaya si Fitrop (sok kenal ceritanya :P) bisa nulis. Nah, rasa penasaran itulah yang akhirnya menjadi alasan saya untuk membeli dan langsung melahap habis buku ini di hari yang sama :D

Kening terdiri dari 181 halaman dengan 13 bab di dalamnya. Cerita yang paling saya suka berada dalam bab 1-7 dimana Fitrop bercerita tentang cinta sejatinya. Bukan, bukan si bule penggemar india yang raja sinetron itu kok :p. Cerita yang ditulis Fitrop ini menarik. Mulai dari cara penyajian sampai ilustrasi-ilustrasi yang tersebar di beberapa halaman dalam buku ini. Dalam menulis, Fitrop juga nggak meninggalkan image 'cewek kocak' sehingga membuat saya betah dan cekikikan sendiri baca buku ini.

Fitrop menulis buku ini dengan bercerita. Pembaca seolah-olah dipersilakan untuk mengintip sisi lain dari Fitrop dan menekankan bahwa semua yang terlihat ceria di luar di luar belum tentu juga ceria 'di dalam'. Seperti biskuit, kisah hidupnya disulap jadi deretan kalimat yang renyah, walaupun saking renyahnya sampai bikin 'kriuk-kriuk' buat pembacanya. Hahaha.. Sukses fitrop, presenter dan penulis yang cihuy! 
Very recomended book! :D

Review: Dari Datuk ke Sakura Emas

rating: 5/5

Mari salahkan buku Karena Kita Tidak Kenal (Farida Susanty) yang membuat saya kecanduan dan jatuh  cinta pada buku kumpulan cerpen. Dari Datuk ke Sakura Emas merupakan buku kumpulan cerpen dimana di dalamnya terdapat 14 cerpen dari 14 penulis. Berikut adalah daftar cerpen dalam buku ini:

Datuk (A. Fuadi)
Sebuah Keputusan (Alberthine Endah)
Ke Sebrang Dermaga (Andrei Aksana)
Emak Ingin Naik Haji (Asma Nadia)
Pagi di Taman (Avianti Armand)
Misalkan Ini Adalah Dongeng (Clara Ng)
Mencari Herman (Dewi Lestari)
Ingatan (Dewi Ria Utari)
Kamis Ke-200 (Happy Salma)
Sambal Dadak (Icha Rahmawati)
Pagar Soka (Indra Herlambang)
Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M.Aan Mansyur)
Perempuan yang Berumah di Rumpun Bambu (Putu Fajar Arcana)
Sakura Emas (Sitta Karina)


Yep, buku ini ditulis oleh para penulis yang memiliki latar belakang yang berbeda. Beberapa diantaranya sudah saya kenal tulisannya, beberapa lagi belum. Beberapa penulis sudah tidak diragukan lagi kualitasnya karena namanya yang sudah tersohor, beberapa lagi membuat saya terheran-heran dan takjub: "ternyata orang ini bisa nulis juga ya..."

Tidak ada tema yang seragam bagi cerpen dalam buku ini, walaupun kebanyakan mengusung tema cinta sesama jenis dan misteri, namun dengan membaca cerpen-cerpen ini pembaca seolah-olah dibuat dapat lebih peka dengan keadaan sekitar. Contohnya dalam cerpen Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M. Aan Mansyur) yang menjadikan sebuah pohon sebagai sudut pandang pertama dalam kisahnya. Cerita yang paling saya suka disini (tentunya) adalah karya Dee alias Dewi Lestari. Tpai karena cerpen Mencari Herman sudah pernah di publikasikan dalam buku Filosofi Kopi, jadi saya akan sedikit menggeser Dee dari top three cerpen yang paling saya sukai :p. 

Posisi pertama adalah Pagar Soka (Indra Herlambang) yang dengan takjubnya menyihir saya ketakutan di tengah malam ketika sedang membaca cerpennya. Nggak nyangka ternyata Indra Herlambang bisa nulis dan.. bagus! :D Posisi kedua adalah cerpen Sebuah Keputusan (Alberthine Endah) yang membuka cerita tentang perdebatan mie instan dan menutup konflik cerita dengan cinta sesama jenis. Cerpen ketiga adalah Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M.Aan Mansyur) dimana sebuah pohon dapat bernapas dan menangis ketika mengungkapkan cerita tentang tiga manusia yang dimabuk cinta. Kalau kalian, apa cerpen favorit kalian? :D

Dari Datuk ke Sakura Emas merupakan proyek charity para penulis yang seluruh royalti dari bukunya akan disumbangkan oleh para penulis kepada Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Saya sendiri pernah membaca tetang Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang minim perhatian dari pemerintah. Padahal, di dalamnya terdapat karya-karya sastrawan Indonesia yang tentunya bersejarah.
Maka dari itu, yuk ikut berpartisipasi membantu dengan membeli buku ini sebagai tambahan koleksi buku-buku kalian. :)
22.10.11

-

Past is past.
Enough.
10.10.11

Sembilan, Sepuluh, Sebelas

Jadiii, di tanggal sembilan bulan sepuluh tahun duaribu sebelas ini saya menghadiri festival layang-layang di pantai Parangkusumo Yogyakarta. Festival layang-layang ini sebenarnya sudah berlangsung dari tanggal delapan kemarin. Awalnya saya berencana untuk pergi bareng temen-temen KKN Bangka Kiyyyuuut, tapi apalah daya semuanya pada sibuk. Pas bingung mau pergi sama siapa, tiba-tiba eng-ing-eng nggak ada asep nggak ada hujan, si Komandan bisa pergi. Padahal katanya ada acara gitu sampe malem. Hahaha, asik pergi bareng Komandan! :D

Sampai di Pantai Parangkusumo, jam sudah menunjukan pukul tiga lebih beberapa menit. Ternyata, festivalnya dimulai dari jam sepuluh, bukan jam dua seperti info yang saya dapat. Jadi, langit cerah Yogyakarata sore itu udah nggak terlalu dipenuhi lagi sama layang-layang. Tapi beruntung juga sih saya datengnya sore, cuacanya udah nggak terlalu panas :p

