SOCIAL MEDIA

31.10.13

Happy Birthday.


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” 
― Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” 
― Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara



Enam tahun yang lalu, saya sedang duduk di lab komputer SMA ketika memutuskan untuk membuat sebuah akun blog. Pada waktu itu, blog adalah suatu hal yang lagi ngetren. Mulai dari curhat blak-blakan sok gaul ala Raditya Dika, sampe curhat terselubung kayak sekarang. Seneng, sedih, lucu, galau, semua ditulis disini. Bagi saya, menulis adalah hobi yang menyenangkan. Dan melalui blog ini, saya belajar banyak hal tentang menulis

Saya selalu menganggap blog adalah "mahluk" yang bisa tumbuh sesuai dengan isinya. Yustisiaspage atau melafalkan intuisi, pada awalnya saya buat tanpa konsep. Yang pasti saya ingin menulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Maka semuanya saya tulis, campur-campur seperti gado-gado betawi cabe tiga, pedesnya pas dan bikin nagih. Maka saya kerap kebingungan jika ada orang yang bertanya apa konten blog saya. Secara singkat akan saya jawab: "fiksi". Namun jika orang tersebut memaksa maka akan saya jawab "fakta yang di modifikasi". Hahaha, rancu memang (seperti yang nulis :p). 

Selama enam tahun, sebagai "mahluk", saya merasa yustisiaspage telah tumbuh lumayan sehat (baik), dengan, menurut saya, gaya menulis yang lebih baik dibandingkan dengan postingan awal :). Walaupun saya masih sering hiatus, tapi terkadang blog ini adalah alasan saya untuk kembali menulis. Setiap orang membutuhkan tempat untuk mengadu. Selain berdoa, blog ini adalah tempatnya. Saya mengadu, pada random visitor dan followers yang membaca blog ini, hehehe. Terima kasih untuk kamu yang sering meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya yang masih jauuuuuh dari sempurna ini :)

Harapan saya, seperti kebanyakan blogger lainnya, saya ingin tetap ngeblog, dan tetap menulis. Selamat ulang tahun yustisiaspage!

Source

12.10.13

Pada Kalimat yang Berjarak



Pada kalimat yang berjarak itu tersimpul rindu yang terdiam.
Kadang mengumpat kenangan, kadang bermekaran kata rindu.

Pada kalimat yang berjarak itu timbul kepedulian.
Kadang tentang pencapaian, kadang juga tentang mimpi yang terpendam.

Pada kalimat yang berjarak itu ada kita.
Yang tak saling melihat namun sama-sama tersenyum;
yang tak saling mengungkap namun merindu;
yang tak saling bertegur namun mengucap doa yang sama.

Pada kalimat yang berjarak itu ada komposisi luka, bahagia, tawa, dan tangis.
Kita.
18.9.13

Kisah Petik #FF2in1 (2)

Namaku Petik, usiaku 40 tahun, cukup tua untuk menjadi sejarah.

Tak seperti biasanya, hari ini aku duduk di sudut ruangan menunggu siapapun yang datang dan turut meramaikan sanggar. Hmm, sebenarnya aku menunggu Neng Asih, perempuan sunda berusia dua puluh dua tahun yang selalu bisa membuatku tersenyum dan bersedih disaat yang bersamaan. Tidak ada yang tidak jatuh hati pada Neng Asih. Ia keturunan Kerajaan Sunda, darah Sunda mengalir kental dalam tubuhnya. Ia gemulai menarikan tari Jaipong, mendendang merdu Pupuh-pupuh Sunda, dan pintar memainkan alat musik klasik. Siapa yang tidak jatuh hati dibuatnya? Ini sanggar milik keluarga Neng Asih. Dia adalah generasi ke dua puluh yang mengelola sanggar ini. Dikumpulkannya anak-anak dari desa sekitar untuk datang dan mempelajari budaya Sunda. Tidak ada biaya yang diminta oleh Neng Asih. Kebanggaan terbesarnya adalah dengan menurunkan tradisi-tradisi luhur Kerajaan Sunda dari adat hingga keseniannya yang sekarag sudah menjadi asing bagi masyarakat modern. Terkadang penduduk sekitar membalas jasa Neng Asih dengan membagi hasil panennya. Seikat sayur-mayur, sekarung singkong, beras, dan segelas air tuak datang silih berganti untuk Neng Asih.

Berbeda dengan Neng Asih, aku hanyalah seorang pemimpi yang gemar bermusik. Cita-cita terbesarku adalah keliling Indonesia dan berkelana keluar negeri untuk memperkenalkan kebudayaan Sunda. Tidak muluk-muluk, asalkan semua orang tahu keberadaanku, mendengar suaraku, dan... bersama Neng Asih. Harus Neng Asih karena hanya dia yang bisa mengerti kebutuhanku.

Kriiiit... Ah, sepertinya itu suara derit pintu, mungkin Neng Asih dan anak-anak sudah datang. Benar! Neng Asih membuka ruangan tempat aku duduk diikuti oleh sekumpulan anak-anak di belakangnya.

"Adik-adik, yuk ikut teteh sini sekarang kita bareng-bareng nyanyi pupuh, nya. Nyanyina make alat musik tradisional. Ieu teh alat musikna turun temurun di keluarga teteh. Nanti adik-adik bakal teteh ajarkeun, nya, cara mainkeunna."

Neng Asih lalu mengeluarkanku dan mulai memetik bagian tubuhku dengan merdu. Suaranya. Parasanya. Aku jatuh hati pada perempuan cantik ini. Saat badan kayuku yang mulai merapuh dimakan rayap, tatkala senar-senarku tak lagi menghasilkan suara merdu, aku ingin semua bagian tubuhku dikenang. Dalam benak Neng Asih, atau dalam benak semua orang yang sudah melihat kami. Atau jika badan kayuku lebih kuat daripada usia Neng Asih, tiap senandung yang kudendangkan akan selalu tentang Neng Asih. Gaung dari tiap petikannya akan selalu meneriakan nama Neng Asih.

Aku ingin kesunyian kami dikenang sebagai sebuah harga, harga dari mahalnya sebuah warisan kebudayaan yang patut dilestarikan.


#FF2in1 - @nulisbuku
Tema 2 - Pada Suatu Hari Nanti

Sepasang Keping Uang Logam. #FF2in1 (1)

Hatiku selalu perih ketika melewati toko sepeda. Aku selalu terbayang tangismu yang tiba-tiba pecah. Kau ingin sepeda, semua temanmu sudah punya. Kau selalu merengek padaku ketika melihat teman-teman sebayamu yang sudah memiliki sepeda roda tiga dan memainkannya di depanmu sambil membunyikan nyaring belnya. Hatiku seperti diiris, bagaimana tidak, sebagai kepala kelaurga aku akan bertanggungjawab penuh atas hakmu sebagai anak. Pendidikan adalah prioritas utamaku untukmu, dan yang sedang mati-matian berusaha kupenuhi. Semua tawaran nukang aku sanggupi demi sebongkah tabungan investasi pendidikanmu.

Masih di luar toko sepeda, aku memandang sebuah sepeda mini roda tiga berwarna biru. Aku tahu sepeda itu pasti tak akan tahan terlalu lama. Tubuhmu terus tumbuh, Nak. Kau akan segera meminta sepeda dengan ukuran yang lebih besar lagi. Tapi senyummu, adalah harga mati dari rasa bahagiaku yang tak bisa ditawar lagi.

