SOCIAL MEDIA

31.5.11

#31 Hai

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Sebelah rasa mati tertimbun dekapan dusta. Harapan datang bersama rasa.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Kita sama-sama setuju bahwa waktu berjalan begitu lambat ketika kita sama-sama bosan, dan malah begitu cepat ketika kita mulai menikmati.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Kali ini yang mau ku lakukan bukan menurut ucapan maupun tindakan. Hidup ini untuk dijalani, dan kamu menjadi garis putih dalam aspal jalanan hidup yang kubuat. Pasti dilalui, ragu untuk dilintasi, dan tidak mungkin dilewati. Yang penting hanya jalan. Ya, hanya berjalan. Berjalan dibalik dekapan yang aman.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Katamu semua adalah kehendak Tuhan. Katamu aku tidak boleh bersedih. Katamu aku kuat, walaupun aku muak dikatai 'kuat'.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Sumbang suara ketika berdendang, berdeham suara sebelum berbicara, selalu menolak untuk bernyanyi, suaranya pelan yang menenangkan.
Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.
Yang kamu butuhkan hanya sebuah jeruk.

Kepada yang pernah saya ceritai tentang kematian, hai.





ps. postingan ini bersifat sangat personal. bukan semacam postingan terakhir yang "nendang" memang! hehe :P selamat hari terakhir #31harimenulis! Besok bulan Juni! Yaaay! :DD
30.5.11

#30 Hitam

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis

source

Ketika sedang berduka, dominasi warna yang dipilih atau yang ditampakan adalah hitam. Terlepas dari warna khas pelayat tanda berduka, warna hitam juga sering dikaitkan dengan hal-hal lain. Kenapa duka, sedih, dan kehilangan di representasikan dengan warna hitam? Entahlah, sama saja dengan pertanyaan: kenapa pink identik dengan warna cinta? 
Anyway, Budhe Wiki (Wikipedia maksudnya :p) memiliki definisi tersendiri mengenai hitam:
Hitam dalam definisi ideal adalah representasi ketidakhadiran sedikit pun warna atau cahaya di dalam sebuah ruang gelap.
Dalam banyak kebudayaan, hitam sering diasosiasikan sebagai hal buruk. Misalnya istilah ilmu hitam atau gelap mata. Namun ditemukan pula pengaruh positif dari penggunaan hitam seperti memperlihatkan ketegasan.
Hitam juga bersifat kuat, sehingga tidak mudah dikotori warna lain.

Hitam juga terkenal dalam istilah kehidupan sehari-hari. Orang yang sering membuat onar = kambing hitam, orang yang sering main layangan = orang hitam. Hahaha, nggak deng, bercanda. :p

Selain dengan kematian, hitam juga sering disangkutpautkan dengan masa lalu dan suasana sendu. Setelah tutup buku dengan setan masa lalu dan kembali membuka lembaran baru, si masa lalu kerap beraura hitam, kelam. Pun begitu dengan sendu. Ketika permasalahan datang, saya selalu merasa seperti disiram tinta yang pekat, hitam. Menghapusnya susah sekali. Butuh tipe-x dan penghapus yang banyak dan besar. Setelah dihapus pun selalu masih ada sisa. Sebenarnya bisa seperti semula lagi, hanya butuh waktu. Ya, waktu. Kasihan ya, waktu. Semuanya dikembalikan lagi padanya. Hm.

Langitpun menghitam, menderu, lalu hujan. Malam-malam.




Jadi kangen The Cameners, jadi pengen nyanyi lagu ini:


29.5.11

#29 Hantu

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis

Konon, jiwa manusia yang telah berpulang tapi masih belum menuntaskan "kepentingannya" di bumi akan terjebak di bumi dan menjadi hantu. Tapi tidak hanya manusia, mahluk hidup lain juga bisa menjadi hantu, bahkan sebelum mereka meninggal. Yep, burung. Burung hantu.

Source
Entah kenapa namanya burung hantu. Apakah masih ada hubungannya dengan hal-hal mistis? Saya tahu burung hantu memang bisa melayang, tapi kakinya juga bisa menapak di tanah, dan masih saja di sebut Burung Hantu. Aneh kan? Sama saja seperti Burung Kakak Tua. Kapan dia mudanya ya kalau pas baru lahir aja langsung dipanggil Burung Kakak Tua? -_-

Anyway, Burung Hantu bisa menjadi objek yang sangat menarik dalam duna crafting. Banyak crafter mengidolakan Burung Hantu untuk berbagai macam kreasinya seperti boneka, gantungan kunci, dan lain-lain. Saya juga suka. Ternyata burung hantu tidak seseram yang saya kira! :)
source
28.5.11

#28 Cincin Saturnus

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Source
Saya percaya akan kehidupan di luar angkasa sebesar saya percaya bahwa Circle Crop di Sleman kemarin adalah bukan buatan manusia. Entah kenapa akal saya terlalu cepat untuk percaya pada misteri antariksa. Padahal saya sama sekali tidak mempuanyai bukti ilmiah. Tapi saya percaya.

Seperti pertanyaan yang pernah saya lontarkan di beberapa postingan sebelumya, kemana orang-orang pergi dalam keabadian? Apakah jiwa mereka yang telah tiada bersembunyi dibawah laut? atau di gelapnya antariksa? Untuk hal ini, mari mengandai-andaikan mereka digiring ke antariksa.

Salah satu film yang pernah saya tonton mengatakan bahwa ketika seseorang meninggal, ia akan menjadi bintang baru. Maka tak heran ketika antariksa disesaki oleh jutaan, bahkan miliaran bintang baru. Ya, bintang. Salah satu benda langit yang memancarkan cahaya. Cahaya yang bintang dapat bukan berasal dari matahari, seperti yang bulan lakukan, tapi murni cahayanya sendiri. Jika seseorang yang telah berpulang benar menjadi bintang, tentu yang ditinggalkan akan merasa bahagia. Ia masih menghasilkan cahaya, memberikan penerangan dan ketenangan bagi yang melihatnya, bagi yang ditinggalkan.

Pertanyaan selanjutnya yang timbul adalah, dimana bintang dari jiwa yang telah berpulang bersemayam? Jadi saya berandai-andai lagi dan Planet Saturnus adalah poros imajinasi saya selanjutnya.

