SOCIAL MEDIA

31.5.13

#17 Chapter

Source

Travng melangkahkan kakinya memasuki Mostach disambut gemerincing lonceng di depan pintu. Mostach. Kata itu terus terngingang-ngiang di kepalanya sejak pertama kali ia melihat papan nama itu seminggu yang lalu.

Sore itu Travng ingin menikmati senja, maka ia berjalan menusuri bentangan trotoar yang berada tak jauh dari tempatnya menginap. Di ujung trotoar, di pertigaan jalan, ada sebuah rumah makan kecil berlantai empat yang selalu penuh dengan turis. Selain ornamen jawa yang kental, Travng suka dengan ruang makan rooftop yang disediakan disana. Tempat yang indah untuk menikmati senja sambil meminum teh pahit panas. Masih setengah jalan menuju tempat makan itu, ia melihat sebuah bookstore dan coffee shop yang menarik perhatiannya. Motsach. Niatnya untuk mengunjungi Motsach selalu sirna lantaran dirinya takut. Motsach, sebuah kata yang juga terdapat dalam bahasa negaranya. Sedangkan dalam perjalanan ini, Travng sedang ingin melupakan apapun tentang dirinya, negaranya, identitasnya... 

Namun, sore ini sepertinya Travng menyerah. Ia rindu asal-usulnya.


[6...]


Baca cerita sebelumnya disini
30.5.13

#16 Open

Source

Motsach sepi siang itu. Hanya seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di balik meja pengunjung. Ia sedang sibuk membereskan sisa minuman orang yang datang sebelumnya. Pintu bergemerincing lagi, seorang lelaki muda masuk ke dalam Mostach. Perawakannya tinggi kurus dan raut mukanya menyiratkan dengan tegas bahwa ia bukan penduduk asli. Matanya berwarna hazelnut, dan ketika berbicara kata-katanya berlogat asing yang belum didengar sebelumnya.


[5...]


Baca cerita sebelumnya disini
29.5.13

#15 - Motsach

Motsach masih berdiri kokoh disana. Pintu tidak pernah berhenti bergemerincing, setiap menit ada saja orang yang keluar masuk. Motsach masih berdiri kokoh, bersiap menjadi saksi bisu atas kisah-kisah yang mengalir dari bibir-bibir penungnjungnya.


[3...]


Baca cerita sebelumnya disini
28.5.13

#14 - Today

Hanya hari ini, ia merasa semuanya akan baik-baik saja.
Kakinya baru saja menginjak tanah Indonesia beberapa jam yang lalu.
Masa depannya dibentuk sebentar lagi.
27.5.13

#13 In Repair

Source

Sella bertaruh pada waktu, menggaransikan cintanya pada hitungan detik yang ia punya. hasilnnya? Nihil, cinta itu busuk sebelum waktunya. Ia pernah membaca sebuah buku, katanya, cinta punya batas kadaluarsanya jika kau menggaransikannya pada waktu. Kini semua terbukti. Rasa cintanya sudah terlampau basi.

Dinda selalu mencari alasan di setiap langkah yang ia ambil. Ia punya alasan mengapa ia menghancurkan persahabatannya, ia punya alasan mengapa ia bisa jatuh cinta sekaligus merasa bersalah pada seseorang yang bukan miliknya... bahkan ia bisa memberimu 50 daftar alasan mengapa ia berani melangkah terlalu jauh demi egonya sendiri. Yang tidak ia tahu, pencarian alasan hanya untuk orang yang ingin lepas dari tanggungjawab.

***

Dan mereka berdua masuk dalam babak baru. Identitas mereka kini dibentuk oleh kejadian-kejadian yang menempa hati dan perasaan mereka masing-masing. Tidak ada yang siap. Tidak ada yang pernah siap pada perubahan, sekecil apapun itu. Karena perubahan berarti meninggalkan zona nyaman. Seperti kau yang enggan keluar dari selimut di pagi hari yang dingin. Seperti kau yang mempertahankan hubunganmu yang datar karena enggan mengambil resiko. Seperti kau yang berusaha keras mengganti secangkir kopi di pagi hari dengan segelas milo hangat karena kau tahu asupan kafein lama-lama akan membuatmu gila. Seperti kau, Sella enggan melalui bagian hidupnya yang ini. Seperti kau, diam-diam Dinda berbisik syukur karena hubungannya dengan Armand telah mempertemukannya dengan mahluk kecil yang sebentar lagi menatap dunia. Seperti kau, yang sedang asyik enggan meninggalkan zona nyaman.