Kunyalakan sebatang rokok untuk menutup menu makan siangku. Di hisapan ketiga aku berpikir. Lebih jernih. Rokok ini bisa kuganti menjadi sepeda baru untukmu. Sepasang keping uang logam yang setiap hari kubakar dua kali ini bisa kusimpan untukmu. Dan dalam empat puluh hari kedepan, kau akan bisa mendapatkan sebuah sepeda roda tiga yang tidak kalah bagus dengan bel yang bunyinya tak kalah nyaring. Ya, aku sudah memiliki tekad. Ini adalah hisapan terakhir. Jatah rokok sore ini akan mulai kusimpan untuk senyummu. Bersabar ya, Nak.




#FF2in1 - @nulisbuku

Cinderella


Keluar malam itu belum tentu bermakna negatif. Kamu hanya perlu kacamata yang pas dan pemikiran yang sedikit terbuka.

Katakanlah kau datang ke sebuah kota yang belum pernah kau kunjungi sebelumnya untuk menetap dalam jangka waktu yang lumayan lama. Lambat laun kau pasti akan menyesuaikan ritme hidupmu dengan kota itu. Berbaurlah, buka wawasanmu dari obrolan yang tercipta. Maka kau akan banyak belajar tentang perbedaan dan bergelut dengan idealisme-mu yang selama ini kau dirikan. Dari pergelutan sengit itu nanti kau akan belajar kompromi. Jangan lupa pancing hati nuranimu supaya bisa merasakan semua indera yang kaumiliki dengan memperhatian keadaan sekitar. Makan, dengar, raba, lihat, dan pahami apa-apa yang terjadi. Maka jam akan terasa bagai detik, dan dalam setiap waktu yang terbuang akan terbayar oleh senyum, tawa, canda, yang bersatu untuk tumbuh menjadi benih-benih perasaan asing. Perasaan yang sulit untuk kau pahami namun terasa menyenangkan. Tantang lagi dirimu untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru dengan tidak mengesampingkan skala prioritas yang kau buat.

Karena pada akhirnya waktu hanyalah harga dari sebuah momen yang tak bisa dibayar dengan apapun. Dan kau, bukan Cinderella yang pergi dibatasi waktu demi sebuah kereta labu.



Source



Untuk kamu, ini penjelasanku tentang keluar malam yang dulu kujelaskan dengan tergagap-gagap.
25.8.13

100 Things to do Before I Turn 25.

Source

100 Things to do Before I Turn 25.

  1. Write a novel (seriously!).
  2. Umrah.
  3. Cook an apple pie. (the result is TOO SWEET, it tooks 3 days to eat the whole thing. Haha)
  4. Cook green tea cupcake.
  5. Have a (real) CAT! :D. (I have Momo. She is my little sweet princess :3)
  6. Going to concert. (My office anniversarry concert. A lot of artist perfoms there including NE-YO! Does it count? Yes it does!)
  7. Have 95+ score of 3 Demi Lovato’s songs when karaoke.
  8. Travel to BALI! (haha :p). (DONE!)
  9. Travel to Japan. (you can read the stories here)
  10. Travel to Prague.
  11. Visit Kota Tua. (Reporting and meeting point before my trip to Pulau Seribu)
  12. Visit Affandi Gallery Art. (done at my birthday!)
  13. Learn HTML and CSS code.
  14. Get a Master Scholarship.
  15. Have a pallete of make up (:p). (I love make up and I have essentials basic things for daily and PTC apply, which is nice, and which is good for me :p)
  16. Toefl score min 550.
  17. Run every morning every day for a month!.
  18. Learn Japanese.
  19. Read all of Pram's Books.
  20. Have a little library.
  21. Get a JOB. (DONE! News Reporter at NET TV. Insya Allah for 2 years, or more. Amin :) )
  22. Explore INDONESIA. (Palembang, Bangka, Jakarta, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, Blora, Malang, Surabaya, Makassar, Tana Toraja, Samosir, Lombok... more way to go, Diaz!!)
  23. Swim more often. Tiap ke Sukabumi biasanya renang :3
  24. Have an instagram photo album.
  25. Manage my craft blog and online shop.
  26. Publish a lot short story in magazine.
  27. Complete one-full TTS (crosswords) in Kompas Minggu.
  28. Plant some herbs.
  29. Comeback to postcrossing.
  30. Have a sew machine.
  31. Lost weight (HAHAHA).
  32. Celebrate blog's birthday (oct 31).
  33. Have 500 blog followers.
  34. Eat spicy food. (now i CAN'T eat if my meals not spicy enough *nomnom*)
  35. Cover all me and my dad's books.
  36. Buy a beautiful heels.
  37. Buy a beautiful wedges.
  38. Have internet banking card. (Finally!)
  39. Buy white/silver eyeliner. (It's Sil** Gi** product, sorry to say but i don't really like it. so noted to me to NEVER bougt anything by that brand again :p)
  40. Travel to Kawah Putih.
  41. Learn Diving.
  42. Have 1 or more underwater picture. (As "work-thing", i went to LOMBOK for a week. BEAUTIFUL island, especially in Gili Trawangan. I'll going back there for sure ;D)
  43. Patient.
  44. Get some of my digital photos printed.
  45. Yoga.
  46. Back pain recovered. (I'm a "journalist", my job is out there. So bye-bye sitting-in-front-of-computer-for-ten-hours-per-days-job-that-caused-me-backpain! HAHAHAHA *although in weekend i usually spend my time in front of computer.*)
  47. Do something crazy with my hair. (DONE! Now, my hair color is GREEN! HAHA.. Next, maybe PINK would be great, altough i wear hijab, that means no one see my hair, but i did it because of me, not anyone else. :p )
  48. Wash kerudung twice a week.
  49. Buy skirt that suits me. (I wore it when meeting D's family)
  50. Eat red rice regullary. (Tiap lagi di Sukabumi pasti makannya nasi merah :') )
  51. Upload 20 songs to soundcloud. (Diganti ke smulee deh ya, udah lebih dari 20! :D)
  52. Learn guitar. (I bought my guitarlele right before my 24 bday and still practice it everyday :D)
  53. Learn archery. (It's really FUN!)
  54. Pilates.
  55. Cook some Indonesian food.
  56. Swimming without glasses.
  57. Bikin PO BOX
  58. Masuk TV (as my job on NET's news reporter, it required me to on cam (ptc) sometime. HAHA ;P)
  59. Masuk Majalah
  60. Buy domain for blog. (Done. You can see on my blog address)
  61. Manage blog seriously
  62. Write blog at least 5 times a week
  63. Eat healthy food reguraly
  64. Explore JAVA



14.8.13

Sepatu #FF2in1 (2)

Ucok berdiri dibawah tiang bendera. Matahari bersinar terik diatas kepala anak sepuluh tahun itu hingga bayang-bayangnya tak nampak karena dimakan telapak kakinya sendiri. Kaki, huh. Ucok menatap ke bawah. Tangan kanannya masih dimirigkan 45derajat sementara matanya memandang kakinya lekat-lekat. Sepatu putih. Karena sepasang alas kaki inilah dirinya dihukum berdiri sambil hormat dibawah tiang bendera.

Ini hari senin, semua murid wajib memakai sepatu warna hitam untuk upacara.

Ucapan Pak Kepala Sekolah masih terngiang-ngiang di benaknya. Ucok kesal. Toh bukan kemauannya jika sepatu warna hitam, satu-satunya yang ia miliki malah mengibarkan bendera putih tanda halusinasi yang berarti minta ampun untuk tidak dipakai lagi. Solnya megap-megap kehabisan lem, bagian depannya jebol karena dipaksa mengikuti panjang kaki Ucok yang terus bertambah, warna sepatu itu pun bahkan bukan hitam: hitam kekuningan, luntur karena sering dipakai.