Kenapa Saturnus? Pertama, karena saya suka sekali dengan planet ini. Kedua, karena planet ini bisa dilihat dengan mata telanjang saat subuh. Ketiga, planet ini memiliki cincin. Ya, cincin. Cincin yang saya percayai sebagai tempat singgahnya mereka yang menuju keabadian. Satu bebatuan yang berotasi mengelilingi Saturnus menjadi satu tempat singgah jiwa yang pergi dalam keabadian sebelum bermetamorfosis menjadi bintang. Ingin rasanya titip salam untuk Saturnus.

Jiwa-jiwa itu melewati batasan planet dalam dan planet luar antara Mars dan Yupiter, bertemu dan bersenggolan dengan asteroid-asteroid yang mengapung di antaranya. Mereka lalu singgah di planet keemasan, Saturnus, untuk mendominasi satu cincin yang mengitari planet itu. Lalu mereka akan melanjutkan perjalanan setelah merasa cukup puas bersinggah. Entah melanjutkan kemana, karena kediaman Tuhan bersifat misteri pada jiwa yang menjadi abadi.

Mereka berjalan pergi jauh, menjadi makin tak terjamah.
Ingin rasanya titip salam untuk Saturnus.

Seandainya sahabatku dari luar angkasa
Apa yang terjadi, oh mungkinkah?
Sejenak bintang utara bermain dengan air
Mengintari planet Saturnus bersama-sama

27.5.11

#27 Mati

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis



Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang jasadnya terkulai dan tidak bernapas, atau yang pemikirannya berhenti dan hanya mengikuti arus?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang tidak bisa berpikir? atau yang berhenti berpikir?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?
Yang hatinya berhenti menghasilkan empedu, atau yang hatinya berhenti mengasihi?
Yang seperti apa baru bisa disebut mati?

Apakah sebenarnya kita sudah mati?
Jasad, pikiran, dan perasaan. Beberapa komponen yang menunjang eksistensi manusia dan serta merta mengukuhkan keber'ada'an manusia. Apakah kita (telah) hidup untuk memanfaatkannya?

Baru saja saya sedikit merenung, apakah saya sungguh 'menghidupi' komponen biologis dan psikologis yang saya miliki? Karena jari turut menari mendengar lantunan pemikiran, saya menganggap saya hidup. Tapi bagaimana keberadaan yang lain apabila keingintahuan dan pikiran berujung pada ketidakkonsistenan dan berhenti pada jalan buntu? Apakah itu masih bisa disebut hidup? Atau mati? Atau mati suri, karena (ternyata) hidup pun butuh spasi, ruang untuk hibernasi, jarak untuk mulai dari merangkak? Entahlah. Mari merenung dan bertanya pada batasan diri sendiri.


sedikit saran: renungkan dalam senja! ;D

26.5.11

#26 Mimpi dan Lagu

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis



source
Waktu kecil, saya sering banget mengalami mimpi buruk. Bukan mimpi buruk kayak dikejar-kejar setan atau ketindihan gitu, tapi mimpi yang benar-benar buruk.

Saya nggak tahu kenapa saya sering banget mimpi buruk. Padahal sebelum tidur saya selalu baca doa bareng mama dan bapak (waktu itu adit belum lahir). Mimpi buruk itu juga masih saya ingat jelas sampai sekarang, entah kenapa saya bisa inget selama ini.

Jadi, cerita dari mimpi itu adalah, saya seperti di lempar ke suatu tempat. Tempatnya berbeda-beda, tapi yang paling saya inget adalah di kerumunan pasar dan di sebuah lapangan luas di depan gedung yang sudah tua usianya. Yang bikin aneh, di dalam mimpi itu saya sadar kalau saya sedang bermimpi. Saya ketakutan melihat setting mimpi saya sendiri. Saya pun berusaha untuk membangunkan diri. Mulai dari lari kesana-kemari, hingga mencubit diri saya sendiri dalam mimpi itu (yang ternyata saya nggak merasakan sakit walaupun sudah dicubit).  Kalau beruntung, saya bisa langsung bangun dan sadar. Tapi kalau nggak, saya ngerasa kayak tersesat. Rasanya kayak mau mati. Serem banget.

Saya lalu terbangun, biasanya karena kecapekan sehabis lari-lari. Saya bangun dan keringat dingin meluncur dari pelipis saya. Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun dari mimpi buruk itu adalah membangunkan mama. Saya lalu bilang pada beliau, “Ma, jangan tidur! Kalau teteh tidur mama jangan tidur. Kalau teteh nggak tidur baru mama tidur.”

Ya, seperti itu.

Sekarang, belasan tahun kemudian, saya sudah tidak pernah mengalami mimpi seperti itu lagi (jangan sampe deh -_-). Tapi ada satu hal yang selalu mengingatkan saya pada mimpi-mimpi itu: sebuah lagu. Ya, lagu dengan instrumen tertentu yang membuat saya merinding dan ketakutan. Saya menyebut lagu-lagu itu dengan sebutan Lagu Mimpi. Beberapa diantaranya adalah lagu-lagunya Frau dan Efek Rumah Kaca (ERK). Sorry to say buat para fansnya Frau dan ERK, tapi saya selalu merinding duluan ketika mendengar lagu-lagu mereka. Ya, karya musik mereka memang hebat dan jenius tapi saya udah horor duluan.

Pertamakali saya mendengarkan lagu Frau dengan instrumen-instrumen mistisnya (saya lupa judulnya, tapi bukan yang Mesin Penenun Hujan kok), saya langsung merinding disko dan memutuskan untuk menghapus lagu-lagu frau dari leptop saya. Takut mamen! Tapi nasib membawa saya pada pertemuan lain dengan lagu Frau. Waktu itu saya dan teman-teman sedang siaran untuk mata kuliah Programa Siaran Radio, tiba-tiba Diani nyetel lagu Frau yang itu. Saya cuma bisa nelen ludah. Memori tentang mimpi-mimpi itu datang lagi.