Diantara beberapa layangan yang terbang, saya paling suka sama yang ini nih:



Kelihatannya biasa aja yah? Eits, tunggu dulu. Ternyata "garis-putus-putus" layangannya itu cuma semacam "ekor" dari layang-layangnya itu sendiri. Ini "kepala" nya:



Masih gak mudeng juga? Nih monggo lihat:


Yups, jadi itu layang-layangnya puanjaaaaang banget. Saya lihat sendiri proses nurunin layangan itu. Kayaknya ribet banget deh, mesti dibantu banyak orang soalnya. Zuuper kreatif buat pencetus idenya. *tepuktangan*

Akhirnya saya dan komandan pulang sekitar jam empat karena sebagian besar layang-layang sudah diturunkan. Walaupun cuma sebentar, tapi saya seneng banget bisa lihat festival layang-layang ini. Apalagi sama Komandan. Apalagi di tanggal sembilan! :D
Udah dulu deh postingannya.
Selamat dini hari.
Hidup tanggal sembilan! :D :D :D :D
16.9.11

Wish You Were Here

14.9.11

Maaf

Dan sampailah kita dalam fase itu.

Semoga ini bukan metamorfosis kita. Tidak ada yang dapat mengenali diri masing-masing, tidak ada yang saling menikmati dibalik penghujaman tingkah dan kata yang menyakitkan.

Dalam setiap jeda selalu ada dua hal yang ingin disampaikan dan satu hasil yang berusaha untuk disepakati.

Ketika semuanya menjadi semakin asing,
aku akan kembali memberi napas dalam tulisan atau hanya diam membiarkan batin berbahasa. Karena semua terasa terlalu perih.

Maaf. 


6.9.11

Review: Test Pack

SEBAGIAN dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin. 
Will you still love them, then? That's why you need commitment. Don't love someone because of what/how/who they are. From now on, start loving someone, because you want to.
***

BUKU INI BAGUS BANGET nyesel saya nggak baca dari dulu-dulu. Hehe ya, dulu pas SMA teman saya ada yang ngerekomendasiin buku ini, tapi ya, dulu saya akui cover novel ini nggak begitu menarik (ups, ini nih makanya don't judge a book by it's cover yah :p) jadi saya nggak baca. Ya, ini emang edisi cetakan terbaru Test Pack-nya Ninit Yunita. Awalnya saya tau kalau Test Pack bakal di rilis ulang itu dari twitternya Adhitya Mulya, penulis yang juga suami dari Ninit Yunita. Yep, asik ya suami istri sama-sama penulis. hihi :p

Well, seperti sedikit review yang saya copy-paste dari goodreads.com, novel ini bercerita tentang komitmen. Dengan gaya tutur yang ringan dari dua sudut pandang dua tokoh utamanya, novel ini saya kasih cap sukses mengaitkan semua konflik-paska-menikah dengan satu pertanyaan besar: siapkah kamu untuk berkomitmen?
Jawabannya? Silakan cari sendiri setelah membaca pesan tersirat dari buku ini.
Selamat membaca! :D
2.9.11

Bangun Tidur

Morning Cupcake. Selamat pagi!

LAMA BANGET rasanya saya nggak ngapdet blog ini. Bukan, bukan karena ingin mengisi kekosongan hati pembaca blog saya ini (gaya bener, padahal blognya gak ada yang baca juga, yaz! :p), tapi kenapa ya, rasanya saya seperti kehilangan kepuasan setelah menceritakannya di blog. Padahal dulu mah dikit-dikit, tulis di blog, dikit-dikit nulis di blog.. itulah manusia, sering bosen dan selalu plin-plan. (eh, itu mah saya doang deng :p) Maka dari itu, saya sampe lupa kapan terakhir kali nulis. Kapan ya? ah iya, pas bikin laporan KKN kemarin. Bulan lalu. Krik. Lama bangett -__-

Padahal, tiga bulan belakangan ini banyak hal-hal "menakjubkan" yang terjadi di kehidupan saya. Dimulai dari KKN yang (akhirnya) terlaksana juga selama 1,5 bulan lamanya. Ploooong banget rasanya pas pertama kali saya nyampe di Bangka. Girang setengah mati. Gileee, ini nih yang selama kurang lebih satu tahun saya dan teman-teman rancang kegiatannya, akhirnya nyampe juga di BANGKA. Dan rasa plong-plong lainnya menyusul sampai KKN selesai dan saya kembali di tampar sama realita: "Selamat datang di angkatan Mahasswa Tua." Ehm.

Hal menakjubkan lain adalah: saya pergi ke Gramedia. Hahaha, absurd emang, selama KKN saya kangen banget sama Gramedia, Togamas, dan toko buku lainnya. Untunglah kemarin saya berkesempatan jalan-jalan ke Bogor dan singgah berjam-jam di Gramedia (maklum, di Sukabumi nggak ada Gramedia :p) sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli empat novel baru. Yup. EMPAT. Madre, Turiya, Sebelas Patriot, dan Test Pack. Sebenernya masih da dua buku sastra dan 3 komik serial yang saya incar, tapi apa daya keuangan masih seret, jadi ditahan dulu lah. Eh ternyata pas sampai di rumah saya "lupa" kalau saya masih punya dua buku yang belum saya baca: The Naked Traveler 3 dan The Girl with Glass Feet. Voila! Bisa nebak ngapain aja saya pas liburan? Yup: baca.

