SOCIAL MEDIA

30.10.11
"When copies are free, you need to sell things which cannot be copied. The first thing of these is trust. Trus must be earned, over time."

Kevin Kelly, wired internet magazine editor.

Di batas yang tidak bisa disentuh, tempat kita berdua berada. Rindu ini sudah memuncak, yang akhirnya jatuh dalam butir air mata sehabis isakan doa. Apa yang harus aku perbuat? Kemana kamu selama ini pergi? Banyak pertanyaaan lain yang ingin aku lontarkan. Tapi aku bosan dengan sistem komunikasi searah ini. Tidak bisakah semua kembali seperti dulu? Tidak bisakah waktu berkompromi denganku dan memunculkan satu hal yang aku pinta karena aku butuh?

Ingin rasanya aku terbang kesana. Berkonsultasi apa yang seharusnya aku lakukan dan tidak kulakukan, bercerita dan mengenalkan semua teman-teman baruku disini, berdiskusi mengenai apa yang sedang menghangat di berita pagi ini...
29.10.11

ENZIM

Kunyahlah sepotong cracker yang asin selama beberapa waktu, maka kamu akan merasakan manisnya

ENZIM merupakan film pendek karya sutradara muda, Ditta Aprilia (@AprilDitta). Enzim diciptakan untuk mengikuti sebuah kompetisi film pendek. Silakan tonton dan jangan lupa klik "LIKE" button-nya ya. Selamat menonton! :)
23.10.11

Review: Kening

Rating: 4/5

Yep, penulis buku ini adalah Fitri Tropica alias Fitri Rakhmawati, presenter kocak yang ngocol dan bikin  ngakak itu. Awalnya saya nggak percaya si Fitrop (sok kenal ceritanya :P) bisa nulis. Nah, rasa penasaran itulah yang akhirnya menjadi alasan saya untuk membeli dan langsung melahap habis buku ini di hari yang sama :D

Kening terdiri dari 181 halaman dengan 13 bab di dalamnya. Cerita yang paling saya suka berada dalam bab 1-7 dimana Fitrop bercerita tentang cinta sejatinya. Bukan, bukan si bule penggemar india yang raja sinetron itu kok :p. Cerita yang ditulis Fitrop ini menarik. Mulai dari cara penyajian sampai ilustrasi-ilustrasi yang tersebar di beberapa halaman dalam buku ini. Dalam menulis, Fitrop juga nggak meninggalkan image 'cewek kocak' sehingga membuat saya betah dan cekikikan sendiri baca buku ini.

Fitrop menulis buku ini dengan bercerita. Pembaca seolah-olah dipersilakan untuk mengintip sisi lain dari Fitrop dan menekankan bahwa semua yang terlihat ceria di luar di luar belum tentu juga ceria 'di dalam'. Seperti biskuit, kisah hidupnya disulap jadi deretan kalimat yang renyah, walaupun saking renyahnya sampai bikin 'kriuk-kriuk' buat pembacanya. Hahaha.. Sukses fitrop, presenter dan penulis yang cihuy! 
Very recomended book! :D

Review: Dari Datuk ke Sakura Emas

rating: 5/5

Mari salahkan buku Karena Kita Tidak Kenal (Farida Susanty) yang membuat saya kecanduan dan jatuh  cinta pada buku kumpulan cerpen. Dari Datuk ke Sakura Emas merupakan buku kumpulan cerpen dimana di dalamnya terdapat 14 cerpen dari 14 penulis. Berikut adalah daftar cerpen dalam buku ini:

Datuk (A. Fuadi)
Sebuah Keputusan (Alberthine Endah)
Ke Sebrang Dermaga (Andrei Aksana)
Emak Ingin Naik Haji (Asma Nadia)
Pagi di Taman (Avianti Armand)
Misalkan Ini Adalah Dongeng (Clara Ng)
Mencari Herman (Dewi Lestari)
Ingatan (Dewi Ria Utari)
Kamis Ke-200 (Happy Salma)
Sambal Dadak (Icha Rahmawati)
Pagar Soka (Indra Herlambang)
Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M.Aan Mansyur)
Perempuan yang Berumah di Rumpun Bambu (Putu Fajar Arcana)
Sakura Emas (Sitta Karina)


Yep, buku ini ditulis oleh para penulis yang memiliki latar belakang yang berbeda. Beberapa diantaranya sudah saya kenal tulisannya, beberapa lagi belum. Beberapa penulis sudah tidak diragukan lagi kualitasnya karena namanya yang sudah tersohor, beberapa lagi membuat saya terheran-heran dan takjub: "ternyata orang ini bisa nulis juga ya..."