Ini adalah bukti, simbol Negara kita, Indonesia. Hasil jerih payah para pahlawan yang rela mengorbankan harta nyawanya demi kemerdekaan Indonesia. Merah berani! Putih suci!

Ucapan guru Sejarah pun masih terngiang di benak Ucok. Ucok mencoba berlapang dada. Pahlawan mengorbankan segalanya untuk mengibarkan bendera ini. Ia tidak boleh mengeluh hanya karena berdiri satu jam ditengah teriknya matahari hanya karena warna sepatu.

Ucok masih terus berdiri memakai sepatu putih.




Untuk semua yang selalu membenci upacara. Kenapa?

Koin #FF2in1 (1)

Ini keping terakhir, sisa dari bekalku yang tak seberapa. Menetes peluh demi mendengar suara merdumu, nona, aku rela.

Di ujung gagang ini kuhela napas penuh deru. Habis berlari menghindar dari letusan timah panas yang diserangkan segerombolan orang berseragam yang tak berprikemanusiaan. Menganggap aku, dan sekawanan gerombolanku bagai sekumpulan hewan ternak tak berakal yang siap menemui ajalnya di ujung timah panas itu.

Satu nada masih berdering, menggantung dalam satu oktaf putus-putus. Kau masih juga belum mengangkat teleponku. Sedang apa kau, Nona?

Kotak 1x1meter ini menyelamatkanku. Untuk sementara. Di luar masih riuh redam: orang-orang bergejolak, berteriak bersahut-sahutan menyambut perubahan yang akan datang.  Aku salah satu diantaranya, Nona. Aku.

Nada satu oktaf itu terputus. Tarikan napasmu di ujung sana merangsang pikiranku untuk segera menemuimu. Segera, Nona. Segera.

“Halo?”

“Nina?”

“Ya? Ini.. Mas Budi?” nadamu sedikit cemas.

“Ya. Catat ini. Tahun 1998. Tahun perubahan.”

Dan aku bisa mendengar kau terisak diujung sana.

Besok aku pulang.

2.8.13

Untitled


You guys don't get it, okay? None of you do. My dad was my hero. And he was my teacher. And he was my best friend. He always came through for me, and now he's just gone. And what am I left with?
(Plays static message and yells at the sky)
Thanks a lot God, thank you. You took my father. The greatest man that I have ever known, and you whipped him off this Earth, way too young. And he'll never get to meet our kids, Lily. But we've got this voice mail. Thank you so much for the voice mail, it's a great comfort. Because whenever I'm starting to feel lonely, or sad, or maybe a little bit cheated, at least I've got the sound of his pocket to console me. How is this fair? You've got an entire human life, and it just ends for no reason. And what are we left with?

(Marshall- HIMYM S6E14) 
27.7.13

Moving On

SO.

I've change my blog appearance. Hehehe.. Lagi senang warna tosca dan pink, voila, jadilah yang seperti ini. hehehe. Sebenarnya kegiatan ganti blog ini lebih dikarenakan ke-selo-an saya yang nggak terbatas. Yup, saya udah pindah dari Jogja ke Sukabumi. Meninggalkan kenangan, cerita, teman-teman, dan.... pekerjaan! hehe :P

WHY?

Selalu deh orang tanya kenapa saya resign dan kenapa saya pulang ke Sukabumi. Bibir saya sampe jonsi (jontor-seksi) gara-gara menjawab pertanyaannya. :P Jadi, buat yang belum tahu, kenapa saya pindah ke Sukabumi: saya pengen ngejar karir keartisan. Yup. Siapa bilang bulu mata anti badai cuma punya Syahrini? Siapa bilang Tenda Biru bisa ngehits kalau hanya dinyanikan sama Dessy Ratnasari? Siapa bilang cuma Keluarga Cemara satu-satunya sinetron mendidik dan dirindukan penontonnya? Siapa bilang kalau MC serbabisa dan serbaganteng cuma Ananda Omesh? Sukabumi punya talenta baru: Saya.

HAHAHA.

Muahahahahaha *barney's evil laugh*. Iya itu semua list artis-artis dari Sukabumi. Iya, kalian boleh percaya boleh juga cuma ketawa ngakak kayak saya yang lagi ketawa sambil nulis postingan ini. :)) Ya sudah, silakan kamu mengambil kesimpulan sendiri dari postingan ini. Sampai ketemu di teater besok sabtu!


Salam chibi-chibi~ hak hak hak~
2.7.13

Tentang Sederhana


Source


Pesan ini kutujukan untukmu, bersamaan dengan segenggam janji yang ku tasbihkan dalam apa yang kita sepakati sebagai upeti.

Aku meluapkan perasaanku dengan sederhana. Dengan rangkaian kalimat ringan tapi penuh makna, dengan untaian topik pemicu gelak tawa hingga airmata.

Aku menggambarkan rasa ini dengan sederhana. Seperti caramu tertawa, caramu menghapus duka, dan caramu mengumbar kata-kata.

Aku menuliskanmu dengan sederhana. Seperti  cara kita mengucap salam selamat pagi, ceria setelah sama-sama menyelesaikan satu fase baru dan meninggalkan sedikit lubang yang menganga.




Apa itu terlalu sederhana, merasa nyaman denganmu tanpa ada tuntutan apa-apa?

Kini tinggal kau tentukan sikapmu. Pesanku, harus tetap dengan cara yang sederhana. Tidak ada yang suka menjadi pilihan, begitu pula aku. Dua insan bersama bukan karena pilihan, tapi karena mereka mampu menguap-leburkan segalanya menjadi satu. 

Tegaskan sikapmu dan berbicaralah pada hati kecilmu yang tak pernah berdusta.




Sementara aku,

tetap disini, membacamu dengan sederhana.

Seperti ini.

14.6.13

#25 Dari Motsach :)

Siang tadi saya dikagetkan oleh kabar dari Inez, rekan kantor sekaligus adik tingkat saya di Komunikasi UGM. Katanya hari ini adalah hari terakhir  #31HariMenulis. Terus terang saya shock, tulisan belum jalan sesuai dengan ending cerita yang saya inginkan, beberapa tokoh yang saya ciptakan masih mati suri, bahkan ada beberapa yang belum bangkit dari ‘kubur’nya. Kenapa 31 hari rasanya cepat sekali?

Jujur, ini adalah tahun #31HariMenulis paling buruk bagi saya. Tahun ini adalah ketigakalinya saya mengikuti program #31HariMenulis dan tahun pertama saya tidak menulis full selama 31 hari :( Sedih banget rasanya pas tahu ternyata bolong saya di tahun ini ada 6 postingan. Padahal, saya rasa tahun ini saya sudah mempersiapkan konsep cerita yang cukup matang walaupun selalu dilakukan secara mendadak.

