Terpesona Aceh

29.3.18



Jam menunjukan pukul 4 sore ketika Kapal Cepat Express Bahari bertolak dari pelabuhan Ulee Lhee Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan Sabang. Angin yang berhembus cukup kencang membuat perjalanan kami kurang bersahabat. Pasalnya, deburan ombak yang menghantam badan kapal membuat badan saya dibawa naik-turun seperti menaiki wahana roller coaster. Kata Dila, talent sekaligus akamsi (anak kampung sini) dari Banda Aceh, percuma saya beli tiket eksekutif, karena cara paling nyaman untuk “menikmati” ketegangan di kapal ini adalah dengan beranjak ke dek kapal. Konon angin segar lautan akan menghilangkan segala mual dan perasaan tidak enak badan lainnya.

Kami pun lalu menuju dek kapal dan benar saja, berselang 10 menit, perasaan mual dan pusing berangsur membaik. Hahaha, selamat tinggal tiket searga Rp.100.000 per orang~ *nangis bombay.

Selama perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang sangat memanjakan mata. Air laut yang jernih hingga penampakan Pulau Sabang yang perlahan tampak dari kejauhan, membuat saya makin tidak sabar untuk menjelajah pulau yang terkenal dengan kekayaan ekosistemnya ini!

Menuju Pulau Weh!
Narsis dulu boleh yaa~
Kurang lebih setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami menginjakan kaki di Pulau Weh! Kami lalu bertolak ke penginapan di Casa Nemo, yang beruntungnya, memiliki akses langsung ke Pantai Sumur Tiga. Yang unik, air laut di pantai ini bergradasi: toska, biru muda dan biru tua! Seumur hidup baru pertama kali saya lihat yang seperti ini, pengen nangis saking bagusnyaa! *lebay*  Belum lagi hamparan pasir putih yang terbentang sepanjang dua kilometer, yang konon juga merupakan garis pantai terpanjang di Pulau Weh, rasanya semua penat dan lelah hilang begitu saja! 

Sebenarnya nggak begitu banyak hal yang bisa dilakukan di pulau Weh selain bersantai, berfoto, dan berpantai! Pulau ini seolah-olah dirancang untuk leyeh-leyeh, kita seperti dituntut untuk menikmati pemandangan, dan kembali menyatu dengan alam. Biar eksis, jangan lupa untuk berfoto di titik nol kilometer dan di taman Sabang dengan tulisan I Love Sabang (“s” nya ditutupin aja biar bisa dapet foto I Love abang. EAA~). 

Pantai Sumur Tiga
I Love Sabang!
Pemandangan dari Benteng Jepang
Ngumpet di bayangan tapi tetep item keling juga :')
Tapiiiii satu hal yang wajib, kudu, dan harus dilakukan adalah snorkeling dna diving! Yang belum bisa dan belum pernah diving seperti saya jangan khawatir karena tersedia banyak paket diving lesson untuk pemula. Biasanya sih banyak pelancong datang kesini khusus untuk belajar diving dengan durasi satu minggu. Tapi berhubung waktu kami sangat singkat, kami mengambil paket diving lesson singkat sehari saja. Dengan biaya Rp.600-800ribu per orang, pengunjung bisa mendapatkan satu sesi diving lesson dan langsung terjun menyelam di kedalaman 7 hingga 10 meter, tergantung dengan kemampuan masing-masing individu. Sayang, ternyata saya masih kaku sekali di dalam air (padahal saya biasa aja sih ngerasanya, tapi kata instrukturnya terlalu kaku, wkwkwk) jadi hanya bisa di kedalaman 7 meter saja.

