SOCIAL MEDIA

14.6.13

#25 Dari Motsach :)

Siang tadi saya dikagetkan oleh kabar dari Inez, rekan kantor sekaligus adik tingkat saya di Komunikasi UGM. Katanya hari ini adalah hari terakhir  #31HariMenulis. Terus terang saya shock, tulisan belum jalan sesuai dengan ending cerita yang saya inginkan, beberapa tokoh yang saya ciptakan masih mati suri, bahkan ada beberapa yang belum bangkit dari ‘kubur’nya. Kenapa 31 hari rasanya cepat sekali?

Jujur, ini adalah tahun #31HariMenulis paling buruk bagi saya. Tahun ini adalah ketigakalinya saya mengikuti program #31HariMenulis dan tahun pertama saya tidak menulis full selama 31 hari :( Sedih banget rasanya pas tahu ternyata bolong saya di tahun ini ada 6 postingan. Padahal, saya rasa tahun ini saya sudah mempersiapkan konsep cerita yang cukup matang walaupun selalu dilakukan secara mendadak.

Tidak bisa dijadikan alasan sih, karena alasan selalu bisa dicari dan itu selalu karena tertidur dan kelelahan. Ide yang ada di otak rasanya menguap, kalah dengan mata yang ingin terpejam. Dalam hati kecewa banget rasanya melihat jalan cerita yang masih belum ditulis sempurna. Tapi di sisi lain saya berusaha untuk legowo, nggak papa deh toh sekarang saya sudah “sanggup” bayar denda sendiri. Hehehe :P
Tentang tema yang saya angkat di #31hariMenulis ini, Motsach, terinspirasi dari banyak film, buku, dan lagu-lagu yang nangkring di playlist (khususnya lagu-lagu John Meyer dan, tentu saja, Demi Lovato :3) Tak jarang ketika menulis, walaupun panjangnya hanya 1-2 paragraf, saya mendengarkan satu lagu yang saya rasa pas dengan mood yang akan saya bangun. Lagunya saya ulangi terus-terusan sampai saya merasa muak untuk mendengarkan lagu itu lagi. Beruntung kalau idenya mengalir lancar. Kalau nggak, jangankan ide cerita, mau denger lagu apa aja saya bingung banget! :))

Dalam 31 hari kemarin, Motsach sudah menjadi rumah bagi pikiran saya. Saya berkontemplasi dengan apa yang terjadi di sekitar. Ketika saya mengamati Ted Mosby dalam serial How I Met Your Mother, saya juga melihat sosok Travng, warga Vietnam yang sangat lovable. Ketika saya sedang membaca Kastil es dan Air mancur Yang Berdansa, saya langsung membayangkan seorang Haegen muda sedang berdiri di dekat jendela rumahnya di Paris yang dingin dan bersalju. Ketika saya membaca ulang buku TNT, saya melihat sosok Sella, perempuan tangguh yang keras dan berpendirian kuat. Ketika saya mendengar lagu beberapa band yeyeye~ lalalala~ di acara musik pagi yang membawakan lirik lagu tentang perselingkuhan, saya langsung ingat Armand, si lelaki atletis yang sangat berengsek. Begitu seterusnya...

Selama dua puluh empat hari, Mostach adalah embrio yang hidup dalam blog saya. Ia berusaha tumbuh, kadang menggeliat, namun tetap mengalaim hambatan. Mungkin usianya dalam dunia maya ini tidak bisa tahan lama. Maka dari itu saya berharap jika embrio Motsach ini dapat dikembangkan di luar, dengan cara berhenti takut pada pukul 24.00 dan denda RP.20.000 :P

Apalah arti sebuah tulisan tanpa ada yang membacanya? Maka dari itu saya berterima kasih untuk teman-teman yang pernah membaca, mengikuti cerita Motsach, ataupun tersasar di blog ini dan terlanjur baca. Terima kasih juga untuk Bang Wiro dan konco-konconya yang membuat semua blog kontestan #31HariMenulis memiliki statistik yang tinggi di bulan Mei. Semoga tahun depan ada lagi ;)

Terakhir, untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini. Percayalah, belajar untuk konsisten menulis selama 31 Hari itu tidak mudah. ;D


Salam gaul! \m/
-d-
11.6.13

#24 Vietnam

Pak tua itu menyodorkan sebuah menu kearah Travng. Ia lalu mencatat sesuatu dan berjalan menuju dapur untuk membuat sendiri secangkir moccacino panas pesanan pelanggan barunya itu. Kadang, jika ia sedang luang, Haegen memang sering meluangkan waktunya untuk berinteraksi langsung dengan pengunjung Motsach. Tak jarang ia jugalah yang langsung turun tangan dalam membuat pesanan para pelanggannya.