Tidak bisa dijadikan alasan sih, karena alasan selalu bisa dicari dan itu selalu karena tertidur dan kelelahan. Ide yang ada di otak rasanya menguap, kalah dengan mata yang ingin terpejam. Dalam hati kecewa banget rasanya melihat jalan cerita yang masih belum ditulis sempurna. Tapi di sisi lain saya berusaha untuk legowo, nggak papa deh toh sekarang saya sudah “sanggup” bayar denda sendiri. Hehehe :P
Tentang tema yang saya angkat di #31hariMenulis ini, Motsach, terinspirasi dari banyak film, buku, dan lagu-lagu yang nangkring di playlist (khususnya lagu-lagu John Meyer dan, tentu saja, Demi Lovato :3) Tak jarang ketika menulis, walaupun panjangnya hanya 1-2 paragraf, saya mendengarkan satu lagu yang saya rasa pas dengan mood yang akan saya bangun. Lagunya saya ulangi terus-terusan sampai saya merasa muak untuk mendengarkan lagu itu lagi. Beruntung kalau idenya mengalir lancar. Kalau nggak, jangankan ide cerita, mau denger lagu apa aja saya bingung banget! :))

Dalam 31 hari kemarin, Motsach sudah menjadi rumah bagi pikiran saya. Saya berkontemplasi dengan apa yang terjadi di sekitar. Ketika saya mengamati Ted Mosby dalam serial How I Met Your Mother, saya juga melihat sosok Travng, warga Vietnam yang sangat lovable. Ketika saya sedang membaca Kastil es dan Air mancur Yang Berdansa, saya langsung membayangkan seorang Haegen muda sedang berdiri di dekat jendela rumahnya di Paris yang dingin dan bersalju. Ketika saya membaca ulang buku TNT, saya melihat sosok Sella, perempuan tangguh yang keras dan berpendirian kuat. Ketika saya mendengar lagu beberapa band yeyeye~ lalalala~ di acara musik pagi yang membawakan lirik lagu tentang perselingkuhan, saya langsung ingat Armand, si lelaki atletis yang sangat berengsek. Begitu seterusnya...

Selama dua puluh empat hari, Mostach adalah embrio yang hidup dalam blog saya. Ia berusaha tumbuh, kadang menggeliat, namun tetap mengalaim hambatan. Mungkin usianya dalam dunia maya ini tidak bisa tahan lama. Maka dari itu saya berharap jika embrio Motsach ini dapat dikembangkan di luar, dengan cara berhenti takut pada pukul 24.00 dan denda RP.20.000 :P

Apalah arti sebuah tulisan tanpa ada yang membacanya? Maka dari itu saya berterima kasih untuk teman-teman yang pernah membaca, mengikuti cerita Motsach, ataupun tersasar di blog ini dan terlanjur baca. Terima kasih juga untuk Bang Wiro dan konco-konconya yang membuat semua blog kontestan #31HariMenulis memiliki statistik yang tinggi di bulan Mei. Semoga tahun depan ada lagi ;)

Terakhir, untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini. Percayalah, belajar untuk konsisten menulis selama 31 Hari itu tidak mudah. ;D


Salam gaul! \m/
-d-
11.6.13

#24 Vietnam

Pak tua itu menyodorkan sebuah menu kearah Travng. Ia lalu mencatat sesuatu dan berjalan menuju dapur untuk membuat sendiri secangkir moccacino panas pesanan pelanggan barunya itu. Kadang, jika ia sedang luang, Haegen memang sering meluangkan waktunya untuk berinteraksi langsung dengan pengunjung Motsach. Tak jarang ia jugalah yang langsung turun tangan dalam membuat pesanan para pelanggannya.

Travng, nama yang unik. Mengobrol sekilas dengannya cukup untuk membangkitkan kenangan Haegen terhadap Vietnam. Beberapa tahun setelah Haegen menginjakan kakinya di Indonesia dan bisnisnya ini sudah mulai berjalan, ia sempat meninggalkan Indonesia untuk berlibur sekaligus mencari resep ke Vietnam. Another tropical island. Banyak tempat indah yang ia kunjungi disana, banyak orang yang ia temui disana, banyak obrolan yang mengalir disana. Karena itulah Motsach lahir, diilhami dari tujuan Haegen untuk memfasilitasi para kutu buku, mewadahinya dalam satu tempat nyaman, berisi, dan tentu, memanjakan perut. Bookwarm: Motsach.

Lima belas menit berlalu, moccacino panas sudah siap di dalam sebuah cangkir berwarna oranye. Asapnya yang ringan keluar dari coffee artwork bergambar kelinci hasil tangan kreatifnya, menyebarkan semerbak aroma kopi. Dengan hati-hati ia membawa cangkir itu keluar dapur.

"Silakan," kata Haegen sambil menyodorkan moccacino-nya ke arah Travng. Terlihat di depan lelaki itu sudah ada teman perempuannya yang tadi diceritakannya.

"Sella, perkenalkan, ini adalah Mr.Haegen, pemilik Motsach." ujar Travng.

Haegen sudah familiar dengan wajah perempuan itu. Ia juga salah satu pelanggannya.

"Sella." Katanya sambil menjulurkan tangan yang disambut oleh Haegen.

"Baiklah, selamat menikmati hidangannya, Mr.Travng, saya akan kembali dan membawakan menu untuk Ms.Sella." Haegen berbicara dengan bahasa inggris berlogatnya sambil tersenyum ramah. Ia lalu berjalan menuju dapur dan menghilang di balik pintu.
10.6.13

#23 Waiting

“Menunggu seseorang?” sapa sebuah suara membuyarkan lamunan Travng. Pak tua itu menatapnya. Sorot mata biru ramah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Travng mengangguk. "Menanti teman."
7.6.13

#22 I'm Gonna Find Another You

Kenangan adalah pedih yang menjelma jadi bom waktu dan bersemayam dalam hati. Hanya diperlukan satu penyulut yang bisa membuatnya meledak, membanjiri hati dengan memori yang membuatmu kembali menguras airmata.

Sejak kali pertama kali Sella mengetahui fakta bahwa Armand meninggalkannya, Sella gusar dan terlalu berlarut dalam kesedihannya untuk waktu yang cukup lama. Berkemas adalah hal pertama yang dilakukannya. Ia meninggalkan rumah mereka dan menyewa sebuah apartemen kecil di pusat kota yang terletak lebih dekat dengan kantornya. Butuh beberapa waktu, beberapa bulan tepatnya, untuk benar-benar hilang kontak dari lelaki itu. Toh akhirnya ia bisa. Menggunakan semua waktu dan usahanya untuk memulai kembali hidupnya dari titik nol yang baru.

Sella memakirkan mobilnya, masih pukul empat kurang lima belas sore. Ia terlalu bersemangat sore ini. Yang benar-benar ia butuhkan untuk melewati situasi ini adalah dengan mengobrol. Lelaki bermata hazelnut itu sedikit mencuri perhatiannya. Jiwanya yang bebas membuat Sella sedikit iri, sebenarnya. Namun yang membuatnya bersemangat sore ini adalah cerita-cerita yang akan mengalir dari bibir lelaki itu seperti apa yang ia janjikan tadi malam melalui pesan singkat yang dikirimkannya.

Bergegas, Sella memasuki Motsach dan langsung menuju lantai dua. Tak perlu lama mencari, ia lalu menemukan sosok itu. Masih duduk di bangku yang sama, dengan gaya yang sama.

"Hai Travng."


[9...]


Baca cerita sebelumnya disini
6.6.13

#21 Gravity



Kerlip bintang samar-samar tampak di langit utara. Warna langit kini menua, menghapus jejak senja dengan ciptaan-Nya yang juga luar biasa. Tak ada yang tidak mengagumi langit sore itu.

Dari kaca jendela Motsach, Travng dapat melihat segerombolan burung terbang membentuk siluet indah. Gerak kepak sayap mereka seperti kuas basah yang menggores sehamparan kanvas dengan lincah. Mereka terbang beriringan. Bebas, lepas, namun entah kemana. Mungkin suatu tempat di Cina Utara, atau malah kutub antariksa? Asalkan bersama, tidak ada masalah, bukan?

Travng menghela napas, Motsach makin ramai malam itu. Kelompok orang berdatangan mengisi sofa-sofa merah dan kursi-kursi kayu tua yang terdapat di ruangan dengan berbagai macam tujuan. Di salah satu sudut, terlihat segerombolan remaja sedang asyik mengetik sesuatu laptop-nya masing-masing. Di pojok lain, terlihat sepasang kekasih yang sedang bertatap mesra, mengkomunikasikan isi hati mereka dengan tatapan-tatapan yang sulit dipahami. Travng menatap sofa merah di hadapannya yang tidak berpenghuni. Lebih baik begini, ucapnya dalam hati.

