3 Bulan yang Menyenangkan

14.3.18



Sama halnya dengan Instastory, bisa dibilang hidup merupakan perjalanan dari padnaan titik-titik yang digariskan menjadi satu. Secara utuh, kita melihatnya sebagai pembabakan yang sempurna: lahir, hidup, mati. Tapi sebagai titik, pasti ada satu-dua momen tertentu yang akan dikenang bahkan menjadi sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup. Titik-titik tertentu itu bernama memoar.

Merunut ke tiga bulan terakhir membuat saya tak henti berdecak kagum atas kebesaran-Nya, kepercayaan-Nya untuk menitipkan karunia terindah terhadap individu kikuk seperti saya. Alhamdulillah.

Semenjak mengandung banyak perubahan yang terjadi dalam diri saya. Tentu bukan hanya berat badan yang angkanya makin mendekati nominal titik didih air, tapi juga perubahan secara keseluruhan: mental dan pemikiran. Di beberapa buku dan artikel yang saya baca, banyak yang menyarankan ibu hamil untuk membuat jurnalnya sendiri untuk mengetahui perkembangan kehamilannya. Tapi apalah saya yang sekarang tulisan tangannnya makin menyerupai sandi morse dan berpengaruh signifikan terhadap hilangnya mood untuk menulis dengan tangan. Setelah berkontemplasi memikirkan akar permasalahan ini (baca: merenung di kamar mandi setiap pagi, niqmat~) akhirnya pada suatu malam dikala kepala cenat-cenut dan tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk merangkum momen-momen kehamilan dalam sebuah jurnal digital dengan sebutan Memoar Kehamilan. Ya, siapa tau nanti ketika anak saya sudah cukup dewasa dan sudah berkunjung ke Wakanda untuk penelitian tentang vibranium (ini penting), dia menyadari bahwa ibunya pernah nulis blog tentang momen kehamilannya (gawat, harus segera menghapus postingan berbau galau, gengsi cuy).

Jadi, berikut adalah dua momen paling berkesan dalam masa tri semester pertama saya mengandung:


GoJek dan Cerita Abangnya
Selama mengandung, saya tetap setia menggunakan GoJek sebagai sarana transportasi utama. Awalnya masih kikuk untuk menginformasikan keadaan saya yang sedang hamil ini kepada Abang GoJeknya. Rasanya gimana gitu, karena secara fisik saya masih terlihat seperti orang gendut biasa, bukan ibu hamil (padahal cuek aja yak). Tapi karena polisi tidur di Jakarta yang tingginya menyaingi sasak Syahrini dan jalan penuh lubang yang keberadaannya seperti Vicky Prasetyo (nggak dicari tapi ada terus), akhirnya saya selalu info lah ke abangnya seperti ini, “Bang, kalau ada jengglongan pelan-pelan, ya.”

Tanggapannya beragam. Kalau yang ngeh dan ngerti, biasanya langsung lihat ke daerah perut saya (tuh kan abangnya gak percaya) dan tanya balik, “Lagi hamil ya?” Ada juga yang iye iye aja tapi bawa motornya tetap ngetril. Sampe ada yang nggak ngerti:

“Jengglongan itu apa, Mba?”

“Itu mas, semacam jalan rusak atau polisi tidur.”

“Oooo itu.. Kalau di Jakarta namanya jaglukan, Mba. “

Ya mas, terserah elu (kata oe dalam hati).

Lima sampai sepuluh meter setelah jalan, biasanya si Abang GoJek ini mulai buka percakapan. Ya pertanyaan standar lah, asal dari mana, hamil anak ke berapa, kok bukan suaminya yang antar-jemput, dan setalah pertanyaan-pertanyaan umum seperti itu datanglah saat yang ditunggu-tunggu: si abang cerita tentang pengalamannya.

Suatu malam setelah pulang teng-go dari kantor, ada seorang abang GoJek yang cerita pengalamannya sebagai suami ketika menyambut anak pertamanya.

“Saya seneng, Mba, pas tahu istri saya hamil. Anak pertama saya jagain tuh istri saya bener-bener. Saya suruh resign aja dari kerjaannya. Kasian, Mba, litanya tiap hari muntah-muntah. Nggak kuat berdiri lama juga.” Katanya sembari sedikit teriak. Samar-samar saya cipratan air di muka. Hemmm.

“Oh gitu ya, Bang.” Jawab saya seadanya. Kesel karena kecipratan hujan lokal.

“Iya, Mba, tapi pas anak kedua mah saya nggak terlalu perhatian ke istri kayak pas dia hamil pertama. Biasanya gitu, Mba, kalau anak pertama itu suaminya perhatian sama istri. Istrinya juga serba hati-hati, nggak boleh kecapekan.” Si Abang masih lanjut cerita ketika kami sampai di lampu merah Kuningan.

“Sekarang istri saya lagi hamil anak ketiga, Mba, tapi saya sedih.”