[8...]


baca cerita sebelumnya disini
26.5.13

#12 - Beautiful Tragic

Source

Hati manusia menyimpan dua misteri. Pertama, bagaimana ia dibuat. Kedua, bagaimana ia berfungsi.

Armand heran. Hati yang ia pikir telah lama terpatri akhirnya liar juga. Berlari mencari garis finish baru dengan segala kecamuk yang diciptakannya. Hatinya bagai bagian yang terpisah, karena berhasil bergerak keluar dari nalar dan kendalinya sendiri.

Armand kehilangan akal sehat, atau memang apa yang dilakukan hati tidak menggunakan tolak ukur kewarasan? Ia telah dibuat gila oleh keputusannya memilih perempuan selain yang dijanjikannya sehidup semati. Sebut dia lelaki paling berengsek sejagad raya, namun bukankah hati menghasilkan perasaan yang tak bervolume?

[7...]


Baca cerita sebelumnya disini.
25.5.13

#11 It Still Rains

Source

Hujan masih mengguyur kota, menyajikan pemandangan sendu untu Travng yang sedang duduk bersandar dan melihat pemandangan kota dari dalam taxi. Sebagai seorang backpacker, naik taksi menuju tempat tujuan merupakan keadaan haram nomor satu di list-perjalanannya. Namun apa dikata, tenaganya sudah cukup diperas oleh perjalanan Vietnam-Indonesia yang baru saja ia tempuh.

"This is your hostel, sir," ucapan supir taxi mengalihkan pandangan Travng. Ia lalu mengeluarkan selembar uang dolar yang diterima antusias oleh si supir taxi. Setelah mengucapkan terima kasih, Travng lalu turun dan berlari kecil menuju motelnya.

"Saya sudah memesan satu kamar. Atas nama Travng." ucapnya menggunakan Bahasa Inggris ketika ia sampai di lobi hostel. Penjaga lobi itu lalu mengangguk dan mencari namanya di sebuah buku tebal yang cukup lusuh.

Travng menggerakkan kakinya tak sabar ketika tangan keriput Ibu penjaga Lobi itu menelusuri satu persatu nama yang menghiasi buku pemesanan kamar yang setebal batu bata. Travng sangat lelah, padahal, ini bukan pengalaman pertamanya menjadi solo traveler. Travng pernah melalui hari yang lebih parah ketika ia selesai mendaki gunung di siang hari dan terpaksa langsung pulang menempuh perjalanan darat selama dua belas jam di malam harinya. Namun entahlah, peristiwa-peristiwa terakhir yang dialaminya dan keputusan finalnya untuk tidak kembali ke Vietnam sedikit berpengaruh pada kondisi kesehatannya.

"Could you spell your name, please, Sir?" pinta si Ibu Penjaga Lobi. Ia tak kunjung menemukan namanya dalam buku itu.

"T-R-A-V-N-G"

"Trang?"

Travng menggeleng. "No no, TRAV-NG."

Ibu Penjaga Lobi itu kembali melihat bukunya.

"You will stay in here for two weeks?" tanya Ibu Penjaga Lobi dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata.

Travng mengangguk.

"Aaaa, Trang!" akhirnya Ibu Penjaga Lobi menemukan namanya. Ia menunjuk sebuah kata: 'Trang'. "This is you, I'm writing your name wrong! This is your key." Ibu Penjaga Lobi menyerahkan kunci kamar dengan gantungan angka 8 sambil tertawa. "Kamarmu di lantai dua. Naik tangga itu lalu belok kanan."

"Thank you," ucap Travng sopan.

"You're welcome. Have a nice day, Trang! Namanu susah sekali dilafalkan!"

Travng lalu menaiki tangga dan bergegas mencari kamarnya. Yang ia butuhkan hari ini adalah merebahkan diri di kasur dan memejamkan matanya walau sejenak. Ia butuh istirahat.


[4...]


Baca cerita sebelumnya disini.
24.5.13

#10 When It Rains

Photo by Me.

Hujan tidak pernah selebat hari ini. Guntur menggelegar bersahutan tanpa henti, bulir air hujan bagai kerikil yang menghujam genting-genting, angin dingin berhembus dengan kekuatan yang mampu membalikkan payung setiap orang yang berani keluar rumah. Semeseta seperti berkonspirasi untuk membuatmu tetap berada di dalam ruangan. Atau, semesta sedang merefleksikan perasaanmu yang sedang kacau berantakan.