Di lain hari ketika saya masih di angkatan satu BPPM Balairung, saya sedang menulis berita bersama teman dan editor saya. Tiba-tiba si teman memutar lagu dari leptopnya. Lagu ERK (nggak tau judulnya apa). Saya langsung merinding disko karena kembali teringat dengan mimpi-mimpi itu. Dengan galak saya meminta si teman untuk mematikan lagu itu. Tapi si teman yang ngepens banget sama ERK enggan mematuhi permintaan saya. Kondisi saat itu diperparah dengan si editor yang malah ikutan nyanyi lagu ERK. -__- saya lalu ngungsi ke ruang komputer Balairung, daripada nanti malam mimpi buruk.

Ah, nulis ini bikin atmosfer malam ini makin horor! T____T


Saya waktu kecil, yang pakai kaos hijau muda. Imut yak? :p
25.5.11

#25 Berbicara Kematian

KEMATIAN -- adalah tema ketiga saya dalam proyek #31harimenulis


Bisa dibilang, saya jarang banget ngomongin hal-hal yang berbau kematian dengan teman-teman. Tapi ada satu waktu dimana saya bisa merasakan topik semacam kematian patut untuk diperbincangkan. Bahkan ketika rasa ingin menyampaikan itu datang tiba-tiba, saya tidak peduli dengan siapa saya berbicara. Baik itu kepada orang yang baru saya kenal, maupun boneka. Sembarang saja, saya tidak lagi peduli.

Yang saya bicarakan bukan tentang proses dan mistis seputar kematian, tapi tentang kehilangan dicampur rindu yang entah kepada siapa saya harus melampiaskannya. Pernah nggak sih kamu merasakan rindu yang menyat-nyayat sampai pesimis bahwa nangis pun tidak akan merubah keadaan?

Tapi, ya, menangis tidak akan pernah merubah keadaan.

Jadi apa yang harus saya lakukan?

Bercerita pada bulan?

24.5.11

#24 Twilight Saga dan Kematian


Tema baru! Ahey, sampai juga di tema ketiga dan tema terakhir dari program #31harimenulis. Rencananya sampai tanggal 31 Mei nanti saya mau posting dengan tema... eng-ing-eng *drumroll* KEMATIAN!
Yup. Kematian. Apa saja yang akan saya eksplor dari tema ini? Yukkk dimulaiii J

***

Dua tahun yang lalu saya khatam baca novel Twilight karya Stephenie Meyer. Yep, bagi penyuka novel fantasi seperti saya, wajib hukumnya untuk membaca Twilight Saga. Tapi sayang, pas saya lagi baca Twilight filmnya udah keburu muncul, jadi saya nonton filmnya dulu baru baca novelnya. Masalah? Banget! Baca novel yang disadur ke layar lebar lebih dulu daripada nonton filmnya sakral hukumnya bagi saya.

Pertamakali nonton Twilight, saya langsung melting klepek-klepek gimanaa gitu. Pemainnya keeeyeeeen :3. TAPI pas saya baca novelnya, komentar pertama saya adalah: “WHAAAAAT??!”

Saya benci Isabella Swan. Kenapa kenapa kenapa oh kenapa dia lebih milih Edward daripada Jacob? Saya paling benci Edward di novel Twilight. Dia memperlakukan Bella seperti makanan. Sumpah. Yang saya baca di Twilight mengenai hubungan Edward dan Bella adalah cara Edward memperlakukan Bella yang (ehm, menurut saya pribadi ya) nggak banget.

Oke, kecuali scene Edward yang ngajak Bella ke puncak pohon. Itu co cuiit.

Hehe, back to the topic, saya kecewa nih sama Bella. Kenapa dia milih buat mati dibandingkan dengan hidup bersama Jacob? Apa enaknya sih hidup selamanya?

Berandai-andai nih, kalau misalkan saya hidup di dunia khayal dan saya diberi satu kekuatan super, saya jelas NGGAK AKAN milih kekuatan untuk dapat hidup selamanya. Kenapa? Karena saya nggak suka. Apa sih enaknya bisa hidup selamanya? Waktu yang ada mau digunakan untuk apa? Saya justru ingin merasakan kematian. Bisa dibilang, saya hidup untuk menyicipi kematian.

Serius.

Saya penasaran, ada dimana kita setelah meninggal? Kegiatan apa yang kita lakukan setelah meninggal? Hidup dimana kita setelah meninggal? Kemana orang-orang pergi dalam keabadian?

Saya penasaran. Dan untuk menjawabnya, saya harus meninggal dulu kan? Hehe :p

Yah begitulah.

Harusnya Bella sama Jacob. Harusnya.

23.5.11

#23 - Seandainya - THE CAMENERES (Posting Terakhir Tema Kedua)



NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)
UPDATED! -- Berhubung beberapa waktu yang lalu blogger sempat error, jadi saya posting tulisan ke #13 dan #14 disini.Silakan mampir :)









Bintang berpendar terang malam ini. Ia melakukan tugasnya dengan baik, menuntun pelaut untuk berlayar dengan menampakan rasinya. Itu hakikat bintang, menuntun siapa saja yang kehilangan arah. Termaksuk aku.

Kita sekarang berdiri di hamparan rumput luas sembari dipeluk awan berhias bintang. Aku memandang rasinya takjub. Beberapa kuhapal, di utara aku melihat Corona Borealis. Favoritku. Sedangkan kamu masih kesulitan mencari Kaprikonus.

Kita hanyut dalam dunia kita sebelum waktuku untuk pulang.

Aku pulang bukan karena tidak nyaman bersamamu. Aku pulang bukan karena aku takut menjaga hati. Aku pulang karena ini sudah waktuku. Kamu perlu jarak, kita perlu jarak. Kehidupan akan terus berjalan dan bersamaku bukanlah pilihan yang tepat untukmu.

Aku jengah menjadi pilihan. Apa kamu lupa, jika kamu menempatkan diriku dalam sebuah pilihan, berarti aku juga dapat menempatkan diriku dan dirimu dalam dua pilihan yang berbeda. Aku memilih untuk pulang, dan kamu kupilih untuk menghilang.

Kamu berusaha mencegahku untuk pulang. Kenapa? Kenapa kau perlu menggunakan energimu untuk berbasa-basi? Dan kata “itu” pun terlontar dari mulutmu.