Travng, nama yang unik. Mengobrol sekilas dengannya cukup untuk membangkitkan kenangan Haegen terhadap Vietnam. Beberapa tahun setelah Haegen menginjakan kakinya di Indonesia dan bisnisnya ini sudah mulai berjalan, ia sempat meninggalkan Indonesia untuk berlibur sekaligus mencari resep ke Vietnam. Another tropical island. Banyak tempat indah yang ia kunjungi disana, banyak orang yang ia temui disana, banyak obrolan yang mengalir disana. Karena itulah Motsach lahir, diilhami dari tujuan Haegen untuk memfasilitasi para kutu buku, mewadahinya dalam satu tempat nyaman, berisi, dan tentu, memanjakan perut. Bookwarm: Motsach.

Lima belas menit berlalu, moccacino panas sudah siap di dalam sebuah cangkir berwarna oranye. Asapnya yang ringan keluar dari coffee artwork bergambar kelinci hasil tangan kreatifnya, menyebarkan semerbak aroma kopi. Dengan hati-hati ia membawa cangkir itu keluar dapur.

"Silakan," kata Haegen sambil menyodorkan moccacino-nya ke arah Travng. Terlihat di depan lelaki itu sudah ada teman perempuannya yang tadi diceritakannya.

"Sella, perkenalkan, ini adalah Mr.Haegen, pemilik Motsach." ujar Travng.

Haegen sudah familiar dengan wajah perempuan itu. Ia juga salah satu pelanggannya.

"Sella." Katanya sambil menjulurkan tangan yang disambut oleh Haegen.

"Baiklah, selamat menikmati hidangannya, Mr.Travng, saya akan kembali dan membawakan menu untuk Ms.Sella." Haegen berbicara dengan bahasa inggris berlogatnya sambil tersenyum ramah. Ia lalu berjalan menuju dapur dan menghilang di balik pintu.
10.6.13

#23 Waiting

“Menunggu seseorang?” sapa sebuah suara membuyarkan lamunan Travng. Pak tua itu menatapnya. Sorot mata biru ramah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Travng mengangguk. "Menanti teman."
7.6.13

#22 I'm Gonna Find Another You

Kenangan adalah pedih yang menjelma jadi bom waktu dan bersemayam dalam hati. Hanya diperlukan satu penyulut yang bisa membuatnya meledak, membanjiri hati dengan memori yang membuatmu kembali menguras airmata.

Sejak kali pertama kali Sella mengetahui fakta bahwa Armand meninggalkannya, Sella gusar dan terlalu berlarut dalam kesedihannya untuk waktu yang cukup lama. Berkemas adalah hal pertama yang dilakukannya. Ia meninggalkan rumah mereka dan menyewa sebuah apartemen kecil di pusat kota yang terletak lebih dekat dengan kantornya. Butuh beberapa waktu, beberapa bulan tepatnya, untuk benar-benar hilang kontak dari lelaki itu. Toh akhirnya ia bisa. Menggunakan semua waktu dan usahanya untuk memulai kembali hidupnya dari titik nol yang baru.

Sella memakirkan mobilnya, masih pukul empat kurang lima belas sore. Ia terlalu bersemangat sore ini. Yang benar-benar ia butuhkan untuk melewati situasi ini adalah dengan mengobrol. Lelaki bermata hazelnut itu sedikit mencuri perhatiannya. Jiwanya yang bebas membuat Sella sedikit iri, sebenarnya. Namun yang membuatnya bersemangat sore ini adalah cerita-cerita yang akan mengalir dari bibir lelaki itu seperti apa yang ia janjikan tadi malam melalui pesan singkat yang dikirimkannya.

Bergegas, Sella memasuki Motsach dan langsung menuju lantai dua. Tak perlu lama mencari, ia lalu menemukan sosok itu. Masih duduk di bangku yang sama, dengan gaya yang sama.

"Hai Travng."


[9...]


Baca cerita sebelumnya disini
6.6.13

#21 Gravity



Kerlip bintang samar-samar tampak di langit utara. Warna langit kini menua, menghapus jejak senja dengan ciptaan-Nya yang juga luar biasa. Tak ada yang tidak mengagumi langit sore itu.

