Daftar Barang Bawaan Saat Bersalin

19.11.18



Salah satu hal paling esensial yang harus disiapkan sebelum persalinan adalah segala peralatan ibu dan si dedek bayi. Biasanya kegiatan ini dilakukan di trisemester ketiga kehamilan karena banyak orang berpendapat pamali kalau beli kebutuhan bayi sebelum usia kandungan mencapai 7 bulan. Seru banget rasanya mempersiapkan keperluan si kecil. Dari mulai belanja baju (dan membayangkannya pakai baju yang lucu-lucu), beli baby toileteries, sampai perintilan semacam gendongan, mainan, dll yang sekarang makin banyak macamnya.

Tapi jangan sampai bingung ketika hendak packing barang bawaan untuk bersalin ke rumah sakit sampe semua barang dibawa! Atau malah kekurangan bawaan karena nggak mengantisipasi hal-hal yang bisa terjadi ketika persalinan (kayak saya nih, hehehe). Makanya sekarang saya mau review dan revisi list kebutuhannya siapa tahu berguna untuk kalian yang sedang mempersiapkan persalinan :)


1. Keperluan Ibu
Baju + celana pergi, baju + celana tidur, pakaian dalam: celana hamil dan bra menyusui, pembalut, korset, iket rambut, bando, bergo, make-up!
Ini esensial banget sih kalau bisa bawa baju lebih 4-5 pasang, setelan baju dalam 6-8pcs, pembalut khusus bersalin 1 pak, korset 2 pcs, iket rambut dan bergo secukupnya. Curhat dikit ya, waktu itu kan saya mikirnya ah, paling lahiran cuma semalem doang di RS, jadi baju sedikit aja cukup. Ternyata salah saudara-saudara, karena persalinan berakhir di meja operasi, saya pun butuh waktu pemulihan lebih lama (total di rumah sakit 4 hari 3 malam). Yah, walaupun keperluan yang kurang bisa diambil di rumah atau beli, tapi alangkah lebih enaknya kalau kita udah prepare duluan lebih banyak daripada mesti riweuh pas hari H.

Oh ya, make-up itu amat sangat membantu juga sih. Karena belum bisa mandi, muka saya habis lahiran kuceeel banget. Untung udah siap make-up di tas, dan saya juga minta tambahan tolong dibawakan masker freeman favorit dari rumah! Hahahaha.. Jadi sebelum keluarga besar pada datang ke RS untuk jenguk, saya sempet-sempetnya maskeran dan make-up-an. Wajah jadi segeeeer bangettt!! 

2. Keperluan Bayi
Setelan baju bayi lengan panjang, lengan pendek, kaos kaki, sarung tangan, bedong, selimut, tisu kering, tisu basah, popok kain, popok sekali pakai, dan peralatan mandi bayi.
Selain kekurangan baju buat ibu, ternyata saya juga kekurangan baju untuk bayi. Ya itu tadi, karena bener-bener optimis hanya akan bermalam di RS sebentar saja (hehe). Tapi alhamdulillah nggak ada drama sih, semua bisa diambil di rumah. Oh ya pas di RS, saya tidak perlu memberikan peralatan mandi bayi karena sudah disediakan.

Jadi rekomendasi saya bawa setelan baju baby newborn 6 pcs masing-masing lengan panjang dan pendek, kaos kaki dan sarung tangan 4pcs, selimut 1, serta tisu kering dan basah masing-masing 1 pak. Oh ya karena dari lahir Daario langsung pakai pospak, popok kain yang saya bawa sama sekali tidak terpakai. Monggo dirundingkan dulu calon baby mau pakai popok apa, lalu bawa seperlunya :) Waktu itu saya bawa popok kain 6pcs, dan pospak newborn satu pak isi 24pcs.

3. Gym Ball
Nggak ada tawar menawar lagi, alat ini WAJIB hukumnya ada di kamar bersalin. Memberikan sensasi nyaman saat kontraksi datang dan kalau udah lahiran (nggak kepake) tinggal dikempesin dan taruh lagi di kotak. Selesai deh!

4. Susu Formula & Dot
Hayoo baca yang ini udah emosi duluan belum? Hehehehe.. Sebagai mamak-mamak baru yang nggak males buat riset, saya termasuk pribadi yang oke-oke aja kalau bayi memang perlu diberikan sufor. Nah, pada kasus lahiran saya, saya sama sekali tidak mempersiapkan sufor karena balik lagi, memberikan afirmasi positif bahwa asi akan keluar lancar dan langsung direct breast feeding (DBF). Tapi pas lahiran ada satu-dua kondisi yang mengharuskan bayi diobservasi secara terpisah dari saya selama semalam. DAN, saya punya pengalaman dimana bayi adik ipar saya mengalami dehidrasi berat (sampai pipis darah) karena kehausan: asi belum keluar dan tidak mau diberikan sufor. Kejadian itu benar-benar menjadi pertimbangan bagi saya, apalagi setelah konsultasi dengan dokter, beliau pun menyarankan untuk memberikan sufor sampai asi saya keluar. Yep, saya tahu beberapa dokter lain termasuk teman saya yang dokter juga bilang kalau lambung bayi new born masih kecil dan masih nggak papa nggak dikasih apa-apa sampai 5 hari. Ada juga yang bilang bayi dengan sufor itu pipisnya udah najis jadi kalau bisa jangan sufor. But hey, ini pilihan saya. :)

