SOCIAL MEDIA

30.6.11

:)


Currently listening to: Smile by Avril Lavigne. Enjoy! *smile*


You know that I’m a crazy bitch I do what I want, when I feel like it, All I wanna do is lose control. But you don’t really give a shit, Ya go with it, go with it, go with it ‘Cause you’re fuckin’ crazy Rock n’ roll. You-ou said “hey What’s your name?” It took one look and Now I’m not the same. Yeah, you said “Hey” And since that day, you stole my heart and you’re the one to blame. Yeah

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right
And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile.

Last night I blacked out, I think. What did you, what did you put in my drink? I remember making out and then, Oh oh. I Woke up with a new tattooYour name was on me and my name was on you. I would do it all over again

You-ou said “hey (hey) What’s your name?” (what’s your name?) It took one look and Now I’m not the same. Yeah, you said “Hey” (hey) And since that day, (since that day) You stole my heart and you’re the one to blame

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right. And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile. The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile.

You know that I’m a crazy bitch, i do what I want, when I feel like it. All I wanna do is lose control. You know that I’m a crazy bitch I do what I want, when I feel like it. All I wanna do is lose control

And that’s why I smile. It’s been a while Since everyday and everything has felt this right. And now You turn it all around And suddenly you’re all I need The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile. The reason why, I-i-i, I smi-i-i-ile
21.6.11

Carnival town


Source

Saya sadar kalau saya terlalu tua untuk berbicara bahwa manusia dilahirkan dengan sifat yang berbeda-beda. Sebenarnya pemahaman ini sudah lama saya rasakan, tapi baru sekarang saya menyempatkan diri untuk menulisnya :p

Semua orang (bahkan alien juga mungkin) tahu kalau sifat tiap individu yang berbeda itu secara garis besar dibangun dari dua komponen utama: faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal itu seperti bagaimana lingkungan (atau dalam aspek ini masyarakat) mempengaruhi dan membentuk kita. Sedangkan faktor internal adalah bagaimana kita berpikir untuk kemudian merepresentasikan diri kita atas pemahaman orang lain terhadap kita. Semacam komunikasi interpersonal gitu.

Tadi ketika saya berhenti di lampu bangjo perempatan jakal sehabis mengumpulkan tugas UAS Terkom, motor saya berhenti di belakang sebuah truk pengangkut barang. Truknya besar, jadi saya sedikit ambil jarak karena takut kesemprot asap knalpotnya yang pasti hitam pekat.

Sambil nunggu lampu hijau menyala, pikiran saya melantun ke beberapa tahun yang lalu ketika saya baru pertama kali diajari naik motor oleh Ibu. Ibu saya selalu bilang untuk selalu jaga jarak dengan truk besar karena asapnya mengganggu.
Kalau lagi jalan dan di depan ada truk, mendingan laju motornya di pelanin, Teh. Biar truknya lewat dulu, kalau udah agak jauh baru Teteh jalan lagi. Asapnya bau, bikin sakit,” ungkap beliau.
Kala itu saya hanya manggut-manggut aja. Setelah lancar naik motor, baru saya belajar buat nyelip truk-truk besar seperti itu.

Tiba-tiba lampu hijau pun nyala dan saya membiarkan truk itu untuk lewat dulu. Jaga jarak daripada ikutan bau.

Setelah beberapa kilometer saya berjalan menjauhi keramaian jalan kaliurang, saya kepikiran hal ini: hidup manusia nggak jauh beda sama jalan raya ya?

Di jalan, motor, mobil, bis, truk, dengan beragam merk dan ukuran bertemu dan menjadi satu. Bukankah kehidupan juga seperti itu? Dalam hidup kita menemui berbagai orang dengan jenis dan karakter yang berbeda.

Di jalan, kita sebagai pengendara truk dan bis selalu merasa yang terbenar karena ukuran dan porsi yang lebih besar. Kita sebagai pengendara mobil selalu menyumpah-serapahi pengendara motor yang selalu awul-awulan. Kita sebagai pengendara motor selalu menyumpah-serapahi pejalan kaki yang nggak tahu aturan. Kita sebagai pejalan kaki selalu menyumpah-serapahi pengendara kendaraan bermotor yang merenggut hak berjalan. Bukankah semuanya begitu? Semua mencari yang bisa disalahkan untuk mencari tempat yang teraman?

Dalam hidup kita juga selalu mencari tempat dan teman yang ternyaman. Teman yang bahkan kita rela untuk menghabiskan waktu bersamanya. Teman yang bahkan kita rela untuk di repotkan, untuk sekedar memberikan tanggapan dari semua persoalan, untuk sekedar haha-hihi ‘menghabiskan’ waktu bersama.

