SOCIAL MEDIA

31.12.16

2016: Sebuah Epilog



Rasanya baru kemarin menulis prolog untuk tahun 2016, sekarang sudah di penghujung tahun lagi. Sungguh, waktu adalah variabel tak terdeteksi baik bagi yang menikmatinya maupun yang mengabaikannya. Lajunya secepat kilat, tapi jelas membawa perubahan. Sepanjang 2016 ini, banyak kejadian yang menempa mental seperempat abad saya. Dulu saya berpikir 2016 akan menjadi tahun yang biasa-biasa saja. Namun siapa sangka, perubahan terbesar dalam hidup saya justru terjadi di tahun ini.

Karena itulah saya mencoba mengingat-ingat lagi apa saja yang membuat saya bertahan, bergeming, dan bergembira di tahun ini. Saya percaya setiap kejadian adalah proses pendewasaan diri. Maka di malam yang sunyi dan hanya ditemani secangkir kopi panas ini, saya ingin merunut beberapa kejadian yang membuat saya tak henti berdecak kagum pada kehidupan dan kejutannya:


Traveling Bersama Keluarga
Dari dulu, keluarga saya termasuk dalam keluarga yang tidak begitu gemar piknik atau jalan-jalan. Pertama, karena kami lebih suka menghabiskan waktu libur untuk beristirahat di rumah (baca buku dan nonton tv), kedua, karena keluarga saya itu lebih suka yang simpel (kalau jalan-jalan kan repot harus packing, mempersiapkan itinerary, kalau mau piknik juga harus siap-siap bekal, kan lebih enak makan di rumah, nggak repot, dan banyak alasan lainnya). Tapi semua berubah ketika negara api menyerang  seiring berjalannya waktu. Hehehe..

Maka dari itu, traveling 4 hari 3 malam ke Singapore bersama Ibu dan Adik saya merupakan salah satu terobosan besar bagi kami. Ada perbedan jelas tentunya, antara traveling dengan teman dan keluarga. Kalau dengan teman sih tega-tegaan aja. Misal, mau hemat, ya tinggal cut budget dari salah satu biaya hidup kami disana, misalnya makan. Tapi kalau sama keluarga, rasanya nggak tega gitu. Hahahaha :)) Tapi nggak kapok, pokonya 2017 harus traveling bareng lagi! :D





Menikah
Ini nih yang benar-benar nggak terduga. Menurut saya menikah bukan perlombaan. Eits, ini pemikiran saya jauh sebelum menikah dan sebelum punya pacar, ya. Jadi rasanya kayak lagi mimpi aja gitu waktu kami selesai akad dan dinyatakan sah sebagai pasangan suami-istri oleh penghulu. Di pikiran saya, saya selalu punya ide untuk menikah di usia 27 atau 28. Tapi siapa sangka di usia 25 saya sudah menyandang status sebagai istri orang. Hehehe. Lucu juga ya, bagaimana kita bisa berencana, tapi Tuhan-lah yang pasti menentukan (dan memiliki rencana yang lebih baik) yang disampaikan melalui langkah-langkah yang saya ambil.

Sebelum menikah, sahabat saya di kantor juga menyelenggarakan pesta lajang ((pesta lajang)) alias bridal shower (bener gak sih?) untuk saya. Mereka pinter banget nyembunyiin rahasianya! Acaranya hampir gagal karena saya kejebak macet 7 jam dari perjalanan Sukabumi-Jakarta. Mereka tadinya sudah booking salah satu tempat makan yang heits buat foto-foto tapi akhirnya di-cancel dan mereka malah booking satu kamar hotel buat ngerjain saya. Disitulah saya di teriakin habis-habisan sampe dikasih tips honeymoon jos gondos (padahal mereka juga kan belum pernah :p). Seru banget deh pokoknya! Makasih ya Geng Lelah Pitching! Makasih Mak Erny, Apris, Luky, Becca, Agnes, Alma & Dara :')







Pergi Ke Bali
Selama 25 tahun hidup di dunia yang fana ini saya belum pernah sekalipun menginjakan kaki di Bali. Seriusan. Sempet ngerasa malu sih sama diri sendiri karena helloooowwww BALI GITU. Sampai pada akhirnya saya dan (ehm) suami memutuskan untuk honeymoon di Bali + Lembongan (kayaknya bakal saya tulis satu postingan khusus tentang ini). Awalnya kami ingin honeymoon ke luar negeri karena ada tiket promo ke Jepang, Korea, dan Thailand. Tinggal pilih aja tuh! Tapi masih mikir dua kali juga karena masih banyak perintilan lain yang harus diurus setelah nikah. Setelah menimbang sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bali. Sendiri dong, nggak pake tour-tour-an! Yeaaayyy!!