Travng menyeruput mocchacino-nya. Piring salmon and chips-nya sudah diangkat dan diganti dengan sepiring salad dan segelas air putih yang kini tergeletak di sudut meja. Secangkir moccachino  panas lalu datang. Alasannya untuk tak beranjak dari Motsach adalah dengan memesan banyak menu. 

"Permisi, Pak" seru sebuah suara mengagetkan Travng. Ia lalu menoleh dan menemukan seorang pramusaji berbicara padanya dengan Bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti. Ya, beberapa minggu di Indonesia Travng sudah menguasi beberapa kalimat singkat seperti 'selamat pagi', 'apa kabar', 'terima kasih', dan lain sebagainya.

Travng hanya bisa diam. Ia lalu menggeleng tanda tidak mengerti dengan apa yang baru saja pramusaji itu ucapkan. "Sorry, I can't speak Bahasa Indonesia."

"Ah," si pramusaji itu menepuk keningnya. "Sorry, please wait a minute." Ia lalu meninggalakan Travng yang terheran-heran di mejanya.

Tak berapa lama, si pramusaji kembali dengan seorang pria tua yang usianya kira-kira lima puluh tahun. Pak tua itu memakai setelan khas koki minus topinya. Rambutnya yang sedikit ikal terlihat memutih disana-sini. Perawakannya besar dengan perut yang menyesaki pakaiannya, namun raut wajahnya sangat ramah. Sepintas, Travng ingat dengan salah satu ikon perusahaan ayam goreng cepat saji ketika ia melihat pak tua itu.

"Hello, Sir." Sapanya kemudian ketika ia sampai di meja Travng. "Kami khawatir kami kehabisan meja untuk pengunjung. Maukah anda berbagi meja dengan pengunjung lain?" jelasnya dengan Bahasa Inggris yang lancar dan berlogat. Sepertinya pak tua itu bukan penduduk Indonesia.

"Oh ya, tak apa." Travng menangguk.

"Terima kasih atas pengertiannya." Pak tua itu lalu tersenyum dan meninggalkan Travang seorang diri di kursinya.

Tak lama, seorang perempuan berjalan ke arahnya dan duduk tepat di hadapannya. "Maaf karena harus berbagi meja. Motsach selalu penuh di malam hari dan aku sedang butuh secangkir kopi. Hanya kopi dari Motsach yang selalu bisa membuatku berpikir waras. Anda tidak keberatan, kan?" ucap perempuan itu.

Travng hanya bisa diam. Ucapan perempuan itu ia tangkap sebagai sirene kereta api yang terdengar di tengah kota. Bising, cepat. "Sorry, I can't speak Bahasa Indonesia," ulangnya.

"Ah!" Kata perempuan itu sedikit berteriak yang membuat Travng kaget. "Maaf sekali, tadi saya bertanya, apakah anda keberatan untuk berbagi meja dengan saya karena Motsach sedang penuh dan saya sedang butuh kopi yang tersaji disini," ucapnya dengan Bahasa Inggris yang fasih.

Travng mengangguk. "Ya, tak apa."

"Dan maaf karena langsung membombardirmu dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Saya kira anda orang Indonesia. Wajah anda sangat... Asia." Perempuan itu menurunkan intonasinya ketika mengucapkan kata terakhir. Matanya sedikit menunjukan penyesalan atas ucapannya yang spontan. "Maaf..." katanya kemudian.

"No problem. Saya memang orang Asia, dari Vietnam. Travng." Travng menjulurkan tangannya.

Perempuan itu tersenyum dan menyambut uluran tangan Travng. "Sella." Ia lalu mengeluarkan menu yang dari tadi ia bawa dan mulai membacanya satu persatu.

Travng mulai memperhatikan perempuan itu. Rambut hitamnya yang lebat panjang menjuntai hingga bawah bahunya, menutup muka mungilnya yang berbentuk oval. Alis tebalnya kadang menyatu ketika membaca daftar menu, mungkin ia sedang berpikir minuman apa yang akan ia pesan. Ia lalu memanggil pramusaji dan menjatuhkan pilihannya pada secangkir panas cinnamon coffee.

"Well, sudah lama di Indonesia?" tanya Sella ketika pramusaji beranjak pergi untuk membuatkan minuman pesanannya.

"Baru beberapa minggu."

"Apa tujuanmu kesini? Perjalanan bisnis, atau?"

Travng menggeleng. "Tidak, hanya traveling."

"Wow, dan kau memilih kota ini?" tanya Sella penasaran. "Maaf, aku hanya penasaran. Saat orang-orang Indonesia memilih untuk berlibur ke luar negeri karena bosan dengan negaranya, kau memilih untuk berlibur ke Indonesia. Aku hanya penasaran."

"Hahaha," Travng hanya tertawa mendengar pertanyaan Sella. "Indonesia adalah negara tujuan pertamaku. aku berencana keliling Asean dalam tahun ini."

"Dan kau melakukan perjalanan ini sendirian?"

Travng mengangguk, "Yep."

"Wow, kau gila!" mata Sella terbelalak kaget. "Dari dulu aku selalu berharap untuk menjadi seorang solo traveler sepertimu. Tapi kau tahu, itu hanya keinginanku saja, tidak pernah mulai aku wujudkan."

"Kenapa tidak kau wujudkan saja?"

Sella sedikit terhentak dengan pertanyaan Travng. Pertanyaan mudah yang sulit dijawab. Menjawabnya hanya membawa kenangan-kenangan buruk yang terjadi beberapa bulan yang lalu. "Nah, aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Aku seorang workaholic. Hahaha."

Pramusaji lalu datang, menyajikan secangkir cinamon coffee panas yang uapnya masih mengepul menyebarkan aroma kayu manis yang menggaruk tenggorokan.

"Apa yang membuatmu menyukai kopi di Motsach?" tanya Travng penasaran.

"Entahlah, resep rahasianya mungkin. Aku sering kesini sejak aku kuliah dulu. Kalau kau, apa yang membuatmu betah berlama-lama di Motsach?" Sella melirik piring salad yang masih ada di pojok meja.

"Aku suka suasananya. Nyaman."

"Persis! Sekali datang ke Motsach, kau pasti akan ketagihan untuk datang keesokan hari dan keesokan harinya lagi."

Obrolan mereka lalu berlanjut panjang. Diiringi petikan lagu John Mayer yang mengudara dari speaker yang ada di langit-langit, Travng mengetahui lebih banyak lagi tentang perempuan yang duduk di hadapannya ini. Kegilaannya pada kopi, candunya pada aroma tanah sehabis di guyur air hujan, kegiatan sehari-harinya yang kini dihabiskan dengan belajar bermain piano, dan seekor anak kucing jawa berbulu abu-abu yang baru saja ia adopsi dari pusat penampungan binatang liar. 

Secangkir cinamon coffee juga menjadi pendamping Sella dalam menyelami dunia kecil Travng yang terlampau kompleks. Cita-citanya untuk menjelajah tiga puluh negara sebelum usianya empat puluh tahun, keahliannya membedakan beragam jenis teh hanya dengan menghirup aromanya, obsesinya untuk membuktikan bahwa sebenarnya belum pernah ada manusia yang mendarat di bulan, dan betapa ia sangat ingin bisa mengendarai pesawat terbang.

Lampu Motsach perlahan mulai meredup. Tak terasa tiga jam sudah mereka mengobrol.

"Ups, sepertinya Motsach mau tutup." Ucap Sella.