Lalu, seperti dalam jalan raya, dimana kita menempatkan diri kita terhadap orang yang kita benci? Apakah kita menempatkan diri kita dalam sudut pandang bis dan truk yang menganggap kita adalah raja jalanan yang sebenarnya? Atau dalam sudut pandang mobil dan motor yang selalu saling menyalahkan? Atau dalam sudut pandang pejalan kaki yang selalu merasa dirugikan?

Faktor eksternal dan internal itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Kamu bebas mau menempatkan dirimu dalam sudut pandang yang mana. Seorang teman pernah berkata pada saya, “Nggak ada opini yang salah.” Dan saya percaya. Seratus juta persen percaya. Setiap orang punya alasan untuk menjadi dirinya yang sekarang. Dan kita nggak bisa menghakimi kenapa seseorang menjadi dirinya yang sekarang.

Setiap roda pasti berputar, begitu juga dengan roda kehidupan. Jadi, mari kita berandai-andai kita sekarang sama-sama berada dalam sudut pandang pengendara motor yang sedang terjebak di belakang truk besar berknalpot hitam dan berasap pekat. Apa yang harus kita lakukan?

Menurut saya pribadi, yang kita lakukan hanya cukup bersabar. Berjalan pelan di belakang truk, atau berhenti sebentar untuk memberikan jalan pada si truk. Mau nyalip? Bisa, tapi bukankah nyalip itu butuh melihat situasi arus yang berlawanan? Kalau arus berlawanan lagi sepi, paling mantap emang nyelip si truk sambil ngelakson kenceng-kenceng. Sambil sumpah-serapah kalau perlu. :p Tapi kalau arus yang berlawanan juga sedang padat merayap? Nggak ada yang salah dengan bersabar kan?

Sama dengan hidup. Nggak ada salahnya buat kita untuk bersabar. Ya, saya memang bukan superwomen yang bisa sabar sama orang-orang. Semua orang kayaknya tahu kalau saya punya pengendalian yang payah terhadap emosi saya sendiri. Kalau ada hal-hal yang bikin nggak enak, saya bisa langsung diem dan jutek setengah mati. Tapi dalam diam itu juga saya nyoba untuk bersabar, lho. Saya bersabar untuk tidak berbicara karena saya tahu dengan berbicara dalam kondisi seperti itu saya hanya akan menyakiti perasaan teman-teman saya dengan ucapan yang malah nyelekit.

Emang susah sih, tapi kita memang butuh belajar buat sabar. :) Kita nggak boleh diperalat dengan kepribadian kita sendiri. Ada yang bilang kalau kita adalah salah satu dari tipe kepribadian sanguitis, melankolis, plagmatis, atau koleris. So what kalau kita mau melangkah keluar dari kepribadian kita sendiri? Siapa juga yang bisa ngatur diri kita selain emang diri kita sendiri?

Bahkan saya sedikit merasa kalau empat tipe kepribadian itulah yang justru membentuk kepribadian kita. “Ah, saya kan termaksuk tipe koleris, jadi saya harunya bersikap seperti ini...” Nah, pemikiran itu tuh yang menurut saya salah. Orang yang mencap dirinya sebagai orang yang emosian juga harus belajar caranya sabar. Makanya saya sebel banget sama orang yang bilang, “apa gue harus bersikap kayak gitu? Males ah. udah bawaan lahir sikap gue kayak gini.” HALOOOOOO?? Kemana aja lo selama ini?? Nggak pernah belajar buat berubah?? Nggak pernah belajar buat beradaptasi??

Ini bukan berarti saya mengajari kalian untuk tidak memiliki kepribadian ya. Saya pernah baca kalau orang yang di benci seharusnya bersyukur karena setidaknya mereka mempunyai ciri khas. Tapi patutkah kita di benci orang lain untuk mendapatkan satu ciri khas? Patutkah kita dibenci kalau kita sebenarnya bisa merubahnya dengan sedikit bersabar? Bisa, lho. :)

Source



Ps. Ini cuma tulisan yang didasari refleksi hari aja. Nggak ada unsur apa-apa didalamnya selain ingin berbagi dan ‘sedikit’ melafalkan intuisi. Maaf ya bagi yang tidak berkenan. No offense :)
19.6.11

these are three things i want MOST


DEE's lastest book

Doraemon doll character

Bubble Glass

just a random thought :p

17.6.11

Gloomy Wednesday


Tidak ada yang salah dengan hari itu kecuali saat saya marah dengan diri sendiri. Hari yang terlalu sepi untuk bercerita dan berbagi, maka saya memilih untuk bungkam. Lega rasanya setelah menangis sesendu itu. Sebelumnya saya sampai lupa kapan terakhir kali saya menangis seperti itu. HAHAHA

Maaf untuk semua orang yang kena semprot hari itu, terutama untuk mas-mas yang menjilid tugas laporan saya, dan petugas SKKK yang ribet ngurusin KIK. Maaf. Habis kalian terlalu REBEK disaat yang tidak tepat. Ah ya, dan juga untuk beberapa orang yang membaca tulisan "Sedang-Bad-Mood" di dahi saya. Maaf. Bukan salah saya juga kan kalau saya termaksuk orang yang gampang di tebak? ;p

Yang ingin saya katakan sekarang adalah, Semuanya sudah berlalu! Ya, tiga tugas UAS terberat sudah selesai ditumpuk! :D

Huuuraaay!

