SOCIAL MEDIA

26.12.12

#KembaliKePlurk




Semuanya bermula dari obrolan iseng.

Malam itu kami berkumpul di kostan Teteh. Perkumpulan itu disengaja, karena pada hari itu pula kami sedang memberikan sedikit kejutan berupa nasi tumpeng pada Teteh yang sudah menginjak usia 23 (mantap teh, sekarang usia kita beda dua tahun! :P). Seperti layaknya perempuan lainnya yang sedang berkumpul, kami mulai ngobrol ngolor-ngidul. Kebanyakan tentang dunia perkuliahan: apa yang dulu pernah terjadi, kenapa si ini bisa begini, kenapa si anu bisa begitu, dan perintilan masalah lainnya hingga akhirnya obrolan kami mulai digiring oleh Plurk.

Ya, Plurk adalah salah satu situs jejaring sosial yang (sayangnya) kurang populer di masa kini. Tiga sampai empat tahun yang lalu, Plurk (di mata saya dan teman-teman) mengalami masa kejayaannya dimana kebanyakan teman saya memiliki akun Plurk dan selalu aktif untuk mencurahkan perasaan dan emosinya melalui media sosial tersebut. Eits jangan pandang sebelah mata dulu kalau kebanyakan curhatan kami adalah kegalauan ababil tingkat dewa karena kami juga sering diskusi di Plurk. Ngobrol masalah kuliah, janjian pergi, berantem, banyak deh pokoknya.

Kami semua kangen Plurk. Ya, ketika flashback ke masa lalu melalui linimasa Plurk, kami mengerti bahwa kini Plurk sudah berubah fungsi. Kami sama-sama mengakui bahwa kami tenggelam dalam media sosial lain dan menganaktirikan plurk, kami mengakui bahwa kami hanya sesekali membuka plurk dan meng-update lini masa kami dengan kalimat-kalimat “berkode”. Kami kangen berlomba-lomba mendapatkan 100 Karma, kami kangen bunyi “tung!” yang khas, kami kangen dengan segala (evilsmirk) dan (evilgrin), kami kangen ngobrol di Plurk.

Betapa kami butuh tempat untuk saling bertukar pikiran hingga ide #KembaliKePlurk pun muncul. Dimulai dari hari ini pukul 21.00, kami ingin berusaha membangun kembali kehangatan yang ditawarkan plurk. Kami ingin membuat cerita lagi dengan bantuan emotikon Plurk. Kami ingin kembali membuat obrolan ringan tanpa basa-basi melalui Plurk. Kami ingin membuat ribut suara laptop/komputer kami dengan “tung” “tung” yang mengagetkan. Kami ingin berlomba lagi untuk mendapatkan 100 Karma. Kami ingin membuat kenangan, lagi, melalui Plurk :D

Yuk, yang punya Plurk kita sama-sama beraksi lagi. Sampai berjumpa di halaman plurk saya (candYummy), Titi (kaosOblonk), Bebet (PecintaAngkaTujuh), April (AprilMeiJuni), dan Teteh (MojangKarawang). Salam “tung-tung” Plurk! :D
15.12.12

Hilir

source

Entah apa lagi, entah bagaimana lagi.
Waktu berkonspirasi sempurna dengan kejadian kemarin hari yang seharusnya bisa diantisipasi.
Semua berkompetisi demi satu hari yang sengit. Menancapkan batas kemampuan pada rasa, dinding yang dibangun sebilah teori, dan bumbu basa-basi.

Dua pemikiran berkecamuk, dari arus logika yang tak kunjung mendapatkan muara pasti:
(1) Hulu pertama mengenai sesal dan rasa yang keras, beku, dan mengkristal dalam sudut hati. Akan ada keputusan yang harus diambil, akan ada orang yang tersakiti. Tidak ada yang tidak bisa menerima kecuali saya dan perasaan ini sendiri.
(2) Hulu kedua mengenai kecerobohan yang sudah dapat di prediksi. Berupaya segenap tenaga mengalihfungsikan semua indera, logika, dan waktu yang terbuang percuma ketika ditebus rasa sesal. Skak.

Pikiran saya adalah labirin, yang tercermin oleh pupil mata sendu pada beberapa orang yang bisa membaca.
Suara saya adalah kristal, yang bisa pecah gaduh, tidak nyaman, ngilu, sesuai bising garpu diadu sendok.
Mata saya adalah awan, terdiri dari gumpalan dua hulu yang tak kuat lagi saya bendung, tinggal menunggu waktu.

Kamu adalah kunci,
kita adalah misteri,
kami adalah sebuah tanda tanya.
Besar.
14.12.12

Mimpi

source


Semalam saya bermimpi,
ada di dunia yang berbeda, berwarna kuning, dan berada dalam satu rumah yang besar.
Semalam saya bermimpi,
bertemu orang yang tidak diharapkan dan berinteraksi hingga saya tidak mengenali diri saya lagi.
Semalam saya bermimpi,
terjun bebas dalam perangkap yang saya buat sendiri. Megap-megap kehabisan oksigen.
Semalam saya bermimpi,
Ada dalam dunia dimana semua perbuatan dapat dipahami dari isi hati, bukan kata maupun lisan.
Semalam saya bermimpi,
untuk tidak ingin bangun lagi.

Lalu pagi tadi saya bangun,
berkompromi dengan akal sehat bahwa itu semua tidak akan pernah terjadi...
31.10.12

5 Tahun yustisiaspage: Tentang Identitas Sebuah Tulisan

Happy 5th Anniversary, yustisiaspage! :D

Men, 5 tahun sudah saya punya "dunia kecil" berbentuk kata-kata. Ya, blog ini. Dari yang dulu namanya "My Little World" jadi "Melafalkan Intuisi", dari yang dulu nulisnya "gue-elo" jadi "saya-kamu", dari yang dulu curhat tentang rempongnya UAN sampai jadi curhat tentang kegalauan SKRIPSI, dari yang dulu galau gara-gara GEBETAN yang nggak jelas sampai jadi curhat tentang PACAR...

5 tahun, blog ini udah setia jadi teman saya untuk belajar menulis.

Jadi inget, dulu pertama kali bikin blog ini di lab komputer SMA saya. Ketika guru sedang menjelaskan materi, saya malah ngenet dan googling tentang cara membuat blog. Yustisiaspage. Ya, alamat itu nggak pernah saya ganti dari awal saya bikin blog. Walaupun kurang catchy, tapi saya sukak sama pelafalan namanya. Gimanaa gitu. :p Lewat blog juga, saya banyak belajar. Mulai dari belajar menulis resensi, belajar konsisten menulis (31 Hari Menulis), sampai sedikit belajar kode-kode aneh buat layout. Dulu, pas pertama kali saya bikin blog, tampilan blogger masih jadul banget. Nggak se fleksibel dan se mudah (dan se rempong) sekarang. Masih belum dibeli google juga kalau nggak salah. Jadi buat ngedapetin layout yang cihuy itu susahnya pake banget. Maklum, saya nggak tahu apa-apa tentang kode-kode komputer (eh, kode apa sih istilahnya?), jadi demi eksistensi di dunia maya (ciyeh bahasanya) dan mendapatkan layout blog yang ciamik, mau nggak mau harus belajar kan? :)

Dari blog, saya juga punya banyak temen. Ketemu temen lama, ketemu temen baru, kenalan sana, kenalan sini, blogwalking sana, blogwalking sini. Nggak pernah bosen. :)
Dari blog, saya juga pernah kecipratan tenar, ketika resensi buku Rectoverso saya di komentari langsung oleh Dee, dan ketika resensi Kala Kali saya juga dikomentari langsung oleh Windy Ariestanty. Hihihi :p

Karena merasa blog ini sudah semakin tua, saya jadi iseng merunut postingan dari tanggal pertama kali saya mem-publish tulisan, 1-Oktober-2007. Usia saya masih 16 tahun dan... saya ngakak baca tulisan sendiri. Hahahaha :)) Nggak usah dibahas lebih lanjut lah ya, dulu kan saya, seperti kebanyakan orang ngeblog lainnya, terinspirasi bikin blog dari Raditya Dika, jadi ya tema tulisan yang saya angkat pada waktu itu lebih pada kejayusan kehidupan saya. Entahlah, nista sekali rasanya ketika membaca tulisan saya di zaman dulu.  HAHAHAHA apaan tauk :DD