"Ya, tiga jam berlalu hanya sekedipan mata, ya? Hahaha." Travng melihat arlojinya lalu berdiri diikuti Sella.

"Yep, senang mengobrol denganmu, Mr. Travng." Sella menjulurkan tangannya. Apa ini perpisahan? Apa kami tidak akan pernah bertemu lagi? Tanyanya dalam hati.

Travng menyambut uluran tangan Sella. Ia lalu menatap mata perempuan mungil itu. "Bagaimana kalau besok kita mengobrol lagi? Di sini pukul lima sore?"

Sella tersenyum, menyebabkan getaran aneh di rongga dada Travng yang dulu kosong.

"Matamu berwarna hazelnut." jawabnya keluar dari topik. "Dari tadi aku sudah sadar tapi aku lupa apa warnanya. Ternyata hazelnut."

Travng masih heran, kikuk dengan tangannya yang tak ingin melepas genggaman tangan Sella. Dan melalui tangan itu, mengalir udara hangat yang memercikkan sesuatu di perasaan mereka masing-masing.


[8...]


Baca cerita sebelumnya disini
5.6.13

#20 Before Home

Source

Sepiring salmon and chips baru saja tersaji di hadapannya. Uap panas masih mengepul dari piring itu. Travng mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca, When the Moon Dissapears, dan mulai makan. Matanya tak henti memandang coffee shop mini di lantai dua Mostach ini. Ia tak menyangka akan menemukan tempat se-cozy ini dalam perjalanannya di Indonesia.

Toko buku yang berada di lantai bawah cukup membuatnya takjub. Sebagai kutu buku, Travng betah berlama-lama menyusuri rak demi rak di setiap toko buku untuk membaca satu per satu back cover review yang ada disana. Sudah empat puluh lima menit ketika Travng memutuskan untuk membawa pulang buku When the Moon Dissapears. Ia hendak keluar dari Mostach dan menuju rumah makan pojok jalan sebelum ia sadar dengan keberadaan tangga di pojok rak buku tempatnya mengambil When the Moon Dissapears. Setelah meninggalkan kasir, Travng lalu beranjak menuju lantai dua.

Perutnya berbunyi keras ketika Travng menginjak anak kaki terakhir tangga. Aroma kentang goreng yang semerbak memenuhi hidungnya membuatnya semakin kelaparan. Ia lalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela besar di pojok ruangan dan memesan makanan. Senja juga tak kalah cantik ketika dinikmati dari tempat ini, gumamnya dalam hati.


[7...]


Baca cerita sebelumnya disini
4.6.13

#19 Change

Source

Perubahan itu selalu datang dan semua orang harus siap. Haegen menurunkai gerendai besi tempatnya berjualan. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Toko harus sudah tutup namun semua rotinya masih belum habis terjual. Haegen memutar kunci gerendai besinya dua kali ke arah kanan dan mengangkatnya sedikit untuk memastikan bahwa toko kecilnya sudah terkunci. Ia lalu berjalan gontai menuju apartemen sewaannya. Tangan kanannya menjinjing sebungkus roti sisa untuk bekal sarapannya esok hari.

Sorot mata tegas yang dimiliki Haegen kini tak lagi tampak. Yang tercermin dibalik pantulan mata birunya adalah hasil dari kerja kerasnya selama beberapa bulan disini. Rasa berat selalu ia rasakan di beberapa minggu pertama.  tapi sama seperti sungai yang melarutkan satu persatu kelopak bunga yang berguguran sebelum hilang dan hanyut ke muara yang lebih besar, perasaan lelah Haegen pun lama-lama sirna seiring dengan berjalannya waktu. Semoga ini langkah yang tepat, semoga semuanya berjalan lancar doanya selalu di setiap pagi.


[5...]


Baca cerita sebelumnya disini
3.6.13

#18 Bye, Paris

Source

Indonesia, 2005

Dua Natal sudah ia lewati tanpa salju. Ya, hidup di negara tropis sudah membuatnya cukup kewalahan. Apalagi kalau cuaca suka berubah tanpa bisa diprediksi. Belum lagi udara panas yang menyengat dan selalu membuatnya keringatan. Namun ia bertahan, demi memupuk masa lalunya dengan rencana-rencana yang sudah ia bangun.

Perlu waktu tiga tahun tahun sejak kematian Maman, Haegen baru siap memutuskan untuk pindah. Meninggalkan Paris dan semua yang ia punya disana dan memulai lembaran baru di negara yang jauhnya ribuan kilometer dan belum pernah ia kunjungi sebelumnya


[4...]


Baca cerita sebelumnya disini
31.5.13

#17 Chapter

Source

Travng melangkahkan kakinya memasuki Mostach disambut gemerincing lonceng di depan pintu. Mostach. Kata itu terus terngingang-ngiang di kepalanya sejak pertama kali ia melihat papan nama itu seminggu yang lalu.

Sore itu Travng ingin menikmati senja, maka ia berjalan menusuri bentangan trotoar yang berada tak jauh dari tempatnya menginap. Di ujung trotoar, di pertigaan jalan, ada sebuah rumah makan kecil berlantai empat yang selalu penuh dengan turis. Selain ornamen jawa yang kental, Travng suka dengan ruang makan rooftop yang disediakan disana. Tempat yang indah untuk menikmati senja sambil meminum teh pahit panas. Masih setengah jalan menuju tempat makan itu, ia melihat sebuah bookstore dan coffee shop yang menarik perhatiannya. Motsach. Niatnya untuk mengunjungi Motsach selalu sirna lantaran dirinya takut. Motsach, sebuah kata yang juga terdapat dalam bahasa negaranya. Sedangkan dalam perjalanan ini, Travng sedang ingin melupakan apapun tentang dirinya, negaranya, identitasnya... 

Namun, sore ini sepertinya Travng menyerah. Ia rindu asal-usulnya.


[6...]


Baca cerita sebelumnya disini
30.5.13

#16 Open

Source

Motsach sepi siang itu. Hanya seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di balik meja pengunjung. Ia sedang sibuk membereskan sisa minuman orang yang datang sebelumnya. Pintu bergemerincing lagi, seorang lelaki muda masuk ke dalam Mostach. Perawakannya tinggi kurus dan raut mukanya menyiratkan dengan tegas bahwa ia bukan penduduk asli. Matanya berwarna hazelnut, dan ketika berbicara kata-katanya berlogat asing yang belum didengar sebelumnya.


[5...]


Baca cerita sebelumnya disini
29.5.13

#15 - Motsach

Motsach masih berdiri kokoh disana. Pintu tidak pernah berhenti bergemerincing, setiap menit ada saja orang yang keluar masuk. Motsach masih berdiri kokoh, bersiap menjadi saksi bisu atas kisah-kisah yang mengalir dari bibir-bibir penungnjungnya.


[3...]


Baca cerita sebelumnya disini
28.5.13

#14 - Today

Hanya hari ini, ia merasa semuanya akan baik-baik saja.
Kakinya baru saja menginjak tanah Indonesia beberapa jam yang lalu.
Masa depannya dibentuk sebentar lagi.
27.5.13

#13 In Repair

Source

Sella bertaruh pada waktu, menggaransikan cintanya pada hitungan detik yang ia punya. hasilnnya? Nihil, cinta itu busuk sebelum waktunya. Ia pernah membaca sebuah buku, katanya, cinta punya batas kadaluarsanya jika kau menggaransikannya pada waktu. Kini semua terbukti. Rasa cintanya sudah terlampau basi.