Saya kaget. “Lah, kenapa Bang?”

“Semenjak resign kan istri saya jadi fokus tuh ngurusin rumah, saya kasihan, Mba, pas lihat istri saya beres-beres rumah, apalagi pas nyuci baju. Kayak capek banget gitu. Tadinya saya mau pakai uang tabungan buat beli mesin cuci, tapi keburu ketahuan kalau istri saya hamil. Jadi tabungannya buat periksa ke dokter dulu. Sampe sekarang kalau nyuci masih manual, Mba, kasian saya.”

Saya lalu diem. Bingung gimana komentarinnya.

Sementara lampu bangjo berubah menjadi hijau, motor kami melaju dan saya merespon pertanyaan si Abang.

“Bang, nggak boleh gitu. Abang harus percaya sama rezeki. Percaya udah ada yang ngatur. Banyak lho, Bang, orang diluar sana yang pengen punya anak. Abang dikasih titipan rezeki 3 anak, Bang. Insya Allah nanti suatu saat pasti bisa beli mesin cuci. Yang penting abang tetep kasih perhatian sama semangat ke istri. Kalau di rumah jangan capek-capek gitu, Bang.”

“Hehehe, iya, Mba. Saya sekarang lagi nabung lagi pokoknya buat beli mesin cuci, Mba.”

Saya cuma bisa iya-iya aja di obrolan selanjutnya sambil berdoa semoga si Abang dilancarkan rezekinya dan bisa membelikan istrinya mesin cuci baru. Amin.


***

Di lain hari, sehabis lembur dari kantor, saya kembali diajak ngobrol dengan driver GoJek yang berbeda.

“Anak ke berapa, Mba?” tanyanya ketika kami masuk ke Jalan Guru Mughni.

“Pertama, Bang.”

“Wah Alhamdulillah.” Kata si Abang. “Saya sudah 7 tahun nikah mba, belum punya anak juga. Mba dulu kosongnya berapa lama?”

Kosong? Lu kata ruangan, kosong. Kata saya dalam hati.

“Hmm sekitar satu setengah tahun.”

“Lah, emang nunda, Mba?”

“Nggak, Bang, suami saya tinggalnya di Malang. Baru mau pindah ke Jakarta bulan April nanti….”

Jadi kita jarang ena-ena, lanjut saya yang tentu saja saya ucapkan dalam hati #sikap.

“Oh gitu ya, Mba. Tapi emang sih kalau udah nikah jangan nunda ya, Mba, baiknya. Saya aja yang usaha terus lama dikasihnya apalagi yang nunda.” Ceritanya sambil nyetir. Alhamdulillah ya Lord nggak ada hujan lokal kali ini. “Istri saya pernah bilang katanya saya terlalu capek, narik terus tiap hari sampe malem. Ya gimana ya, Mba, namanya juga kerjaan. Saya sih ngerasanya nggak capek, pas pulang juga biasa aja gitu, nggak sampe capek yang gimana-gimana.”

Setelah cerita gitu, saya diem aja nggak ngejawab. Gimana ya, nunda atau nggak nunda punya anak kan prinsip pasangan masing-masing. Tapi untuk poin kedua abangnya, saya di pihak istrinya.

“Saya udah pengen banget punya anak, Mba. Sampe saya udah periksa kesehatan ke dokter. Alhamdulillah hasilnya normal. Cuma nih, Mba, istri saya yang nggak mau periksa. Takut katanya. Udah saya bujuk-bujuk sampe saya bawain bunga sama cokelat. Kalau diminta periksa pasti marah, berantem. Dia jadi sensitif, Mba..”

Saya diem lagi, nggak tau mau jawab apa.

Nggak lama motor yang saya tumpangi terjebak macet di perempatan Kuningan. Saya baru ngeh, kok si Abangnya diem aja, yak? Beberapa saat kemudian, saya intip-intip dari kaca spion, eh ABANGNYA NANGIS! Dia ngusap air mata pakai tangan kirinya.

“Bang,” panggil saya sedikit teriak untuk mengalahkan suara klakson motor butut yang gak tau diri di belakang.

“Ya, Mba?”

“Ikhtiar terus bang, jangan berhenti doa. Puasa. Solat malem. Minta ke Allah. Kalau udah waktunya Insya Allah bakal dikasih. Terus, Bang, coba sehari gitu Abang ambil libur nggak usah narik GoJek dulu. Jalan-jalan sama istri atau kemana gitu, biar nggak banyak pikiran & rileks. Itu ngaruh, Bang. Dulu saya kerja di XX juga gitu, nggak kenal waktu dan kalau ketemu suami ya yang dipikirin masih masalah kerjaan. Tapi pas udah resign, langsung tenang rasanya. Dulu rasanya sih ya biasa aja, namanya kerjaan, bilangnya sih nggak kecapekan. Tapi itu sebenernya kecapekan dan kepikiran juga.”

