SOCIAL MEDIA

29.3.18

Terpesona Aceh



Jam menunjukan pukul 4 sore ketika Kapal Cepat Express Bahari bertolak dari pelabuhan Ulee Lhee Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan Sabang. Angin yang berhembus cukup kencang membuat perjalanan kami kurang bersahabat. Pasalnya, deburan ombak yang menghantam badan kapal membuat badan saya dibawa naik-turun seperti menaiki wahana roller coaster. Kata Dila, talent sekaligus akamsi (anak kampung sini) dari Banda Aceh, percuma saya beli tiket eksekutif, karena cara paling nyaman untuk “menikmati” ketegangan di kapal ini adalah dengan beranjak ke dek kapal. Konon angin segar lautan akan menghilangkan segala mual dan perasaan tidak enak badan lainnya.

Kami pun lalu menuju dek kapal dan benar saja, berselang 10 menit, perasaan mual dan pusing berangsur membaik. Hahaha, selamat tinggal tiket searga Rp.100.000 per orang~ *nangis bombay.

14.3.18

3 Bulan yang Menyenangkan



Sama halnya dengan Instastory, bisa dibilang hidup merupakan perjalanan dari padnaan titik-titik yang digariskan menjadi satu. Secara utuh, kita melihatnya sebagai pembabakan yang sempurna: lahir, hidup, mati. Tapi sebagai titik, pasti ada satu-dua momen tertentu yang akan dikenang bahkan menjadi sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup. Titik-titik tertentu itu bernama memoar.

Merunut ke tiga bulan terakhir membuat saya tak henti berdecak kagum atas kebesaran-Nya, kepercayaan-Nya untuk menitipkan karunia terindah terhadap individu kikuk seperti saya. Alhamdulillah.