SOCIAL MEDIA

28.5.12

99 Cahaya di Langit Eropa


Sejauh mana kamu paham tentang yang kamu yakini? Terlahir dari keluarga dengan latar belakang Agama Islam, saya sudah diakrabkan dengan keyakinan saya sejak dini. Dari kecil, saya sudah dibiasakan ikut sekolah agama/ mengaji setiap hari setelah pulang sekolah. Kebiasaan itu lalu berlanjut dalam tingkat yang lebih dalam lagi yang diresapi secara pribadi sebagai kebutuhan. Pemaknaan dan hikmah terhadap apa yang saya yakini biasa saya pelajari melalui arahan orangtua, lingkungan, ustad, dan... buku.

Beberapa bulan yang lalu saya melahap habis buku yang berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum Rais dan suaminya, Rangga Almahendra. Sempat ragu awalnya ketika saya hendak membeli buku itu. Setelah membaca review bukunya, ternyata buku "99 Cahaya di langit Eropa" berkisah tentang sejarah. Dari dulu, saya kurang begitu sreg dengan pelajaran sejarah. Hehe. Entah karena saat itu toko buku yang saya kunjungi sedang mengadakan diskon besar-besaran atau banyaknya testimoni yang mengatakan kalau buku ini sangat bagus, akhirnya saya kepincut juga beli buku "99 Cahaya di Langit Eropa" itu.

Sampai di rumah, saya langsung membaca habis keseluruhan isi buku. Ternyata dugaan saya salah, buku "99 Cahaya di Langit Eropa" sangat bagus. Buku ini membawa saya masuk ke penjelasan mengenai sejarah Islam di Eropa secara menyenangkan. Ceritanya mengalir, bahasanya ringan, dan tokoh yang memiliki karakter yang kuat membuat saya seolah-olah sedang "digiring" melalui mesin waktu melintasi Eropa yang ternyata mempunyai banyak peninggalan tentang sejarah Islam.

Banyak hikmah yang dapat diambil dari buku ini. "Menjadi Agen Islam yang Baik di Eropa" adalah salah satunya. Dewasa ini, tidak mudah bagi orang muslim, khususnya perempuan yang menggunakan hijab, untuk tampil di depan umum. Menurut pengalaman saya pribadi, selalu ada  "pandangan aneh" yang di dapatkan ketika tampil di depan umum. Biasanya sih ini terjadi di luar Indonesia, atau di negara yang penduduk muslimnya minoritas. Hehe, maaf ya kalau saya sotoy :p. Nah, "Menjadi Agen Islam yang Baik di Eropa" adalah solusi untuk menyikapi "pandangan-pandangan" seperti itu. Caranya? Menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Simpel? Ya, tapi juga tidak. Beberapa contoh secara apik diberikan Hanum melalui sosok sahabatnya, Fatma, dalam buku ini. Penasaran? Makanya ayooo baca buku ini :)

Oh ya, buku ini kembali mengingatkan saya pada cita-cita yang selama ini saya pendam: jalan-jalan keluar negeri. Eropa adalah salah satunya. Jika dulu ketika saya jalan-jalan saya hanya tertuju pada objek wisatanya saja, setelah membaca buku ini saya jadi ingin mengetahui lebih dalam mengenai sejarah khususnya sejarah Islam dalam suatu peradaban di suatu negara. Semoga suatu saat nanti. We'll see! :)
27.5.12

Kritik Menggelitik

Rasanya kayak digelitik tapir yang lagi ngamuk di ragunan.

Saya geli banget baca tulisan di notes facebook seseorang yang nggak saya kenal. Ia mengkritik kalau beberapa buku yang ia temukan di toko buku atau perpustakaan "hanyalah sampah yang tak layak dibaca, yang beruntung dipungut penerbit" (yang saya kasih tanda kutip itu asli saya copy dari notes-nya.)

Geram? Iya.

Apa patokan dia menilai buku-buku tersebut? Bukankah seorang pembaca, sama dengan penulis, berhak untuk masuk dan turut meliarkan imajinasinya dalam membaca setiap buku? Buku apa yang ia anggap sebagai "sampah" itu? Harus berkriteria seperti apa emangnya buku yang layak terbit dan layak masuk di perpustakaan itu?