Tidak ada tema yang seragam bagi cerpen dalam buku ini, walaupun kebanyakan mengusung tema cinta sesama jenis dan misteri, namun dengan membaca cerpen-cerpen ini pembaca seolah-olah dibuat dapat lebih peka dengan keadaan sekitar. Contohnya dalam cerpen Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M. Aan Mansyur) yang menjadikan sebuah pohon sebagai sudut pandang pertama dalam kisahnya. Cerita yang paling saya suka disini (tentunya) adalah karya Dee alias Dewi Lestari. Tpai karena cerpen Mencari Herman sudah pernah di publikasikan dalam buku Filosofi Kopi, jadi saya akan sedikit menggeser Dee dari top three cerpen yang paling saya sukai :p. 

Posisi pertama adalah Pagar Soka (Indra Herlambang) yang dengan takjubnya menyihir saya ketakutan di tengah malam ketika sedang membaca cerpennya. Nggak nyangka ternyata Indra Herlambang bisa nulis dan.. bagus! :D Posisi kedua adalah cerpen Sebuah Keputusan (Alberthine Endah) yang membuka cerita tentang perdebatan mie instan dan menutup konflik cerita dengan cinta sesama jenis. Cerpen ketiga adalah Di Tempatmu Berbaring Sekarang (M.Aan Mansyur) dimana sebuah pohon dapat bernapas dan menangis ketika mengungkapkan cerita tentang tiga manusia yang dimabuk cinta. Kalau kalian, apa cerpen favorit kalian? :D

Dari Datuk ke Sakura Emas merupakan proyek charity para penulis yang seluruh royalti dari bukunya akan disumbangkan oleh para penulis kepada Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Saya sendiri pernah membaca tetang Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang minim perhatian dari pemerintah. Padahal, di dalamnya terdapat karya-karya sastrawan Indonesia yang tentunya bersejarah.
Maka dari itu, yuk ikut berpartisipasi membantu dengan membeli buku ini sebagai tambahan koleksi buku-buku kalian. :)
22.10.11

-

Past is past.
Enough.
10.10.11

Sembilan, Sepuluh, Sebelas

Jadiii, di tanggal sembilan bulan sepuluh tahun duaribu sebelas ini saya menghadiri festival layang-layang di pantai Parangkusumo Yogyakarta. Festival layang-layang ini sebenarnya sudah berlangsung dari tanggal delapan kemarin. Awalnya saya berencana untuk pergi bareng temen-temen KKN Bangka Kiyyyuuut, tapi apalah daya semuanya pada sibuk. Pas bingung mau pergi sama siapa, tiba-tiba eng-ing-eng nggak ada asep nggak ada hujan, si Komandan bisa pergi. Padahal katanya ada acara gitu sampe malem. Hahaha, asik pergi bareng Komandan! :D

Sampai di Pantai Parangkusumo, jam sudah menunjukan pukul tiga lebih beberapa menit. Ternyata, festivalnya dimulai dari jam sepuluh, bukan jam dua seperti info yang saya dapat. Jadi, langit cerah Yogyakarata sore itu udah nggak terlalu dipenuhi lagi sama layang-layang. Tapi beruntung juga sih saya datengnya sore, cuacanya udah nggak terlalu panas :p

Diantara beberapa layangan yang terbang, saya paling suka sama yang ini nih:



Kelihatannya biasa aja yah? Eits, tunggu dulu. Ternyata "garis-putus-putus" layangannya itu cuma semacam "ekor" dari layang-layangnya itu sendiri. Ini "kepala" nya:



Masih gak mudeng juga? Nih monggo lihat:


Yups, jadi itu layang-layangnya puanjaaaaang banget. Saya lihat sendiri proses nurunin layangan itu. Kayaknya ribet banget deh, mesti dibantu banyak orang soalnya. Zuuper kreatif buat pencetus idenya. *tepuktangan*

Akhirnya saya dan komandan pulang sekitar jam empat karena sebagian besar layang-layang sudah diturunkan. Walaupun cuma sebentar, tapi saya seneng banget bisa lihat festival layang-layang ini. Apalagi sama Komandan. Apalagi di tanggal sembilan! :D
Udah dulu deh postingannya.
Selamat dini hari.
Hidup tanggal sembilan! :D :D :D :D