Dinda selalu mencari alasan di setiap langkah yang ia ambil. Ia punya alasan mengapa ia menghancurkan persahabatannya, ia punya alasan mengapa ia bisa jatuh cinta sekaligus merasa bersalah pada seseorang yang bukan miliknya... bahkan ia bisa memberimu 50 daftar alasan mengapa ia berani melangkah terlalu jauh demi egonya sendiri. Yang tidak ia tahu, pencarian alasan hanya untuk orang yang ingin lepas dari tanggungjawab.

***

Dan mereka berdua masuk dalam babak baru. Identitas mereka kini dibentuk oleh kejadian-kejadian yang menempa hati dan perasaan mereka masing-masing. Tidak ada yang siap. Tidak ada yang pernah siap pada perubahan, sekecil apapun itu. Karena perubahan berarti meninggalkan zona nyaman. Seperti kau yang enggan keluar dari selimut di pagi hari yang dingin. Seperti kau yang mempertahankan hubunganmu yang datar karena enggan mengambil resiko. Seperti kau yang berusaha keras mengganti secangkir kopi di pagi hari dengan segelas milo hangat karena kau tahu asupan kafein lama-lama akan membuatmu gila. Seperti kau, Sella enggan melalui bagian hidupnya yang ini. Seperti kau, diam-diam Dinda berbisik syukur karena hubungannya dengan Armand telah mempertemukannya dengan mahluk kecil yang sebentar lagi menatap dunia. Seperti kau, yang sedang asyik enggan meninggalkan zona nyaman.


[8...]


baca cerita sebelumnya disini
26.5.13

#12 - Beautiful Tragic

Source

Hati manusia menyimpan dua misteri. Pertama, bagaimana ia dibuat. Kedua, bagaimana ia berfungsi.

Armand heran. Hati yang ia pikir telah lama terpatri akhirnya liar juga. Berlari mencari garis finish baru dengan segala kecamuk yang diciptakannya. Hatinya bagai bagian yang terpisah, karena berhasil bergerak keluar dari nalar dan kendalinya sendiri.

Armand kehilangan akal sehat, atau memang apa yang dilakukan hati tidak menggunakan tolak ukur kewarasan? Ia telah dibuat gila oleh keputusannya memilih perempuan selain yang dijanjikannya sehidup semati. Sebut dia lelaki paling berengsek sejagad raya, namun bukankah hati menghasilkan perasaan yang tak bervolume?

[7...]


Baca cerita sebelumnya disini.
25.5.13

#11 It Still Rains

Source

Hujan masih mengguyur kota, menyajikan pemandangan sendu untu Travng yang sedang duduk bersandar dan melihat pemandangan kota dari dalam taxi. Sebagai seorang backpacker, naik taksi menuju tempat tujuan merupakan keadaan haram nomor satu di list-perjalanannya. Namun apa dikata, tenaganya sudah cukup diperas oleh perjalanan Vietnam-Indonesia yang baru saja ia tempuh.

"This is your hostel, sir," ucapan supir taxi mengalihkan pandangan Travng. Ia lalu mengeluarkan selembar uang dolar yang diterima antusias oleh si supir taxi. Setelah mengucapkan terima kasih, Travng lalu turun dan berlari kecil menuju motelnya.

"Saya sudah memesan satu kamar. Atas nama Travng." ucapnya menggunakan Bahasa Inggris ketika ia sampai di lobi hostel. Penjaga lobi itu lalu mengangguk dan mencari namanya di sebuah buku tebal yang cukup lusuh.

Travng menggerakkan kakinya tak sabar ketika tangan keriput Ibu penjaga Lobi itu menelusuri satu persatu nama yang menghiasi buku pemesanan kamar yang setebal batu bata. Travng sangat lelah, padahal, ini bukan pengalaman pertamanya menjadi solo traveler. Travng pernah melalui hari yang lebih parah ketika ia selesai mendaki gunung di siang hari dan terpaksa langsung pulang menempuh perjalanan darat selama dua belas jam di malam harinya. Namun entahlah, peristiwa-peristiwa terakhir yang dialaminya dan keputusan finalnya untuk tidak kembali ke Vietnam sedikit berpengaruh pada kondisi kesehatannya.

"Could you spell your name, please, Sir?" pinta si Ibu Penjaga Lobi. Ia tak kunjung menemukan namanya dalam buku itu.

"T-R-A-V-N-G"

"Trang?"

Travng menggeleng. "No no, TRAV-NG."

Ibu Penjaga Lobi itu kembali melihat bukunya.

"You will stay in here for two weeks?" tanya Ibu Penjaga Lobi dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata.

Travng mengangguk.

"Aaaa, Trang!" akhirnya Ibu Penjaga Lobi menemukan namanya. Ia menunjuk sebuah kata: 'Trang'. "This is you, I'm writing your name wrong! This is your key." Ibu Penjaga Lobi menyerahkan kunci kamar dengan gantungan angka 8 sambil tertawa. "Kamarmu di lantai dua. Naik tangga itu lalu belok kanan."

"Thank you," ucap Travng sopan.

"You're welcome. Have a nice day, Trang! Namanu susah sekali dilafalkan!"

Travng lalu menaiki tangga dan bergegas mencari kamarnya. Yang ia butuhkan hari ini adalah merebahkan diri di kasur dan memejamkan matanya walau sejenak. Ia butuh istirahat.


[4...]


Baca cerita sebelumnya disini.
24.5.13

#10 When It Rains

Photo by Me.

Hujan tidak pernah selebat hari ini. Guntur menggelegar bersahutan tanpa henti, bulir air hujan bagai kerikil yang menghujam genting-genting, angin dingin berhembus dengan kekuatan yang mampu membalikkan payung setiap orang yang berani keluar rumah. Semeseta seperti berkonspirasi untuk membuatmu tetap berada di dalam ruangan. Atau, semesta sedang merefleksikan perasaanmu yang sedang kacau berantakan.

***

Sella tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia seperti berada di raga yang salah. Selalu melamun dan makin banyak menyendiri. Sella yang dikenal cerewet dan gemar memberikan ide-ide cemerlang untuk perusahaannya kini dikenal sebagi seorang yang pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya melamun dibandingkan dengan mengobrol saat waktu istirahat tiba. Pun ketika ia di rumah. Rutinitasnya sehari-hari hanya menonton tv ditemani semangkuk mie instan atau cup noodle panas. Matanya menatap tv namun pandangannya kosong, entah menerawang kemana. Ia tak peduli lagi  tentang kesehatan tubuhnya, pemikiran teman-teman kantor tentang dirinya... ia tak lagi peduli dengan Dinda maupun Armand yang sudah ratusan kali meninggalkan panggilan tak terjawab dan pesan singkat di ponselnya. Ia benar-benar tidak peduli.

Dinda menaruh kembali ponselnya di meja ketika lagi-lagi teleponnya hanya dijawab oleh suara mesin  operator. Sudah dua bulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Sella. Artinya, sudah dua bulan juga Dinda tidak berbicara dengan Sella. Segala upaya sudah ia tempuh: menghubungi semua nomer teleponnya, menanyakan kabarnya pada teman-temannya, hingga men-stalking akun media sosialnya. Hasilnya Nihil. Sella seperti hilang di telan bumi. Setelah berfirasat bahwa Sella sudah mengetahui semuanya, nyali Dinda mendadak ciut. Ia tidak berani bertemu Sella. Apalagi kini dengan perutnya yang semakin membesar.