Well, Kalau tulisan dimaknai sebagai anak dari sebuah tema besar, bisa dibilang semua tulisan yang terarsip dalam blog ini tidak memiliki identitas. Tapi memang pada dasarnya saya tidak membuat blog ini dengan mengusung tema tertentu kok, just for fun.
Kalau tulisan dimaknai sebagi proses pembelajaran, maka saya patut berterimakasih pada dunia yang tak bernyawa ini. Selama lima tahun saya sudah banyak berjalan dan diberi tempat untuk memuntahkan sedikit dari apa yang pernah singgah di benak saya. Terimakasih untuk lima tahun ini saya sudah diberi ribuan byte  gratis hanya untuk merekam muntahan saya.
Kalau tulisan dimaknai sebagai cerminan proses pendewasaan, maka saya bersyukur karena saya melihat suatu pola dari 291 postingan (dan akan menjadi 292 dengan tulisan ini) yang mengarah pada keeleganan dalam kegalauan (mak, bahasanya!). Iya, dari dulu juga saya sering galau, tapi makin kesini rasanya bangga gitu bisa bikin kegalauan saya sedikit lebih elegan lewat tulisan dalam blog ini (kalau ini postingnya di twitter, udah pake hashtag #galau :p)

Akhir kata, selamat ulang tahun yang kelima untuk blog saya. Semoga panjang umur dan jadi anak yang berbakti pada orang tuanya (saya). Terima kasih untuk semua proses pembelajarannya. Tetap cihuy dan elegan! :D

ps. foto dipinjam dari sini dan diedit seadanya :)
26.10.12

Repotnya Punya Teman Artis :))

Hari ini saya iseng buka statistik di pengaturan blog saya. Statistik blog itu semacam informasi bagi pengguna blog supaya dapat mengetahui berapa jumlah pengunjung blog, di negara mana saja blog saya pernah dibuka, traffic sources, hingga browser apa yang digunakan orang-orang ketika membuka blog saya. Canggih ya blogger sekarang? Banget.

Nah, ada yang lucu nih ketika saya buka traffic source blog saya.. Bikin saya ngekek-ngekek sendiri. Haha, emang ribet ya kalau punya temen artis.. :)) Penasaran? Nih monggo dilihat:


Itu adalah print screen dari traffic source blog saya. Orang yang ngetik keyword itu nyasar di blog saya. Dan iyah, itu Fitri Windawati alias Pipit, teman saya. Artis FTV, jika aku menjadi, dan model di beberapa majalah, koran, dll, dll. Ah, senangnya punya teman artis :))) Btw, kenapa yang masukin keyword itu bisa nyasar ke blog saya ya? Entahlah, mungkin hanya Sergey Brin dan Larry Page yang tahu! :p

Ice Chocolate Velvet Oreo

Saya sebel banget hari ini. Dari tadi tengah malem dimarahin terus sama Ndoro Kakung perihal UNU 600. Iya, saya ngerti kalau saya emang lagi kegandrungan banget sama RM. Tapi ya sebel aja gitu, saya kan nontonnya di sela-sela ngerjain UNU 600. Tapi tetep aja dibawelin. Diteleponin dari tengah malem sampe tadi siang. Diingetin terus, ditegur terus, dimarahin terus. Capeeek~

Di kosan juga saya bosen. Jenuh, panas, sumpek, nggak mood buat baca buku. Panas jogja juga nggak bisa kompromi hari ini. Nyengat sampe kipas angin aja nggak mempan. Males di marahin lagi, saya akhirnya cabut ke Coklat. Ngadem, ngenet, sekalian baca-baca dan (kalau dapet ide) nulis.

So here i am, sendirian di coklat, diiringi lagu Katy Perry, anime Naruto, dan segelas es coklat oreo yang manisnya kebangeten. Tapi ya udah pesen, mahal pula harus dihabisin.


Akhir minggu ini saya asli bokek parah, ditambah ke coklat ini dan ada diskon semua buku di togamas 30%. DEM! Saya mau beli buku!!!! Ah, hidup ini penuh curhat colongan liku-liku, ada suka ada duka, semua orang pasti pernah melaluinya~
Dem, dem, dem, kapan UNU 600 ini segera selesai?? *self talk*
19.10.12

[Book Review] Kala Kali


Judul: Kala Kali
Penulis: Valiant Budi dan Windy Ariestanty
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 513 Halaman
Harga: Rp. 53.000

Akhirnya beli buku ini juga~~
Awal ketertarikan saya terhadap buku ini adalah ketika salah satu penulis favorit saya, Windy Ariestanty, ngumumin di twitternya kalau dia bakal nerbitin novel duet berjudul Kala Kali. Saya langsung masukin judul buku itu ke dalam list wajib beli.

Well, Kala Kali adalah buku kedua yang saya baca dari karyanya Windy Ariestanty. Saya memang beli buku ini sengaja karena penulisnya adalah Mbak windy. Sedangkan untuk Valiant Budi, saya belum pernah baca buku-bukunya. Tapi sepertinya Valian Budi sudah menerbitkan banyak buku juga kok...

Dari segi cerita, saya lebih suka ceritanya Mbak Windy (Bukan Cerita Cinta) dibandingin ceritanya Vailant Budi (Ramalan dari Desa Emas). Kenapa? Pertama, soal bahasa, Mbak Windy dapet poin plus karena berhasil menyajikan tulisan romantis-serius dari sudut pandang cowok. Ini menjadi nilai plus karena susah loh (kayaknya sih :p) ketika seorang perempuan menulis cerita dari sudut pandang cowok. Romantis pulak. Aaakk~ *oke, fokus*. Kedua, Alur cerita tidak gampang ditebak. Seperti yang sudah kita tahu, cerita cinta pasti berujung pada dua hati jadi satu. Tapi proses bagaimana mereka saling menemukan, memahami, dan jatuh cinta, adalah yang membuat cerita cinta satu berbeda dari cerita cinta lainnya. Ketiga, banyak quotes-quotes mak-jleb yang berhasil bikin saya ngais-ngais tanah. Dapet ilham dari mana ya Mbak Windy sampe bisa bikin quotes seperti itu? :p Keempat, buku ini mempunyai banyak referensi. Mulai dari cerita fotografi dari Pak... (saya lupa namanya -_-) dan cerita cinta Eros aka Cupid. Oh ya, dalam buku ini juga kedua penulisnya menyelipkan foto-foto dengan caption yang nyambung sama ceritanya. Ini cuma perasaan saya atau gimana ya, foto-foto itu rasanya nggak bicara banyak tentang cerita dalam buku ini. Jadi kalaupun semua foto dalam buku ini dihapus, kayaknya nggak bakal mengubah isinya deh. Tapii, untuk masalah foto ini saya masih bisa nerima lah, bukan masalah :).

Dari segi bentuk fisik buku, saya nggak suka sama konsep buku ini. Cover belakang buku ini nyambung sampai cover depan dan mencakup judul bukunya. Jadi kalau lagi baca, cover belakangnya itu mengganggu sekali! Saya termaksuk orang yang selalu menyampul buku-buku yang saya beli. Nah, pertanyaannya adalah, gimana caranya nyampul buku ini? -_- Tadinya kepikiran untuk menggunting cover belakangnya, tapi kok sayang ya....

Dari soal harga, yah lumayan menguras kantong mahasiswa lah, harga bukunya 53.000. Tapi ini sebanding kok sama kualitas kertas, cetakan, dan ceritanya! :D

Overall, saya kasih rating 3/5 untuk buku ini. Buat yang lagi galau-galau gimaanaa gitu atau lagi jatuh cinta tingkat akut, saya saranin baca buku ini (terutama ceritanya Mbak Windy). Well, ayo hunting buku dan selamat membaca! :D


Quotes dari cerita Bukan Cerita Cinta by Windy Ariestanty:


  • “Berhatilah-hatilah dengan pertanyaan. Jawaban yang didapat tak selamanya menyenangkan” 
  • “Tak pernah ada cara yang tepat untuk mencintai. Yang disebut tepat adalah ketika aku dan kamu saling mencintai dengan cukup” 
  • 'Karena mengalami kehilangan adalah bagian dari kembali kepada menemukan. Tapi jangan pernah kaulupa, kau tak akan pernah kekurangan cinta.’| ‘Karena cinta itu besar?’ | ‘Karena aku tak akan berhenti mencintaimu.’ | ‘Seberapa besar kau mencintaiku, Bu?’ | ‘Sebesar kuku jari.’ | Aku yang sedang menggigiti kuku jari tengahku terdiam. ‘Kuku jari?’ | Ibu menatapku dengan tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan, terutama ketika aku ulang tahun dan patah hati. Dan malam ini, aku mengalami keduanya. ‘Iya. Kuku jarimu selalu tumbuh meski kaupotong. Sebesar itulah cinta. Tak pernah sangat besar, tidak juga terlalu kecil. Cinta itu cukup.’
4.10.12

Star Girl :)

Kapan terakhir kali kamu menjadi diri sendiri?