***

Sella tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia seperti berada di raga yang salah. Selalu melamun dan makin banyak menyendiri. Sella yang dikenal cerewet dan gemar memberikan ide-ide cemerlang untuk perusahaannya kini dikenal sebagi seorang yang pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya melamun dibandingkan dengan mengobrol saat waktu istirahat tiba. Pun ketika ia di rumah. Rutinitasnya sehari-hari hanya menonton tv ditemani semangkuk mie instan atau cup noodle panas. Matanya menatap tv namun pandangannya kosong, entah menerawang kemana. Ia tak peduli lagi  tentang kesehatan tubuhnya, pemikiran teman-teman kantor tentang dirinya... ia tak lagi peduli dengan Dinda maupun Armand yang sudah ratusan kali meninggalkan panggilan tak terjawab dan pesan singkat di ponselnya. Ia benar-benar tidak peduli.

Dinda menaruh kembali ponselnya di meja ketika lagi-lagi teleponnya hanya dijawab oleh suara mesin  operator. Sudah dua bulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Sella. Artinya, sudah dua bulan juga Dinda tidak berbicara dengan Sella. Segala upaya sudah ia tempuh: menghubungi semua nomer teleponnya, menanyakan kabarnya pada teman-temannya, hingga men-stalking akun media sosialnya. Hasilnya Nihil. Sella seperti hilang di telan bumi. Setelah berfirasat bahwa Sella sudah mengetahui semuanya, nyali Dinda mendadak ciut. Ia tidak berani bertemu Sella. Apalagi kini dengan perutnya yang semakin membesar.

Ketika bercermin, Armand selalu menatap bayangan dirinya sambil bergumam dalam hati: Ini adalah wajah lelaki pengecut. Sebagai pemimpin di perusahaannya sendiri, Armand merupakan sosok lelaki yang nyaris sempurna: tampan, berdedikasi tinggi pada pekerjaan, dan pernah mempunyai kehidupan yang sempurna. Ya, pernah. Sepertinya semua orang menganggapnya begitu. Betapa ia beruntung dapat bersama dengan seseorang seperti Sella, betapa hidupnya dulu sudah sempurna... Yang selalu membuat kening Armand berkerut, mengapa mereka semua tidak pernah tanya alasannya? Mereka tidak pernah tahu, ada rasa yang perlahan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan konstan yang mengubah cintanya menjadi hambar, ada sosok yang menjadi muara arus cintanya ketika bahkan seseorang yang berjanji untuk sehidup semati tidak lagi ia kenali. Ada banyak alasan yang tidak pernah diketahui. Karena, ya, ia terlalu pengecut.



[6...]


Baca cerita sebelumnya disini.
23.5.13

#9 Welcome

Travng menginjakan kakinya di Indonesia. Destinasi negara pertamanya dalam rute Asean travel. Ia membopong ransel besarnya dan bergegas mencari penginapan. Perjalanan membuatnya jetlag. Ia sangat lelah, pelupuk matanya seperti digantungi oleh pemberat 10kg. Ia lalu mendekati seorang supir taxi dan menunjukan alamat hotel tujuannya yang tertera di majalahnya.

Taxi itu lalu melaju, membelah jalanan tol bak macan yang lari mengejar mangsanya...


[3...]

Baca cerita sebelumnya disini.
22.5.13

#8 Somewhere Only We Know

Lelaki itu hanya bisa menatap Dinda dalam diam. Terlalu banyak penjelasan dalam air mata kekasihnya yang bisa ia tangkap.

"Udah dong..." Lelaki itu berusaha menenangkan Dinda.

"Kenapa kita kayak gini sih? Kenapa kita terlalu berani?" tanya Dinda.

Lelaki itu kembali memutuskan untuk menutup mulutnya, membiarkan Dinda menyelesaikan tangisannya mungkin jalan keluar terbaik sebelum mereka berdiskusi lebih lanjut.

Dan mereka kembali dalam jeda diam yang cukup lama...

***

Sella memarkirkan mobilnya di garasi, ia lalu menuju kamar tidur, tanpa berganti baju ia langsung merebahkan badannya di kasur. Ia benar-benar tidak peduli dengan kondisi rumahnya yang berantakan bak kapal pecah. Untuk apa peduli? Toh pikirannya juga sedang sama berantakannya.

Lelah bersembunyi di balik selimut cukup lama, Sella menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas hidung dan memandang sekaliling kamarnya, well, kamarnya dan Armand. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Pikirannya menolak untuk beristirahat setelah apa yang ia alami hari ini, entahlah, terkadang tubuhmu memberontak untuk beristirahat ketika kamu benar-benar lelah. 