Daaaan, hal menakjubkan lain adalah, lebaran ini adalah lebaran kedua yang saya jalani tanpa ayah. Makanya, lebaran kali ini rasanya beda banget. Nggak mudik, nggak bikin kue, nggak minum es kelapa... aneh deh pokoknya. Ya, walaupun saya udah tahu kalau ayah pasti lebih bahagia di sana, tapi somehow, kangen juga buka puasa dan lebaran dengan ayah.. :')

Last but not least, ada satu hal menakjubkan lain yang datang: Komandan D. Hihi, bocah yang satu ini nih yang bisa bikin saya gila dan betah berlama-lama mantengin hape, ketawa cekikikan sendirian, dan kangen setengah mati. Gila emang ni bocah. Tapi karena itulah saya suka, hehe. Sekarang, udah seminggu saya nggak ketemu dia dan rasanya NGGAK banget. Kangeeeeeeeeeen (ups, kenapa malah curhat?). Hahaha, pengen cepet-cepet ada di Jogja dan ketemu Komandan D rasanya (loh, kok curhatnya dilanjutin? :p)

So, all i wanna say is: mari kembali menulis, mari nge blog, ayo bangun tidur dan langsung menulis, ada banyak tema untuk ditulis. Hehehe. Sampai ketemu di postingan selanjutnya! ;)
3.8.11

Kenapa Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau?

Karena waktu kita terlalu sering digunakan untuk meratapi nasib diri sendiri, dan mengabaikan prinsip yang seharusnya kita miliki dan kita pegang. Ya, butuh pasak yang kuat untuk mematri sebuah prinsip hingga dapat menyaring omongan bebek-bebek sekitar dan merubahnya tak lebih hanya menjadi seonggok koar-koar se-fals lagu-lagu alay. Selamat memegang prinsip!
30.6.11

:)


Currently listening to: Smile by Avril Lavigne. Enjoy! *smile*


You know that I’m a crazy bitch I do what I want, when I feel like it, All I wanna do is lose control. But you don’t really give a shit, Ya go with it, go with it, go with it ‘Cause you’re fuckin’ crazy Rock n’ roll. You-ou said “hey What’s your name?” It took one look and Now I’m not the same. Yeah, you said “Hey” And since that day, you stole my heart and you’re the one to blame. Yeah

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right
And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile.

Last night I blacked out, I think. What did you, what did you put in my drink? I remember making out and then, Oh oh. I Woke up with a new tattooYour name was on me and my name was on you. I would do it all over again

You-ou said “hey (hey) What’s your name?” (what’s your name?) It took one look and Now I’m not the same. Yeah, you said “Hey” (hey) And since that day, (since that day) You stole my heart and you’re the one to blame

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right. And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile. The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile.

You know that I’m a crazy bitch, i do what I want, when I feel like it. All I wanna do is lose control. You know that I’m a crazy bitch I do what I want, when I feel like it. All I wanna do is lose control

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right. And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile. The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile
21.6.11

Carnival town


Source

Saya sadar kalau saya terlalu tua untuk berbicara bahwa manusia dilahirkan dengan sifat yang berbeda-beda. Sebenarnya pemahaman ini sudah lama saya rasakan, tapi baru sekarang saya menyempatkan diri untuk menulisnya :p

Semua orang (bahkan alien juga mungkin) tahu kalau sifat tiap individu yang berbeda itu secara garis besar dibangun dari dua komponen utama: faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal itu seperti bagaimana lingkungan (atau dalam aspek ini masyarakat) mempengaruhi dan membentuk kita. Sedangkan faktor internal adalah bagaimana kita berpikir untuk kemudian merepresentasikan diri kita atas pemahaman orang lain terhadap kita. Semacam komunikasi interpersonal gitu.

Tadi ketika saya berhenti di lampu bangjo perempatan jakal sehabis mengumpulkan tugas UAS Terkom, motor saya berhenti di belakang sebuah truk pengangkut barang. Truknya besar, jadi saya sedikit ambil jarak karena takut kesemprot asap knalpotnya yang pasti hitam pekat.

Sambil nunggu lampu hijau menyala, pikiran saya melantun ke beberapa tahun yang lalu ketika saya baru pertama kali diajari naik motor oleh Ibu. Ibu saya selalu bilang untuk selalu jaga jarak dengan truk besar karena asapnya mengganggu.
Kalau lagi jalan dan di depan ada truk, mendingan laju motornya di pelanin, Teh. Biar truknya lewat dulu, kalau udah agak jauh baru Teteh jalan lagi. Asapnya bau, bikin sakit,” ungkap beliau.
Kala itu saya hanya manggut-manggut aja. Setelah lancar naik motor, baru saya belajar buat nyelip truk-truk besar seperti itu.

Tiba-tiba lampu hijau pun nyala dan saya membiarkan truk itu untuk lewat dulu. Jaga jarak daripada ikutan bau.

Setelah beberapa kilometer saya berjalan menjauhi keramaian jalan kaliurang, saya kepikiran hal ini: hidup manusia nggak jauh beda sama jalan raya ya?

Di jalan, motor, mobil, bis, truk, dengan beragam merk dan ukuran bertemu dan menjadi satu. Bukankah kehidupan juga seperti itu? Dalam hidup kita menemui berbagai orang dengan jenis dan karakter yang berbeda.

Di jalan, kita sebagai pengendara truk dan bis selalu merasa yang terbenar karena ukuran dan porsi yang lebih besar. Kita sebagai pengendara mobil selalu menyumpah-serapahi pengendara motor yang selalu awul-awulan. Kita sebagai pengendara motor selalu menyumpah-serapahi pejalan kaki yang nggak tahu aturan. Kita sebagai pejalan kaki selalu menyumpah-serapahi pengendara kendaraan bermotor yang merenggut hak berjalan. Bukankah semuanya begitu? Semua mencari yang bisa disalahkan untuk mencari tempat yang teraman?

Dalam hidup kita juga selalu mencari tempat dan teman yang ternyaman. Teman yang bahkan kita rela untuk menghabiskan waktu bersamanya. Teman yang bahkan kita rela untuk di repotkan, untuk sekedar memberikan tanggapan dari semua persoalan, untuk sekedar haha-hihi ‘menghabiskan’ waktu bersama.