Dengan menjadi bagian dari satu kelompok, masih bisakah kamu mengenali identitasmu sendiri? Masih bisakah kamu menyuarakan pendapatmu yang murni hasil dari pemikiranmu? Tanpa mengamini perkataan orang lain? Masih beranikah?

Susan "StarGirl" Caraway bisa, dan dia berani.
Tapi dengan konsekuensi yang besar, semua orang mengucilkannya karena dia berbeda. Pada awalnya ia disenangi karena berani memberikan udara segar bagi SMA Mica yang selalu seragam dan menjenuhkan. Namun lama-lama siswa SMA Mica tidak lagi menoleransi kebiasaan Star Girl yang dengan sukarela bernyanyi dengan ukulelenya kepada siapapun yang sedang berulang tahun di kantin sekolah, mereka tidak lagi menoleransi Star Girl yang menolong anggota basket tim lawan SMA Mica yang cedera, mereka tidak lagi menoleransi gaya berbusana Star Girl yang selalu nyentrik, mereka tidak lagi menoleransi... kecuali Leo.

Itupun hanya sementara.

Leo yang diwujudkan sebagai sosok remaja yang jenuh dengan keseragaman SMA Mica pun lama-lama menyeret Star Girl untuk melebur bersama ratusan siswa lain. Leo tidak sadar bahwa hanya dengan Star Girl lah ia bisa merasa sebahagia itu. Bersama Star Girl, ia mendapatkan cara meditasi baru untuk menghilankan diri sejenak dari keadaan dunia, bersama Star Girl ia bisa berbicara dan mendengarkan tanpa henti, bersama Star Girl ia menyadari sudut-sudut kecil di surat kabar yang ternyata memberinya banyak pengalaman baru... tapi bersama Star Girl juga Leo harus memilih, mana yang lebih ia cintai, teman-temannya di SMA Mica atau Star Girl.


Buku ini bener-bener bagus. Pertama kali saya baca buku ini pas saya SMP kelas dua. Pas awal kuliah, saya lihat buku ini di obral di sebuah toko buku. Tanpa pikir dua kali, saya langsung beli dan baru sempet baca beberapa minggu yang lalu. Saya suka banget sama karakter Star Girl disini. Jerry Spinelli sukses mewujudkan sosok Star Girl sebagai perempuan yang nyentik, unik, namun rapuh di dalamnya. Oh ya, biarpun dari tadi saya ngomongin tentang Star Girl, tapi sudut pandang pertama dalam novel ini adalah si  Leo lho.

Walaupun ini termaksuk buku lama (nggak tahu deh masih ada di gramedia atau nggak), tapi ini adalah buku wajib baca. Yang lagi ingin membaca cerita yang segar dan unik, buku ini wajib untuk dikoleksi. :)

Rating: 5/5
17.9.12

Jakarta | Jekardah

Beberapa minggu yang lalu saya melancong ke Jakarta kurang lebih seminggu lamanya. Sendirian. Jarak yang nggak begitu jauh dari rumah saya di Sukabumi membuat saya memilih untuk naik transportasi umum saja. Alasannya simpel, saya nggak mau ngerepotin mama untuk minta anter, dan saya nggak kuat (dan nggak tau jalan juga) kalau harus nyetir sendiri. Jarak yang bisa ditempuh 2-3 jam aja kalau nggak macet, mendadak menjadi 4 jam lamanya hanya gara-gara macet. Jadilah untuk menghindari macet, saya berangkat jam 05.00 dari rumah.

Naas, saya sampe terminal bis jam 05.20 dan ketinggalan bis pertama MGI jurusan Depok yang berangkat jam 05.00. Ya, rencananya saya memang oper-operan bis supaya sampai lebih cepat, padahal tujuan saya adalah terminal Kampung Rambutan. Rencananya, saya mau naik bis MGI sampai gerbang tol Ciawi dan sambung lagi ke bis jurusan Kampung Rambutan. Pilihannya memang jatuh ke Bis MGI, karena selain nyaman (kursi empuk, full ac+musik, tidak ada penumpang berdiri), bis MGI juga selalu tepat waktu. Mereka selalu jalan dari terminal setiap jam dan tidak ngetem di jalan kecuali berhenti di pos-pos MGI untuk pengecekan bis dan penumpang. Pilihan kedua adalah naik Kol Bogor, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kol Setan. Hahaha, kenapa sampai bisa disebut Kol Setan? Well, kalian harus nyobain kendaraan nyentrik ini sekali-kali sebelum dufan merekrutnya sebagai wahana baru buat nyaingin Tornado :p. Kol Bogor ini hanya ada jurusan Sukabumi-Bogor dan sebaliknya. Dengan Rp.11.000 (kalo nggak salah) dan jarak tempuh yang relatif singkat (2-2,5 jam saja! mungkin sekarang kalian tahu kenapa kendaraan ini diberi julukan Kol Setan :p) kita tinggal berusaha duduk manis dan nyaman di angkutan ini. Tapiii.. mama saya nggak ngijinin saya naik Kol Bogor pagi itu. Padahal biasanya juga kalau saya mau nonton bioskop ke Bogor (mesakke -_-) saya melancong naik Kol ini bareng temen-temen :P. Jadilah di terminal kami berdua kebingingungan nyari bis yang bisa cepat sampai Ciawi.

Hmm.. pasti pada penasaran deh kenapa saya nggak langsung naik bis tujuan Sukabumi-Kp.Rambutan aja langsung? Nggak ada po? Eits, jangan salah, bis jurusan itu memang ada, TAPII, lama banget. Pengalaman waktu magang di Metro TV dua tahun yang lalu membuktikan, menggunakan bis itu sangat tidak dianjurkan karena jarak tempuhnya memakan waktu... DELAPAN jam! Yak, sama dengan jarak tempuh Bandung-Yogyakarta via kereta, sodara-sodara! -_- Akhirnya keputusan diambil. Saya naik bis Parung Indah jurusan Sukabumi-Lebak Bulus. Bisnya bagus ternyata, mirip-mirip MGI. Singkatnya, saya berangkat jam 05.30 dan sampai di rumah sodara saya di Pondok Gede, Bekasi, jam 09.30. Wow, amazing banget kan? :))

Sampai disana, saya istirahat sebentar dan jam 13.30 melanjutkan perjalanan ke sebuah instansi swasta untuk beberapa keperluan. Tragis, sampai disana birokrasi yang bicara. Saya diminta untuk berhadapan langsung dengan seseorang yang sedang tidak ada di tempat. Fast foward, dua hari kemudian, setelah tiga kali bolak-balik Bekasi-Jakarta Selatan, setelah naik-turun angkot dengan berbagai model mobil, setelah salah naik bis, setelah ngerasain naik bis cina, setelah nonton perahu kertas dan makan bebek madura (yang rasanya enak BANGET), setelah ketemu beberapa artis tapi nggak berani minta foto, setelah kenalan dan ngobrol kayak sahabat lama sama bapak satpam, setelah tau bagaimana mengoprasikan lift di gedung tingkat 8 tapi hanya punya 5 tombol lantai, saya bisa juga bertemu dengan seseorang itu. 15 menit lamanya, 6 menit wawancara, dan satu alamat surel. Alhamdulillah, saya bisa pulang dengan perasaan sedikit lega :)

Jakarta Sore hari dari dalam Bis Cina. Hari ketiga, usaha pertemuan kedua.

Di hidup ini, kayaknya adaaa aja ya kurangnya walaupun kita udah merencanakan dan memperhintungkan secara maksimal segala kemungkinan buruk dan cara mengantisipasinya. Kejadian ini salah satunya. Surel saya nggak dibalas-balas. Rasanya yaampun, kayak ditinju sama Meme Bad Luck Brian. Nohok banget. Saya nggak mau perjalanan saya sia-sia, tapi udah hampir satu bulan dan surel saya masih belum dibalas :(

Pernah denger nggak sih kata-katanya Paulo Coleho, "kalau kamu menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan bersatu membantumu." Ya, ada bumbu tambahan lain sih: sabar dan terus mencoba sebelum akhirnya, alhamdulillah, data yang saya perlukan bisa didapat walau memakan waktu yang lumayan lama. Tadi malam. Speechless banget karena saya dalam nggak mood mengerjakan tugas itu. Hehehe. belum mood sih sebenernya. :P

Ahhh~ gimana iniiii~


*ditulis dengan perasaan jenuh dan sumpek*
9.9.12

So Much for My Happy Ending

Lets talk this over it's not like we're dead
Was it something i did?
Was it something you said?