Ia memandang setumpuk buku yang tergeletak di meja kecil disamping tempat tidur: The Casual Vacancy, Bumi Manusia, Senja di Jakarta, Ingo... tidak ada yang menarik perhatiannya. Ia lalu hampir memutuskan untuk menonton televisi, tapi, kotak ajaib itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya untuk mendapatkan hiburan. Sella benci menonton televisi. Tanpa tujuan, Sella akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai dua rumahnya.

Rumah Sella (dan Armand) bukan termaksuk tipe rumah minimalis yang desain-desainnya kerap di temui di pusat kota. Rumahnya terletak di ujung kota, perumahan sederhana yang nyaman dan lumayan asri karena masih jauh dari asap polusi pabrik dan kendaraan. Berada di dataran tinggi, rumah Sella (dan Armand) terletak tepat di depan perbukitan. Di kala akhir pekan, tak jarang Sella dan Armand menikmati waktunya dengan berjalan-jalan ke bukit, menghitung jumlah tenda murid-murid SMA yang sedang melakukan camping disana. Sella selalu menyukai angka genap. Kalau jumlah tenda yang mereka hitung genap, Armand akan mengajaknya ke Mostach, mentraktirnya bergelas-gelas es krim sampai ia kekenayangan dan tidak makan sampai siang keesokan harinya. Namun jika jumlah tenda yang mereka hitung ganjil, giliran Sella yang akan mentraktir Armand sebaskom es krim.

Armand lagi. Seluruh detail ruangan di rumah ini mengingatkannya pada Armand.

Sella menaiki anak tangga terakhir dan mendapati lantai dua rumahnya tidak begitu berantakan dibandingkan lantai bawah. Ia lalu masuk ke ruang kerja Armand. Sebenarnya tidak sepenuhnya ruang kerja Armand, ruang itu juga merangkap sebagai ruang kreasi Sella. Selain mahir di dunia digital marketing, Sella juga berbakat dalam bidang seni. Di ruang kreasi, Sella menyimpan beberapa lukisan dan kreasi rajutannya. Ruangan seluas empat kali enam itu nampak nyaman dan cozy. Siapapun yang masuk ke ruangan ini pasti akan betah berlama-lama didalamnya.

Sella duduk di sebuah kursi kayu berbantal yang empuk. Ia memandang sekitar dan tiba-tiba merasakan atmosfer aneh: ia rindu kehadiran Armand. Matanya menyapu sekeliling ruangan: ruangan itu bernuansa alam, dengan cat tembok berwarna putih tulang di dua sisi, dan dua sisi lainnya yang berupa deretan batu bata berlapis cat transparan yang menimbulkan kesan natural. Lukisan Sella berderet tak beraturan menghiasi dinding-dinding itu, disambut dengan kumpulan foto-foto Sella dan Armand yang dibingkai kayu berukir yang indah. Foto itu merangkum perjalanan kisah mereka.

Pandangan Sella lalu beralih ke laptop Armand. Apalah yang lebih baik sebagai penghilang stress selain belanja? pikirnya. Ia hendak membuka beberapa website sepatu dan pakaian langganannya sebelum sebuah notifikasi email masuk ke laptop itu. Dari Dinda. Sella meng-klik pesan itu. Laptop ini masih tersambung dengan akun email Armand, kenapa ada pesan dari Dinda? tanyanya penasaran.

Click.

Sella membaca email itu, email sebelumnya, belasan email sebelumnya, puluhan email sebelumnya, ratusan email sebelumnya, dan keseluruhan inbox emailnya yang didominasi oleh satu orang: Dinda.

Kini Sella tahu alasan Armand meninggalkannya.

Perlahan, airmatanya mulai menetes lagi.

Kini, lebih deras dari sebelumnya.

***

... Jeda itu terputus dengan pertanyaan singkat Dinda.

"Aku harus gimana, Armand?"

Lelaki di depannya itu termangu. Kata-katanya membeku, pikirannya terbungkam oleh keputusan yang terlanjur ia buat. 

"Kamu ikut aku." Katanya singkat.


[5...]



Baca cerita sebelumnya disini.
21.5.13

#7 Tangled Threads

Source
 
Dinda masih duduk didalam Mostach. Gelasnya sudah diganti dengan yang baru, segelas ice banana blue untuk kembali menyegarkan pikirannya. Ia kembali menyulut sebatang rokok, rokok ketiga yang ia hisap setelah Sella memutuskan untuk pulang dan beristirahat, menutup harinya yang buruk dengan cepat.