Jangan keluarkan kata sesal, karena demi Tuhan, sedetik pun aku takkan pernah jatuh dalam sorot matamu lagi. Keputusan-keputusan yang ditetapkan sudah bulat. Melingkar membelenggu keyakinanku untuk segera meninggalkan ini semua.

Dan kini subuh datang. Matahari mulai oranye menghapus rasi bintang yang terang. Aku akan pulang, menuju utara menyambut Corona Borealis-ku yang mulai menghilang. Ke Utara.

Aku pamit pulang dulu.


***

Jangan menangis karena sesuatu telah berakhir
tersenyumlah, karena sesuatu itu pernah terjadi.

Ya, itulah yang menimpa saya kali ini. Entah berapa hari saya berada dalam Pulau Tubby untuk riset tentang keberadaan nenek moyang saya. Kini saya jadi tahu bahwa nenek moyang saya adalah seorang penyair, pencipta lagu:
Nenek moyangku orang pelaut, Gemar mengarung luas samudera, Menerjang ombak tiada takut, Menempuh badai sudah biasa... Angin bertiup layar terkembang, Ombak berdebur di tepi pantai, Pemuda berani bangkit sekarang, Ke laut kita beramai-ramai.

Fakta itu sudah lebih dari cukup menjawab semua pertanyaan dari risetku selama ini. Berat rasanya meninggalkan Pulau Tubby dan isi-isinya.

Kami (saya, si teman, Monster Panu, dan Siluman Doraemon) berpesta semalam suntuk sebelum kepulangan kami. Banyak hal-hal ajaib yang terjadi di Pulau Tubby, tapi saya hanya membagi disini tentang yang berkaitan dengan nenek moyang saja. Mungkin di lain waktu akan saya tulis. Mungkin.

Dan disinilah saya, di dalam pesawat kembali menuju Indonesia sambil membayangkan hari-hari yang telah terlewati di Pulau Tubby. Saya memeluk erat buku yang diberikan Siluman Doraemon sementara si teman tertidur pulas. Dari semua perjalanan ini, setidaknya saya tahu satu hal: Mengapa saya tidak pernah menolak ketika diajak berkaraoke. Hihi! :D

22.5.11

#22 - Take a Bow - THE CAMENERS



NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)
UPDATED! -- Berhubung beberapa waktu yang lalu blogger sempat error, jadi saya posting tulisan ke #13 dan #14 disini.Silakan mampir :)












Perasaan manusia seperti hiasan kristal. Indah tetapi rapuh. Tegar hanya tampilan luarnya. Mana ada yang tahu?
Perasaan dapat lembut sekaligus manis seperti gula-gula kapas. Dapat juga sakit dan pedas seperti sambal yang di ulek. Dapat pula datar seperti cor-coran lantai atas atap gedung. Mana ada yang tahu?

Letak perasaan manusia ada di dalam hati, hati manusia berada diantara rongga dada, hati adalah satu paket dengan eksistensi manusia. 

Manusia memiliki cukup kepintaran untuk berpikir, tapi tidak untuk mengendalikan. Suasana hati dapat mengendalikan perasaan, tapi perasaan tak dapat mendominasi hati. Perasaan yang melampaui batas akan mempengaruhi hati. Tapi hati tak punya nalar yang cukup untuk dapat bernegosiasi dengan pikiran.

Jangan dikira hati dan perasaan hanya dapat disakiti oleh benda mati. Manusia seperti kanibal yang menyayat dirinya sendiri. Mereka menyakiti hati dengan bagian tubuh lain yang dimiliki. Lidah.

Lidah bukan hanya otot rangka dalam lantai mulut. Lidah bantu membentuk apa yang terpikir dan yang butuh untuk dijabarkan. Letaknya tersembunyi namun kadang menyakiti, seperti ucapan dan janji yang tak ditepati.

Manusia adalah berpikir, manusia selalu berkekspektasi, maka tepatilah janji. Jangan menjadikan dirimu kanibal pemakan hati. Kita sama-sama manusia yang bernadi yang kesal atas ucapan lidah yang menyayat hati.

***

"Tidak ada yang suka dibohongi. Maka jangan berjanji jika kamu merasa tidak sanggup untuk menepati. Bicarakan apa yang kamu rasakan jika kamu sudah mencapat titik batas tapi belum mendapatkan apa yang kamu inginkan. Buat mereka mengerti, dengan berbicara dari hati ke hati." ucap Siluman Doraemon.

"Nenekmu adalah penyair sekaligus penulis lagu yang semuanya terarsip di buku ini" tambah Monster Panu.


#21 - Hari Baru


Kubiarkan sepi menepi
Meninggalkan diri yang setengah terisi
Untuk apa aku selalu menanti?
Sampai hati terbagi dan selalu tersakti

mengapa kau enggan untuk memberi?
Kecuali ucapan tajam mengikis hati

Kau panggil dia mentari
Ku pangil dia nista yang berlari
Akankah aku selamanya disini?

Ini waktunya tuk pergi
Melepas hati yang terpatri
Untuk segera mencari matahari
Dengan berpendar dalam sunyi
Yang bisa menjadi pelita obat hati

20.5.11

#20 - Tentang PSTV


DOP and Script Writer

SYUTING HARI KEDUA PSTV dilalui dengan hati riang gembira dan terlalu banyak tertawa! Pipi saya sampai mati rasa saking pegalnya. Ngetawain apalagi kalau bukan tentang kelakuan cacat anak-anak produksi me-mentel-i si talent :p Hehe. #Kode Production, you rawk! \m/ Bagian yang paling saya suka dari syuting hari ini adalah saat duduk berdua di pinggir pantai bareng si talent rizma sambil ngomongin hal-hal absurd. Co cuit banget. Sambil ngedengerin lagu-lagu galau dari hape dan memandang laut yang ombaknya ganas, kita cerita-cerita. Hahaaha, GALAU detected! :P

19.5.11

#19 - Kaki Baja


Selamat malam para pecinta THE CAMENERS! Maaf beribu maaf, cerita akhir THE CAMENERS masih belum bisa saya tampilkan disini. Seharian ini saya terlalu sibuk mengurusi proyek PSTV. Yep, hari ini adalah hari pertama saya dan teman-teman kelompok PSTV melakukan rangkaian syuting. Rencananya syuting akan dilaksanakan selama tiga hari sampai sabtu (21/5) besok.