Don't leave me hanging in a city so dead
Held up so high on such a breakable thread

You were all the things i thought i knew
And i thought we could be

You were everything everything that i wanted
We were meant to be supposed to be but we lose it
All of memories so close to me just fade away
All this time you were pretending so much for my happy ending

You've got your dumb friends
I know what they say
They tell you i'm difficult, but so are they
But they don't know me, do they even know you?
All the things you hide from me, all the shit that you do?

You were all the things i thought i knew
And i thought we could be...

It's nice to know that you were there
Thanks for acting like you cared, and making me feel like i was the only one
It's nice to know we had it all
Thanks for watching as i fall, and letting me know we were done

He was everything, everything that i wanted
We were meant to be, supposed to be but we lost it

All of memories so close to me just fade away
All this time you were pretending so much for my happy ending

8.9.12

Re-branding

Beberapa minggu yang lalu saya kepikiran untuk membuat blog lagi.
Ampun. Kata saya dalam hati mengingat (lumayan) banyaknya blog yang saya buat kemudian terlantar gitu aja tanpa pernah diisi. Padahal kan inti saya membuat blog adalah untuk belajar nulis. Berarti percuma dong kalau dibuat tapi nggak diisi.
Entah kenapa rasanya saat itu saya sedang bosan, jenuh, dengan dunia maya, khususnya dengan blog ini. Tombol "hapus" di blog ini pun hampir diklik, tapi kemudian saya urungkan niat itu.
Saya masih ingin belajar nulis. Pembelaan saya dalam hati.

Akhirnya saya lebih memilih untuk mengubah layout blog ini. Tapi milih layout blog yang sesuai itu kayak milih ukuran sepatu. Susah banget, harus nyari yang nyaman dilihat dan nyaman dipakai. Maklum, kaki saya besar banget buat ukuran cewek normal.
Ehm. Ya, jadi saya memutuskan untuk mengubah beberapa tata letak dan judul blog saya ini setelah beberapa minggu menonaktifkan si blog.

Melafalkan Intuisi. Ini sebenarnya judul blog saya yang ini, tapi karena saya suka komposisi kata-katanya, maka saya buat juga sebagai judul blog ini. Harapannya sih, semoga tampilan blog yang lebih simpel ini mencerminkan pendewasaan saya di segala aspek, baik sikap, perilaku, omongan, tulisan, hingga kualitas postingan (poin ini ditambahkan sehabis rapel membaca postingan blog ini dari awal pembuatannya, tahun 2007). Hehehe, gak penting-penting amat sih poin yang terakhir soalnya ini kan dunia saya (my little world), jadi terserah saya dong ya mau posting apa juga :P

Akhir kata, bagi kamu yang sengaja datang mengunjungi blog saya ini, atau yang tersesat dan tak tau arah jalan pulang aku tanpamu butiran debu, selamat datang di Melafalkan Intuisi. Selamat membaca! :)

Rumah Baru

25.8.12

Untitled

Sebenernya yang diperlukan itu cuma percaya. Percaya sama mimpi, dan percaya kalau saya bisa melakukannya. Dengan percaya, sel-sel otak rasanya langsung memandang optimis tentang apa yang saya impikan.

Percaya, suatu saat pasti bisa. :)

Ditulis saat logika terperangkap jebakan yang dibuat oleh imajinasi dan mimpi.

4.8.12

Riot

Kebijakan jurusan itu....
gak ada habisnya kalau dijadiin obrolan semalam suntuk,
gak pernah tahu alasannya kenapa bisa jadi gitu,
gak ada yang ngerti gimana penjelasan sebenarnya,
terlalu banyak ucapan untuk di dengar,
terlalu banyak mulut yang berbicara,
tanpa ada yang bisa mengerti
gunjang-ganjing perasaan mahasiswa tingkat akhir.

Sekian dan terima kasih.
28.7.12

Tentang Cinta dan Sakit Hati



Mereka datang satu paket dan melengkapi, bukan membenci.
Mereka terkadang datang malu-malu, kadang juga kurang ajar langsung maju.
Mereka menggerogoti diri dari dalam, membuat rapuh lalu menjadikannya lapuk.
Mereka menular, dari hati, ke pikiran, lalu menyebar dan melumpuhkan sistem syaraf untuk berpikir logis.
Mereka licik, mengelabui kelenjar air mata dan menciptakan topeng palsu untuk digunakan.

Tapi yang perlu diingat,
Mereka selalu ada, bersemayam di salah satu sudut hati.
Mereka menunggu untuk dibangunkan, atau dipancing untuk bangun.
Hanya satu kunci yang diperlukan untuk membukanya.

Kamu.
Dan perasaan terhadapmu seperti ini,
yang perih dipendam hampir membusuk,
namun terlalu letih untuk diungkapkan.
Aku rasa kita sama-sama mengerti.
Cinta
dan
sakit hati.
25.7.12

(500) Days of Summer Quotes


(201) People change. Feelings change. It doesn't mean that the love once shared wasn't true and real. It simply just means that sometimes when people grow, they grow apart.
21.7.12

Judulnya Rahasia :p

Apalah arti sebuah lagu?

Banyaaak!
Menurut saya, frame of reference dan field of experient dari sebuah lagu berpengaruh pada tingkat kecintaan kita pada lagu tersebut. Kalau lagi patah hati dan merasa hatinya hancur berkeping-keping mungkin bisa nangis (atau istilah lainnya nggerus) kalau denger Pupus-nya Dewa19. Nggak bisa move on dan keinget si mantan terus mungkin bisa kejer-kejer denger Thinking of You-nya Katy Perry... dan begitulah seterusnya :)

Lagu yang baik, bahkan terlampau keren, bisa membuat saya merinding ketika mendengarnya. Curhat Buat Sahabat-nya Dee, Bukan Dia Tapi Aku-nya Judika, Don't Forget dan Catch Me-nya demi Lovato, Endless Love-nya Glee Cast, dan Because You Love Me-nya Celine Dion (apalagi yang dinyanyiin bareng Charice), sukses bikin saya merinding disko. Lagunya yang bagus, liriknya yang luar biasa tajam, hingga kesamaan kejadian antara saya (personal) dengan kisah dalam lagunya rasanya membuat saya "memiliki" lagu itu. Nggak salah kan kalau nantinya lagu itu saya klaim sebagai soundtrack hidup saya? Hehehe ;p

Ada satu buah lagu punya Taylor Swift yang secara paksa saya terjemahin sebagai satu-satunya lagu yang bisa "merangkum" hidup saya. Judulnya The Best Day, dari album Fearless. Entah kenapa, rasanya banyak kesamaan aja antara lagu ini sama saya. Ehehehe, lebay ;p

Buat yang belum tahu lagunya, ini video klipnya. FYI, videonya dibuat dari kumpulan rekaman video-videonya Taylor dari dia kecil. So sweet :')


I'm five years old, it's getting cold, I've got my big coat onI hear your laugh and look up smiling at you, I run and runPast the pumpkin patch and the tractor rides, look now, the sky is goldI hug your legs and fall asleep on the way home

"You" dalam lagu ini sepertinya merajuk ke sosok Mama. Anggep aja gitu ya. Hehe, jadi bait pertama ini tentang Mama. Dalam lirik ini, ketika mendengarkannya, pikiran saya langsung melayang ke belasan tahun silam, ketika saya dan mama sedang piknik di kebun binatang. Tamasya ke Taman Topi. Main ayunan. Jatuh dari sepeda. Langit cerah di perjalanan pulang dari TK. Dan tidur di lengan Mama pas di perjalanan pas naik angkot...