Lalu, seperti dalam jalan raya, dimana kita menempatkan diri kita terhadap orang yang kita benci? Apakah kita menempatkan diri kita dalam sudut pandang bis dan truk yang menganggap kita adalah raja jalanan yang sebenarnya? Atau dalam sudut pandang mobil dan motor yang selalu saling menyalahkan? Atau dalam sudut pandang pejalan kaki yang selalu merasa dirugikan?

Faktor eksternal dan internal itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Kamu bebas mau menempatkan dirimu dalam sudut pandang yang mana. Seorang teman pernah berkata pada saya, “Nggak ada opini yang salah.” Dan saya percaya. Seratus juta persen percaya. Setiap orang punya alasan untuk menjadi dirinya yang sekarang. Dan kita nggak bisa menghakimi kenapa seseorang menjadi dirinya yang sekarang.

Setiap roda pasti berputar, begitu juga dengan roda kehidupan. Jadi, mari kita berandai-andai kita sekarang sama-sama berada dalam sudut pandang pengendara motor yang sedang terjebak di belakang truk besar berknalpot hitam dan berasap pekat. Apa yang harus kita lakukan?

Menurut saya pribadi, yang kita lakukan hanya cukup bersabar. Berjalan pelan di belakang truk, atau berhenti sebentar untuk memberikan jalan pada si truk. Mau nyalip? Bisa, tapi bukankah nyalip itu butuh melihat situasi arus yang berlawanan? Kalau arus berlawanan lagi sepi, paling mantap emang nyelip si truk sambil ngelakson kenceng-kenceng. Sambil sumpah-serapah kalau perlu. :p Tapi kalau arus yang berlawanan juga sedang padat merayap? Nggak ada yang salah dengan bersabar kan?

Sama dengan hidup. Nggak ada salahnya buat kita untuk bersabar. Ya, saya memang bukan superwomen yang bisa sabar sama orang-orang. Semua orang kayaknya tahu kalau saya punya pengendalian yang payah terhadap emosi saya sendiri. Kalau ada hal-hal yang bikin nggak enak, saya bisa langsung diem dan jutek setengah mati. Tapi dalam diam itu juga saya nyoba untuk bersabar, lho. Saya bersabar untuk tidak berbicara karena saya tahu dengan berbicara dalam kondisi seperti itu saya hanya akan menyakiti perasaan teman-teman saya dengan ucapan yang malah nyelekit.

Emang susah sih, tapi kita memang butuh belajar buat sabar. :) Kita nggak boleh diperalat dengan kepribadian kita sendiri. Ada yang bilang kalau kita adalah salah satu dari tipe kepribadian sanguitis, melankolis, plagmatis, atau koleris. So what kalau kita mau melangkah keluar dari kepribadian kita sendiri? Siapa juga yang bisa ngatur diri kita selain emang diri kita sendiri?

Bahkan saya sedikit merasa kalau empat tipe kepribadian itulah yang justru membentuk kepribadian kita. “Ah, saya kan termaksuk tipe koleris, jadi saya harunya bersikap seperti ini...” Nah, pemikiran itu tuh yang menurut saya salah. Orang yang mencap dirinya sebagai orang yang emosian juga harus belajar caranya sabar. Makanya saya sebel banget sama orang yang bilang, “apa gue harus bersikap kayak gitu? Males ah. udah bawaan lahir sikap gue kayak gini.” HALOOOOOO?? Kemana aja lo selama ini?? Nggak pernah belajar buat berubah?? Nggak pernah belajar buat beradaptasi??

Ini bukan berarti saya mengajari kalian untuk tidak memiliki kepribadian ya. Saya pernah baca kalau orang yang di benci seharusnya bersyukur karena setidaknya mereka mempunyai ciri khas. Tapi patutkah kita di benci orang lain untuk mendapatkan satu ciri khas? Patutkah kita dibenci kalau kita sebenarnya bisa merubahnya dengan sedikit bersabar? Bisa, lho. :)

Source



Ps. Ini cuma tulisan yang didasari refleksi hari aja. Nggak ada unsur apa-apa didalamnya selain ingin berbagi dan ‘sedikit’ melafalkan intuisi. Maaf ya bagi yang tidak berkenan. No offense :)
19.6.11

these are three things i want MOST


DEE's lastest book

Doraemon doll character

Bubble Glass

just a random thought :p

17.6.11

Gloomy Wednesday


Tidak ada yang salah dengan hari itu kecuali saat saya marah dengan diri sendiri. Hari yang terlalu sepi untuk bercerita dan berbagi, maka saya memilih untuk bungkam. Lega rasanya setelah menangis sesendu itu. Sebelumnya saya sampai lupa kapan terakhir kali saya menangis seperti itu. HAHAHA

Maaf untuk semua orang yang kena semprot hari itu, terutama untuk mas-mas yang menjilid tugas laporan saya, dan petugas SKKK yang ribet ngurusin KIK. Maaf. Habis kalian terlalu REBEK disaat yang tidak tepat. Ah ya, dan juga untuk beberapa orang yang membaca tulisan "Sedang-Bad-Mood" di dahi saya. Maaf. Bukan salah saya juga kan kalau saya termaksuk orang yang gampang di tebak? ;p

Yang ingin saya katakan sekarang adalah, Semuanya sudah berlalu! Ya, tiga tugas UAS terberat sudah selesai ditumpuk! :D

Huuuraaay!

14.6.11

Timelapse Stars

Belum ada orang yang saya anggap serakah hingga ada orang yang menikmati ini.
Saya. juga. mau!
Secara langsung, bukan melalui video :(


9.6.11

Paket 3 SKS

Saya waktu SMA [1]


Dulu saya merengak nggak mau kuliah di Jogja, sekarang saya merengek nggak mau ninggalin Jogja.