Si Abangnya ngangguk-ngangguk.

“Gitu ya, Mba. Saya mau coba, Mba kalau gitu.”

“Iya, Bang. Semoga berhasil ya, Bang…”


***

And that’s kid, is how your mother knowing more deeper meaning about being a pregnant woman. Mamak kau ini yang dulu cuma mikirin riset-trip-riset-liputan, dan mengabaikan pertanyaan kapan punya anak (well, sampai sekarang masih risih juga sih kalau dapet pertanyaan gitu. Pengen mamak sumpel mulutnya pake tazos Tom And Jerry), sekarang makin ngerti betapa karunia Allah ini begitu dahsyat mempengaruhi mindset seseorang.

Ada pasangan yang nggak mau tambah anak, ada yang menanti anak tapi belum diberikan titipan, ada yang menikah untuk berdua menua menikmati hari bersama, ada pula yang menikah untuk berdua dan mendapatkan keturunan, ada yang memilih tidak menikah, ada yang masih menunggu jodoh, ada yang masih fokus mengejar karir… Selalu ada opsi-opsi dalam kehidupan yang nggak akan pernah tahu kemana muaranya sebelum benar-benar dijalani.

Makanya kenapa yang namanya punya prinsip itu masih jauh lebih penting daripada punya ber-K-K followers di Instagram.


Belajar Sabar, Sabar Belajar
Kalau orang-orang bilang ibu jari netizen itu lebih kejam dari pada Ibu Kota, itu benar. 100% benar. Tapi, kadang yang nggak kita sadari, kita dan lingkungan sekitar adalah bagian dari netizen itu sendiri.

Being pregnant after one and a half year married it seems normal for me. Prinsipnya anak itu rezeki, akan datang di saat yang pas sesuai dengan kehendak Tuhan. We have lot of ups and downs, we have our own reason, universe has their own path and absolutely God always have better plan. Just believe everything has its own time. Melalui kehendaknya, tangan-tangan kecil bernama takdir menyusun garis hidup kita. Lewat untaian pilihan, peristiwa, dan keputusan-keputusan yang kita ambil.

That’s why, kadang saya merasa komentar netizen itu lucu sekali. Apalagi jika itu datang dari kerabat sendiri. Di rasani lah, di sebut terlalu ini-itu lah, padahal saya dan pasangan woles-woles aja. Sikap dan ucapan yang nggak enak itu bagai kutu di rambut yang rasanya ingin kupitas-pitas semuanya~

Dan dari banyak perkataan dan obrolan itulah yang membuat saya sabar menghadapi sifat orang yang selalu mau benar. Berpikir dan refleksi lagi, jangan sampai ternyata saya juga pernah melakukan atau melontarkan hal yang sama kepada orang lain tentang hal ini. Sabar bukan berarti diam juga, sih. Kadang kalau sudah kesel dan ada tenaga ya dilawan lagi dengan perkataan dan bukti-bukti. Kalau lagi males (kebanyakan sih bagian malesnya) ya sudah, biarkan saja mereka bersabda. Selalu ingat: tong kosong nyaring bunyinya.

Beruntunglah sebagian orang yang saya kenal juga supportif. Disini saya banyak belajar. Ditambah lagi saya sudah terbiasa riset kepo, dan keterbukaan informasi memudahkan saya untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan secara online. Berbagai macam sumber informasi ditambah support dari banyak sahabat membuat kehamilan ini terasa makin menyenangkan.

Sebagai mahluk hidup dan sebagai perempuan, ternyata saya masih saaaaangaaat sedikit sekali tahu tentang potensi tubuh perempuan yang sebenarnya. Tidak ada kata terlambat, maka saya akan terus penuhi hasrat keingintahuan dengan sabar belajar, menanti babak baru yang akan datang dalam hitungan bulan lagi! Belajar sabar, sabar belajar.

And that's kid, is how your mother realize keberadaan kamu nggak sekadar mengubah mamak secara fisik, tapi juga mental dan pemikiran. Keberadaan kamu juga membuat mamak balik lagi ke kodrat manusia yang selalu ingin banyak tau, merasa masih bodoh, dan ingin belajar lagi. Kadang orang lupa kalau selalu ada hikmah dibalik peristiwa Sudah tugas manusia untuk nggak boleh berhenti belajar. Kayak kata orang-orang, kejarlah ilmu sampai ke Negeri Jepang (kenapa Jepang? suka suka dong~ wkwk).

***

Sebenarnya masih ada buanyaaaaaak sekali cerita dan pengalaman dari 3 bulan yang menyenangkan ini. Tapi, seperti yang saya tulis sebelumnya, dua momen tadilah yang membuat saya bener-bener merasa tertohok dan bersyukur di saat yang bersamaan.

Jadi nggak sabar dengan momen-momen lain yang akan terjadi di kemudian hari! :')

You Might Also Like

2 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!