SOCIAL MEDIA

26.12.12

#KembaliKePlurk




Semuanya bermula dari obrolan iseng.

Malam itu kami berkumpul di kostan Teteh. Perkumpulan itu disengaja, karena pada hari itu pula kami sedang memberikan sedikit kejutan berupa nasi tumpeng pada Teteh yang sudah menginjak usia 23 (mantap teh, sekarang usia kita beda dua tahun! :P). Seperti layaknya perempuan lainnya yang sedang berkumpul, kami mulai ngobrol ngolor-ngidul. Kebanyakan tentang dunia perkuliahan: apa yang dulu pernah terjadi, kenapa si ini bisa begini, kenapa si anu bisa begitu, dan perintilan masalah lainnya hingga akhirnya obrolan kami mulai digiring oleh Plurk.

Ya, Plurk adalah salah satu situs jejaring sosial yang (sayangnya) kurang populer di masa kini. Tiga sampai empat tahun yang lalu, Plurk (di mata saya dan teman-teman) mengalami masa kejayaannya dimana kebanyakan teman saya memiliki akun Plurk dan selalu aktif untuk mencurahkan perasaan dan emosinya melalui media sosial tersebut. Eits jangan pandang sebelah mata dulu kalau kebanyakan curhatan kami adalah kegalauan ababil tingkat dewa karena kami juga sering diskusi di Plurk. Ngobrol masalah kuliah, janjian pergi, berantem, banyak deh pokoknya.

Kami semua kangen Plurk. Ya, ketika flashback ke masa lalu melalui linimasa Plurk, kami mengerti bahwa kini Plurk sudah berubah fungsi. Kami sama-sama mengakui bahwa kami tenggelam dalam media sosial lain dan menganaktirikan plurk, kami mengakui bahwa kami hanya sesekali membuka plurk dan meng-update lini masa kami dengan kalimat-kalimat “berkode”. Kami kangen berlomba-lomba mendapatkan 100 Karma, kami kangen bunyi “tung!” yang khas, kami kangen dengan segala (evilsmirk) dan (evilgrin), kami kangen ngobrol di Plurk.

Betapa kami butuh tempat untuk saling bertukar pikiran hingga ide #KembaliKePlurk pun muncul. Dimulai dari hari ini pukul 21.00, kami ingin berusaha membangun kembali kehangatan yang ditawarkan plurk. Kami ingin membuat cerita lagi dengan bantuan emotikon Plurk. Kami ingin kembali membuat obrolan ringan tanpa basa-basi melalui Plurk. Kami ingin membuat ribut suara laptop/komputer kami dengan “tung” “tung” yang mengagetkan. Kami ingin berlomba lagi untuk mendapatkan 100 Karma. Kami ingin membuat kenangan, lagi, melalui Plurk :D

Yuk, yang punya Plurk kita sama-sama beraksi lagi. Sampai berjumpa di halaman plurk saya (candYummy), Titi (kaosOblonk), Bebet (PecintaAngkaTujuh), April (AprilMeiJuni), dan Teteh (MojangKarawang). Salam “tung-tung” Plurk! :D
15.12.12

Hilir

source

Entah apa lagi, entah bagaimana lagi.
Waktu berkonspirasi sempurna dengan kejadian kemarin hari yang seharusnya bisa diantisipasi.
Semua berkompetisi demi satu hari yang sengit. Menancapkan batas kemampuan pada rasa, dinding yang dibangun sebilah teori, dan bumbu basa-basi.

Dua pemikiran berkecamuk, dari arus logika yang tak kunjung mendapatkan muara pasti:
(1) Hulu pertama mengenai sesal dan rasa yang keras, beku, dan mengkristal dalam sudut hati. Akan ada keputusan yang harus diambil, akan ada orang yang tersakiti. Tidak ada yang tidak bisa menerima kecuali saya dan perasaan ini sendiri.
(2) Hulu kedua mengenai kecerobohan yang sudah dapat di prediksi. Berupaya segenap tenaga mengalihfungsikan semua indera, logika, dan waktu yang terbuang percuma ketika ditebus rasa sesal. Skak.

Pikiran saya adalah labirin, yang tercermin oleh pupil mata sendu pada beberapa orang yang bisa membaca.
Suara saya adalah kristal, yang bisa pecah gaduh, tidak nyaman, ngilu, sesuai bising garpu diadu sendok.
Mata saya adalah awan, terdiri dari gumpalan dua hulu yang tak kuat lagi saya bendung, tinggal menunggu waktu.

Kamu adalah kunci,
kita adalah misteri,
kami adalah sebuah tanda tanya.
Besar.
14.12.12

Mimpi

source


Semalam saya bermimpi,
ada di dunia yang berbeda, berwarna kuning, dan berada dalam satu rumah yang besar.
Semalam saya bermimpi,
bertemu orang yang tidak diharapkan dan berinteraksi hingga saya tidak mengenali diri saya lagi.
Semalam saya bermimpi,
terjun bebas dalam perangkap yang saya buat sendiri. Megap-megap kehabisan oksigen.
Semalam saya bermimpi,
Ada dalam dunia dimana semua perbuatan dapat dipahami dari isi hati, bukan kata maupun lisan.
Semalam saya bermimpi,
untuk tidak ingin bangun lagi.

Lalu pagi tadi saya bangun,
berkompromi dengan akal sehat bahwa itu semua tidak akan pernah terjadi...