SOCIAL MEDIA

30.4.12

Dameron!!




28.4.12

Akhirnya Membahas Ini Juga

source

Masalah yang lagi "in" dan menerpa saya dan teman-teman sepermainan mungkin adalah masalah UNU600 alias Skripsi. Iya, huruf S nya kapital soalnya menyangkut aspek hidup orang banyak (agak lebay) dan mempengaruhi tatanan hidup mahasiswa: yang awalnya nggak galau jadi galau, yang awalnya galau jadi tambah galau (kalau yang ini beneran). Men, ternyata galau sekarang bukan masalah hati aja, skripsi juga (mulai berpikir agak bijak).

Bagi saya, skripsi itu menyangkut masa depan. Demi mencapai masa depan yang gemilang, ngerjain skripsi juga harus serius. Harus dari hati. Buat saya yang sudah di tolak tiga (atau empat?) kali sebelum berjuang adalah bukan perkara mudah untuk memulai Skripsi lagi dari awal. Menghadapi peringai berbagai macam dosen dari yang mendengarkan dengan seksama apa yang mau saya angkat, hingga berhadapan dengan dosen yang mengehela napas panjang ketika saya meminta ijin untuk menyita sedikit waktunya, sudah pernah saya alami.

Saya ini bukan mahasiswa yang pintar. Saya juga tidak terlalu paham berbagai metodologi dan tidak pandai menyangkutpautkan berbagai fenomena dalam berbagai macam teori. Ketika menemui dosen untuk berkonsultasi, kadang yang saya inginkan adalah di beri penjelasan, atau setidaknya diberitahu kalau saya salah dengan cara yang benar. Disini saya tidak sedang menyudutkan loh, :), tapi menurut saya, menurut mikro pengalaman saya (halah, mikro!), ada dua atmosfer yang selalu datang ketika saya berhadapan dengan dosen. Yang pertama adalah atmosfer "girang" yang mengayomi dan mendengarkan dengan seksama terlebih dahulu apa yang menjadi pertanyaan utama dan alasan saya, dan kemudian mengkoreksi saya. Yang kedua adalah atmosfer "kamu salah". Ya, ini terjadi ketika saya mendapatkan kritikan yang benar-benar menyudutkan. Kritik (atau 'pertanyaan') dari dosen yang seharusnya bisa saya jawab tapi terhalang oleh atmosfer yang telah dibentuk. Kata-kata pembelaan yang akan terucap diblokir oleh atmosfir itu: kamu salah. Mboh piye carane pokoknya kamu salah. Hahaha, konyol memang ;p

Saking sumpeknya, pernah suatu hari kepala saya sampai sakit banget mikirin Skripsi ini. Nggak mudah loh, hidup dengan dua sepupu seumuran yang sama-sama satu angktan dan satu jurusan. Saya masih berkutat pada judul, sedangkan kedua sepupu saya sudah lulus. Men. Walaupun beda universitas, tapi tetap saja rasanya gimana gituu ngeliat sepupu yang udah lulus, kan mau juga sayanya :P.

Lain hari, saya dan teman-teman sepermainan sedang kumpul-kumpul santai sambil ngobrol-ngobrol. Entah siapa yang pertama kali menyinggung, tiba-tiba obrolan kami membahas mengenai Skripsi. Kepala saya yang saat itu rasanya sedang sakit cenut-cenut refleks menolak mendengarkan. Tapi nasi sudah menjadi bubur (opo to?), obrolan itu tetap aja masuk ke alam bawah sadar saya dan menggelitik si otak yang lagi cenat-cenut itu. Refleks saya bilang, "Duuuh, bisa nggak sih kita nggak ngomongin Skripsi duluu.." Dengan nada bercanda memang, but i really mean it. Saya ini termaksuk orang yang ingin santai dalam mengerjakan Skripsi. Tapi gimana bisa santai kalau setiap hari, setiap obrolan, setiap dahi yang saya lihat di muka orang-orang tulisan dan bahasannya UNU600 semua? :P

Orang-orang bilang, carilah topik Skripsi dari hal-hal yang disukai. Bagi saya yang hanya menyukai tiga hal: (1) episode Glee terbaru, (2) ngejahilin orang, dan (3) makanan gratis, mungkin mencari tema Skripsi menjadi momok terbesar. Karena itulah, sekarang saya sudah menutup hati, menutup hati untuk judul-judul Skripsi yang baru. Ada sebenarnya yang sedang saya pertahankan, dan sedang saya upayakan setiap harinya. Kali ini, saya hanya berharap yang terbaik, seiring dengan harapan-harapan lain yang saya bisikan kepada-Nya sehabis Sholat.