Tak lama, suara derap langkah kaki terdengar mendekati meja Dinda. Lelaki itu. Ia lalu duduk di hadapannya dan menatap matanya tegas. Dinda kehabisan kata-kata. Matanya sibuk menerawang keluar jendela, membayangkan kalau ini semua tidak pernah terjadi.

“Bagaimana?” Tanya lelaki itu singkat.

Dinda menggeleng. Beberapa saat kemudian, tangisnya tumpah. Batinnya teriris oleh sikapnya sendiri.



[4...]


cerita sebelumnya bisa dibaca disini.
20.5.13

#6 Now You Know


Lelaki Bermata Hazelnut itu menatap perempuan yang duduk di depannya. “Sejak kapan kau sampai disini?” tanyanya.

“Baru saja. Kau terlalu sibuk dengan bacaanmu.” Ucap si perempuan sambil mengambil majalah si lelaki dan membolak-baliknya. “Kapan kau berangkat?”

“Lusa. Mau ikut?” jawabnya bercanda.

Si perempuan hanya bisa tertawa sambil menggeleng. “Jadi aku harus meninggalkan tunanganku disini sendirian?”

Si Lelaki Bermata Hazelnut tertawa. “Ayolah, masih banyak tempat yang harus kau lihat, masih banyak pantai yang belum kau kunjungi, masih banyak lagu yang belum kau dengar sebagai backsound obrolan kita nanti..”

Si perempuan hanya bisa tertawa. “Kau terlalu banyak baca novel roman.”

Ia lalu menggeleng, berdiri berbalik arah, dan meninggalkan si Lelaki Bermata Hazelnut itu bertiga dengan espresso dan majalahnya. Si Lelaki Bermata Hazelnut mengambil majalahnya. Ia mencoba membaca namun pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya yang sedang duduk di cafe itu. Pikirannya melayang, berkelana sambil menangkap momen istimewa beberapa menit yang lalu. 

Baju yang dipakai oleh si perempuan hanya sebuah kaos hitam dipadu dengan rok yang jatuh lurus sampai ujung dengkulnya. Setelan yang sering ia gunakan selama bertahun-tahun pertemanan mereka, namun terasa berbeda. Rambutnya juga seperti biasanya, berponi lurus menutupi alisnya yang tidak begitu tebal, rambut belakangnya dibiarkan tergerai sementara sejumput rambut di kanan-kirinya diikat ke belakang. Tatanan rambut seperti biasanya, namun terasa berbeda. Senyumnya, tawanya, celotehannya, tetap sama seperti biasanya, namun terasa berbeda. Ia tampak lebih cantik hari ini.

Lelaki Bermata Hazelnut itu merekam gambaran si perempuan baik-baik. Besok dirinya akan meninggalkan negara ini. Mungkin tidak akan pernah kembali.

***

Bandara Internasional Tân Sơn Nhất tampak ramai sore itu. Sejauh mata memandang, tampak turis-turis beransel tinggi yang berlalu lalang. Perempuan itu berlari, terus berlari sampai ia tidak lagi merasakan napas dan degup jantungnya. Ia harus terus berlari.

“Permisi... maaf... permisi...” si perempuang berulangkali menabrak turis-turis itu. Namun ia tetap berlari.
Itu dia. Batinnya ketika melihat papan “Pemberangkatan Luar Negeri”. Perempuan itu bersandar di salah satu pilar bandara. Napasnya tersengal-sengal namun pandangannya tetap tajam memandang sekeliling mencari seseorang yang ia kenal, lelaki dengan warna mata hazelnut.

Semuanya terasa begitu kilat. Rasanya baru tadi ia sedang asyik berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan sebelum salah satu temannya keceplosan memberitahu bahwa si Lelaki Bermata Hazelnut itu sebenarnya akan berangkat keliling Asean dengan penerbangan malam ini, bukan malam besok. Secepat kilat, si perempuan langsung meninggalkan teman-temannya dan memicu mobilnya ke bandara ini. 

Nihil. Umpatnya dalam hati. Si Perempuan belum melihat sosok lelaku bermata Hazelnut itu. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, ia harus terus mencari sebelum semuanya terlambat.

Tak lama, pandangannya tertuju pada sosok lelaki tinggi dengan tas carier berwarna biru. Sosok itu mencuri perhatiannya. Ia sedang memberikan passpornya pada penjaga pintu. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum ia masuk ke ruang tunggu yang tidak bisa dimasuki siapapun kecuali yang mempunyai tiket. Perlahan, si perempuan berjalan mengikuti lelaki itu untuk memastikan. Itu dia. Batinnya

“Travng! Travng!” Panggil si perempuan. Sosok itu kemudian berbalik ke arahnya. Benar, si Lelaki Bermata Hazelnut sedang menatapnya kaget

Si perempuan lalu lari menghampiri lelaki itu dan langung memeluknya. Lelaki itu mundur beberapa langkah akibat sergapan si perempuan.