Yep, ini yang saya rasakan ketika membuka portal UGM untuk KRS-an. Dasar admin portalnya yang terlalu gaul, di bela-belain begadang pun portal masih nggak bisa di akses. Sambil nunggu portal bisa di akses saat itulah saya mengalami aktualisasi diri dalam dunia #galauakademik *opo sih?*

Sambil menunggu, saya ngobrol dengan teman sepermainan via YM dan sms. Kami sama-sama bingung mau ngambil mata kuliah apa buat semester 7 ini (MEN, guweh udah mau semester 7!). Selain mata kuliah yang 'harus kami perdalam', kami, saya sih yang paling ngotot, pengen banget ngambil mata kuliah lintas fakultas. Rasanya aneh aja kuliah di UGM yang punya banyak fakultas tapi cuma ngadem di Fisipooool terus. Hehe, ini pemikiran selo saya aja sih. Rasanya pengen nyoba buat keluar dari zona nyaman kuliah di Fispol dan nyoba menantang diri sendiri lagi dengan kuliah lintas fakultas. Sementara, pilihan saya dan teman-teman jatuh ke Fakultas Sastra, Fakultas Psikologi, dan.... Fakultas Kedokteran! Hahaha, yang terakhir ini saya dan teman-teman semacam nekat karena terinspirasi dari dosen Komunikasi yang lanjut S2 nya di gizi. Ahahaha...

Topik lain pun kami bahas, tentang berkarya sebelum lulus. Yes, saya nggak pengen lulus tanpa sebuah karya. Nggak usah muluk-muluk, karya yang sederhana aja. Semoga kesampaian sebelum lulus atau di semester 7 nanti. Amin Ya Allah, amiiiin. :) Kan keren tuh ketika nanti saya jadi ibu (yang gaul) dan nenek (yang gaul), saya bisa bercerita ke anak cucu saya: "Dulu mama pas kuliah ikut bla bla bla loh..." "Dulu nenek pas kuliah bikin bla bla bla loh..". Ya, semacam itu. Jadi, di semester 7 ini saya sudah MANTAP mengambil tambahan 3 SKS mata kuliah: Berkar(i)ya Sebelum Lulus (a.k.a Bisul). Ahahahaha \:D/

Eniwei, kayaknya saya nggak bakal ngambil skripsi semester ini. KAYAKNYA loh ya, lagian KRS masih sampe tanggal 22, pikiran masih bisa berubah. Tapi kenapa ya, entahlah, saya masih pengen kuliah. Jelek emang pemikiran saya yang terlalu nyaman dengan status single mahasiswa seperti ini, tapi yo gimana lagi. Saya waktu itu pernah ngobrol sama seorang kakak tingkat yang dari obrolan itu menghasilkan satu gagasan bahwa semester 7 ini saya nggak bakalan ngambil Skripsi dulu, tapi udah harus ikut bimbingan. Yep, semacam hubungan tanpa status sama Skripsi gitu. *opo sih?*

Jadiii, saya menyelamat-datangi diri saya sendiri di Semester 7 dengan berbagai pikiran yang berkecambuk: Belum bisa KRS-an, belum tau mau ngambil mata kuliah apa, dan belum mantap untuk (tidak) mengambil skripsi.

Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir, dan mahasiswa galau.


Saya Waktu SMA [2]
8.6.11

Hell Yeah It's You.


5.6.11
i miss you, dad. really miss you. i miss you like a crazy. i miss you that i cry. loud, like a child. i miss you and the moment that we're spent together. i miss talking to you, dad. i miss your voice, your hair, your snoring while you were sleeping, i miss your 'cool' advice when i talked about my problem... i miss you.



and i'll be fine, :')
31.5.11

#31 Hai

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Sebelah rasa mati tertimbun dekapan dusta. Harapan datang bersama rasa.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Kita sama-sama setuju bahwa waktu berjalan begitu lambat ketika kita sama-sama bosan, dan malah begitu cepat ketika kita mulai menikmati.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Kali ini yang mau ku lakukan bukan menurut ucapan maupun tindakan. Hidup ini untuk dijalani, dan kamu menjadi garis putih dalam aspal jalanan hidup yang kubuat. Pasti dilalui, ragu untuk dilintasi, dan tidak mungkin dilewati. Yang penting hanya jalan. Ya, hanya berjalan. Berjalan dibalik dekapan yang aman.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Katamu semua adalah kehendak Tuhan. Katamu aku tidak boleh bersedih. Katamu aku kuat, walaupun aku muak dikatai 'kuat'.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Sumbang suara ketika berdendang, berdeham suara sebelum berbicara, selalu menolak untuk bernyanyi, suaranya pelan yang menenangkan.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Yang kamu butuhkan hanya sebuah jeruk.

Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.





ps. postingan ini bersifat sangat personal. bukan semacam postingan terakhir yang "nendang" memang! hehe :P selamat hari terakhir #31harimenulis! Besok bulan Juni! Yaaay! :DD
30.5.11

#30 Hitam

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis

source

Ketika sedang berduka, dominasi warna yang dipilih atau yang ditampakan adalah hitam. Terlepas dari warna khas pelayat tanda berduka, warna hitam juga sering dikaitkan dengan hal-hal lain. Kenapa duka, sedih, dan kehilangan di representasikan dengan warna hitam? Entahlah, sama saja dengan pertanyaan: kenapa pink identik dengan warna cinta? 
Anyway, Budhe Wiki (Wikipedia maksudnya :p) memiliki definisi tersendiri mengenai hitam:
Hitam dalam definisi ideal adalah representasi ketidakhadiran sedikit pun warna atau cahaya di dalam sebuah ruang gelap.
Dalam banyak kebudayaan, hitam sering diasosiasikan sebagai hal buruk. Misalnya istilah ilmu hitam atau gelap mata. Namun ditemukan pula pengaruh positif dari penggunaan hitam seperti memperlihatkan ketegasan.
Hitam juga bersifat kuat, sehingga tidak mudah dikotori warna lain.

