9 Bulan yang Tak Terlupakan: Cerita Persalinan

7.11.18



Ketika hamil di trisemester pertama, salah satu sahabat saya pernah bilang bahwa dia nggak sabar untuk mendengar cerita persalinan saya nanti. Awalnya saya nggak paham, tapi sekarang saya ngerti karena tiap kehamilan dan persalinan punya ceritanya sendiri.

14 Agustus 2018.
16.00
Lepas 4 hari dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang telah ditetapkan oleh dokter, saya merasakan mules-mules sedap yang pertama di Hari Pramuka ini. Waktu sore-sore lagi jalan-jalan beli bakso goreng di komplek rumah, tiba-tiba pinggul belakang saya nyeri. Wah asik, sebentar lagi ketemu bayi! Gumam saya waktu itu. Pikiran pun masih hepi, rileks dan tenang. Saya bilang ke suami kalau udah mulai sakit, tapi masih sanggup jalan. Jadilah kami teruskan kegiatan jalannya sambil makan bakso goreng (jangan ditiru).

21.00
Kontraksi dirasakan lagi tapi masih belum intens, kira-kira satu jam sekali lah dengan rasa sakit yang biasa-biasa aja (belum tau aja lo, yaz! wkwk).



15 Agustus 2018
06.00
Karena kontraksi semalam yang mulai intens, saya memutuskan untuk pergi ke bidan di dekat rumah. Disinilah saya PERTAMA KALI merasakan yang namanya CEK DALAM. ALLAHUAKBAR GAK NYAMAN BANGET hahahaha. Saya sempat kentut saking tegangnya. Malu banget karena bau semriwing~ langsung memenuhi ruangan (bangga). Ternyata kata bidannya masih bukaan satu dan kepalanya sudah bisa diraba sedikit. Berdasarkan info USG seminggu yang lalu sih kepala bayi sudah di bawah (sudah dari kehamilan minggu ke 36) tapi belum masuk panggul. Tapi bidannya sudah bisa meraba kepala bayi, semoga bayinya sudah masuk panggul, batin saya waktu itu.

17.00
Kontraksi makin aduhai intensnya bak gebetan yang saling whatsapp: bersahutan tiap menit, uhlala~ Saya ingat betul intervalnya tiap 15 menit sekali dengan durasi 1-2 menit kontraksi. Udah mulai gelisah dan nggak nyaman ngapa-ngapain, pengennya duduk di gymball. Kasur pun jadi musuh utama saya karena rasanya gak enak banget duduk atau tidur di kasur. Gym ball to the rescue pokoknya!

20.00
Karena udah nggak kuat, saya minta suami untuk mengantarkan ke RS, kayaknya bukaannya udah nambah. Cus lah kami ganti baju. Alhamdulillah semua keperluan bersalin sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, semua tas sudah duduk manis di bagasi mobil. Saya, suami, mamake, dan adik pun langsung meluncur ke rumah sakit. Setibanya disana saya langsung masuk ke UGD dan DICEK DALEM LAGI sama bidan jaga. Curhat dikit ya bunda, kadang sebel deh kalau lagi di cek dalem gitu pasti semuanya, literally SEMUANYA bilang rileks aja, jangan ditahan, tangannya gak bisa masuk, YA MENURUT NGANA AJA, ogut udah rileks masih aja dibilang jangan jepit jangan jepit~ :’) *emosi jiwa tapi tetap senyum karena mau ketemu dede bayi (afirmasi positif, ceunah, wkwk).

Lalu sebuah kabar menggemparkan datang dari Bidan jaga, “Teh, ini mah masih belum ada bukaan.” WHAT?? Hmm saya lalu galau, sudah sesakit ini masih belum ada bukaan juga? Kok tadi pagi cek di bidan dekat rumah katanya sudah bukaan satu? Mbak Bidan jaga pun hanya bisa tersenyum, tak menjawab gemuruh pertanyaan yang bertubi-tubi saya lontarkan (uhuk, former jurnalis cenah, uhuk).