“Jess?” tanyanya kaget.

“Kau pembohong! Pembohong!” seru si perempuan sambil mencubit pinggang Travng.

Jess lalu melepaskan pelukannya. Matanya sudah basah oleh airmata, begitu pula kaos putih Travng.

“Kenapa kau membohongiku?” tanya Jess marah sambil menatap lekat-lekat mata Travng. Mata paling indah yang pernah ia lihat.

Travang kehilangan kata-kata. “A..aku memang tak pernah berencana memberitahumu.”

“Kenapa?”

Dan untuk kata tanya itu, Travng hanya bisa diam membeku. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya namun matanya mengisyaratkan banyak hal. Perasaan. Perasaan yang selalu ia pendam pada perempuan itu. Ia hanya bisa terdiam sambil menatap mata hitam Jess.

“Jangan pergi...” isaknya. Tangannya menggapai ransel besar Travng, menariknya. Sedetikpun ia tidak ingin melepas ransel itu. “Jangan pergi... Aku... aku...”

Kata-kata Jess terputus. Travng memeluknya. Tangan kanannya memegang bahu Jess yang bergetar hebat, sedangkan tangan kirinya mengelus rambut hitam Jess sekedar untuk menenangkannya. Airmata kini makin membanjiri pipi Jess, juga kaus Travng. “Jangan lanjutkan kata-katanya..”

"Kau bahkan tak menunggu sampai minggu depan untuk pergi meninggalkanku?”

Travng melepaskan pelukannya perlahan. Tentu saja. Minggu depan. Pernikahannya... 

Ia menggelang. “Ini adalah hadiah pernikahan untukmu, dariku...”

Travng menghapus airmata Jess yang kembali menetes. Ia menatapnya selama tiga setik sebelum membalikan badan dan beranjak dari tempatnya berdiri. Ia melangkahkan kaki menuju pintu pemberangkatan.

Jess mengejarnya beberapa langkah, “Lalu kapan kau kembali?”

Travng berhenti tapi tidak membelikan badannya. “Akan kukirimi kau kartu pos sebelum aku kembali kesini!” katanya sambil melambaikan tangan. Bahkan kali ini ia tidak punya kekuatan untuk menatap mata Jess.

Jess masih terisak, melihat lelaki yang diam-diam ia sayangi sejak bertahun-tahun yang lalu pergi menghilang di balik pintu.

Travng masih terpaku, mengubur keberaniannya untuk mengungkapkan rasa sayang yang ia pendam dari bertahun-tahun yang lalu. Ini buah dari sikap pengecutmu, Travng. Makinya dalam hati.

Dan malam itu, saat pesawat tinggal landas, Travng bertekad kalau ia juga turut meninggalkan kenangannya di Vietnam. Menyimpannya jadi satum dan menutup rapat-rapat luka itu di sudut hatinya.
 

[2...]
 
 
baca cerita sebelumnya disini
19.5.13

#5 Hazelnut

Source
 
Lelaki itu bermata hazelnut. Dimejanya terdapat secangkir espresso panas yang uapnya masih mengepul, menjelma menjadi embun yang merayap di dinding kaca tempat bahunya bersandar. Lelaki itu mengubah posisi duduknya. Matanya tak lepas dari buku Traveling Asean yang dibacanya.

“Tujuanmu hanya ke Asean?” tanya sebuah suara. Lelaki bermata Hazelunt itu diam untuk sepeersekian detik mencari asal suara. Ia hapal pemilik suara itu.

“Ya...” katanya sambil mengangguk dan menutup majalah yang sedang dibacanya. “Ya, Asean.”


[1...]
18.5.13

#4 Fidélité

Source


Paris, Desember 1991.

Pagi ini Paris diselimuti es sisa hujan salju semalam. Sejauh mata memandang, semuanya tampak putih. Dari genting-genting rumah, pohon, lampu jalanan, hingga atap mobil. Salju-salju itu juga menutupi seluruh halaman rumah di Perumahan Boîtier. Terlihat mobil-mobil pengeruk salju di jalan sedang beroperasi, diikuti beberapa petugas yang juga mengeruk tumpukan salju dengan sekop. 