Hitam juga terkenal dalam istilah kehidupan sehari-hari. Orang yang sering membuat onar = kambing hitam, orang yang sering main layangan = orang hitam. Hahaha, nggak deng, bercanda. :p

Selain dengan kematian, hitam juga sering disangkutpautkan dengan masa lalu dan suasana sendu. Setelah tutup buku dengan setan masa lalu dan kembali membuka lembaran baru, si masa lalu kerap beraura hitam, kelam. Pun begitu dengan sendu. Ketika permasalahan datang, saya selalu merasa seperti disiram tinta yang pekat, hitam. Menghapusnya susah sekali. Butuh tipe-x dan penghapus yang banyak dan besar. Setelah dihapus pun selalu masih ada sisa. Sebenarnya bisa seperti semula lagi, hanya butuh waktu. Ya, waktu. Kasihan ya, waktu. Semuanya dikembalikan lagi padanya. Hm.

Langitpun menghitam, menderu, lalu hujan. Malam-malam.




Jadi kangen The Cameners, jadi pengen nyanyi lagu ini:


29.5.11

#29 Hantu

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis

Konon, jiwa manusia yang telah berpulang tapi masih belum menuntaskan "kepentingannya" di bumi akan terjebak di bumi dan menjadi hantu. Tapi tidak hanya manusia, mahluk hidup lain juga bisa menjadi hantu, bahkan sebelum mereka meninggal. Yep, burung. Burung hantu.

Source
Entah kenapa namanya burung hantu. Apakah masih ada hubungannya dengan hal-hal mistis? Saya tahu burung hantu memang bisa melayang, tapi kakinya juga bisa menapak di tanah, dan masih saja di sebut Burung Hantu. Aneh kan? Sama saja seperti Burung Kakak Tua. Kapan dia mudanya ya kalau pas baru lahir aja langsung dipanggil Burung Kakak Tua? -_-

Anyway, Burung Hantu bisa menjadi objek yang sangat menarik dalam duna crafting. Banyak crafter mengidolakan Burung Hantu untuk berbagai macam kreasinya seperti boneka, gantungan kunci, dan lain-lain. Saya juga suka. Ternyata burung hantu tidak seseram yang saya kira! :)
source
28.5.11

#28 Cincin Saturnus

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Source
Saya percaya akan kehidupan di luar angkasa sebesar saya percaya bahwa Circle Crop di Sleman kemarin adalah bukan buatan manusia. Entah kenapa akal saya terlalu cepat untuk percaya pada misteri antariksa. Padahal saya sama sekali tidak mempuanyai bukti ilmiah. Tapi saya percaya.

Seperti pertanyaan yang pernah saya lontarkan di beberapa postingan sebelumya, kemana orang-orang pergi dalam keabadian? Apakah jiwa mereka yang telah tiada bersembunyi dibawah laut? atau di gelapnya antariksa? Untuk hal ini, mari mengandai-andaikan mereka digiring ke antariksa.

Salah satu film yang pernah saya tonton mengatakan bahwa ketika seseorang meninggal, ia akan menjadi bintang baru. Maka tak heran ketika antariksa disesaki oleh jutaan, bahkan miliaran bintang baru. Ya, bintang. Salah satu benda langit yang memancarkan cahaya. Cahaya yang bintang dapat bukan berasal dari matahari, seperti yang bulan lakukan, tapi murni cahayanya sendiri. Jika seseorang yang telah berpulang benar menjadi bintang, tentu yang ditinggalkan akan merasa bahagia. Ia masih menghasilkan cahaya, memberikan penerangan dan ketenangan bagi yang melihatnya, bagi yang ditinggalkan.

Pertanyaan selanjutnya yang timbul adalah, dimana bintang dari jiwa yang telah berpulang bersemayam? Jadi saya berandai-andai lagi dan Planet Saturnus adalah poros imajinasi saya selanjutnya.

Kenapa Saturnus? Pertama, karena saya suka sekali dengan planet ini. Kedua, karena planet ini bisa dilihat dengan mata telanjang saat subuh. Ketiga, planet ini memiliki cincin. Ya, cincin. Cincin yang saya percayai sebagai tempat singgahnya mereka yang menuju keabadian. Satu bebatuan yang berotasi mengelilingi Saturnus menjadi satu tempat singgah jiwa yang pergi dalam keabadian sebelum bermetamorfosis menjadi bintang. Ingin rasanya titip salam untuk Saturnus.

Jiwa-jiwa itu melewati batasan planet dalam dan planet luar antara Mars dan Yupiter, bertemu dan bersenggolan dengan asteroid-asteroid yang mengapung di antaranya. Mereka lalu singgah di planet keemasan, Saturnus, untuk mendominasi satu cincin yang mengitari planet itu. Lalu mereka akan melanjutkan perjalanan setelah merasa cukup puas bersinggah. Entah melanjutkan kemana, karena kediaman Tuhan bersifat misteri pada jiwa yang menjadi abadi.

Mereka berjalan pergi jauh, menjadi makin tak terjamah.
Ingin rasanya titip salam untuk Saturnus.

Seandainya sahabatku dari luar angkasa
Apa yang terjadi, oh mungkinkah?
Sejenak bintang utara bermain dengan air
Mengintari planet Saturnus bersama-sama

27.5.11

#27 Mati

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis



Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang jasadnya terkulai dan tidak bernapas, atau yang pemikirannya berhenti dan hanya mengikuti arus?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang tidak bisa berpikir? atau yang berhenti berpikir?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang hatinya berhenti menghasilkan empedu, atau yang hatinya berhenti mengasihi?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?

Apakah sebenarnya kita sudah mati?
Jasad, pikiran, dan perasaan. Beberapa komponen yang menunjang eksistensi manusia dan serta merta mengukuhkan keber'ada'an manusia. Apakah kita (telah) hidup untuk memanfaatkannya?