Keputusan pun ada di tangan saya, apakah mau menginap atau pulang. Katanya kalau nginap cuma dikasih waktu 8 jam untuk observasi, kalau bukaannya belum nambah akan ditawarkan induksi. Hmmm.. berasa bikin naskah aja ada deadlinenya. Saya pun memutuskan untuk pulang dan menikmati sensasi kontraksinya di rumah sahaja.



16 Agustus 2018.
09.00
Pagi ini saya kembali lagi ke rumah sakit karena memang jadwal kontrol mingguan. Sebelum di USG, saya melakukan cek cardiotocography (CTG) atau rekam jantung bayi terlebih dahulu. Alhamdulillah hasilnya masih positif dan denyut nadi bayinya tidak kurang atau lebih dari batasan normal (120-140/menit). Kontraksinya pun masih cakep, mundur lagi intervalnya jadi 15 menit sekali dengan durasi 30 detik-1 menit. Sambil nunggu antrian periksa, kontraksi yang aduhai ini membuat saya nggak bisa diam. Kalau duduk rasanya makin kerasa gitu. Jadi selama nunggu saya jalan-jalan, jongkok, jalan, jongkok, gitu terus sampe pegel hehehe. Oh ya, dari awal dan selama kontraksi berlangsung Alhamdulillah nggak ada drama teriak-teriak dan cakar-cakaran. Saya cukup diem, nggak ada orang yang boleh nyentuh badan saya, atur napas (tarik dari hidung, keluar dari mulut), dan pegangin tangan suami atau mamake hehehe.

Setelah dokter datang dan di USG, sedih banget ternyata dede bayi masih belum masuk panggul. Dalam hati mbatin, kayaknya udah melakukan banyak cara deh: jalan, duduk di gymball, yoga dari yucup, hmm apa masih kurang ya… Lalu dokter pun melakukan CEK DALAM LAGI, Alhamdulillah sudah bukaan dua.

20.00
Malamnya ketika pipis ada bercak darah sediiikiiit banget, akhirnya kami memutuskan kembali ke rumah sakit. Pas DICEK DALAM LAGI, kata bidan jaga sudah bukaan 3! Wah asik, karena saya yakin sebentar lagi dede bayi akan lahir, maka saya memutuskan untuk menginap di rumah sakit.


17 Agustus 2018.
00.00
Suster dan bidan melakukan CEK DALAM LAGI dan bukaan sudah maju sampai bukaan 4! Suster pun meminta saya untuk beristirahat dan memanggil suster jaga kalau merasa seperti mau mengedan. Oke sus siap!

06.00
Setelah menjalani malam panjang, saya mengabaikan arahan suster untuk tidur karena kontraksi makin intens dan sakit rasanya seperti ada panas yang menjalar dari pinggul sampai leher (btw, kontraksi memang sakit ya, saya nggak pakai istitlah gelombang cinta gak papa yak, hehehe). Kasur pun masih menjadi musuh utama. Rasanya serba salah gitu kalau duduk atau tiduran di kasur, lebih nyaman di gym ball (dibawa). Dari jam 00 sampai jam 06 pagi, kontraksi datang 15 menit sekali dengan durasi 30-1 menit, nyoba tidur juga nggak bisa :’) Suster lalu melakukan CEK DALAM LAGI dan masih bukaan 4 dan kepala bayi masih belum bisa diraba:’( Rasanya kayak ditampar segepok uang 100 ribuan (sakit-sakit-sedhap) karena bukaannya belum nambah :( Suster pun menyarankan saya untuk pindah ke ruangan inap dari ruangan bersalin. Setelah melakukan CTG saya pun pindah ke ruangan inap.