I don't know why all the trees change in the fallBut I know you're not scared of anything at allDon't know if Snow White's house is near or far awayBut I know I had the best day with you today

Ini bukan tentang Snow White, tapi tentang harta karun saya yang ditemukan secara nggak sengaja di lemari TV: sebuah buku dongeng Jaka Tarub. Setelah bosan membaca dan minta dibacakan, saya mulai merengek sambil terus bertanya kenapa bidadari kalau mandi ngelepas selendangnya?
Suatu hari, ketika saya bangun tidur, buku Jaka Tarub ini udah nggak ada lagi di tempatnya. Mungkin diumpetin mama/bapak karena saya terlalu cerewet nanya ini-itu :p Sampai sekarang saya nggak tahu dimana keberadaan buku ini. :(


I'm thirteen now and don't know how my friends could be so meanI come home crying and you hold me tight and grab the keysAnd we drive and drive until we found a town far enough awayAnd we talk and window shop 'til I've forgotten all their names
Tiga belas adalah angka yang cukup istimewa buat saya. Di usia ini, saya baru duduk di kelas dua SMP. Pertamakalinya ngerasain suka sama orang sampe nangis-nangis *eh* dan pertama kali di bully sama sahabat sendiri... Berantem, nangis, di teror di telepon, di omongin di belakang... lengkap deh! Pait ya. Dulu pait, sekarang momen ini cukup buat diketawain aja. Makasih yah Mbak Hater buat "pengalamannya" :')

I don't know who I'm gonna talk to now at schoolBut I know I'm laughing on the car ride home with youDon't know how long it's gonna take to feel okayBut I know I had the best day with you today
Saya bener-bener nggak tahu mau main dan "gaul" sama siapa di sekolah. Semuanya kelihatan pakai topeng. Pelan-pelan saya mulai membaur lagi, mulai pilih-pilih "topeng" yang pas buat dipakai. Kenapa mesti pakai "topeng"? Karena ketika saya menjadi diri sendiri dan menemukan teman yang benar-benar pas, si bully datang lagi dengan sosok yang berbeda. Pait, bener-bener pait. Waktu itu rasanya harus serba hati-hati. Mau temenan aja sampe dibatasin. Sedihnya nggak ketulungan.
Saya pun mulai cari pelarian: buku harian. Saya mulai menulis apa yang saya rasakan di buku harian. Melalui buku harian, saya bisa menjadi saya yang sebenarnya. Saya terus menulis dan membawa buku harian kemana-mana. Walaupun masih ada beberapa orang yang nekat buka-buka tas saya di jam pelajaran olahraga buat nyari buku harian di dalam tas saya dan diam-diam dia baca. Makasih loh mas-mbak hater, pengalamannya bikin saya senyum-senyum sendiri sekarang :P
Salah satu pelarian lain dari semua kejadian ini adalah belanja sama Mama. Cuma belanja bulanan sih kayak kebutuhan dapur dan lain-lain, tapi rasanya senang aja. Setidaknya saya dapat hiburan :')

I have an excellent father, his strength is making me strongerGod smiles on my little brother, inside and out, he's better than I amI grew up in a pretty house and I had space to runAnd I had the best days with you
Saya selalu kagum sama bapak. Kemampuannya berdebat, kemampuannya beropini dan memegang argumen, hingga kecerdasannya, membuat saya minder karena rasanya itu semua nggak nurun ke saya. Hehe ;pAdik saya, dari dulu pas TK dan SD, saya satu TPA sama doi. Dan tau nggak siiih, di setiap pelajaran menghapal (nama-nama surat Al Qur'an sampai Bahasa Arab) selalu dia yang nilainya lebih tinggi dan dipuji guru. Aaaaakk~ xDRumah saya, eh, rumah keluarga saya yang pertama ada di kompleks perumahan guru. Nggak terlalu bagus, tapi saya punya jalan pintas yang tersembunyi yang nembus ke lapangan di sekolahan itu. Seru banget lari-larian dan main petak umpet disana :) Dulu, pas pertama kali baca buku Harry Potter (kelas 5) saya ngebayangin Hogwarts seperti lapangan di sekolah yang itu. Luas, ada tangga berundak dan papan-papan yang tinggi. Pas banget kayaknya buat main Quidditch! :DSedangkan rumah yang kedua, berada di kompleks perumahan yang jauhnya 45 menit dari rumah yang lama. Walaupun disini saya nggak punya jalan-jalan dan tempat-tempat rahasia, tapi disini saya punya banyak teman sebaya. Kami selalu main di lapangan di depan rumah. Seru pokoknya! :D

There is a video I found from back when I was threeYou set up a paint set in the kitchen and you're talking to meIt's the age of princesses and pirate ships and the seven dwarfsAnd Daddy's smart and you're the prettiest lady in the whole wide world
Lirik lagu bagian ini tentu nggak pas sama masa kecil saya karena.... saya nggak punya alat untuk merekam dan mengabadikan momen masa kecil saya (hehe, alesannya karena teknologi, coba! :p). Hehe, tapi kalimat terakhir dari lirik bagian ini bener banget ;')

And now I know why the all the trees change in the fallI know you were on my side even when I was wrongAnd I love you for giving me your eyesFor staying back and watching me shineAnd I didn't know if you knew, so I'm takin' this chance to sayThat I had the best day with you today
Kini giliran saya bercerita mengenai saya di masa ini. Sedikit banyaknya saya sudah tahu manis-pahitnya kehidupan. Selama 21 tahun hidup, saya banyak melakukan hal, saya banyak melakukan kesalahan. Dari setiap kesalahan yang saya buat, saya tidak pernah merasa ditinggalkan oleh keluarga saya. Seperti artis-artis terkenal yang diwawancarai di infotaiment, "keluarga saya sangat mendukung". Ya, walaupun perumpamaannya yang artis-artis itu agak gimanaa gitu, tapi memang keluarga saya sangat mendukung. :')
Terima kasih mamah karena mewariskan mata cokelatnya.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan kalau saya selalu mempunyai waktu terbaik ketika saya sedang berkumpul bersama kelarga. Selalu! :)

Gak sabar buat pulang ke rumah! :D

Fiuh~
Banyak juga ya saya nulisnya.. Hehehe.. Ya, kira-kira itulah yang saya rasakan ketika saya mendengar lagu itu. Setiap orang pasti punya pengalamannya terhadap lagu-lagu favoritnya, dan inilah pengalaman saya yang coba saya tulis dari lagunya Taylor swift yang kebetulan "mirip" dengan perjalanan hidup saya. Yah, itung-itung meresepsi diri sendiri sebelum meresepsi orang lain lah. Hahhahaha :D *puk-puk layar leptop*

Ah makin meracau saja rasanya. Akhir kata, semoga saya bisa nonton konser Taylor Swift tahun 2014 nanti. Kalau sudah nonton saya pasti akan mereview konsernya di blog ini. Dan ketika saya baca lagi postingan ini, saya pasti cuma bisa geleng-geleng kepala, mengakui diaz yang nekat nyama-nyamain lagu Taylor Swift sama pengalaman hidupnya! Hehe, see ya the older diaz! ;D
16.7.12

Kutub


Waktu berlalu. Hidup berjalan. Orang berubah. Pun saya.
Singkirkan definisi baik dan buruk yang kamu ketahui. Definisi itu, tidak berlaku dalam apa yang sedang saya hadapi. Sini, mendekat dan dengarkan...
Hidup selalu mempunyai dua sisi. Dua sisi yang selalu berlawanan. Kita tidak bisa menghilangkan salah satunya karena mereka bersifat kekal. Yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lain, yang satu tidak bisa ada tanpa keberadaan yang lain. Bukan, ini bukan mengenai Harry Potter dan Lord Voldemort.
Tapi tentang pijak yang harus saya pilih.
Baik buruk. Bagus jelek. Bumi langit. Positif negatif.
Apapun yang ada diantaranya akan musnah karena kalah kuat. Hilang di telan apapun yang lebih besar. Waktu, usia, persaingan, ambisi...
Orang berubah.
Tapi apa yang terjadi jika kebalikannya? Bagaimana jika ketakutan ini benar?
Sepertinya memang.
Saya mundur ke belakang.
Seperti 2+(-4)
Atau x(-x)
Terlalu banyak merencanakan tanpa melaksanakan. Terlalu banyak melihat sisi buruk tanpa mengintip sisi baik. Terlalu sering melihat masa lalu tanpa membuat perkiraan masa depan. Terjebak pada kesalahan yang sama.
Ini sungguh tidak benar, terlalu nyaman berpijak di tempat yang salah.
Lalu disinilah saya akan berikrar, untuk perlahan melepaskan ikatan. Menjalankan semua yang telah direncanakan. Berjuang untuk sesuatu yang pantas didapatkan. Membersihkan tumpukan mimpi di sudut langit-langit kamar dari tumpukan debu. Mulai berlari hingga mencapai tujuan. Lalu berpijak di tempat yang benar. Supaya berhasil, dan diingat.
Dan semoga,
penyakit perut ini tidak terus menghalangi.


Terima kasih, untuk pemberi mawar yang selalu membiarkan saya menjadi diri saya sendiri.
Terima kasih, karena rela menjadi penyangga untuk topeng yang selalu saya gunakan.
Terima kasih, telah mengingatkan saya untuk membuang topeng itu.
Hmm, mungkin topengnya tidak akan saya buang, tapi akan saya hancurkan perlahan-lahan agar benar-benar hilang dan tidak dapat ditemukan lagi. :)
30.6.12

Pelajar Senja Cari Kemewahan

Dua minggu terakhir ini saya benar-benar niat untuk nggak niat. Pikiran yang stuck di hal yang itu-itu saja membuat hari-hari saya semakin sumpek dan pengap. Mau ngapain, mau gini, mau gitu, bingung semua. Ya, semua "pelajar senja" pasti pernah melalui hal seperti ini. Jadi dua minggu terakhir ini saya pakai untuk hiburan.