Dari kaca jendela Motsach, Travng dapat melihat segerombolan burung terbang membentuk siluet indah. Gerak kepak sayap mereka seperti kuas basah yang menggores sehamparan kanvas dengan lincah. Mereka terbang beriringan. Bebas, lepas, namun entah kemana. Mungkin suatu tempat di Cina Utara, atau malah kutub antariksa? Asalkan bersama, tidak ada masalah, bukan?

Travng menghela napas, Motsach makin ramai malam itu. Kelompok orang berdatangan mengisi sofa-sofa merah dan kursi-kursi kayu tua yang terdapat di ruangan dengan berbagai macam tujuan. Di salah satu sudut, terlihat segerombolan remaja sedang asyik mengetik sesuatu laptop-nya masing-masing. Di pojok lain, terlihat sepasang kekasih yang sedang bertatap mesra, mengkomunikasikan isi hati mereka dengan tatapan-tatapan yang sulit dipahami. Travng menatap sofa merah di hadapannya yang tidak berpenghuni. Lebih baik begini, ucapnya dalam hati.

Travng menyeruput mocchacino-nya. Piring salmon and chips-nya sudah diangkat dan diganti dengan sepiring salad dan segelas air putih yang kini tergeletak di sudut meja. Secangkir moccachino  panas lalu datang. Alasannya untuk tak beranjak dari Motsach adalah dengan memesan banyak menu. 

"Permisi, Pak" seru sebuah suara mengagetkan Travng. Ia lalu menoleh dan menemukan seorang pramusaji berbicara padanya dengan Bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti. Ya, beberapa minggu di Indonesia Travng sudah menguasi beberapa kalimat singkat seperti 'selamat pagi', 'apa kabar', 'terima kasih', dan lain sebagainya.

Travng hanya bisa diam. Ia lalu menggeleng tanda tidak mengerti dengan apa yang baru saja pramusaji itu ucapkan. "Sorry, I can't speak Bahasa Indonesia."

"Ah," si pramusaji itu menepuk keningnya. "Sorry, please wait a minute." Ia lalu meninggalakan Travng yang terheran-heran di mejanya.

Tak berapa lama, si pramusaji kembali dengan seorang pria tua yang usianya kira-kira lima puluh tahun. Pak tua itu memakai setelan khas koki minus topinya. Rambutnya yang sedikit ikal terlihat memutih disana-sini. Perawakannya besar dengan perut yang menyesaki pakaiannya, namun raut wajahnya sangat ramah. Sepintas, Travng ingat dengan salah satu ikon perusahaan ayam goreng cepat saji ketika ia melihat pak tua itu.

"Hello, Sir." Sapanya kemudian ketika ia sampai di meja Travng. "Kami khawatir kami kehabisan meja untuk pengunjung. Maukah anda berbagi meja dengan pengunjung lain?" jelasnya dengan Bahasa Inggris yang lancar dan berlogat. Sepertinya pak tua itu bukan penduduk Indonesia.

"Oh ya, tak apa." Travng menangguk.

"Terima kasih atas pengertiannya." Pak tua itu lalu tersenyum dan meninggalkan Travang seorang diri di kursinya.

Tak lama, seorang perempuan berjalan ke arahnya dan duduk tepat di hadapannya. "Maaf karena harus berbagi meja. Motsach selalu penuh di malam hari dan aku sedang butuh secangkir kopi. Hanya kopi dari Motsach yang selalu bisa membuatku berpikir waras. Anda tidak keberatan, kan?" ucap perempuan itu.

Travng hanya bisa diam. Ucapan perempuan itu ia tangkap sebagai sirene kereta api yang terdengar di tengah kota. Bising, cepat. "Sorry, I can't speak Bahasa Indonesia," ulangnya.

"Ah!" Kata perempuan itu sedikit berteriak yang membuat Travng kaget. "Maaf sekali, tadi saya bertanya, apakah anda keberatan untuk berbagi meja dengan saya karena Motsach sedang penuh dan saya sedang butuh kopi yang tersaji disini," ucapnya dengan Bahasa Inggris yang fasih.

Travng mengangguk. "Ya, tak apa."

"Dan maaf karena langsung membombardirmu dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Saya kira anda orang Indonesia. Wajah anda sangat... Asia." Perempuan itu menurunkan intonasinya ketika mengucapkan kata terakhir. Matanya sedikit menunjukan penyesalan atas ucapannya yang spontan. "Maaf..." katanya kemudian.