Director and Script Writer
Syuting hari pertama? LUAAAAR BIASA! Panas, keringetan, apek, capek, pusing, semuanya campur jadi satu. Kebetulan dalam proyek ini saya bekerja sebagai penulis skenario, atau bahasa gaulnya script writer. Berhubung pas hari H syuting saya nggak ngapa-ngapain, jadi direkrutlah saya menjadi supir dadakan untuk wara-wiri ke TKP. Jadilah saya, supir dengan keahlian nyasar. Haha, ya, berbekal jam terbang tinggi tapi nggak punya sim A, saya nekat muter-muter Yogyakarta demi... PSTV.


Tugu Yogyakarta jam 5 pagi
Syuting tadi berlangsung lancar. Si talent yang iMo3tz bGeudZ mampu memompa mood anak-anak saat terlalu banyak shot yang diulang. 10 dari 11 orang kru yang berjenis kelamin perempuan langsung mentel pas si talent yang iMo3tz bGeudZ mulai beraksi. Yihaaa! Saya? Sori ya, saya sih nggak mentel, cuma ingin lebih membangun mood syuting aja agar tidak berantakan! Hahahahaa.. *kabur* :p Selain itu, semua warga yang terlibat baik secara langsung maupun tidak dalam proses syuting juga sangat memaklumi keterbatasan kami. Mulai dari meminta mas-mas pembawa galon yang gelodakan untuk cepat-cepat berjalan, hingga mengajak ngobrol rombongan anak SD untuk mengalihkan perhatiannya dari bola sepak yang suaranya mengganggu proses syuting. Walaupun capek dan masalah teknis timbul terus menerus, tapi saya senang! Asyik juga ya jadi supir pembuat acara televisi. Besok adalah hari kedua kami syuting. Semoga jadwal nggak molor dan prosesnya lancar! :D

Okey, sampai sini dulu postingan saya hari ini. Kaki kiri saya pegel banget, kebanyakan nginjek kopling. Cenat-cenut, cenant-cenut -__-  Andaikan saya punya kekuatan seperti Franky di komik One Piece. Untuk sementara  waktu saya pengen ngerubah kaki kiri saya ini jadi kaki baja biar nggak pegel saat bawa mobil. ihik. *lah, kenapa malah curhat?
Oke deh semuanya, selamat malam, selamat tidur. Besok saya syuting ke pantai lho! Yaaaay! :)

18.5.11

#18 Jalan di Tempat

Tidak ada postingan THE CAMENERS untuk hari ini. Saya sedang berencana untuk menggodok akhir cerita petualangan di Pulau Tubby lebih mendalam. Untuk fans setia THE CAMENERS harap bersabar ya :) Admin sedang dalam kondisi galau tidak bersemangat. Perutnya dari tadi seperti mati rasa. Entah kenapa. Ihik. *curhat

Oke, jadi topik apa yang akan dibahas malam ini?
Kuliah?
Oke!

Jadi, beberapa minggu ini saya sedang disibukan oleh mata kuliah Program Siaran Televisi (PSTV). PSTV ini merupakan mata kuliah wajib konsentrasi media jurusan ilmu komunikasi UGM. Hasil akhir dari mata kuliah ini adalah seuah program televisi. Apapun. Setelah melewati lika-liku proses pra produksi, akhirnya besok saya dan kelompok saya akan mulai syuting! Huray!

Selain PSTV, kegiatan kuliah saya juga diisi dengan asistensi, magang wajib, dan tugas rutin mingguan. Boleh dibilang, selain semester 5, semester 6 inilah saat-saat terberat saya menjalani kuliah -__- Masalah manajemen waku adalah yang benar-benar menjadi kendala. Banyaknya tuntutan dan kerjaan dari luar tugas kampus memecah konsentrasi saya. Huaaah. Rasanya mau bilang "ngga bisa" atau "maaf" kok orang-orang nggak peduli aja ya kayaknya. *loh kok malah jadi curhat?

Setelah PSTV dab tugas-tugas yang tak henti-hentinya mengalir berakhir, UAS menanti di pertengahan Juni. Dug-dag-dig-dug. UAS Semester 6. Sebentar lagi semester 7. Tapi masih belum tau apa-apa tentang skripsi. Masih buta. Sama sekali. T_T

Setelah UAS selesai, Insya Allah pada akhir Juni saya dan 25 orang teman lainnya akan berangkat menuju Muntok, Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung untuk melaksanakan KKN selama kurang lebih 1,5 Bulan. Ini nih. Saya kembali deg-degan. Berangkat naik apa? Program lancar apa nggak? Pulangnya kapan? Lebaran dimana? Dapet jodoh dimana? Haha, tapi serius ini saya takut. Semoga perjalanan saya keluar pulau Jawa untuk pertamakalinya nanti dilancarkan semuanya oleh Allah. Amiin :)

Last but not least, besok. pstv. masih. nggak. percaya.
semoga. semuanya. lancar. AMIIIIN >.<
17.5.11

#17 Lama-Lama Aku Bosan - THE CAMENERS

NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)
UPDATED! -- Berhubung beberapa waktu yang lalu blogger sempat error, jadi saya posting tulisan ke #13 dan #14 disini. Silakan mampir :)





"Jingga datang salam senyap
Ditelan malam ketika bulan menggumam
'Jangan, tunggu aku belum selesai menikmatinya,'
Tapi surya sudah tertata. Konstan. Tata Surya

Dalam sebuah perjalanan perasaanku mengambang
Seperti berjalan diatas bambu panjang
Gravitasi selalu mendekapku dengan tarikan vertikal
Yang membuatku terjungkal

Tak ada yang bisa dipegang
Apalagi untuk menjadi sandaran
Airmata terus kusembunyikan
Dibalik tegar dan keceriaan

Semua pergi saat dibutuhkan
Berdiam diri pun tak jua menghasilkan arti
Selain memberikan kesempatan bagi yang menghampiri
Membuka semua kunci-kunci

Jangan pernah lupa ketika surya mulai tenggelam
Selalu ada kejutan baru dari alam
Bukan ingkar menjelma hujan yang mengulum cerah
Tapi satu bulat bulan. Penuh.