Mungkin untuk sekarang, skripsi bukan lagi menyangkut masa depan, tapi menyangkut hari esok. Masa depan masih jauh, tapi hari esok hanya tinggal beberapa jam lagi. Dengan pemikiran kecil ini saya ingin benar-benar total dan menjalankan lagi semuanya dari nol. Saya sudah (berusaha) kebal dipecuti "atmosfer-atmosfer" aneh itu. Pecutan itu kini (mungkin) sudah berubah menjadi pacuan saya untuk berlari. Semoga berlari ke jalan yang benar. Semoga. Amin. :)




*Di tulis setelah menyadari bahwa "luka" yang didiamkan tanpa diberi obat, dan terus di garuk untuk menunda rasa sakit hanya akan menjadi borok. Saya rasa menulis adalah "obat" yang tepat. Selamat malam. :)
20.4.12

Pulang


Pulang adalah kata yang menjelma menjadi sahabat bagi para perantau, termaksuk saya. Kadang saya dibuat bingung oleh kata ini. Pulang kemanakah yang saya maksud? Ketika di Jogja, saya mengartikan kata 'pulang' untuk Sukabumi, kota yang selama tujuh belas tahun telah membentuk sebagian diri saya. Tapi ketika berada di Sukabumi, 'pulang' mengubah deskripsinya pada kota Jogjakarta, tempat dimana saya singgah dan mencicipi kehidupan selama hampir empat tahun terakhir.

Kalau kata 'pulang' selalu merujuk pada rumah, maka saya menjadi orang yang paling tidak konsisten. Rumah, adalah tempat dimana saya menemukan kebahagiaan, tempat saya menemukan 'sesuatu' untuk bersandar, dan tempat dimana saya bisa datang kembali setiap saat dengan mendapat sambutan hangat. Sukabumi dan Jogja menawarkan itu semua dan berhasil menawan 'pulang' sebagai deskripsinya.

Suatu hari saya melakukan perjalanan ke tempat yang lumayan jauh, tempat yang bahkan lokasinya saja tidak saya ketahui di peta. Dalam perjalanan ini, 'pulang' berubah menjadi sebentuk kata sakral. Menyebutnya bisa membuat perasaan berdesir, merindukan semua aroma yang ada di rumah, merindukan meringkuk di kasur yang paling nyaman sedunia, merindukan kehangatan atmosfir rumah... Ya,saya homesick.

Hari berganti minggu, kota yang saya tinggali menjadi lebih dari sekedar tempat menjalankan aktivitas. Keakraban mulai terjalin dengan penduduk asli. Fase inilah yang mengubah pertanyaan 'apa kabar?' yang awalnya hanya berfungsi sebagai pertanyaan basa-basi menjadi pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari sekedar 'baik'.

Ada sejumput rasa yang dipilin istimewa, ketika semua tersinkronisasi sesuai yang diharapkan. Tertawa, marah-marah, menangis, semua jadi satu dan dimuntahkan dalam pondok kecil yang dindingnya tak bersekat. Momen makan bersama dan bermain sambung kata menjadi detik-detik paling menegangkan karena kalau tidak cermat bisa-bisa dapat hukuman truth or truth. Belum lagi kalau harus mengantri mandi dengan bonus siulan-siulan gaib yang menyuruh siapapun yang baru mengoleskan pasta gigi ke sikatnya terlonjak kaget dan segera menyudahi aktivitasnya.