"No problem. Saya memang orang Asia, dari Vietnam. Travng." Travng menjulurkan tangannya.

Perempuan itu tersenyum dan menyambut uluran tangan Travng. "Sella." Ia lalu mengeluarkan menu yang dari tadi ia bawa dan mulai membacanya satu persatu.

Travng mulai memperhatikan perempuan itu. Rambut hitamnya yang lebat panjang menjuntai hingga bawah bahunya, menutup muka mungilnya yang berbentuk oval. Alis tebalnya kadang menyatu ketika membaca daftar menu, mungkin ia sedang berpikir minuman apa yang akan ia pesan. Ia lalu memanggil pramusaji dan menjatuhkan pilihannya pada secangkir panas cinnamon coffee.

"Well, sudah lama di Indonesia?" tanya Sella ketika pramusaji beranjak pergi untuk membuatkan minuman pesanannya.

"Baru beberapa minggu."

"Apa tujuanmu kesini? Perjalanan bisnis, atau?"

Travng menggeleng. "Tidak, hanya traveling."

"Wow, dan kau memilih kota ini?" tanya Sella penasaran. "Maaf, aku hanya penasaran. Saat orang-orang Indonesia memilih untuk berlibur ke luar negeri karena bosan dengan negaranya, kau memilih untuk berlibur ke Indonesia. Aku hanya penasaran."

"Hahaha," Travng hanya tertawa mendengar pertanyaan Sella. "Indonesia adalah negara tujuan pertamaku. aku berencana keliling Asean dalam tahun ini."

"Dan kau melakukan perjalanan ini sendirian?"

Travng mengangguk, "Yep."

"Wow, kau gila!" mata Sella terbelalak kaget. "Dari dulu aku selalu berharap untuk menjadi seorang solo traveler sepertimu. Tapi kau tahu, itu hanya keinginanku saja, tidak pernah mulai aku wujudkan."

"Kenapa tidak kau wujudkan saja?"

Sella sedikit terhentak dengan pertanyaan Travng. Pertanyaan mudah yang sulit dijawab. Menjawabnya hanya membawa kenangan-kenangan buruk yang terjadi beberapa bulan yang lalu. "Nah, aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Aku seorang workaholic. Hahaha."

Pramusaji lalu datang, menyajikan secangkir cinamon coffee panas yang uapnya masih mengepul menyebarkan aroma kayu manis yang menggaruk tenggorokan.

"Apa yang membuatmu menyukai kopi di Motsach?" tanya Travng penasaran.

"Entahlah, resep rahasianya mungkin. Aku sering kesini sejak aku kuliah dulu. Kalau kau, apa yang membuatmu betah berlama-lama di Motsach?" Sella melirik piring salad yang masih ada di pojok meja.

"Aku suka suasananya. Nyaman."

"Persis! Sekali datang ke Motsach, kau pasti akan ketagihan untuk datang keesokan hari dan keesokan harinya lagi."

Obrolan mereka lalu berlanjut panjang. Diiringi petikan lagu John Mayer yang mengudara dari speaker yang ada di langit-langit, Travng mengetahui lebih banyak lagi tentang perempuan yang duduk di hadapannya ini. Kegilaannya pada kopi, candunya pada aroma tanah sehabis di guyur air hujan, kegiatan sehari-harinya yang kini dihabiskan dengan belajar bermain piano, dan seekor anak kucing jawa berbulu abu-abu yang baru saja ia adopsi dari pusat penampungan binatang liar. 

Secangkir cinamon coffee juga menjadi pendamping Sella dalam menyelami dunia kecil Travng yang terlampau kompleks. Cita-citanya untuk menjelajah tiga puluh negara sebelum usianya empat puluh tahun, keahliannya membedakan beragam jenis teh hanya dengan menghirup aromanya, obsesinya untuk membuktikan bahwa sebenarnya belum pernah ada manusia yang mendarat di bulan, dan betapa ia sangat ingin bisa mengendarai pesawat terbang.

Lampu Motsach perlahan mulai meredup. Tak terasa tiga jam sudah mereka mengobrol.

"Ups, sepertinya Motsach mau tutup." Ucap Sella.

"Ya, tiga jam berlalu hanya sekedipan mata, ya? Hahaha." Travng melihat arlojinya lalu berdiri diikuti Sella.