Membaca adalah kegiatan yang lahir dari sebuah proses. Proses kebiasaan ataupun dibiasakan. Bagi saya, saya tidak bisa membaca buku bila dipaksakan. Saya mulai baca buku ketika saya kecil, dengan buku-buku ringan yang cocok untuk usia saya. Buku-buku ringan sesuai dengan usia saya itulah yang kemudian mengantar saya ke jenjang cangkupan buku-buku yang lebih luas lagi. Dan begitu seterusnya.

Saya adalah penggemar berat buku berjenis teenlit. Semua buku teenlit saya lahap, saya kumpulkan uang jajan untuk melengkapi koleksi teenlit. Saya datangi teman-teman yang punya banyak koleksi buku teenlit untuk saya teror pinjam. Hingga suatu hari, salah seorang teman bilang untuk apa membaca buku seperti itu? Nggak ada gunanya. Nggak ada isinya.

Geram? Iya.

Saat itu saya nggak bisa membantah selain tetap tutup telinga dan terus melanjutkan kegiatan membaca saya. Toh saya ini yang baca, bukan dia. Saya hanya bisa bergumam dalam hati, tulisan yang kalian sebut nggak berguna itu, apa kalian bisa menulisnya? Apa kalian bisa menghasilkan karya seperti itu? Lama berselang, saya kemudian menemukan tulisan salah satu penulis favorit saya, Dyan Nuranindya yang ini dan saya seperti merasakan kegelisahan yang sama.

Pada akhirnya, frame of references dan field of experience-lah yang sedikit banyak berpengaruh dalam kegiatan membaca. Benar kata Dyan, perlahan, saya mulai meninggalkan rak teenlit ketika berkunjung ke toko buku. Saya baca buku lebih banyak lagi untuk menemukan apa yang sedang saya cari. Saya mencari pijakan lain untuk mulai melangkah lebih jauh.

Bukankah pijakan diperlukan untuk memulai sesuatu hal?

Kenapa harus membatasi buku apa yang mana yang harus berada di toko buku dan perpustakaan? Apa kriteria seseorang untuk menuduh suatu buku layak terbit atau tidak jika ia tidak tahu separuh populasi lain ternyata membutuhkan buku tersebut? Kenapa mesti menyalahkan daya tarik twitter dan facebook sebagai media untuk berpromosi? Kenapa tutup mata dengan kemajuan teknologi? Kenapa tidak mulai berkenalan dengan liteasi media jika tidak ingin terjangkit "virus" kemajuan teknologi? Kenapa oh kenapa *mendadak dangdutan*


Pada akhirnya, menurut saya tidak ada buku yang lebih bagus atau lebih jelek. Waktu yang pas akan lebih bersinkronisasi dengan buku yang sedang dibaca. Tapi membaca lebih banyak itu lebih baik daripada tidak membaca sama sekali.

Salam manis untuk penulis notes,
-d-
7.5.12

Baca Majalah Apa?

Source
Entah kenapa hari ini rasanya saya pengen ke Gramedia. Pengen berada di himpitan rak-rak buku besar yang menggoda untuk dibuka segelnya. Ingin membaca keseluruhan sinopsis novel-novel yang saya taksir covernya. Iya, intinya cuma pengen dapet atmosfernya aja kok, karena apapun bukunya, belinya kan di togamas (<-- mantan karyawan, #eh :p)

Setelah menjelajah kesana-kemari dan puas baca sedikit buku yang segelnya terbuka, saya kemudian terdampar di rak majalah. Ini awal bulan, besok awal minggu. Artinya, sudah waktunya saya membeli majalah karena saya baru dapat uang mingguan.

Mengkonsumsi majalah tiap bulan itu hukumnya wajib bagi saya. Entah majalah pinjaman, download-an, ataupun majalah yang saya beli sendiri. Ada kesenangan tersendiri saat baca majalah. Tapi sebenarnya dari beberapa minggu kebelakang ini saya dibuat bingung dengan jenis majalah apa yang harus saya konsumsi. Simpel aja sih alesannya, usia saya 21 yang artinya saya sudah memasuki tahap "remaja expired". Biasanya tiap bulan saya rutin beli majalah GoGirl, tapi ya karena alasan "remaja expired" tadi, rasanya ada sesuatu yang hilang ketika saya membaca majalah tersebut.