Dan berterimakasihlah pada Bulan
Yang hadir indah menggantikan senja
Walau hanya meminjam cahaya surya
Tapi dia ada, dan nyata"

***

"Apa ini" tanya saya penasaran sambil memperhatikan puisi yang terdapat dalam buku tebal itu.

"Nenek moyangmu yang menulis ini. Setelah kunjungan spiritualnya ke Saturnus, beliau menulis ini," jelas Siluman Doraemon.

Mulutku ternganga. Saya masih tidak percaya.

Monster Panu yang melihat ekspresi kaget saya langsung mengeluarkan sebuah piringan hitam. "Puisi ini juga dibuat versi lagunya. Oleh nenekmu," Monster Panu lalu menuju pemutar piringan hitam dan memutar piringan hitam itu.

Lirik-lirik itu mengalun dalam suara indah. Suara jernih bernada. Bukan, jangan bayangkan suara The Cameners yang jelek sekali. Dan lagu-lagu itu terus berputar dalam otak saya. Indah, merdu, syahdu.


untuk bulan yang malam ini hadir terlalu indah. terimakasih :)

16.5.11

#16 Mau Dibawa Kemana - THE CAMENERS


NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)






"Coba tebak, apa yang paling sulit dari berusaha mencapai cita-cita?" Pertanyaan Monster Panu mengagetkan saya. 

Saya pun bingung menjawabnya. Saking bingungnya, saya menyikut tangan teman saya yang enggan disebutkan namanya. Si teman yang sedang asik makan ubi bakar pun langsung gelagapan. Kami sama-sama bingung.

"Ng.. apa ya... mungkin langkah pertama untuk melakukannya? Maksudku, kalau kita udah punya mimpi atau keinginan, yang diperlukan hanya langkah pertamanya, kan?" jawabku.

Si teman yang enggan disebutkan namanya menimpali, "Iya, biasanya kalau langkah pertama sudah diambil,, langkah-langkah berikutnya akan begitu saja menghampiri."

Monster Panu menatap kami bergantian. "Yup, itu bisa jadi salah satunya."

"Tapi kadang bukan langkah pertama lho yang susah dijalankan," sela Siluman Doraemon. Ia lalu menghampiri kami dan ikut duduk melingkar seperti yang biasanya kami lakukan di sore hari seperti ini. "Kalau menurutku, yang paling berbahaya adalah mengendapkan impianmu itu. Terlalu lama diendapkan itu tidak baik. Beruntung, kalau niat kamu besar dan ingin melanjutkannya lagi. Tapi kalau tidak? Impianmu itu hanya akan tertutup dengan impian-impian lain yang kamu miliki. Hasilnya, kamu nggak akan mendapatkan impian-impian sesuai dengan yang telah kamu rencanakan."

"Maksudmu seperti berjalan ditempat?" tanya si teman yang enggan disebutkan namanya.

Siluman Doraemon mengangguk. "Yup. Jalan ditempat merupakan proses yang menjemukan. Kita tetap bergerak, tapi tidak maju. Capeknya dapet, penantiannya dapet, kekecewaannya juga dapet."

"Tapi bukankah dalam sebuah proses kita juga perlu beristirahat?" tanya saya.

"Ya, tapi bukan istirahat yang membuat kita capek" jawab Monster Panu. 

Kami pun diam. Sisa sore itu kami habiskan dengan saling diam. Meresapi perkataan dua mahluk asing itu yang langsung menghujam pemikiran kami berdua.

Merekapun bernyanyi, tetap dengan suaranya yang fals dan sangat jelek biasa saja.


***

"Nenek moyangmu adalah salah satu orang yang berhasil mencapai cita-citanya. Ia merupakan gabungan dari bakat dan usaha. Usahanya, tidak lepas dari proses jalan di tempat. Tapi ia berhasil melalui itu semua." ungkap Monster Panu.

"Apa maksudmu?" tanyaku makin penasaran.

Siluman Doraemon lalu merogoh kantong ajaibnya dan mengeluarkan satu buku besar. Buku itu tampak begitu tua. Buku itu terdiri dari kertas tebal yang kuduga dibuat dari dedaunan hutan, yang dijilid dengan ranting-rating pohon yang tipis, tapi kuat.

"Baca ini." Siluman Doraemon menyodorkan buku itu kepadaku.

Dan aku tak percaya telah menemukan satu fakta baru lagi!

15.5.11

#12 Wish You Were Here - THE CAMENERS


NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)





I can be toughI can be strongBut with you, It's not like that at all

Theres a girl who gives a shitBehind this wallYou just walk through it
And I remember all those crazy thing you saidYou left them running through my head
You're always there, you're everywhereBut right now I wish you were here
All those crazy things we didDidn't think about it just went with it.

You're always there, you're everywhereBut right now I wish you were here


Damn, Damn, Damn, What I'd do to have you Here, Here, Here
I wish you were here
Damn, Damn, Damn, What I'd do to have you Near, Near, Near
I wish you were here.

I love the way you areIt's who I am don't have to try hard
We always say, Say like it isAnd the truth is that I really miss

All those crazy things we didDidn't think about it just went with it.
You're always there, you're everywhereBut right now I wish you were here


Damn, Damn, Damn, What I'd do to have you Here, Here, Here
I wish you were here
Damn, Damn, Damn, What I'd do to have you Near, Near, Near
I wish you were here.



Monster Panu dan Siluman Doraemon menyuguhkan lagu ini untuk kami. Mereka ternyata termaksuk ukuran mahluk yang cerdas bermusik dalam Pulau Tubby. Tapi bagi saya, penampilan mereka jelek sekali biasa saja. Dengan obsesi menyanyi yang tinggi, seperti yang sudah saya duga, mereka tergambung dalam sebuah grup band akustik bernama THE CAMENERS. (Huruf 'c' nya dibaca 'c' bukan 'k')

Entah cerita apa yang ingin mereka sampaikan. Tapi saya memandang ini sebagai rasa rindu yang mendalam. Mereka mendambakan seseorang yang sudah lama tidak mereka jumpai. Ada perasaan khidmat tersendiri yang mereka sajikan dalam lagu itu.