Well, karena saya nggak mempersiapkan sufor padahal bayi saya butuh, akhirnya ibu dan suami saya kelabakan nyari kesana-sini ketika mau lahiran. Kan kalau sudah dipersiapkan bisa lebih enak risetnya mau ngasih sufor seperti apa, yang paling bagus dan pas pastinya.

Untuk dot, saya sudah prepare satu buah yang tipe wide-neck tapi saya tinggal di rumah. Wkwk. Pemilihan dot dibandingkan cup feeder dan sendok pada awalnya lebih kepada pengalaman ibu, sih. Saya juga percaya anak saya pintar membedakan yang mana dot dan yang mana puting ibu. Long story short, si dedek bayi hanya minum sufor sampai hari keempat, asi saya keluar di hari ketiga dan alhamdulillah deres banget sampe saya bisa nyetok sehabis DBF (pumping setelah DBF atau kapanpun ketika terasa sesak), dan walaupun masih menggunakan dot untuk asip, Daario pinter banget nggak bingput alias bingung puting :)

5. Pompa Asi
Ketika di RS saya membawa pompa asi manual yang dipinjamkan adik ipar. Memang dari awal sengaja harus bawa pompaan untuk memancing asi keluar dan ini kepake banget! Masih memorable ketika pertama kali pumping rasa sakitnya luarbiasa! Hahahaha. Walau udah DBF ke bayi tapi sebagai ibu baru kok rasanya masih ragu ya, ini asi udah keluar apa belum? Akhirnya saya pumping, keluar, dan seneeeeeeeng banget rasanya ngelihat tetes demi tetes asi jatuh ke dalam botol :’)

Ketika ngobrol sama bidan, beliau cerita pengalamannya memakai pompa elektrik dan menjelaskan beberapa benefitnya termasuk nggak pegel dan amat sangat efektif karena tipe miliknya yang dual pump. Mulailah saya riset merk apa yang cumey, tapi galau karena pas mau beli harganya menurut saya agak pricy hahaha (galau terus hidupnya). Tapi Alhamdulillah rezekinya Daario karena biaya persalinan saya di-cover sepenuhnya oleh asuransi jadi tabungan persalinan masih utuh. Oke pumping-an, aku dataaaanggg~~

Nah, saya baru pakai pompa elektrik sepulang dari RS, tapi mau pakai yang manual atau elektrik sebenarnya sama saja kok, asinya sama-sama keluar dengan rasa yang sama (ya iyalah). Tinggal pilih aja mau mempersiapkan yang mana :D

6. Keperluan Menginap
Karpet bulu, bantal guling, bed cover, selimut.
Kebutuhan ini sesuai dengan kebijakan RS ya, apakah tamu keluarga diperbolehkan menjenguk dalam jumlah banyak dan apakah kamar inapnya cukup. Takutnya kan mengganggu pasien lain, hehe. Kebetulan pas saya lahiran tanggal 17 Agustus hari jumat dan long weekend. Rumah sakit sepi banget karena staf administrasi tutup dan banyak dokter yang cuti. Dari sederet kamar inap pun hanya kamar saya yang terisi (kalau dipikir-pikir sekarang kok serem juga ya wkwk). Jadi ketika keluarga besar datang ke RS sebelum menginap di rumah. Kami menggelar karpet di balkon kamar untuk ngobrol dan beristirahat sejenak. Beruntung sekali saya dapat kamar inap pribadi yang cukup nyaman jadi tidak mengganggu pasien lain ;)

Sementara, bantal guling dan selimut berguna untuk suami yang menemani di RS. Tipsnya biar nggak berantakan nih, hanya keluarkan karpet, bantal guling, dll nya itu ketika dibutuhkan. Ketika tamunya banyak dan butuh beristirahat, gelar. Ketika suami mau tidur, baru pakai bantal gulingnya. Tapi kalau sudah selesai pakai lipat lagi dan kalau yakin sudah tidak akan dipakai lagi langsung taruh di mobil atau bawa pulang. Jadi nanti ketika packing di hari terakhir nggak rarungsing bawa ini-itu. 


Well, itu dia beberapa items beserta notes dari daftar barang bawaan yang perlu dibawa saat bersalin versi saya. Ada yang ingin menambahkan? Tulis di kolom komentar yaa! Oh ya, buat yang sedang mempersiapkan kelahiran bayi, semangat! Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa packing untuk menyambut kedatangan dedek bayi! ^^

You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!