Kembali ke beberapa tahun silam, masa SMP, adalah masa-masanya gaul bagi saya. Kala itu saya berlangganan majalah Gadis, walaupun sesekali selingkuh dengan KaWanku. Saat itu, saya yang tergila-gila dengan Hilary Duff dan Simple Plan selalu teriak histeris kalau menemukan sepercik artikel atau foto-foto terbaru tentang mereka. Kalau saya sedang berantem-beranteman sama teman se geng juga saya tinggal membuka rubrik friendship dan membaca habis semua artikelnya. Nggak sesimpel itu sih, tapi setidaknya masalah saya sedikit terurai. Ya, masa-masa itu membuat saya menemukan majalah yang tepat. Eh, tunggu, atau malah majalah itu yang menemukan saya di masa-masa yang tepat?

Lanjut ke masa SMA, yaitu masa-masa redup, dimana saya menayadari kalau saya sengaja salah jurusan karena saya masih belum tahu mau ambil kuliah jurusan apa. Di masa SMA ini kegiatan saya disibukan dengan membaca komik dan menonton serial Amerika seperti Heroes dan Smallville. Kegiatan membaca majalah sempat terhenti karena orang tua saya berhenti mengalokasikan sebagian anggaran rumah tangga untuk membelikan saya majalah (opo to bahasane ki --___--). Pelarian saya ya saat itu hanya dua, baca komik dan nonton serial. Majalah hanya sesekali saya beli ketika saya sudah menyisihkan uang untuk beli komik dan kepingan dvd. Itupun belinya majalah bekas. Kalo dipikir-pikir lagi kok kasian banget ya saya ini... Tapi tiap bulan teuteup sih, saya rutin pinjem Animonster-nya teman saya. Yoi, anime, manga, japan, yu rok! \m/

Balik lagi ke 2012, majalah apa yang harus saya beli? setelah muter-muter ngeliatin majalah yang ada di Gramedia saya tertarik sama tiga majalah ini: Chic, Horizon, dan Martha Stewart Living. Chic, tagline-nya magazine for career girl. Career? hemmm.. mungkin minggu depan, kalau jadi, baru bisa dibilang career girl :p. Tapi kenapa ya ngerasa juga masih ada yang hilang pas sekilas baca majalah ini. Momen yang belum saya rasakan, atau artikel yang tidak saya mengerti? Entahlah.. Lalu Horizon, majalah sastra yang dari dulu bikin saya penasaran pengen baca, dan dari dulu bikin saya nggak jadi-jadi terus belinya. Entahlah, isinya bagus tapi mungkin dalemnya kurang colorful (ya iyalaaah, mau ngarep apa emang dalemnya? Ngebahas tentang fashion? :p)... Martha Stewart Living, belum pernah baca sebelumnya karena nggak pernah nemu majalah ini yang tanpa segel. Tapi saya pernah baca majalah ini versi baratnya yang edisi khusus pernikahan. BAGUS gilak, ngasih info tentang cara bikin sesuatu. Tapi entahlah yang versi Indonesianya ini.

Lain hal, beberapa minggu yang lalu saya iseng mampir ke Periplus dan menemukan majalah ini, Frankie. Tampilannya ciamik, unik, dan segelnya kedip-kedip minta di robek. Tapi apa daya harganya mahal gilak, 185ribu. Sama sekali belum oke buat kantong mahasiswa kayak saya. Setelah gelundungan googling sana-sini ternyata itu adalah majalah dari Australia. Pantes aja yak mahal. Tapi pengen banget sayaaa... masih penasaran sampe sekarang.