Kami diving di Pulau Rubiah, sebuah pulau kecil yang terletak di barat laut Weh. Luas pulau ini hanya 20 hektar, dan merupakan pulau yang tak berpenghuni. Pulau Rubiah merupakan salah satu spot favorit divers karena keanekaragaman hayatinya. Untuk menuju ke pulau ini diperlukan waktu kurang lebih satu jam berkendara mobil dari tempat hotel menginap menuju Pantai Iboih. Dari pantai Iboih kami menggunakan jasa Scuba Weh Diving Centre untuk menuju ke Pulau Rubiah. Jaraknya ternyata sangat dekat, hanya 15 menit menggunakan kapal speed boat.

Diving singkat!
Puas menyelami keindahan bawah laut, belum lengkap rasanya kalau belum menyantap sate gurita khas Sabang! Satenya beli di Uda, seorang pedagang sate yang kelezatannya sudah terkenal seantero Pulau Weh! Sate gurita bisa disajikan dengan dua macam bumbu pilihan: bumbu padang dan bumbu kacang (atau familiar juga disebut bumbu jawa). Andalan saya sih yang bumbu padang! Rasanya enak banget, kenyel-kenyel dan rempahnya meresap hingga ke daging guritanya! Duh jadi kepengen~

Sate Gurita Bumbu Padang! Yum!
Sunset di Sabang
Dari Pulau Weh, kami lalu bertolak ke Banda Aceh. Belum sah rasanya ke Aceh kalau belum mengunjungi Masjid Agung Baiturrahman. Perlu diingat ya buat kamu yang mau kesini harus berpakaian sopan dan tertutup. Buat perempuan jangan lupa untuk gunakan rok dan kerudung, buat perempuan non muslim jangan lupa bawa pashmina untuk slampiran. Nah sialnya saya nggak tau kalau harus pakai rok, padahal baju saya lumayan panjang sampai lutut. Tapi karena takut dibatinin orang (wkwk) akhirnya saya pinjam sarung Bang Aul untuk nutupin celana! Hahahhahaha

Masjid Raya Baiturrahman, sayang payungnya belum dibuka
Gak kelihatan aja itu bawahnya pake sarung. Wkwk
Another item ticked off from my bucket list: mengunjungi Museum Tsunami. Merinding banget rasanya berkunjung ke museum 4 lantai yang mengingatkan kembali pada tragedi tsunami 26 Desember 2004 silam ini. Menyusuri ruang renungan, ruang berkaca, memorial hill, ruang The Light of God, nonton footage peristiwa tsunami… sukses bikin terharu dan merinding! Sayang di dalam museum nggak sempat banyak foto-foto karena terlalu menghayati isi museumnya.

Dari Museum Tsunami, kami bertolak ke salah satu kedai kopi yang terkenal akan kelezatannya. Yup, belum pas rasanya ke Aceh tanpa menyicipi kopinya! Masyarakat disini punya racikan kopi andalan: kopi sanger. Bukan diracik oleh barista kelas atas dan tidak selalu terbuat dari bubuk kopi nomor wahid, tapi percayalah segelas kopi sanger nggak akan cukup! Sanger itu merupakan singkatan dari sama-sama mengerti. Konon cikal bakal nama kopi ini dimulai ketika banyak mahasiswa di Aceh pengen ngopi dengan budget pas-pasan. Kompromilah si mahasiswa itu sama pemilik kopinya supaya dia tetep bisa minum dengan harga yang murah dan keduabelah pihak sama-sama ngerti (sanger). Mahasiswa pengen kopi murah, penjual kopi ingin kopinya cepat laku. Maka terciptalah kopi sanger! :))

Racikannya juga sederhana: espresso ditambah dengan susu kental manis. Itu sudah! Semacam dolce latte gitu deh, tapi enak (di lidah dan di kantong) hahaha, karena harga segelasnya berkisar antara 5-10 ribu rupiah saja~

Oh ya, ketika kopi dicampur dengan susu, kopi juga ditarik-tarik sehingga menghasilkan busa yang yummy (mirip pembuatan teh tarik). Enak banget! Nggak cukup segelas deh pokoknya! Favorit saya sih yang disajikan dingin.