Baru saja saya sedikit merenung, apakah saya sungguh 'menghidupi' komponen biologis dan psikologis yang saya miliki? Karena jari turut menari mendengar lantunan pemikiran, saya menganggap saya hidup. Tapi bagaimana keberadaan yang lain apabila keingintahuan dan pikiran berujung pada ketidakkonsistenan dan berhenti pada jalan buntu? Apakah itu masih bisa disebut hidup? Atau mati? Atau mati suri, karena (ternyata) hidup pun butuh spasi, ruang untuk hibernasi, jarak untuk mulai dari merangkak? Entahlah. Mari merenung dan bertanya pada batasan diri sendiri.


sedikit saran: renungkan dalam senja! ;D

26.5.11

#26 Mimpi dan Lagu

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis



source
Waktu kecil, saya sering banget mengalami mimpi buruk. Bukan mimpi buruk kayak dikejar-kejar setan atau ketindihan gitu, tapi mimpi yang benar-benar buruk.

Saya nggak tahu kenapa saya sering banget mimpi buruk. Padahal sebelum tidur saya selalu baca doa bareng mama dan bapak (waktu itu adit belum lahir). Mimpi buruk itu juga masih saya ingat jelas sampai sekarang, entah kenapa saya bisa inget selama ini.

Jadi, cerita dari mimpi itu adalah, saya seperti di lempar ke suatu tempat. Tempatnya berbeda-beda, tapi yang paling saya inget adalah di kerumunan pasar dan di sebuah lapangan luas di depan gedung yang sudah tua usianya. Yang bikin aneh, di dalam mimpi itu saya sadar kalau saya sedang bermimpi. Saya ketakutan melihat setting mimpi saya sendiri. Saya pun berusaha untuk membangunkan diri. Mulai dari lari kesana-kemari, hingga mencubit diri saya sendiri dalam mimpi itu (yang ternyata saya nggak merasakan sakit walaupun sudah dicubit).  Kalau beruntung, saya bisa langsung bangun dan sadar. Tapi kalau nggak, saya ngerasa kayak tersesat. Rasanya kayak mau mati. Serem banget.

Saya lalu terbangun, biasanya karena kecapekan sehabis lari-lari. Saya bangun dan keringat dingin meluncur dari pelipis saya. Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun dari mimpi buruk itu adalah membangunkan mama. Saya lalu bilang pada beliau, “Ma, jangan tidur! Kalau teteh tidur mama jangan tidur. Kalau teteh nggak tidur baru mama tidur.”

Ya, seperti itu.

Sekarang, belasan tahun kemudian, saya sudah tidak pernah mengalami mimpi seperti itu lagi (jangan sampe deh -_-). Tapi ada satu hal yang selalu mengingatkan saya pada mimpi-mimpi itu: sebuah lagu. Ya, lagu dengan instrumen tertentu yang membuat saya merinding dan ketakutan. Saya menyebut lagu-lagu itu dengan sebutan Lagu Mimpi. Beberapa diantaranya adalah lagu-lagunya Frau dan Efek Rumah Kaca (ERK). Sorry to say buat para fansnya Frau dan ERK, tapi saya selalu merinding duluan ketika mendengar lagu-lagu mereka. Ya, karya musik mereka memang hebat dan jenius tapi saya udah horor duluan.

Pertamakali saya mendengarkan lagu Frau dengan instrumen-instrumen mistisnya (saya lupa judulnya, tapi bukan yang Mesin Penenun Hujan kok), saya langsung merinding disko dan memutuskan untuk menghapus lagu-lagu frau dari leptop saya. Takut mamen! Tapi nasib membawa saya pada pertemuan lain dengan lagu Frau. Waktu itu saya dan teman-teman sedang siaran untuk mata kuliah Programa Siaran Radio, tiba-tiba Diani nyetel lagu Frau yang itu. Saya cuma bisa nelen ludah. Memori tentang mimpi-mimpi itu datang lagi.

Di lain hari ketika saya masih di angkatan satu BPPM Balairung, saya sedang menulis berita bersama teman dan editor saya. Tiba-tiba si teman memutar lagu dari leptopnya. Lagu ERK (nggak tau judulnya apa). Saya langsung merinding disko karena kembali teringat dengan mimpi-mimpi itu. Dengan galak saya meminta si teman untuk mematikan lagu itu. Tapi si teman yang ngepens banget sama ERK enggan mematuhi permintaan saya. Kondisi saat itu diperparah dengan si editor yang malah ikutan nyanyi lagu ERK. -__- saya lalu ngungsi ke ruang komputer Balairung, daripada nanti malam mimpi buruk.

Ah, nulis ini bikin atmosfer malam ini makin horor! T____T


Saya waktu kecil, yang pakai kaos hijau muda. Imut yak? :p
25.5.11

#25 Berbicara Kematian

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Bisa dibilang, saya jarang banget ngomongin hal-hal yang berbau kematian dengan teman-teman. Tapi ada satu waktu dimana saya bisa merasakan topik semacam kematian patut untuk diperbincangkan. Bahkan ketika rasa ingin menyampaikan itu datang tiba-tiba, saya tidak peduli dengan siapa saya berbicara. Baik itu kepada orang yang baru saya kenal, maupun boneka. Sembarang saja, saya tidak lagi peduli.

Yang saya bicarakan bukan tentang proses dan mistis seputar kematian, tapi tentang kehilangan dicampur rindu yang entah kepada siapa saya harus melampiaskannya. Pernah nggak sih kamu merasakan rindu yang menyat-nyayat sampai pesimis bahwa nangis pun tidak akan merubah keadaan?

Tapi, ya, menangis tidak akan pernah merubah keadaan.

Jadi apa yang harus saya lakukan?

Bercerita pada bulan?

24.5.11

#24 Twilight Saga dan Kematian


Tema baru! Ahey, sampai juga di tema ketiga dan tema terakhir dari program #31harimenulis. Rencananya sampai tanggal 31 Mei nanti saya mau posting dengan tema... eng-ing-eng *drumroll* KEMATIAN!
Yup. Kematian. Apa saja yang akan saya eksplor dari tema ini? Yukkk dimulaiii J

***

Dua tahun yang lalu saya khatam baca novel Twilight karya Stephenie Meyer. Yep, bagi penyuka novel fantasi seperti saya, wajib hukumnya untuk membaca Twilight Saga. Tapi sayang, pas saya lagi baca Twilight filmnya udah keburu muncul, jadi saya nonton filmnya dulu baru baca novelnya. Masalah? Banget! Baca novel yang disadur ke layar lebar lebih dulu daripada nonton filmnya sakral hukumnya bagi saya.