Well, intinya adalah saya masih bingung dengan majalah apa yang harus saya konsumsi. Teh Intan pernah bertanya di sela-sela obrolan soal skripsinya yang mengangkat tentang majalah, sebenarnya apa sih yang dicari perempuan ketika dia membaca majalah -which is, fashion? Apa hanya membaca artikelnya tanpa melihat-lihat foto-foto, atau melihat-lihat fotonya untuk mendapatkan tren terbaru tanpa membaca artikelnya? Kalau saya sih, termaksuk jenis pembaca yang pertama. I'm not into fashion. Kalu ngeliat foto-foto model dengan baju yang pas, paling saya cuma begumam, "lucuk!" sambil ngebayang-bayangin kalau badan saya se kerempeng si model (hehehe ;p) Mungkin hal itulah yang membuat sensasi hilang ketika saya baca majalah sekarang. Majalah perempuan, nggak jauh dari tren fashion, dimana saya agak sungkan untuk bergabung di dalamnya. Entahlah, ternyata milih baca majalah aja bisa bikin bingung kayak gini...




Terimakasih buat Dimas yang nganter ke Gramedia, muter-muter bacain buku satu-satu, ikut milihin majalah (Men's Health, grrr --____--), dan diusir dari Gramedia karena udah mau tutup. Ma'aciihhh :D
5.5.12

Grrrr

Jadi ceritanya adalah malam ini saya mau tidur lebih awal karena perut saya sakit banget banget banget (bangetnya lebih dari satu biar mendramatisir) dan cuma tidur yang bikin saya lupa rasa sakitnya. Tapi apa daya, giliran mau tidur tetangga samping kontrakan, entah samping yang mana, tiba-tiba dangdutan kenceng banget. Entah apa deh motifnya. Denger-denger gosip yang beredar sih katanya sekelompok orang yang dangdutan itu lagi latihan buat penampilan mereka nanti (entah kapan) Errr --____--

So, here i am. Di depan leptop, pakai headset dan nonton ulang semua episode Glee season dua dengan volume penuh. Lumayan, dangdutannya jadi nggak begitu kedengeran.

Karena sedang nonton Glee, sekalian deh saya bikin 3 karakter favorit saya di Glee. *jeng-jeng*

1. Mike Chang
Ganteng, cool, dan dance-nya keren banget. 
Fav dance: Season 2 Eps. 17 "A Night of Neglect"

2. Santana Lopez
Mulutnya pedes, tapi justru sifat itu yang bikin dia menonjol di Glee.
Fav Song: Valerie - Season 2 Eps. 22

3. Brittany S Pierce
Bodoh, jujur, dan kadang ucapannya yang spontan bikin ngakak.
Fav song: Slave For You - Season 2 Eps. 2

Okey kayaknya dangdutannya udah bener-bener selesai. Saatnya tiduuuurr!! ---_______----
1.5.12

#31HariMenulis Tahun Kedua

Halo. Jadi ceritanya saya ikutan #31HariMenulis lagi. Tapi bukan di blog ini melainkan yang ini. Hehe, blognya masih baru, masih sepi, masih kecil :P

Di #31HariMenulis tahun kedua ini, saya ingin memiliki konsep. Maka dari itulah, saya mengaktifkan kembali blog kartu pos yang memang sempat saya buat beberapa waktu lalu. Sedikit review, melalui #31HariMenulis kemarin, saya benar-benar belajar gimana caranya konsisten dan bertanggungjawab (baca: gak pengen bayar denda :p). Selama 31 hari, saya mengangkat 3 tema yang berbeda yaitu: popularitas, the cameners, dan kematian (selengkapnya bisa baca disini). Yaahh, agak-agak wagu sih apalagi yang bagian The Cameners saya harus banting tulang latihan vokal ngamen sama Ibim. Hehe, tapi seru. Maka dari itu saya ingin ikutan acara ini lagi. Yang paling berkesan dari #31HariMenulis tahun kemarin adalah curi-curi waktu dari seabrek kegiatan (pstv, kkn) untuk nulis. Huh-hah-huh-hah!

Harapan saya untuk #31HariMenulis tahun ini apa ya, hem... semoga bisa terus posting selama 31 hari. Nggak pake bolong, nggak pake denda. Aminn. Makanya, ayo pada mampir ke blog yang ini! :)

Terakhir, ayo karokeeee!!! :P