2016, menurut saya adalah tahun yang menyenangkan. Banyak kejutan nano-nano yang terjadi dan membuat saya berpikir lebih dalam lagi tentang arti hidup, interaksi dan hubungan antarpersonal, konflik persahabatan, pusing riset kerjaan (ini mah setiap hari :p) dan masih banyak lainnya. Saya tidak sabar menunggu kejutan apa yang terjadi di 2017 nanti. Gimana dengan epilog tahun barumu?


29.12.16

Sore Hari di Post Santa | Motsach #2

Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. 
Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.
(Tan Malaka)

Motsach #2: Post Santa

Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan ketika sedang jenuh. Paling cepat, peliariannya ya scrolling down instagaram sampai eneg atau nonton berbagai video di youtube. Tapi ada saatnya juga saya jenuh dengan kegiatan yang melibatkan interaksi melalui internet. Pilihan refreshing-nya ya kembali ke nonton, menulis, dan membaca buku. Pernah, suatu saat saya sedang sumpek dengan kerjaan kantor, narasumber nggak kunjung merespon pertanyaan, draft naskah yang mangkir dari target awal, dan banyak hal lain yang pada ujungnya berkesinambungan membuat mood saya tidak baik. Saat itu juga saya langsung keluar dari kantor, menuju tempat makan terdekat, memesan makanan yang membuat saya gembira (biasanya jenis makanan dessert) lalu membaca. Semua sarana komunikasi saya matikan. Dua jam kemudian, pikiran saya pun langsung kembali rileks. Saya kembali ke kantor lalu mencoba menguraikan permasalahan kerjaan yang tadi sempat saya "telantarkan".
23.11.16

Cozy Place Called Bookstore: BooksActually Singapore | Motsach #1


Motsach #1: BooksActually

Bookstore always be a magical place to me. I love the atmosphere, the smell of new books, the talk between visitors, and the music in the background. In fact, spending time in bookstore has become my hobby since I was 13. I can spend more than 3 hours, walking among books, judge it by the cover (yes I do), read the synopsis, and sometimes hiding my favorite book in the corner of bookshelf that rarely visited by visitor and pick up the book the following week when I have enough money to buy it. Hehe. 

11.11.16

Tips Merencanakan Liburan dengan Mudah bersama AirAsia

Nggak kerasa tinggal dua bulan lagi menuju tahun 2017. Time flies soooooo fast! Gimana, list resolusinya sudah tercapai semua belum? :)) Well, selain mensinkronkan antara resolusi dan realisasi, bagi saya akhir tahun juga identik dengan bonus akhir tahun (hehe) dan liburan!  

Yup, semua orang pasti senang berlibur dan mengunjungi tempat-tempat baru, tapi ternyata nggak semua orang bisa merencanakan liburan dengan mudah, lho. Ada kalanya rasa malas merencanakan bepergian ke tempat wisata membuat kita malah gagal berangkat liburan. Apalagi kalau liburannya bareng dengan teman se-gank, keluarga besar, atau bareng anak kecil yang segala sesuatunya harus disiapkan dulu.

Ujung-ujungnya gagal berangkat, lagi! No way! Di zaman serba digital kayak sekarang udah banyak cara yang bisa dilakukan untuk merencanakan liburan dengan mudah. Salah satunya dengan membeli tiket pesawat beberapa bulan sebelum waktu keberangkatan agar tidak kehabisan. Pssst, biasanya nih, harga tiket pewasat juga lebih miring kalau kita beli jauh-jauh hari! Jangan lupa juga perhatikan maskapai yang akan digunakan. Rekomendasi saya, coba cek tiket pesawat dari makapai AirAsia di Traveloka.com. Kenapa AirAsia? Jelas, bro dan sis, promo-promo AirAsia selalu ramah di kantong yang artinya akan menekan biaya perjalanan kalian. For your information, perjalanan ke Jepang (a.k.a Japan Stories) saya dan teman-teman kemarin juga menggunakan maskapai AirAsia pergi dan pulang. Harganya ramah di dompet! Kekekeke~ :D
10.11.16

Japan Stories: Serunya Keliling Museum Doraemon di Jepang!