Nggak lama berselang, pas lagi asik-asiknya main gym ball, suster mendatangi saya. Katanya hasil CTG tidak terlalu bagus karena denyut jantung bayi melemah dibandingkan dengan hasil CTG yang terakhir. Ia pun menawarkan alternatif induksi namun hanya bisa dilakukan satu labu (satu kantong, sekitar 4 jam kontraksi) saja mengingat hasil USG terakhir saya air ketuban bayi sudah sedikit dan terlihat keruh (walaupun plasenta masih aman, tidak ada pengapuran dan posisi di atas) atau langsung tindakan bedah sesar. Saya langsung menolak dan minta waktu seminggu untuk badan saya memproses kontraksi lengkap, dan bayi turun panggul. Dalam pikiran saya, saya udah siap aja gitu mau pulang lagi ke rumah dan kembali menikmati kontraksi di rumah sambil nonton tv dan makan coklat. Mungkin dokter sudah mengantisipasi jawaban ini, melalui suster usulan saya ditolak. Saya pun sedikit kesal karena toh ini hanya masalah waktu: bayi masuk panggul dan bukaan lengkap. Tapi suster dengan sabar menjelaskan bahwa ada beberapa resiko pada bayi jika ketuban keruh. Suster juga mengingatkan kalau hari ini tepat usia kandungan saya 41 minggu (Dokternya malah ngitung ini sudah masuk di minggu ke-42). Dijelasin gimana pun pikiran saya masih ngeblock, karena ada kok teman-teman saya yang melahirkan di usia kandungan 41 minggu plus plus.

Disinilah drama dimulai (kapan ya Lord, hidup saya terbebas dari drama~). Mamake dan adik setuju jika saya melakukan bedah sesar, sementara suami mah ikut aja terserah saya. Mau induksi hayuk ditemenin, mau bedah sesar juga nggak papa yang penting semua sehat. 

And decision has to be made, jam 13.45 akhirnya Daario Pramudya Aksara lahir ke dunia melalui bedah sesar.

Alhamdullah, senang dan bahagia banget waktu pertama kali melihat Daario nangis. Jadi ini, jadi dia, yang saya selama ini saya tunggu sudah hadir di depan mata dengan kondisi yang sehat walafiat, Alhamdulillah.

Sempat keteteran sebenarnya karena nggak mempersiapkan banyak hal apalagi ternyata pasca operasi perlu waktu pemulihan yang cukup lama (total 4 hari di RS). Perasaan bawaan dan kesiapan barang-barang persalinan saya sudah banyak tapi ternyata ada aja yang missed. Kocak banget karena tiap hari kami sampe bolak-balik kesana-sini ambil di rumah maupun beli peralatan untuk keperluan saya dan si kecil.

Nggak cuma itu, saya juga sempet ngerasa gondok maksimal sama dokter, rumah sakit, perawat, bidan, suami, dan keadaan, tapi Alhamdulillah saya sama sekali nggak mengalami baby blues. Gondoknya juga lebih ke arah kesel aja sih, kenapa malah jatuh ke meja operasi padahal udah berasa maksimal nyiapin ini itu untuk persalinan. Lagi dan lagi, saya belajar buat ikhlas karena bidan yang membantu persalinan bilang kalau saya tidak setuju melakukan operasi, bisa kemungkinan bayi tidak terselamatkan karena ketuban sudah sedikit sekali dan sudah berwarna hijau. Dokter juga memberitahu kemungkinan saya memiliki panggul oval atau platipeloid yang menyebabkan kepala bayi tidak ada penurunan ke panggul walau bukaan sudah besar. Tentu saya akan memeriksakan lebih rinci hal ini nanti, wes banyak pikiran kalau sekarang jadi jangan ditambahin dulu, hehe. 

Well, over all 9 bulan ini (eh,sebenarnya 10 bulan ya hehe) benar-benar mengaduk-ngaduk emosi saya in a positive way. Chapter baru dalam hidup saya resmi dimulai. Jalan hidup saya yang dulu hanya fokus untuk diri sendiri, kini beralih prioritas untuk si ganteng Daario. Kalau dulu paling seneng beli lipstik sekarang lebih memprioritaskan hunting pospak di e-commerce. Babay deh ngopi-ngopi cantik di cafe, sekarang masih seneng ngabisin dan menikmati waktu sama Daario. Yes, I’m so excited for this new chapter of life!




You Might Also Like

2 comment(s)

  1. Aku juga dulu melahirkan cesar karena detak jantung janinnya udah melemah dan kepalanya belum masuk panggul, tapi aku waktu itu nggak ada pembukaan sih jadi langsung operasi. Padahal pengennya ya melahirkan per vaginal ya tapi apa boleh buat yang penting anak kita sehat ya Teh, alhamdulillah... :)

    ReplyDelete

So, what do you think? Leave your comments below!