Minggu berganti bulan, definisi tentang 'pulang' kembali diperdebatkan. Sekali lagi, jika 'pulang' selalu merujuk pada rumah, maka saya tidak perlu pulang. Di tempat itu saya menemukan semuanya.
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya. (Windy Ariestanty)
Tapi hidup sepertinya tidak untuk terus berpijak. Kadang kita harus kembali dan terus lompat dari satu titik ke titik lain untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Melompat yang bukan untuk meninggalkan, tapi untuk mencari. Saat itu juga, pagi di tanggal 25 yang mendung, bersama rombongan ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar, saya dan teman-teman berjalan meninggalkan kota itu. Diiringi beberapa anak yang berlari dan mengayuh sepeda, kami berjalan membelakangi pondok hijau, basecamp mungil kami, saksi bisu selama 56 hari kebelakang. Kami pulang. Saya pulang.




ps. kepada Anteru, ayo kita 'pulang' lagi ke Muntok! :D





11.4.12

Hanya Berkomentar

Menurut saya, sinetron Indonesia masih "belum cukup umur" untuk ikut-ikutan film luar, seperti Glee yang "mirip" iSkul. Kenapa? Yah, simpel aja sih, harusnya belajar dari sinetron Idola (2005an) yg "mirip" High School Musical". Hasilnya? selain kejar tayang, alur cerita yg awalnya "lumayan oke" berubah jadi ngikutin keinginan penonton... Karakterstik sinetron Indonesia banget deh: Kaget sampe melotot dan di zoom, tokoh utama mati, setiap hari nangis, dan ending gak jelas -__-

 

 


Malesin.

Ya, saya memang masih apatis sama kondisi sinetron Indonesia.
9.4.12

Anggap saja ini tulisan balasan yang dibuat untuk menarik ujung-ujung bibir kamu menjadi senyuman. Itu lebih baik daripada menyatukan kedua alis tebal kamu yang mungkin selalu kamu lakukan ketika membuka blog ini. Jadi, jangan pernah bilang lagi kalau aku terlalu banyak menulis untuk yang dulu ya :)

Asal kamu tahu, tulisan ini sudah lama berdebu di sudut folder draft. Banyak suara bimbang yang tiba-tiba datang di pikiranku tentang mengubah semua yang aku rasakan tentangmu menjadi tulisan. Aku benar-benar harus berpikir berulang kali. Itu karena aku akan menulis tentang kamu, dan hal-hal yang tentunya telah kamu pahami tanpa perlu aku jelaskan lagi. Tidak ada yang dapat memahami dirimu dengan baik selain dirimu sendiri, bukan?

Tapi di pagi yang terlalu dini ini, aku memutuskan untuk mengubahmu dalam sedikit bentuk kata. Meminjam sedikit saja sosokmu yang baru berusia genap sembilan bulan untuk kembali aku cerna. Sebagian.
Siap-siap ya :P

Suatu siang aku pernah bertanya padamu tentang kehidupan dan reinkarnasi. Kamu membantah dengan keras kalau reinkarnasi itu ada, dan mencibirku karena pernah percaya dengan konsep itu. Maka aku padamkan pernyataan bahwa aku merasa pernah mengenalmu sebelumnya. Betapa keberadaanmu tak pernah ditolak semua inderaku. Betapa kamu selalu mendapat ruang di kehidupanku. Betapa kamu selalu penuh dalam pikiranku.

Lain hari, aku sedang tersulut emosi. Kamu adalah cermin dalam banyak aspek yang aku lakukan, termaksuk yang satu ini. Tak jarang kita sama-sama terbakar dan terlalu enggan menceburkan diri dalam kolam sejuk bertahtakan kesabaran. Kita sama-sama belum pernah cukup puas bermain kembang api.

Tau nggak sih kalau kamu itu hebat? Kemanapun kamu pergi, kamu selalu menemukan jalan dan ingat kemana harus pulang. Berjalan denganmu, aku bisa saja menutup mata dan percaya saja pada panduanmu. Tapi aku lebih memilih untuk lebar-lebar membuka mata, menikmati perjalanan sambil bernyanyi bersama-sama. Aspal berkabut asap knalpot mendadak menjadi panggung terindah untuk konser mini kita.

Terima kasih ya, Komandan, sudah membuatku tersenyum, marah, tertawa, nangis dengan sebab yang jelas. Aku percaya semua hal yang terjadi selalu dimaksudkan untuk sesuatu, kita dimaksudkan untuk sesuatu. :)



Salam fangki dari kepala suku Beruk Bojongkenyot \m/
Diaz Cantik.