Ketika bercermin, Armand selalu menatap bayangan dirinya sambil bergumam dalam hati: Ini adalah wajah lelaki pengecut. Sebagai pemimpin di perusahaannya sendiri, Armand merupakan sosok lelaki yang nyaris sempurna: tampan, berdedikasi tinggi pada pekerjaan, dan pernah mempunyai kehidupan yang sempurna. Ya, pernah. Sepertinya semua orang menganggapnya begitu. Betapa ia beruntung dapat bersama dengan seseorang seperti Sella, betapa hidupnya dulu sudah sempurna... Yang selalu membuat kening Armand berkerut, mengapa mereka semua tidak pernah tanya alasannya? Mereka tidak pernah tahu, ada rasa yang perlahan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan konstan yang mengubah cintanya menjadi hambar, ada sosok yang menjadi muara arus cintanya ketika bahkan seseorang yang berjanji untuk sehidup semati tidak lagi ia kenali. Ada banyak alasan yang tidak pernah diketahui. Karena, ya, ia terlalu pengecut.



[6...]


Baca cerita sebelumnya disini.
23.5.13

#9 Welcome

Travng menginjakan kakinya di Indonesia. Destinasi negara pertamanya dalam rute Asean travel. Ia membopong ransel besarnya dan bergegas mencari penginapan. Perjalanan membuatnya jetlag. Ia sangat lelah, pelupuk matanya seperti digantungi oleh pemberat 10kg. Ia lalu mendekati seorang supir taxi dan menunjukan alamat hotel tujuannya yang tertera di majalahnya.

Taxi itu lalu melaju, membelah jalanan tol bak macan yang lari mengejar mangsanya...


[3...]

Baca cerita sebelumnya disini.
22.5.13

#8 Somewhere Only We Know

Lelaki itu hanya bisa menatap Dinda dalam diam. Terlalu banyak penjelasan dalam air mata kekasihnya yang bisa ia tangkap.

"Udah dong..." Lelaki itu berusaha menenangkan Dinda.

"Kenapa kita kayak gini sih? Kenapa kita terlalu berani?" tanya Dinda.

Lelaki itu kembali memutuskan untuk menutup mulutnya, membiarkan Dinda menyelesaikan tangisannya mungkin jalan keluar terbaik sebelum mereka berdiskusi lebih lanjut.

Dan mereka kembali dalam jeda diam yang cukup lama...

***

Sella memarkirkan mobilnya di garasi, ia lalu menuju kamar tidur, tanpa berganti baju ia langsung merebahkan badannya di kasur. Ia benar-benar tidak peduli dengan kondisi rumahnya yang berantakan bak kapal pecah. Untuk apa peduli? Toh pikirannya juga sedang sama berantakannya.

Lelah bersembunyi di balik selimut cukup lama, Sella menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas hidung dan memandang sekaliling kamarnya, well, kamarnya dan Armand. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Pikirannya menolak untuk beristirahat setelah apa yang ia alami hari ini, entahlah, terkadang tubuhmu memberontak untuk beristirahat ketika kamu benar-benar lelah. 

Ia memandang setumpuk buku yang tergeletak di meja kecil disamping tempat tidur: The Casual Vacancy, Bumi Manusia, Senja di Jakarta, Ingo... tidak ada yang menarik perhatiannya. Ia lalu hampir memutuskan untuk menonton televisi, tapi, kotak ajaib itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya untuk mendapatkan hiburan. Sella benci menonton televisi. Tanpa tujuan, Sella akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai dua rumahnya.

Rumah Sella (dan Armand) bukan termaksuk tipe rumah minimalis yang desain-desainnya kerap di temui di pusat kota. Rumahnya terletak di ujung kota, perumahan sederhana yang nyaman dan lumayan asri karena masih jauh dari asap polusi pabrik dan kendaraan. Berada di dataran tinggi, rumah Sella (dan Armand) terletak tepat di depan perbukitan. Di kala akhir pekan, tak jarang Sella dan Armand menikmati waktunya dengan berjalan-jalan ke bukit, menghitung jumlah tenda murid-murid SMA yang sedang melakukan camping disana. Sella selalu menyukai angka genap. Kalau jumlah tenda yang mereka hitung genap, Armand akan mengajaknya ke Mostach, mentraktirnya bergelas-gelas es krim sampai ia kekenayangan dan tidak makan sampai siang keesokan harinya. Namun jika jumlah tenda yang mereka hitung ganjil, giliran Sella yang akan mentraktir Armand sebaskom es krim.

Armand lagi. Seluruh detail ruangan di rumah ini mengingatkannya pada Armand.

Sella menaiki anak tangga terakhir dan mendapati lantai dua rumahnya tidak begitu berantakan dibandingkan lantai bawah. Ia lalu masuk ke ruang kerja Armand. Sebenarnya tidak sepenuhnya ruang kerja Armand, ruang itu juga merangkap sebagai ruang kreasi Sella. Selain mahir di dunia digital marketing, Sella juga berbakat dalam bidang seni. Di ruang kreasi, Sella menyimpan beberapa lukisan dan kreasi rajutannya. Ruangan seluas empat kali enam itu nampak nyaman dan cozy. Siapapun yang masuk ke ruangan ini pasti akan betah berlama-lama didalamnya.

Sella duduk di sebuah kursi kayu berbantal yang empuk. Ia memandang sekitar dan tiba-tiba merasakan atmosfer aneh: ia rindu kehadiran Armand. Matanya menyapu sekeliling ruangan: ruangan itu bernuansa alam, dengan cat tembok berwarna putih tulang di dua sisi, dan dua sisi lainnya yang berupa deretan batu bata berlapis cat transparan yang menimbulkan kesan natural. Lukisan Sella berderet tak beraturan menghiasi dinding-dinding itu, disambut dengan kumpulan foto-foto Sella dan Armand yang dibingkai kayu berukir yang indah. Foto itu merangkum perjalanan kisah mereka.

Pandangan Sella lalu beralih ke laptop Armand. Apalah yang lebih baik sebagai penghilang stress selain belanja? pikirnya. Ia hendak membuka beberapa website sepatu dan pakaian langganannya sebelum sebuah notifikasi email masuk ke laptop itu. Dari Dinda. Sella meng-klik pesan itu. Laptop ini masih tersambung dengan akun email Armand, kenapa ada pesan dari Dinda? tanyanya penasaran.

Click.

Sella membaca email itu, email sebelumnya, belasan email sebelumnya, puluhan email sebelumnya, ratusan email sebelumnya, dan keseluruhan inbox emailnya yang didominasi oleh satu orang: Dinda.

Kini Sella tahu alasan Armand meninggalkannya.

Perlahan, airmatanya mulai menetes lagi.

Kini, lebih deras dari sebelumnya.

***

... Jeda itu terputus dengan pertanyaan singkat Dinda.

"Aku harus gimana, Armand?"

Lelaki di depannya itu termangu. Kata-katanya membeku, pikirannya terbungkam oleh keputusan yang terlanjur ia buat. 

"Kamu ikut aku." Katanya singkat.


[5...]



Baca cerita sebelumnya disini.
21.5.13

#7 Tangled Threads

Source
 
Dinda masih duduk didalam Mostach. Gelasnya sudah diganti dengan yang baru, segelas ice banana blue untuk kembali menyegarkan pikirannya. Ia kembali menyulut sebatang rokok, rokok ketiga yang ia hisap setelah Sella memutuskan untuk pulang dan beristirahat, menutup harinya yang buruk dengan cepat.

Tak lama, suara derap langkah kaki terdengar mendekati meja Dinda. Lelaki itu. Ia lalu duduk di hadapannya dan menatap matanya tegas. Dinda kehabisan kata-kata. Matanya sibuk menerawang keluar jendela, membayangkan kalau ini semua tidak pernah terjadi.

“Bagaimana?” Tanya lelaki itu singkat.

Dinda menggeleng. Beberapa saat kemudian, tangisnya tumpah. Batinnya teriris oleh sikapnya sendiri.



[4...]


cerita sebelumnya bisa dibaca disini.