Hiburan adalah kemewahan bagi para "pelajar senja". Usia pendidikan yang nggak muda lagi ditambah umur yang berlabel "remaja expired" kadang membuat pikiran melayang jauh... jauh... dan jauh ke masa depan. Tapi tetap aja, saya terlalu pesimis tentang satu hal ini, yang kemudian membuat saya kabur mencari hiburan: Running Man.

Running Man ini semacam variety show Korea. Siarannya kayaknya udah lama deh, dari 2010. Buat yang penasaran silakan googling aja ya, lagi males ngejelasin. Hahahahaa.. :p Nah, dari Running Man inilah saya mendapatkan hiburan sekaligus pengalihan. Pemainnya koplak semua. Bikin ketawa sampe sakit perut. Parah pokoknya. Bener-bener pengalihan yang ampuh! :D



Ada dua karakter favorit saya di Running man: Lee Kwang Soo oppa sama Song Joong Ki oppa. Mereka berdua nih, yang selalu bikin saya ketawa megap-megap. :)) 

Lee Kwang Soo oppa

Kwang Soo oppa biasanya mengeluarkan komentar-komentar konyol. Belum lagi tampangnya itu yang lucuuuu banget kalau omongannya di potong sama member Running Man lain! :)) Oh ya Kwang Soo oppa juga tinggi banget, konon katanya tingginya 190cm (beda 2cm doang sama Petr Cech :p), makanya dikasih julukan giraffe! Doi juga member yang paling aneh, nyeleneh, dan paling pasrah. Hahaha, tapi eike sukak! \m/:D

Song Jong Ki oppa
Nah ini nih Pretty Boy Jong Ki oppa. Si oppa ini pinter banget. Biasanya dia yang suka ngasih taktik tertentu pas kelompoknya dipencar jadi dua. Jong Ki oppa juga kadang suka nyeletuk dan melakukan hal yang gak terduga. Kayak di beberapa episode waktu dia flirting sama Song Ji Hyo dan bikin Gary cemburu. Kocak! :)) Tapi katanya Kong Ki oppa keluar dari Running Man habis episode 41 untuk serius di akting (belum nonton sampe episode 41). Hmm.. sayang banget... tapi gak papa deh karena doi ganteng jadi dimaafin *loh* Hihihi... Pretty Boy~ :">


Intinya, Running Man ini cocok banget buat "Pelajar Senja" yang lagi cari pelampiasan seperti saya. Kenapa? Karena Running Man membuat saya tertawa, dan bagi "Pelajar Senja" yang kebanyakan hopeless-nya kayak saya, tertawa adalah kemewahan. Mewah yang melegakan, mewah yang murah meriah, mewah yang nggak dapat tergantikan, dan mewah yang gampang dicari...

Udah ah, postingnya kepanjangan. Sekarang saya mau mejeng foto-fotonya Kwang Soo oppa. Kenapa? Soalnya saya ngepens banget sama doi *_*




Giraffe! :D

source: 1, 2
23.6.12

Buku | When You Were Mine


Penulis: Rebecca Serle
Penerbit: Bentang Belia
Harga: Rp. 64.000
My rating: 3/5

Shakespeare salah. Romeo dan Juliet bukan sebuah kisah cinta, itu adalah sebuah drama. Sebenarnya Romeo dan Juliet bahkan bukan judul yang cocok untuk drama itu. Drama itu lebih cocok kalau berjudul Tragedi Romeo dan Juliet. (Prolog dalam novel When You Were Mine)

Saya belum pernah baca bukunya Romeo and Juliet, sih, tapi setelah googling dan membaca buku ini, saya jadi tahu ada tokoh lain dalam jalan cerita Romeo and Juliet yaitu Rosaline, sepupunya Juliet. Dalam buku Romeo and Juliet, Rosaline diceritakan sebagai bribikan-nya Romeo sebelum dia cinta matik sama si Juliet. Romeo ngejar-ngejar Rosaline sampe bela-belain bikin sebuah puisi buat Rosaline tapi Rosaline menolak cinta Romeo. Saking ngototnya untuk ngejar Rosaline, Romeo sampe niat buat masuk ke pesta keluarga besarnya si Rosaline. Nah di pesta inilah kemudian si Romeo ketemu Juliet. Yak, sampe sini nggak usah diceritain kali ya, pasti udah pada tau ;)

Novel When You Were Mine ini menceritakan tentang seorang remaja bernama Rosaline (nama tokoh utama dalam novel ini) dengan jalan cerita seorang Rosaline dari buku Romeo and Juliet. Rebecca Serle, penulis novel ini, mencoba untuk mengangkat kembali alur cerita dari buku Romeo and Juliet dari sudut pandang Rosaline. Di buku ini kita juga akan menemukan sosok "Romeo" dan "Juliet" yang lebih modern. Uniknya, semua tokoh dalam buku ini diceritakan dari sudut pandang Rosaline. Mungkin penulis ingin pembacanya ikut merasakan kekecewaan yang dialami Rosaline karena dalam cerita ini Rosaline ternyata memendam perasaan sama "Romeo".

Novel ini segar. Dengan setting yang modern dan remaja banget, Rebecca sukses membawa pembacanya untuk memahami lebih dalam bagaimana perasaan Rosaline sesungguhnya. Perasaan jatuh cinta, ditolak, kecewa, hingga amarah yang dialami Rosaline juga turut embuat emosi saya naik-turun. Intinya, baca novel setebal 410 halaman ini setimpal dengan cerita yang didapatkan.

Konon katanya ketika menulis novel ini Rebecca Serle terinspirasi dari pengalamannya patah hati dengan cinta pertamanya. Salut kalau begitu, Rebecca sukses menyalurkan emosinya dalam karyanya! :D Psssst, katanya novel ini juga sedang dalam proses difilmkan. Well, we'll see! ;)
13.6.12

Super Random


1. Put your iTunes, Windows Media Player, etc. on shuffle.
2. For each question, press the next button to get your answer.
3. YOU MUST WRITE THAT SONG NAME DOWN NO MATTER HOW SILLY IT SOUNDS.
4. Tag 25 friends. gak usah deh, yang mau tinggal copy-paste aja ;p
5. Everyone tagged has to do the same thing.
6. Have Fun

SOMEONE SAYS ‘ARE YOU OKAY’ YOU SAY?
Happy - Hilary Duff

HOW WOULD YOU DESCRIBE YOURSELF:
Stronger - Demi Lovato

WHAT DO YOU LIKE IN A GUY/GIRL?
That's What You Get - Paramore

HOW DO YOU FEEL TODAY?
Yogyakarta - Kla Project

WHAT IS YOUR LIFE’S PURPOSE?
River Flows In You - Sungha Jung

WHAT’S YOUR MOTTO?
Are You Ready - Terry

WHAT DO YOUR FRIENDS THINK OF YOU?
Maafkan - Nindy

WHAT DO YOUR PARENTS THINK OF YOU?
Crashing Cars - Sabrina

WHAT DO YOU THINK ABOUT VERY OFTEN?
Pure Imagination - Glee Cast

WHAT DO YOU THINK OF YOUR FRIENDS?
Price Tag - Jessie J

WHAT IS YOUR LIFE STORY?
4Real - Avril Lavigne

WHAT DO YOU WANT TO BE WHEN YOU GROW UP?
Teenage Dream - Katy Perry

WHAT DO YOU THINK WHEN YOU SEE THE PERSON YOU LIKE?
The Middle - Demi Lovato

WHAT WILL YOU DANCE TO AT YOUR WEDDING?
Godai Aku Lagi - Agnes Monica *didamprat suami nanti, hahaha*

WHAT SONG WILL PLAYED AT YOUR FUNERAL?
Never Can Say Goodbye - Glee Cast

WHAT IS YOUR HOBBY/INTEREST?
Wait It Out - Imogean Heap

WHAT IS YOUR BIGGEST FEAR?
Come Clean - Hilary Duff

WHAT IS YOUR BIGGEST SECRET?
Underneath This Smile - Hilary Duff

WHAT DO YOU WANT RIGHT NOW?
Stronger - Glee Cast

WHAT WILL YOU POST THIS AS?
You're Beautiful - Sabrina
11.6.12

Surat.... Undangan?