Belum ada data terbaru yang saya dapatkan dari obrolan hari pertama saya dengan THE CAMENERS. Semoga obrolan-obrolan selanjutnya akan menuntun saya ke titik terang siapa sebenarnya nenek monang saya. Amin.

#15 You - THE CAMENERS


NENEK MOYANG adalah tema kedua saya dalam proyek #31harimenulis. Saya penasaran dengan identitas nenek moyang saya. Lalu, saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya, mulai berpetualang untuk mencari fakta-fakta tersembunyi tentang nenek moyang saya. Dimulailah petualangan saya bersama teman saya yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby. Kami lalu bertemu duo musikal THE CAMENERS, yang terdiri dari Monster Panu dan Siluman Doraemon. Mereka berdua disinyalir mengetahui identitas nenek moyang saya. Selama LIMA HARI KEDEPAN (terhitung 12/5) saya akan memposting mengenai obrolan-obrolan saya dengan THE CAMENERS. Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa saya mencari nenek moyang saya, bisa dibaca DISINI. Selamat menikmati! Salam THE CAMENERS! :)






"Kami lalu membicarakan sosok yang dipanggil Dia. Refleksi diri dari apa yang tidak kamu punya untuk menyempurnakannya. Semuanya menyukai Dia. Juga salah satu dari mereka. Tapi semuanya kembali seperti apa yang dijanjikan penguasa semesta, bahwa selalu hanya ada satu pasangan dari yang bisa menikmati udara.

Dia memilih untuk menjadi satu bersama yang mengaguminya. Jiwanya dipersembahkan untuk betina yang menguapkan feromon lebih menyengat. Dia bahagia, tapi Dia selalu merasa ada yang salah. Selalu ada yang kosong walaupun ia cukup sadar harinya selalu terpenuhi sempurna. Dia lalu bertanya, apa yang dimaksud dengan sempurna?

Suatu hari Dia pergi. Kembali, tapi dalam waktu yang lama. Dalam perjalanan, Dia menemukan sesuatu yang mengisi kekosongan hatinya. Dia menyebutnya Sempurna. Awalnya ia ragu. Kekecewaan adalah musuh terbesar yang selalu diperanginya. Sekarang Dia justru mendekapnya erat. Untuk kini dan seterusnya. Dia mendekap kekecewaan untuk dibagikan pada si betina penguap feromon, demi satu hal yang mengisi kekosongan hatinya, si Sempurna."

***


Entah siapa yang bercerita. Entah Siluman Doraemon atau Monster Panu. Tapi saya terlalu larut dalam cerita itu seperti gula dalam air panas. Saya melebur, seolah-olah mengerti bagaimana perasaan si betina penguap feromon. Saya membayangkan sakit dari kekecewaan yang dialaminya.

Saya menengok ke sebelah, teman saya yang enggan disebut namanya juga tampak terpana dengan kisah  itu. Kami sama-sama mempunyai trauma dengan penghianatan.

"Lalu dimana nenek moyang saya dalam cerita itu?" tanyaku setelah mereka berdua selesai menyanyikan satu buah lagu pengiring.

Kini Siluman Doraemon yang angkat bicara. "Nenek mu termaksuk dalam kelompok yang juga menguapkan feromon, namun tidak masuk dalam pilihan Dia. Aku pikir, nenekmu merupakan salah satu perempuan beruntung. Lebih baik memiliki kehilangan di awal perjumpaan daripada mendapatkan hal semu yang mengecewakan di masa mendatang."


11.5.11

#11 Pengantar Tema Baru

Tema popularitas: Done!
Yeaaah \m/ rasanya kayak habis melahirkan (kayak yang tahu aja :p). Legaaa.. tapi masih ada 21 hari lagi untuk ditulis..

Anyway, tema selanjutnya adalah tentang NENEK MOYANG. Saya ini selalu penasaran siapa nenek moyang saya. Kata mama saya, saya ini keturunan jawa tengah (Blora) tulen, dan mbah-mbah saya tujuh turunan keatas juga semuanya orang Jawa Tengah. Hanya saja karena tuntutan pekerjaan orangtua, kami sekeluarga dipindahkan ke Jawa Barat (Sukabumi.) Menurut saya ini adalah sebuah pertanda bahwa nenek moyang saya adalah orang Jawa tengah.

Tidak puas dengan hipotesis itu, saya dan seorang teman yang enggan disebut namanya, mengadakan penelitian kecil-kecilan. Setelah mengasah pisau analisis kami dengan batu asah dari Goa Olala di kampung Bojong Kenyot, kami menemukan pencerahan. Data yang kami dapat dari perpustakaan setempat menunjukan bahwa nenek moyang saya bukanlah seorang pelaut.

"Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera...."
Anda familiar dengan lagu itu? ya, saya juga. Tapi hati saya perih ketika mendengar lagu itu setelah mengetahui kenyataan bahwa nenek saya bukanlah seorang pelaut. Lihat kan, bagaimana lagu tersebut menyimpan diskriminasi yang luar biasa besar untuk saya sekeluarga karena nenek moyang saya bukan pelaut.

Penelitian demi penelitian terus kami lakukan untuk menguak misteri tentang nenek moyang saya. Hingga pada  akhirnya di suatu malam saat bulan sabit bersinar sangat terang, saya menemukan fakta ini: Nenek moyang saya gemar berkaraoke. Ya, awalnya saya juga tidak menyadari hal ini sampai saya menemukan satu gambar not balok di setiap sudut foto nenek moyang saya yang terarsip di perpustakaan. Nenek moyang saya gemar berkaroke.

Fakta itu mengejutkan saya. Mungkin inikah yang namanya takdir? Mungkinkah ini alasan kenapa saya tidak pernah menolak jika diajak teman-teman berkaraoke? Entahlah. Saya masih penasaran.

Jadi singkat cerita, saya dan seorang teman saya yang enggan disebut namanya itu tetap melanjutkan penelitian. Setelah googling dan membaca sedikit mantra-mantra, saya menemukan bukti lain tentang nenek moyang saya: ternyata dulu nenek moyang saya pernah singgah di Pulau Tubby.