Day 8.
Tokyo - Kawasaki




Hari kedua di Tokyo, sesuai jadwal, rencana kami mengunjungi kota Kawaski, tepatnya ke Fujiko F Fujio Museum alias Museum Doraemon! Datang ke tempat ini merupakan cita-cita kami bertiga. Gimana nggak, kami tumbuh dan besar dengan karya-karya Fujiko F Fujio Sensei. Sebut saja Doraemon, Ashari Chan, Q-Taro, P-Man, dan masih banyak lagi. Bahkan sampai sekarang pun saya masih tergila-gila sama tokoh robot kucing abad 21 itu! (Well siapa yang nggak? ;))

Sebelum berangkat, kami sempat tanya ke petugas hostel mengenai rute yang akan kami tempuh. Ternyata, sebagian perjalanan kami masih bisa ditempuh menggunakan JR Pass! Yes, lumayan kan masih bisa dipakai di hari-hari terakhir kami di Tokyo.
31.10.16

Disappointment



I'm not even gonna get mad anymore. 
I'm just going to learn to expect the lowest out of the people I thought the highs of. 
(Anonymous)


It was raining that afternoon.
Secangkir black tea yang saya pesan mengeluarkan uap yang menari-nari, tak lama sebelum akhirnya lenyap bercampur udara. Sama halnya dengan uap itu, ekspektasi saya pun perlahan luntur, menguap hilang melebur bersama situasi. Tentang apa yang yang pernah terulur erat, dan tentang apa yang pernah ditasbihkan sebagai ekspektasi.

15.7.16

Transportasi Dari dan Ke Kota Sukabumi



Secara geografis Sukabumi terletak diantara Bandung, Bogor, dan Jakarta, tapi terlalu jauh untuk menjadi kota penyokong diantaranya. Mengingat letaknya yang lumayan dekat dengan ibu kota negara dan Ibu Kota Jawa Barat, harusnya transportasi bukan masalah yang benar-benar berarti di Sukabumi. Nyatanya? Meh.

25 tahun saya hidup di kota ini sedikit sekali perkembangan transportasi antar kota yang terjadi. Pengen rasanya nyodorin mik ke pejabat yang berwenang dan meneror dengan pertanyaan-pertanyaan nyelekit supaya beliau sadar kalau transportasi antar kotanya tidak banyak berkembang. Transportasi untuk ke objek-objek wisata ini juga nggak jelas juntrungnya, well, kecuali kalau kamu bawa kendaraan pribadi.

Baca juga: AGAT 

WELL, kalau sedang berada di Kota Sukabumi, jangan khawatir, angkot masih bisa diandalkan. Carinya juga gampang karena beda trayek, warna angkotnya juga berbeda. Dari pink, tosca, putih, hitam, merah, kuning, hijau, dan lain sebagainya. Kalau tujuannya agak menjorok ke dalam (baca: di perkampungan) bisa mengandalkan ojek. Bukan Gojek atau Grab Bike ya, tapi ojek konvensional. Nggak usah khawatir tarifnya, masih bisa ditolerir banget dibandingkan sama tarif ojek di Jakarta :')

Baca juga: Kelezatan Durian Cikakak dan Pesona Tugu Cengkuk Sukabumi

Nah sekarang saya mau membahas transportasi dari dan ke Kota Sukabumi dari 4 kota besar diantaranya: Bogor, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.


13.4.16

Japan Stories: Nostalgia di One Piece Tower, Tokyo

Day 7.
Tokyo

Tokyo Tower di depan mata!

Karena sudah membeli 2 Day Pass di Hakone, di hari kedua, sebelum check out, kami berencana untuk muter-muter di Hakone lagi, salah satunya mengunjungi museum My Little Prince. Tapi apalah daya, tenaga kami sudah terkuras habis untuk jalan ke sana-sini. Jadi rencana kami berubah: istirahat di kereta. Hehe... Alhasil sekitar jam 8 kami sudah check out dan siap-siap menuju destinasi berikutnya: Tokyo.

Dari Stasiun Gora, kami kembali naik Hakone Tozan Railway, disambung naik Shinkansen ke stasiun tujuan akhir kami, Tokyo Station. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam. Selama perjalanan kami hanya bisa tidur! Pokonya bangun-bangun udah nyampe aja. Hahaha.. 
4.4.16

200


Source

Saya termasuk orang yang sangat jarang beli baju. Tapi, sekalinya beli pasti pilih yang benar-benar cocok dan ukurannya cukup.

Suatu hari saya beli sebuah baju berwarna hitam putih. Bahannya bagus, enak dipakai, harganya masih lumayan bersahabat dan (yang paling penting) ukurannya pas. Baju itu hanya saya pakai sesekali. Tidak pernah saya pakai liputan karena takut bau matahari dan kumal. Dipakanya hanya ketika sedang main atau jalan dengan teman-teman.