Ngomong-ngomong tentang kopi, setelah ngobrol dengan warga setempat ternyata di Aceh itu budaya minum kopi sudah mengakar, turun-temurun. Iseng saya tanya, kan, apa nggak pada takut susah tidur kalau kebanyakan minum kopi? Dia hanya enteng menjawab, “justru kalau belum ngopi nggak bisa tidur, mbak, rasanya!” Nahloh. Jadi gini jadwal dia minum kopi: pagi hari sebelum beraktivitas, pagi hari ketika tiba di kantor, setelah makan siang, ketika nyemil-nyemil sore di kantor, setelah makan malam, dan sebelum tidur! *elus-elus lambung* :))

Hepi kerjaan kelar di depan Museum Tsunami
Penampakan Kopi Sanger
Pemilihan biji kopi.
Biji kopi disangrai.
Biji kopi didinginkan.
Biji kopi digiling.
Proses pembuatan kopi sanger.
6 hari di Aceh rasanya nggak puas! Masih pengen banget eksplor sana-sini, apalagi ide staycation di Pulau Weh amat sangat menggoda! Hahaha.. Mungkin suatu hari nanti kalau dapat cuti panjang saya akan balik lagi kesana. Kembali nyemplung dan kembali hitam-keling wkwkwk.. 

Oh ya untuk penerbangan ke Aceh juga sangat fleksibel kok, jadi nggak usah bingung gimana cari tiket pesawatnya. Untuk Tiket Pesawat Garuda Indonesia misalnya, ada tiga kali penerbangan dalam sehari. Saran saya: jangan capek berburu tiket murah! Hehehehe, yups, tiket diskonan adalah koentji. Makanya bisa juga kulik-kulik situs travel untuk dapetin harga miring, di Skyscanner misalnya. Nggak cuma tiket pesawat, kalau mau cari hotel, apartement, sampai sewa mobil juga bisa. Gampang banget cuma sekali klik!



Jadi gimana, sudah siap buat ikut terpesona Aceh seperti saya? ;)



-----
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

You Might Also Like

23 comment(s)

  1. Sate guritaaa.... enak banget kayaknya ituu... kopinya jugaa... jauh2 ke Aceh worth it banget berarti yaa... tapi memang harus nyiapin setidaknya seminggu kalau mau kesana... hmmm... next destinantion travel lah ini mah... to do list... >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, May, enak banget! Pokoknya siap-siap libur yang panjang aja kalau mau ke Aceh! :))

      Delete
  2. Honeymoon lagi beb ke Sabang nginep di Freddies biar buka jendela langsung pantai...

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen ke Aceh ih! Keep writing, Yaz! :)

    ReplyDelete
  4. Ihh kan.. Jadi pengen ke Aceh abis baca inii.. :))

    ReplyDelete
  5. Keren banget, udah lama pengen ke Aceh tapi belum kesampaian huhuhu

    ReplyDelete
  6. hai mba salam kenal, ayo ke aceh lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga ya :)
      Mau banget! Semoga bisa kesana lagi :)

      Delete
  7. Wha berarti sama dong pernah live boat ya? emang seru banget! Laut di Aceh juga ga kalah bagus sama Timur Indonesia :")

    ReplyDelete
  8. Nuhun followbacknya dong mba ehe http://www.onixoctarina.com/

    ReplyDelete
  9. Wuaa ada ikan nemo,masih bersih bagus ya pantai disana

    ReplyDelete
  10. Gilak, keren. jadi kangen pengen naik kapal lagi.

    ReplyDelete
  11. aku suka kopi sanger.. duh bikin rindu banget lah Aceh ini.

    ReplyDelete
  12. Aceh itu seperti satu tempat dengan wisata lengkap. Landscape, sejarah, kuliner, edukasi, budaya...ah lengkap deh. Kangen Aceh!

    ReplyDelete

So, what do you think? Leave your comments below!