Ketika mengirim sebuah surat penuh curahan hati tentang perasaan kepada pasangan,
tapi malah dibalas dengan undangan pernikahan...

Dafuq.

Nih saya kasih soundtracknya :p

5.6.12

Random

Pas pulang kemarin kepikiran untuk backpacker-an. Hm, bisa nggak ya saya backpacker-an? Mungkin bisa! Sepertinya mental saya sudah kuat, masalahnya tinggal fisik nih, kelamaan tidur dan nonton film ternyata bikin saya makin gendut. Iya, saya ini gampang banget gendut. Makan siang porsi sepiring nasi dan lauk pauk aja berat badan saya bisa langsung nambah 1-2kg. Begitu juga kalau habis pupita, berat saya bisa langsung turun drastis sampai 4kg-an (ini serius). Hehe, aneh ya? entahlah. Eh ini kenapa jadi ngomongin berat badan? Yah, intinya menjadi gendut membuat saya risih kalau banyak gerak. Tapi saya ingin nyoba backpacker.

Kemarin ada teman yang nawarin ke Jepang. Lumayan, sepupunya teman dan teman saya ada yang tinggal disana. Insya Allah tempat tinggal bisa nebeng sementara atau minta dicarikan hostel yang murah. Tapi belum nemu tiket promo ke Jepang. Urusan paspor, temen saya itu semuanya udah pada punya paspor, tinggal saya sendiri. Tapi paspor bukan masalah utama sih. Visa nya nih, katanya ribet banget ngurusinnya... entahlah. Songong banget ya saya pengen langsung ke Jepang? Hahahaha :D

Tapi sebelum menuntaskan cita-cita saya itu, saya kembali ke Jogja dan menemukan urusan-urusan yang belum selesai. Skripsi yang belum dimulai, tanggung jawab yang masih banyak, dan tabungan yang mandek segitu-segitu aja (ini sebenarnya masalah utamanya :p). Karena itu saya memendam lagi keinginan jalan-jalan, mem-bookmark situs-situs travel yang asik untuk dibaca nanti karena kalau dibaca sekarang malah bikin ngiler, dan kemabali ke rutinitas biasanya.

Oh ya, kenapa saya tiba-tiba nulis tentang travelling? Kemarin saya denger cerita teman saya yang baru pulang dari Korea. Dia solo backpacker. Ya, dia ke Korea hanya dengan ranselnya saja, dan dia perempuan. Penekanan "dia perempuan" itu bukan karena saya feminis lho ya, hanya untuk sedikit memantik semangat saya saja. Kalau dia bisa, saya juga bisa dong? ;)


28.5.12

99 Cahaya di Langit Eropa


Sejauh mana kamu paham tentang yang kamu yakini? Terlahir dari keluarga dengan latar belakang Agama Islam, saya sudah diakrabkan dengan keyakinan saya sejak dini. Dari kecil, saya sudah dibiasakan ikut sekolah agama/ mengaji setiap hari setelah pulang sekolah. Kebiasaan itu lalu berlanjut dalam tingkat yang lebih dalam lagi yang diresapi secara pribadi sebagai kebutuhan. Pemaknaan dan hikmah terhadap apa yang saya yakini biasa saya pelajari melalui arahan orangtua, lingkungan, ustad, dan... buku.

Beberapa bulan yang lalu saya melahap habis buku yang berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Sempat ragu awalnya ketika saya hendak membeli buku itu. Setelah membaca review bukunya, ternyata buku "99 Cahaya di langit Eropa" berkisah tentang sejarah. Dari dulu, saya kurang begitu sreg dengan pelajaran sejarah. Hehe. Entah karena saat itu toko buku yang saya kunjungi sedang mengadakan diskon besar-besaran atau banyaknya testimoni yang mengatakan kalau buku ini sangat bagus, akhirnya saya kepincut juga beli buku "99 Cahaya di Langit Eropa" itu.

Sampai di rumah, saya langsung membaca habis keseluruhan isi buku. Ternyata dugaan saya salah, buku "99 Cahaya di Langit Eropa" sangat bagus. Buku ini membawa saya masuk ke penjelasan mengenai sejarah Islam di Eropa secara menyenangkan. Ceritanya mengalir, bahasanya ringan, dan tokoh yang memiliki karakter yang kuat membuat saya seolah-olah sedang "digiring" melalui mesin waktu melintasi Eropa yang ternyata mempunyai banyak peninggalan tentang sejarah Islam.

Banyak hikmah yang dapat diambil dari buku ini. "Menjadi Agen Islam yang Baik di Eropa" adalah salah satunya. Dewasa ini, tidak mudah bagi orang muslim, khususnya perempuan yang menggunakan hijab, untuk tampil di depan umum. Menurut pengalaman saya pribadi, selalu ada  "pandangan aneh" yang di dapatkan ketika tampil di depan umum. Biasanya sih ini terjadi di luar Indonesia, atau di negara yang penduduk muslimnya minoritas. Hehe, maaf ya kalau saya sotoy :p. Nah, "Menjadi Agen Islam yang Baik di Eropa" adalah solusi untuk menyikapi "pandangan-pandangan" seperti itu. Caranya? Menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Simpel? Ya, tapi juga tidak. Beberapa contoh secara apik diberikan Hanum melalui sosok sahabatnya, Fatma, dalam buku ini. Penasaran? Makanya ayooo baca buku ini :)

Oh ya, buku ini kembali mengingatkan saya pada cita-cita yang selama ini saya pendam: jalan-jalan keluar negeri. Eropa adalah salah satunya. Jika dulu ketika saya jalan-jalan saya hanya tertuju pada objek wisatanya saja, setelah membaca buku ini saya jadi ingin mengetahui lebih dalam mengenai sejarah khususnya sejarah Islam dalam suatu peradaban di suatu negara. Semoga suatu saat nanti. We'll see! :)
27.5.12

Kritik Menggelitik

Rasanya kayak digelitik tapir yang lagi ngamuk di ragunan.

Saya geli banget baca tulisan di notes facebook seseorang yang nggak saya kenal. Ia mengkritik kalau beberapa buku yang ia temukan di toko buku atau perpustakaan "hanyalah sampah yang tak layak dibaca, yang beruntung dipungut penerbit" (yang saya kasih tanda kutip itu asli saya copy dari notes-nya.)

Geram? Iya.

Apa patokan dia menilai buku-buku tersebut? Bukankah seorang pembaca, sama dengan penulis, berhak untuk masuk dan turut meliarkan imajinasinya dalam membaca setiap buku? Buku apa yang ia anggap sebagai "sampah" itu? Harus berkriteria seperti apa emangnya buku yang layak terbit dan layak masuk di perpustakaan itu?

Membaca adalah kegiatan yang lahir dari sebuah proses. Proses kebiasaan ataupun dibiasakan. Bagi saya, saya tidak bisa membaca buku bila dipaksakan. Saya mulai baca buku ketika saya kecil, dengan buku-buku ringan yang cocok untuk usia saya. Buku-buku ringan sesuai dengan usia saya itulah yang kemudian mengantar saya ke jenjang cangkupan buku-buku yang lebih luas lagi. Dan begitu seterusnya.

Saya adalah penggemar berat buku berjenis teenlit. Semua buku teenlit saya lahap, saya kumpulkan uang jajan untuk melengkapi koleksi teenlit. Saya datangi teman-teman yang punya banyak koleksi buku teenlit untuk saya teror pinjam. Hingga suatu hari, salah seorang teman bilang untuk apa membaca buku seperti itu? Nggak ada gunanya. Nggak ada isinya.

Geram? Iya.

Saat itu saya nggak bisa membantah selain tetap tutup telinga dan terus melanjutkan kegiatan membaca saya. Toh saya ini yang baca, bukan dia. Saya hanya bisa bergumam dalam hati, tulisan yang kalian sebut nggak berguna itu, apa kalian bisa menulisnya? Apa kalian bisa menghasilkan karya seperti itu? Lama berselang, saya kemudian menemukan tulisan salah satu penulis favorit saya, Dyan Nuranindya yang ini dan saya seperti merasakan kegelisahan yang sama.

Pada akhirnya, frame of references dan field of experience-lah yang sedikit banyak berpengaruh dalam kegiatan membaca. Benar kata Dyan, perlahan, saya mulai meninggalkan rak teenlit ketika berkunjung ke toko buku. Saya baca buku lebih banyak lagi untuk menemukan apa yang sedang saya cari. Saya mencari pijakan lain untuk mulai melangkah lebih jauh.

Bukankah pijakan diperlukan untuk memulai sesuatu hal?