Tidak, pulau Tubby tidak bisa ditemukan di Google Map, atlas, globe, maupun peta dunia. Semua gambaran yang merepresentasikan geografis bumi tidak mencakup Pulau Tubby di dalamnya. Namun kira-kira Pulau Tubby terletak di barat daya kepulauan Genovia, benua Eropa.

Bermodalkan celengan ayam yang telah mati dibanting, saya dan teman yang enggan disebut namanya kemudian berangkat menuju Pulau Tubby. Maaf saya tidak dapat menjelaskan bagaimana saya bisa sampai di Pulau Tubby. Karena selain melalui jalan berliku yang terjal dan curam, jalan menuju Pulau Tubby dijaga ketat oleh Oompa Loempa. Ya, mahluk kerdil pencinta cocoa di film Charlie and the Chocolate Factory itu nyata saudara-saudara.

Perjalanan pun kami lalui dengan hati riang dan penuh kesabaran. Perbedaan bahasa adalah salah satu masalah krusial yang kami hadapi. Beruntung, di tengah jalan, ketika kami sedang beristirahat di Gua Fecanesse, kami bertemu dengan Monster Panu dan Siluman Doraemon. Jangan bayangkan penyakit kulit yang menganjam jiwa manusia. Panu yang dimaksud disini adalah nama seorang penduduk Pulau Tubby. Monster Panu selalu memakai helm dan masker kemanapun dia pergi. entah kenapa. Apakah seluruh tubuhnya ternyata panuan? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Siluman Doraemon juga menyimpan misteri. Konon katanya Siluman Doraemon suatu waktu pernah mengunjungi Jepang dan langsung jatuh cinta dengan tokoh kartun yang lucu itu. Sejak saat itu ia memutuskan untuk operasi plastik dan mengubah namanya menjadi Siluman Doraemon.

Beruntung, Monster Panu dan Siluman Doraemon bisa berbahasa Inggris dan sedikit bahasa Indonesia. Ternyata mereka suka sekali menonton Glee dan Cinta Fitri, jadi mereka tertarik untuk mempelajari bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Setelah saya bercerita mengenai alasan kedatangan saya dan teman yang enggan disebut namanya ke Pulau Tubby, Monster Panu dan Siluman Doraemon pun berjanji hendak membantu saya menemukan sejarah nenek moyang saya yang hilang. Mereka lalu mengajak kami ke rumah mereka. Di rumah mereka, kami banyak bercerita. Setiap selesai bercerita, mereka selalu bernyanyi. Entah kenapa mereka berdua juga suka menyanyi. Siluman Doraemon memiliki obsesi menjadi penyanyi terkenal seperti Rachel Berry-nya Glee. Sedangkan Monster Panu memiliki ambisi untuk menyulap suaranya menjadi serak-serak basah supaya mirip dengan Shireen Sungkar. Jangan aneh makanya ketika mendengar Monster Panu berbicara selalu ada akhiran: "haiya iya iya ya.." nya.

Banyak misteri yang terungkap dalam obrolan kami. Obrolan inilah yang nantinya selama LIMA HARI KEDEPAN akan saya bahas di segmen #31harimenulis. Terhitung besok. Tetap pantau terus blog ini ya. Saya pamit undur diri dulu, mau ngerjain tugas PSTV. Dilanjut besok ya! Salam metal. \m/
10.5.11

#10 Catatan Pengantar Medis Sherry McCrown

Catatan Medis Klinik Psikologi Town Scrown


Nama                 : Sherry McCrown
Usia                   : 27 tahun
Jenis Kelamin     : Perempuan
Pekerjaan           : Aktris Penyanyi
Bangsal               : 15


Popularitas adalah memilih. Memilih untuk menjadi harapan orang lain. Ya, menjadi representasi yang tidak dimiliki orang lain adalah cara untuk mencapai popularitas. Sayangnya, dalam jalan untuk menjadi polpuler, pilihan untuk menjadi harapan orang lain pasti diambil. Padahal ada satu pilihan lain: tetap diam, tidak memilih, dan tetap menjadi diri sendiri.

Apa yang didapat setelah menjadi populer? Banyak! Harta, fans, hingga dikenal banyak orang. Selain itu, kita juga bisa diundang ke pesta-pesta mewah dan memakai baju rancangan desainer terkenal.

Apa yang dilakukan setelah menjadi populer? Inilah pertanyaan yang tidak dapat kujawab. Hidup rasanya semakin membosankan setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan.

Aku kehilangan diriku ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku tidak pernah menjadi diriku sendiri ketika aku menjadi populer. Tuntutan itu selalu datang. Entah darimana asalnya. Tuntutan untuk tampil sempurna dan meninggalkan aku yang biasa. Aku tidak punya cukup waktu untuk menambal bagian dari diriku yang hilang. Waktuku habis untuk menjadi cerminan orang lain.

Jadi apa yang kudapat selama karirku yang melesat? Aku juga tidak tahu. Aku selalu merasa ini seperti mimpi. Aku seolah-olah adalah mesin yang dapat dikendalikan, diberi pakaian pilihan, dan dituntut untuk bersikap seperti apa yang masyarakat harap. Aku ingin menghentikan mimpi ini, bangun dari tidur yang panjang, dan mendapatkan kehidupan baru.

Aku tidak tahan.

Aku ingin memilih. Aku bahkan kehilangan hak yang kumiliki sejak lahir: hak untuk memilih. Aku ingin memilih untuk menjadi biasa. Aku memilih untuk tidak sempurna.

Maka dari itu aku memutuskan untuk istirahat dari karirku dan bermeditasi disini.  Semoga dengan cara ini aku bisa kembali mendapatkan pilihan-pilihan yang direngut di depan mata kepalaku sendiri. Semoga.



Hormat saya,

Sherry McCrown




Ps. Bisakah selama di klinik saya dipanggil Cho? Saya ingin identitas saya tetap dirahasiakan, seperti  salah satu pilihan yang tertera di brosur klinik anda. Dan karena itu pula lah saya mengecat rambut menjadi hitam. Agar tidak banyak yang mengenali saya. Terimakasih.