Suhu udara pagi ini minus sepuluh derajat celcius, kata pembawa acara perkiraan cuaca pagi ini di televisi. Troyes Haegen merapatkan jaketnya, menaik resletingnya sampai ke batas dagu. Ia lalu mengganti sandal rumahnya dengan sepatu boot. Ia hendak keluar rumah ketika Ibunya keluar dari kamar tidur.

"Pour l'amour de Dieu (demi Tuhan), Troyes! Ini baru pukul setengah tujuh! Kau mau kemana?"

"Maman!" jawab Haegen sedikit kaget. "Pagi ini aku berencana membuat roti cokelat, tapi semua bahan habis. Aku bermaksud membelinya ke pasar."

Madame Fllaurance menggeleng sambil merapatkan sweaternya. "Pagi ini bersalju. Berangkatlah agak siang ketika udara sedikit hangat."

"Tapi aku ingin membuatnya sekarang, Maman. Aku baru mendapatkan resep dan ingin segera mempraktekannya."

Madame Fllaurance hanya bisa menggeleng. Tidak ada yang bisa mengalahkan keinginan anaknya untuk memasak, bahkan salju! Ia lalu berjalan masuk ke kamarnya dan kembali dengan syal dan topi rajut berwarna hijau lumut peninggalan almarhum suaminya. "Pakailah ini." Ujarnya sambil melilitkan syal dan topi rajut bergantian. Belum cukup, ia juga menutup resleting jaket Haegan sampai resletingnya tidak bisa ditarik kemana-mana lagi.

"Maman... aku pergi dulu." Haegen melepaskan diri dari Madame Fllaurance yang sekarang hendak mengambilkan satu jaket lagi untuknya. Satu jaket saja cukup, Maman. Cuaca memang dingin, tapi aku tidak mau tampak seperti badut diluar sana. Batin Haegen

Madame Fllaurance mengantar anaknya sampai pintu keluar. "Mon cher fils (anakku), jangan pergi terlalu lama."

"Oui, Maman" Haegen mengangguk. Ia lalu membuka pintu dan berjalan keluar. Madame Fllaurance menatap anak semata wayangnya itu dari jendela. Anak lelakinya kini telah beranjak dewasa.



Paris, Desember 1995

"Joyeux anniversaire (selamat ulang tahun), Maman!" Haegen berjalan keluar dari dapur rumahnya sambil membawa seloyang kue coklat buatannya sendiri.

Madam Fllaurance yang kini berusia 65 tahun tampak kaget sekaligus senang dengan kejutan yang dibuat anaknya tersebut. Terdapat beberapa lilin kurus berwarna-warni tertancap diatas kue itu. "Ayo tiup lilinnya, Maman!" Seru Haegen tak sabar.

Madame Fllaurance mengikuti perintah anaknya dengan senang hati. Ia merasa haru sekaligus bahagia. Haru karena di usianya yang ke-65 ia masih diberi kesempatan untuk menikmati hari bersama anak lelaki yang dicintainya --walaupun suaminya telah pergi dalam keabadian lebih dari lima tahun yang lalu, dan bahagia karena anak lelaki semata wayangnya mampu menjaganya hingga detik ini.

"Ini..." Claura menyodorkan piring kecil, pisau, dan garpu pada Haegen.

Ini juga yang membuatku bahagia. Batin Madame Fllaurance sambil memandang Claura, menantunya.

Haegen dan Claura menikah setahun yang lalu. Walaupun kondisi keuangan mereka sangat memungkinkan untuk menyewa apartemen dan hidup di pusat kota berkat bisnis cafe Haegen yang sukses besar, namun mereka memutuskan untuk tetap tinggal bersama Madam Fllaurance.

"Kue pertama ini selalu untukmu, mon cher fils." Madame Fllaurance memberikan suapan pertama kue cokelat itu pada Haegen.

"Merci, Maman..." Haegen mengecup pipi ibunya. Mereka lalu makan kue cokelat itu bersama-sama.

"Kau tahu kalau kue ini adalah kue favoritku dibandingkan dengan kue-kuemu yang lain, Troyes" ujar Madame Fllaurance sambil menikmati piring keduanya.

"Oui, Maman." Haegen tersenyum bangga. Usaha kerasnya memadu berbagai jenis bumbu seperti cengkeh, kayu manis, bubuk vanili, sirup hazelnut, dan beragam tepung --seperti tepung ketan, terbayar sudah oleh ucapan Madame Fllaurance. "Apakah Maman ingat kalau resep kue ini aku ciptakan empat tahun yang lalu, ketika Maman hendak melarangku untuk membeli beberapa bumbu dapur. Hahaha.. kalau saja saat itu Maman melarangku, pasti kue ini tidak akan pernah ada."