14.6.11

Timelapse Stars

Belum ada orang yang saya anggap serakah hingga ada orang yang menikmati ini.
Saya. juga. mau!
Secara langsung, bukan melalui video :(


9.6.11

Paket 3 SKS

Saya waktu SMA [1]


Dulu saya merengak nggak mau kuliah di Jogja, sekarang saya merengek nggak mau ninggalin Jogja.

Yep, ini yang saya rasakan ketika membuka portal UGM untuk KRS-an. Dasar admin portalnya yang terlalu gaul, di bela-belain begadang pun portal masih nggak bisa di akses. Sambil nunggu portal bisa di akses saat itulah saya mengalami aktualisasi diri dalam dunia #galauakademik *opo sih?*

Sambil menunggu, saya ngobrol dengan teman sepermainan via YM dan sms. Kami sama-sama bingung mau ngambil mata kuliah apa buat semester 7 ini (MEN, guweh udah mau semester 7!). Selain mata kuliah yang 'harus kami perdalam', kami, saya sih yang paling ngotot, pengen banget ngambil mata kuliah lintas fakultas. Rasanya aneh aja kuliah di UGM yang punya banyak fakultas tapi cuma ngadem di Fisipooool terus. Hehe, ini pemikiran selo saya aja sih. Rasanya pengen nyoba buat keluar dari zona nyaman kuliah di Fispol dan nyoba menantang diri sendiri lagi dengan kuliah lintas fakultas. Sementara, pilihan saya dan teman-teman jatuh ke Fakultas Sastra, Fakultas Psikologi, dan.... Fakultas Kedokteran! Hahaha, yang terakhir ini saya dan teman-teman semacam nekat karena terinspirasi dari dosen Komunikasi yang lanjut S2 nya di gizi. Ahahaha...

Topik lain pun kami bahas, tentang berkarya sebelum lulus. Yes, saya nggak pengen lulus tanpa sebuah karya. Nggak usah muluk-muluk, karya yang sederhana aja. Semoga kesampaian sebelum lulus atau di semester 7 nanti. Amin Ya Allah, amiiiin. :) Kan keren tuh ketika nanti saya jadi ibu (yang gaul) dan nenek (yang gaul), saya bisa bercerita ke anak cucu saya: "Dulu mama pas kuliah ikut bla bla bla loh..." "Dulu nenek pas kuliah bikin bla bla bla loh..". Ya, semacam itu. Jadi, di semester 7 ini saya sudah MANTAP mengambil tambahan 3 SKS mata kuliah: Berkar(i)ya Sebelum Lulus (a.k.a Bisul). Ahahahaha \:D/

Eniwei, kayaknya saya nggak bakal ngambil skripsi semester ini. KAYAKNYA loh ya, lagian KRS masih sampe tanggal 22, pikiran masih bisa berubah. Tapi kenapa ya, entahlah, saya masih pengen kuliah. Jelek emang pemikiran saya yang terlalu nyaman dengan status single mahasiswa seperti ini, tapi yo gimana lagi. Saya waktu itu pernah ngobrol sama seorang kakak tingkat yang dari obrolan itu menghasilkan satu gagasan bahwa semester 7 ini saya nggak bakalan ngambil Skripsi dulu, tapi udah harus ikut bimbingan. Yep, semacam hubungan tanpa status sama Skripsi gitu. *opo sih?*

Jadiii, saya menyelamat-datangi diri saya sendiri di Semester 7 dengan berbagai pikiran yang berkecambuk: Belum bisa KRS-an, belum tau mau ngambil mata kuliah apa, dan belum mantap untuk (tidak) mengambil skripsi.

Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir, dan mahasiswa galau.


Saya Waktu SMA [2]
8.6.11

Hell Yeah It's You.


5.6.11
i miss you, dad. really miss you. i miss you like a crazy. i miss you that i cry. loud, like a child. i miss you and the moment that we're spent together. i miss talking to you, dad. i miss your voice, your hair, your snoring while you were sleeping, i miss your 'cool' advice when i talked about my problem... i miss you.



and i'll be fine, :')