Kenapa harus membatasi buku apa yang mana yang harus berada di toko buku dan perpustakaan? Apa kriteria seseorang untuk menuduh suatu buku layak terbit atau tidak jika ia tidak tahu separuh populasi lain ternyata membutuhkan buku tersebut? Kenapa mesti menyalahkan daya tarik twitter dan facebook sebagai media untuk berpromosi? Kenapa tutup mata dengan kemajuan teknologi? Kenapa tidak mulai berkenalan dengan liteasi media jika tidak ingin terjangkit "virus" kemajuan teknologi? Kenapa oh kenapa *mendadak dangdutan*


Pada akhirnya, menurut saya tidak ada buku yang lebih bagus atau lebih jelek. Waktu yang pas akan lebih bersinkronisasi dengan buku yang sedang dibaca. Tapi membaca lebih banyak itu lebih baik daripada tidak membaca sama sekali.

Salam manis untuk penulis notes,
-d-
7.5.12

Baca Majalah Apa?

Source
Entah kenapa hari ini rasanya saya pengen ke Gramedia. Pengen berada di himpitan rak-rak buku besar yang menggoda untuk dibuka segelnya. Ingin membaca keseluruhan sinopsis novel-novel yang saya taksir covernya. Iya, intinya cuma pengen dapet atmosfernya aja kok, karena apapun bukunya, belinya kan di togamas (<-- mantan karyawan, #eh :p)

Setelah menjelajah kesana-kemari dan puas baca sedikit buku yang segelnya terbuka, saya kemudian terdampar di rak majalah. Ini awal bulan, besok awal minggu. Artinya, sudah waktunya saya membeli majalah karena saya baru dapat uang mingguan.

Mengkonsumsi majalah tiap bulan itu hukumnya wajib bagi saya. Entah majalah pinjaman, download-an, ataupun majalah yang saya beli sendiri. Ada kesenangan tersendiri saat baca majalah. Tapi sebenarnya dari beberapa minggu kebelakang ini saya dibuat bingung dengan jenis majalah apa yang harus saya konsumsi. Simpel aja sih alesannya, usia saya 21 yang artinya saya sudah memasuki tahap "remaja expired". Biasanya tiap bulan saya rutin beli majalah GoGirl, tapi ya karena alasan "remaja expired" tadi, rasanya ada sesuatu yang hilang ketika saya membaca majalah tersebut.

Kembali ke beberapa tahun silam, masa SMP, adalah masa-masanya gaul bagi saya. Kala itu saya berlangganan majalah Gadis, walaupun sesekali selingkuh dengan KaWanku. Saat itu, saya yang tergila-gila dengan Hilary Duff dan Simple Plan selalu teriak histeris kalau menemukan sepercik artikel atau foto-foto terbaru tentang mereka. Kalau saya sedang berantem-beranteman sama teman se geng juga saya tinggal membuka rubrik friendship dan membaca habis semua artikelnya. Nggak sesimpel itu sih, tapi setidaknya masalah saya sedikit terurai. Ya, masa-masa itu membuat saya menemukan majalah yang tepat. Eh, tunggu, atau malah majalah itu yang menemukan saya di masa-masa yang tepat?

Lanjut ke masa SMA, yaitu masa-masa redup, dimana saya menayadari kalau saya sengaja salah jurusan karena saya masih belum tahu mau ambil kuliah jurusan apa. Di masa SMA ini kegiatan saya disibukan dengan membaca komik dan menonton serial Amerika seperti Heroes dan Smallville. Kegiatan membaca majalah sempat terhenti karena orang tua saya berhenti mengalokasikan sebagian anggaran rumah tangga untuk membelikan saya majalah (opo to bahasane ki --___--). Pelarian saya ya saat itu hanya dua, baca komik dan nonton serial. Majalah hanya sesekali saya beli ketika saya sudah menyisihkan uang untuk beli komik dan kepingan dvd. Itupun belinya majalah bekas. Kalo dipikir-pikir lagi kok kasian banget ya saya ini... Tapi tiap bulan teuteup sih, saya rutin pinjem Animonster-nya teman saya. Yoi, anime, manga, japan, yu rok! \m/

Balik lagi ke 2012, majalah apa yang harus saya beli? setelah muter-muter ngeliatin majalah yang ada di Gramedia saya tertarik sama tiga majalah ini: Chic, Horizon, dan Martha Stewart Living. Chic, tagline-nya magazine for career girl. Career? hemmm.. mungkin minggu depan, kalau jadi, baru bisa dibilang career girl :p. Tapi kenapa ya ngerasa juga masih ada yang hilang pas sekilas baca majalah ini. Momen yang belum saya rasakan, atau artikel yang tidak saya mengerti? Entahlah.. Lalu Horizon, majalah sastra yang dari dulu bikin saya penasaran pengen baca, dan dari dulu bikin saya nggak jadi-jadi terus belinya. Entahlah, isinya bagus tapi mungkin dalemnya kurang colorful (ya iyalaaah, mau ngarep apa emang dalemnya? Ngebahas tentang fashion? :p)... Martha Stewart Living, belum pernah baca sebelumnya karena nggak pernah nemu majalah ini yang tanpa segel. Tapi saya pernah baca majalah ini versi baratnya yang edisi khusus pernikahan. BAGUS gilak, ngasih info tentang cara bikin sesuatu. Tapi entahlah yang versi Indonesianya ini.

Lain hal, beberapa minggu yang lalu saya iseng mampir ke Periplus dan menemukan majalah ini, Frankie. Tampilannya ciamik, unik, dan segelnya kedip-kedip minta di robek. Tapi apa daya harganya mahal gilak, 185ribu. Sama sekali belum oke buat kantong mahasiswa kayak saya. Setelah gelundungan googling sana-sini ternyata itu adalah majalah dari Australia. Pantes aja yak mahal. Tapi pengen banget sayaaa... masih penasaran sampe sekarang.

Well, intinya adalah saya masih bingung dengan majalah apa yang harus saya konsumsi. Teh Intan pernah bertanya di sela-sela obrolan soal skripsinya yang mengangkat tentang majalah, sebenarnya apa sih yang dicari perempuan ketika dia membaca majalah -which is, fashion? Apa hanya membaca artikelnya tanpa melihat-lihat foto-foto, atau melihat-lihat fotonya untuk mendapatkan tren terbaru tanpa membaca artikelnya? Kalau saya sih, termaksuk jenis pembaca yang pertama. I'm not into fashion. Kalu ngeliat foto-foto model dengan baju yang pas, paling saya cuma begumam, "lucuk!" sambil ngebayang-bayangin kalau badan saya se kerempeng si model (hehehe ;p) Mungkin hal itulah yang membuat sensasi hilang ketika saya baca majalah sekarang. Majalah perempuan, nggak jauh dari tren fashion, dimana saya agak sungkan untuk bergabung di dalamnya. Entahlah, ternyata milih baca majalah aja bisa bikin bingung kayak gini...




Terimakasih buat Dimas yang nganter ke Gramedia, muter-muter bacain buku satu-satu, ikut milihin majalah (Men's Health, grrr --____--), dan diusir dari Gramedia karena udah mau tutup. Ma'aciihhh :D
5.5.12

Grrrr

Jadi ceritanya adalah malam ini saya mau tidur lebih awal karena perut saya sakit banget banget banget (bangetnya lebih dari satu biar mendramatisir) dan cuma tidur yang bikin saya lupa rasa sakitnya. Tapi apa daya, giliran mau tidur tetangga samping kontrakan, entah samping yang mana, tiba-tiba dangdutan kenceng banget. Entah apa deh motifnya. Denger-denger gosip yang beredar sih katanya sekelompok orang yang dangdutan itu lagi latihan buat penampilan mereka nanti (entah kapan) Errr --____--

So, here i am. Di depan leptop, pakai headset dan nonton ulang semua episode Glee season dua dengan volume penuh. Lumayan, dangdutannya jadi nggak begitu kedengeran.

Karena sedang nonton Glee, sekalian deh saya bikin 3 karakter favorit saya di Glee. *jeng-jeng*

1. Mike Chang
Ganteng, cool, dan dance-nya keren banget. 
Fav dance: Season 2 Eps. 17 "A Night of Neglect"

2. Santana Lopez
Mulutnya pedes, tapi justru sifat itu yang bikin dia menonjol di Glee.
Fav Song: Valerie - Season 2 Eps. 22

3. Brittany S Pierce
Bodoh, jujur, dan kadang ucapannya yang spontan bikin ngakak.
Fav song: Slave For You - Season 2 Eps. 2

Okey kayaknya dangdutannya udah bener-bener selesai. Saatnya tiduuuurr!! ---_______----