Karena kostan saya ada fasilitas laundry, saya mempercayakan kebersihan semua baju saya kepada Mbak Kos, termasuk baju hitam-putih saya itu. Singkat cerita, baju favorit saya itu kelunturan. Gondok sampai ubun-ubun rasanya. Mau marah juga nggak balikin keadaan, mau beli lagi juga udah tanggal tua. Pokoknya saya cuma bisa pasrah. Hikmahnya, dari kejadian itu saya bertekad untuk mencuci pakaian yang ada warna putih saya di laundry kiloan.
20.2.16

Japan Stories: Puas Keliling Hakone!

Day 6.
Hakone

Kumpulan Uma di Jinja Shrine, Hakone

Pada awal memutuskan untuk traveling ke Jepang, sama sekali tidak kepikiran untuk mengunjungi Hakone. Nggak banyak review yang membahas tentang area pegunungan di barat kota Tokyo ini. Menjadi bagian dari Fuji-Hakone-Izu National Park dan terletak 100km dari Tokyo, konon Hakone adalah salah satu lokasi ciamik untuk melihat keindahan Gunung Fuji. Nggak pake mikir dua kali, kami langsung memasukan Hakone dalam daftar temapat yang harus dikunjungi di Jepang! :D

Perjalanan kami mulai dari Kyoto, jam 6 pagi sudah teng stand-by di halte bus dekat hostel tempat kami menginap. Kalau sesuai jadwal, perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 3 Jam dari Stasiun Kyoto menuju Stasiun Gora, Hakone.

Dari Stasiun Kyoto kami naik Tokaido-Sanyo Shinkansen, dengan lebih dahulu memesan tiket semalam sebelumnya. Lebih enak, duduknya bisa bertiga sejajar. Lalu kami transit di Stasiun Shinagawa, transit menggunakan Tokaido Line menuju Stasiun Odawara. Bingung? Jangan dong! Peta kereta di Jepang itu sudah super lengkap. Walaupun sudah punya buku jadwal peta JR yang waktu itu didapat di Stasiun Osaka, andalan kami agar tidak nyasar adalah google maps! Jadwal petanya lengkap-kap-kap.

By the way, di Stasiun Odawara kami melihat satu counter khusus dengan tulisan "HAKONE" yang super besar. Semacam tourist center khusus bagi pelancong yang hendak ke Hakone. Kami pun mendekat dan langsung disamperin sama Ane-chan cantik yang fasih berbahasa inggris. Kami pun sepakat Ane-chan ini adalah orang dengan Bahasa Inggris terbaik yang kami temui di Jepang :)


8.2.16

Makan Gratis Seharian Ketika Ulang Tahun!



Kalian semua pasti tau jokes lawas ini. Dimana ketika kita sedang makan, terus tiba-tiba uang kita kurang, atau belum ambil uang di ATM, pasti ada temen yang nyeletuk, "Bayar aja pake KTP! Hahaha.."

Ternyata, itu bukan sekedar jokes, teman.

Berdasarkan riset yang dilakukan AC Nielsen Indonesia seorang-super-duper-traveler-sejati-banget-ala-ala-diaz-yang-mau-berusia-25-tahun, saya berhasil menemukan tempat makan gratis di Jakarta yang bisa dinikmati hanya dengan bermodal KTP. Yup, KTP. Syaratnya cuma satu: kamu harus berulang tahun.
10.1.16

2016: Sebuah Prolog



Kembang api beradu lagi, menghias malam di pergantian hari. 2015 telah berlalu. 

Ada rasa syukur yang pertama kali saya ucapkan malam itu: syukurlah saya tak ditugaskan meliput pergantian malam tahun baru. 2 tahun sebelumnya saya sukses jadi "ikan pindang" diantara lautan manusia sejagad Jakarta yang tumpah ruah di sepanjang Jalan Sudirman hinga Monas. Kapok. Tahun ini Alhamdulillah saya bisa dapat "libur" dan stand by di depan rentetan film-film channel Fox sampai tertidur.

Saya tidak terbiasa merayakan tahun baru, tapi saya suka atmosfir orang-orang yang menaruh harapan pada tahun baru. Seperti, mendongkrak semangat untuk membuat daftar resolusi, berlomba memilki target yang terbaik, dan lainnya. Sepertinya mendadak semua orang berpikir logis, mendeklarasikan kemampuan dirinya pada daftar-daftar keinginan beralasan. Atau bahkan berpikir liar, mencantumkan target tinggi yang entah kapan akan terealisasi :)