Pertamakali nonton Twilight, saya langsung melting klepek-klepek gimanaa gitu. Pemainnya keeeyeeeen :3. TAPI pas saya baca novelnya, komentar pertama saya adalah: “WHAAAAAT??!”

Saya benci Isabella Swan. Kenapa kenapa kenapa oh kenapa dia lebih milih Edward daripada Jacob? Saya paling benci Edward di novel Twilight. Dia memperlakukan Bella seperti makanan. Sumpah. Yang saya baca di Twilight mengenai hubungan Edward dan Bella adalah cara Edward memperlakukan Bella yang (ehm, menurut saya pribadi ya) nggak banget.

Oke, kecuali scene Edward yang ngajak Bella ke puncak pohon. Itu co cuiit.

Hehe, back to the topic, saya kecewa nih sama Bella. Kenapa dia milih buat mati dibandingkan dengan hidup bersama Jacob? Apa enaknya sih hidup selamanya?

Berandai-andai nih, kalau misalkan saya hidup di dunia khayal dan saya diberi satu kekuatan super, saya jelas NGGAK AKAN milih kekuatan untuk dapat hidup selamanya. Kenapa? Karena saya nggak suka. Apa sih enaknya bisa hidup selamanya? Waktu yang ada mau digunakan untuk apa? Saya justru ingin merasakan kematian. Bisa dibilang, saya hidup untuk menyicipi kematian.

Serius.

Saya penasaran, ada dimana kita setelah meninggal? Kegiatan apa yang kita lakukan setelah meninggal? Hidup dimana kita setelah meninggal? Kemana orang-orang pergi dalam keabadian?

Saya penasaran. Dan untuk menjawabnya, saya harus meninggal dulu kan? Hehe :p

Yah begitulah.

Harusnya Bella sama Jacob. Harusnya.

23.5.11

#23 - Seandainya - THE CAMENERES (Posting Terakhir Tema Kedua)



NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)
UPDATED! -- Berhubung beberapa waktu yang lalu blogger sempat error, jadi saya posting tulisan ke #13 dan #14 disini.Silakan mampir :)









Bintang berpendar terang malam ini. Ia melakukan tugasnya dengan baik, menuntun pelaut untuk berlayar dengan menampakan rasinya. Itu hakikat bintang, menuntun siapa saja yang kehilangan arah. Termaksuk aku.

Kita sekarang berdiri di hamparan rumput luas sembari dipeluk awan berhias bintang. Aku memandang rasinya takjub. Beberapa kuhapal, di utara aku melihat Corona Borealis. Favoritku. Sedangkan kamu masih kesulitan mencari Kaprikonus.

Kita hanyut dalam dunia kita sebelum waktuku untuk pulang.

Aku pulang bukan karena tidak nyaman bersamamu. Aku pulang bukan karena aku takut menjaga hati. Aku pulang karena ini sudah waktuku. Kamu perlu jarak, kita perlu jarak. Kehidupan akan terus berjalan dan bersamaku bukanlah pilihan yang tepat untukmu.

Aku jengah menjadi pilihan. Apa kamu lupa, jika kamu menempatkan diriku dalam sebuah pilihan, berarti aku juga dapat menempatkan diriku dan dirimu dalam dua pilihan yang berbeda. Aku memilih untuk pulang, dan kamu kupilih untuk menghilang.

Kamu berusaha mencegahku untuk pulang. Kenapa? Kenapa kau perlu menggunakan energimu untuk berbasa-basi? Dan kata “itu” pun terlontar dari mulutmu.

Jangan keluarkan kata sesal, karena demi Tuhan, sedetik pun aku takkan pernah jatuh dalam sorot matamu lagi. Keputusan-keputusan yang ditetapkan sudah bulat. Melingkar membelenggu keyakinanku untuk segera meninggalkan ini semua.

Dan kini subuh datang. Matahari mulai oranye menghapus rasi bintang yang terang. Aku akan pulang, menuju utara menyambut Corona Borealis-ku yang mulai menghilang. Ke Utara.

Aku pamit pulang dulu.


***

Jangan menangis karena sesuatu telah berakhir
tersenyumlah, karena sesuatu itu pernah terjadi.

Ya, itulah yang menimpa saya kali ini. Entah berapa hari saya berada dalam Pulau Tubby untuk riset tentang keberadaan nenek moyang saya. Kini saya jadi tahu bahwa nenek moyang saya adalah seorang penyair, pencipta lagu:
Nenek moyangku orang pelaut, Gemar mengarung luas samudera, Menerjang ombak tiada takut, Menempuh badai sudah biasa... Angin bertiup layar terkembang, Ombak berdebur di tepi pantai, Pemuda berani bangkit sekarang, Ke laut kita beramai-ramai.

Fakta itu sudah lebih dari cukup menjawab semua pertanyaan dari risetku selama ini. Berat rasanya meninggalkan Pulau Tubby dan isi-isinya.

Kami (saya, si teman, Monster Panu, dan Siluman Doraemon) berpesta semalam suntuk sebelum kepulangan kami. Banyak hal-hal ajaib yang terjadi di Pulau Tubby, tapi saya hanya membagi disini tentang yang berkaitan dengan nenek moyang saja. Mungkin di lain waktu akan saya tulis. Mungkin.

Dan disinilah saya, di dalam pesawat kembali menuju Indonesia sambil membayangkan hari-hari yang telah terlewati di Pulau Tubby. Saya memeluk erat buku yang diberikan Siluman Doraemon sementara si teman tertidur pulas. Dari semua perjalanan ini, setidaknya saya tahu satu hal: Mengapa saya tidak pernah menolak ketika diajak berkaraoke. Hihi! :D