Madame Fllaurance berusaha mengingat-ingat kejadian empat tahun yang lalu. Kejadian pagi yang bersalju itu. Ya, hari itu Haegan menciptakan kue Mort Par Le Chocolat, Death by Chocolate, kue yang sedang mereka nikmati ini. Ia lalu tersenyum. Bangga dengan hasil karya anaknya.

"Kau tidak ke cafe hari ini?" tanya Madame Fllaurance.

Haegan menggeleng. "Pas (tidak), Maman. Hari ini cafe libur."

"Lho, kenapa?" tanya Maman.

Haegan melirik istrinya, "Libur karena hari ini Maman ulang tahun. Hari ini aku dan Claura akan mengajak Maman jalan-jalan."

Madame Fllaurance tersenyum senang. Ini adalah hari terbaiknya!



Paris, Januari 2000

Musim dingin tahun ini terasa sangat buruk. Selain hawa dinginnya yang merajam tulang, di musim dingin ini Haegan kehilangan Madame Fllaurance. Komplikasi penyakit yang dideritanya membuat ibu satu anak itu harus menyerah pada penyakitnya sendiri.

Rumput makam Madame Fllaurance masih basah. Baru empat jam setelah jasad Madame Fllaurance dikebumikan namun Haegan masih enggan pulang. Padahal para pelayat sudah pulang dari tadi. Yang ada tinggal Haegan, berdiri di depan nisan Ibunya, dan Claura dan Agatha --anak pertama mereka, yang menunggu di mobil.

"Pulang?" Claura menepuk bahu Haegan dari belakang sambil membawakannya payung. Salju sudah mulai turun. Haegan mengangguk dan mengikuti instruksi istrinya untuk menuju mobil.

"Apa rencana kita setelah ini?" tanya Claura ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.

Haegan tampak berpikir sejenak. Ia lalu menggeleng. "Menurutmu?"

Claura memandang Agatha yang sedang tertidur pulas di jok belakang. Ia lalu mulai menyalakan mobil dan melajukannya pelan. "Entahlah, kau tahu aku benci musim dingin, ingin rasanya tinggal di negara tropis dimana kita akan melalui natal tanpa salju. Hahaha.. kalau memungkinkan. Bagaimana menurutmu?"

Claura melirik suaminya. Haegan sedang menatap keluar jendela, mengamati barisan pohon-pohon yang seolah berlari cepat menyaingi kecepatan mobilnya. "Entahlah, idemu terdengar sedikit gila tapi layak untuk dicoba. Paris selalu mengingatkanku akan Maman..."

***

Pemandangan 8th Arrondissement Street di malam hari selalu tampak indah. Di sisi kanan-kiri sepanjang jalan terbentang bangunan-bangunan gedung dengan arsitektur yang klasik. Warna bangunan yang didominasi oleh warna kuning keemasan, dibantu oleh lampu pencahayaan jalanan yang juga berwarna kuning redup niscaya mampu menawan mata siapa saja yang memandangnya. Belum lagi hiasan lampu kerlap-kerlip kecil yang sengaja dipasang merayap, meliuk-liuk menyambung antara satu gedung dan gedung lainnya sebagai peringatan ulang tahun kota.

Cafe Haegan berada di salah satu gedung tersebut. Hari ini cafe-nya tutup lebih awal. Pukul 20.00 waktu setempat, Haegan sudah berjalan pulang menelusuri 8th Arrodissement Street bersama Claura.

"Kabar apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Claura.

Haegan tersenyum jahil. "Coba tebak?"

Sebenarnya Claura sedikit kesal. Ia paling tidak suka jika pertanyaan yang ia lontarkan dijawab oleh pertanyaan lain. Ia hanya bisa menggeleng. Haegan tertawa melihat polah istrinya.

"Baiklah, ma princesse (puteriku), sepertinya aku akan mengabulkan permintaanmu untuk pindah ke negara tropis."

Claura membelalak tak percaya. "Vous plaisantez?! (apakah kamu bercanda?)"

Haegan menggeleng. "Non, chérie (tidak sayangku)."

"Lalu bagaimana bisnis cafe kita disini?"

"Monsieur Pierre bisa kurekrut menjadi kepala toko. Lalu kira rintis ulang cafe ini di negara tropis itu."

Claura masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lalu, kemana kita akan pindah?"

"Je ne sais Pas Encore. Peut-etre Indonésie? (Aku belum tahu. Mungkin Indonesia?)"



[1...]