SOCIAL MEDIA

4.6.14

Kerja di Televisi? - Bagaimana



Setelah lebih dari enam bulan kerja di salah satu televisi swasta (dan mendapatkan SK resmi dari kantor, hehe) sekarang saya mau cerita dan berbagi pengalaman suka dukanya bekerja di televisi, khususnya di bidang News atau berita :)

Let’s begin! :D

TV itu media audio visual, yang menurut saya sebagai penonton, saya bisa menikmatinya sebagai tayangan atau selingan. Penonton bisa dengan kesadarannya sendiri menonton berita karena ingin mencari informasi. Ia secara sadar memilih berita mana yang mau ia tonton, lalu ia lihat dan dengarkan dengan seksama dan syahdu. Selain itu, penonton juga bisa ‘menggunakan’ televisi sebagai kegiatan sambilan. Misal, nonton tv sambil mengerjakan hal lain, jadi tv nya hanya didengarkan dan sesekali baru dilihat. Makanya, TV harus memiliki kekuatan baik dari segi audio maupun visual. Ini “serunya” dunia tv.

Gambar yang kece akan menghasilkan tayangan yang oke. Sementara naskah yang dituturkan secara apik akan menghasilkan tayangan yang berkualitas. Kedua hal itu gak boleh terpisah.

Selama enam bulan ini saya lebih banyak membuat berita feature dibandingkan dengan hard news. Bisa dibilang, saya lebih dekat berurusan dengan potensi dan kreativitas UKM-UKM dibandingkan dengan meliput perkara KPK dan Tipikor. Lebih asik? Nggak juga :)

Penentuan suatu berita menarik atau tidaknya terletak pada di angle nya. Mau diolah seperti apa naskah yang dibuat? Mau diberi bumbu apa? Mau dikonsep seperti apa? Reporter adalah “tuhan” dari naskahnya sendiri. Satu objek liputan bisa dibuat menjadi beberapa berita dengan angle yang berbeda. Di berita feature, nggak ada berita yang “basi” kalau reporter bisa mendapatkan angle yang nendang.

Sementara ketika membuat berita hard news, usahakan jangan ada intervensi dari pihak manapun. Kecuali jika intervensi pada pihak tertentu adalah syarat utama perusahaanmu. Usahakan netral namun tetap berpihak. Berpihak pada siapa? Pada fakta di lapangan *cieelah yaz* :")

Cover both side juga jadi poin penting dalam sebuah berita, baik itu hard news maupun feature. Mintalah pendapat (sound bite) dari kedua belah pihak agar berita yang dihasilkan berimbang.

Sebagai reporter, tulis beritanya dengan kalimat ringan yang easy listening karena ingat, naskah yang ditulis akan disiarkan dalam bentuk audio. Jadi jangan terlalu banyak menceritakan hal yang sudah ada gambarnya, dan jangan menggunakan kalimat yang bertele-tele.

Sementara sebagai Video Journalist (VJ) atau campers, variasi pengambilan gambar juga diperlukan karena orang kan “menonton” televisi, bukan hanya mendengar televisi. Hehe.. Setelah enam bulan ikut belajar ngambil gambar, ternyata eh ternyata, ada banyak teknik pengambilan gambar dalam satu sequence gambar.

NAH, sekarang gimana sih ritme kerja di televisi?

Satu kata aja: GILA.

Untuk adik adik yang mau kerja di televisi harus tahu dulu nih kalau kerja di TV itu nggak kenal waktu. Perhatiin deh, kebanyakan TV di Indonesia siaran 24 jam. Setiap jam pasti ada program yang disiarin. Nggak berhenti kan? Nggak ada liburnya kan?

Hehe, tapi nggak sampe nggak ada liburnya juga sih. Yang penting harus buka mata dan hati lebar-lebar. Harus legowo kalau kerja di TV itu nggak kenal sistem tanggal merah. Anggap semua tanggal adalah tanggal hitam alias setiap hari masuk. Walaupun biasanya sistem kerjanya adalah 5-2 alias 5 hari masuk dan 2 hari libur, tapi 2 hari libur itu belum tentu hari Sabtu dan Minggu (tanggal merah).

Waktu awal masuk saya dapet sistem 6-1 alias 6 hari masuk dan 1 hari libur *jeng jeng jeng jeng!*. Setiap harinya saya harus bikin 1 berita. Terserah mau hard news atau feature, deadline naskahnya jam 9 pagi dan deadline videonya jam 11 pagi. Disini jiwa jurnalisnya bener bener digembleng. Tiap hari kerjaannya riset, telpon sana sini, keliling Jakarta, dan ketemu banyak orang dan narasumber yang dulu cuma bisa dilihat lewat TV. Sampe dibela-belain nginep di kantor walaupun pada akhirnya beritanya nggak tayang karena “belum layak”. Hahahaha.


Pada akhirnya kerja di TV itu harus berkomitmen tinggi. Harus selalu siap kapanpun dibutuhin, harus selalu punya ide segar untuk diaplikasiin ke liputan, harus cekaten ngejar narasumber, harus inisiatif riset, dan yang paling penting, harus mau terus belajar lagi, lagi dan lagi.

Percaya deh, enam bulan kerja di TV itu belum ada apa-apanya. Kalau saya, sementara ini masih ketagihan untuk belajar dan bekerja di dunia televisi. Intinya sih jangan takut. Selagi masih muda, selagi mampu lari-lari (untuk ngejar narasumber), sehat (kuat angkat-angkat tripod), dan punya keinginan untuk belajar banyak hal, TV bisa jadi alternatif kamu untuk berkembang. 

Selamat menentukan pilihan wahai para calon jurnalis! :D




**Kerja di Televisi merupakan subtema yang saya buat untuk berbagi cerita suka duka sebagai pekerja di bidang pertelevisian. Di update kalau selo atau lagi pengen nulis, wkwk :))