"Yep, senang mengobrol denganmu, Mr. Travng." Sella menjulurkan tangannya. Apa ini perpisahan? Apa kami tidak akan pernah bertemu lagi? Tanyanya dalam hati.

Travng menyambut uluran tangan Sella. Ia lalu menatap mata perempuan mungil itu. "Bagaimana kalau besok kita mengobrol lagi? Di sini pukul lima sore?"

Sella tersenyum, menyebabkan getaran aneh di rongga dada Travng yang dulu kosong.

"Matamu berwarna hazelnut." jawabnya keluar dari topik. "Dari tadi aku sudah sadar tapi aku lupa apa warnanya. Ternyata hazelnut."

Travng masih heran, kikuk dengan tangannya yang tak ingin melepas genggaman tangan Sella. Dan melalui tangan itu, mengalir udara hangat yang memercikkan sesuatu di perasaan mereka masing-masing.


[8...]


Baca cerita sebelumnya disini
5.6.13

#20 Before Home

Source

Sepiring salmon and chips baru saja tersaji di hadapannya. Uap panas masih mengepul dari piring itu. Travng mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca, When the Moon Dissapears, dan mulai makan. Matanya tak henti memandang coffee shop mini di lantai dua Mostach ini. Ia tak menyangka akan menemukan tempat se-cozy ini dalam perjalanannya di Indonesia.

Toko buku yang berada di lantai bawah cukup membuatnya takjub. Sebagai kutu buku, Travng betah berlama-lama menyusuri rak demi rak di setiap toko buku untuk membaca satu per satu back cover review yang ada disana. Sudah empat puluh lima menit ketika Travng memutuskan untuk membawa pulang buku When the Moon Dissapears. Ia hendak keluar dari Mostach dan menuju rumah makan pojok jalan sebelum ia sadar dengan keberadaan tangga di pojok rak buku tempatnya mengambil When the Moon Dissapears. Setelah meninggalkan kasir, Travng lalu beranjak menuju lantai dua.

Perutnya berbunyi keras ketika Travng menginjak anak kaki terakhir tangga. Aroma kentang goreng yang semerbak memenuhi hidungnya membuatnya semakin kelaparan. Ia lalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela besar di pojok ruangan dan memesan makanan. Senja juga tak kalah cantik ketika dinikmati dari tempat ini, gumamnya dalam hati.


[7...]


Baca cerita sebelumnya disini
4.6.13

#19 Change

Source

Perubahan itu selalu datang dan semua orang harus siap. Haegen menurunkai gerendai besi tempatnya berjualan. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Toko harus sudah tutup namun semua rotinya masih belum habis terjual. Haegen memutar kunci gerendai besinya dua kali ke arah kanan dan mengangkatnya sedikit untuk memastikan bahwa toko kecilnya sudah terkunci. Ia lalu berjalan gontai menuju apartemen sewaannya. Tangan kanannya menjinjing sebungkus roti sisa untuk bekal sarapannya esok hari.

Sorot mata tegas yang dimiliki Haegen kini tak lagi tampak. Yang tercermin dibalik pantulan mata birunya adalah hasil dari kerja kerasnya selama beberapa bulan disini. Rasa berat selalu ia rasakan di beberapa minggu pertama.  tapi sama seperti sungai yang melarutkan satu persatu kelopak bunga yang berguguran sebelum hilang dan hanyut ke muara yang lebih besar, perasaan lelah Haegen pun lama-lama sirna seiring dengan berjalannya waktu. Semoga ini langkah yang tepat, semoga semuanya berjalan lancar doanya selalu di setiap pagi.


[5...]


Baca cerita sebelumnya disini
3.6.13

#18 Bye, Paris

Source

Indonesia, 2005

Dua Natal sudah ia lewati tanpa salju. Ya, hidup di negara tropis sudah membuatnya cukup kewalahan. Apalagi kalau cuaca suka berubah tanpa bisa diprediksi. Belum lagi udara panas yang menyengat dan selalu membuatnya keringatan. Namun ia bertahan, demi memupuk masa lalunya dengan rencana-rencana yang sudah ia bangun.

Perlu waktu tiga tahun tahun sejak kematian Maman, Haegen baru siap memutuskan untuk pindah. Meninggalkan Paris dan semua yang ia punya disana dan memulai lembaran baru di negara yang jauhnya ribuan kilometer dan belum pernah ia kunjungi sebelumnya


[4...]


Baca cerita sebelumnya disini