#BPN30DayChallenge2018 Day 5 - Menyoal Media Sosial

24.11.18



Zaman sekarang nggak dipungkiri lagi keberadaan sosial media sangat berperan penting dalam kegiatan sehari-hari. Hitung deh berapa jam dalam sehari kamu pegang handphone dan mengakses sosial media. Sekali scrolling down instagram, facebook, atau twitter, nggak kerasa bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Nggak heran ada istilah “generasi menunduk”.

Apalagi nih menuju tahun politik di pemilihan pilpres 2019 nanti. Rasanya udah males ngebayangin gimana ramenya timeline media sosial yang berperang antar dua kubu nantinya. Entah itu sekadar postingan opini, saling serang menyebarkan link portal berita (yang meragukan) dengan judul clickbait yang gak masuk akal, sampai yang paling membuat saya jijik, menggunakan agama sebagai pion penyerang antar kubu.

Jujur, saya pernah sekali update status tentang pemilihan gubernur beberapa tahun lalu yang langsung rame “dikomentarin” sama beberapa teman. Setelah itu saya kapok, nggak lagi deh berbagi opini politik di platform media sosial karena nggak ada faedahnya dan hanya mancing tanda tanya besar tentang kenapa orang-orang mau repot-repot ngomentarin sampe cenderung “maksa” seseorang untuk berganti pilihan politiknya.

Belum lagi kalau bacain komentar-komentar netizen di beberapa postingan instagram akun gosip, atau artis tertentu yang jumlah hatersnya lebih banyak daripada jumlah dosa saya dikali tiga (lebay banget). Ada komentar yang lucu ada juga julid yang bikin saya geleng-geleng kepala pas baca. Kebanyakan komentar ini berasal dari akun anonim atau second account. Heran deh, ngapain sih orang repot-repot bikin second account cuma untuk julid? Yang lebih mencengangkan lagi, ngapain mereka repot-repot ngurusin urusan orang lain? Kalau mau negur public figure atas kelakuannya yang dianggap nggak pantas, ya hubungi langsung public figure yang bersangkutan melalui DM kek, email kek, pokoknya eye to eye aja sana jangan bebas menghujat tanpa etika di kolom komentar. Duh!

Makanya kadang di satu titik saya suka mengambil hari tertentu untuk bebas dari sosial media. Bebas dari tekanan, bacaan, dan konten yang menurut saya malah membuat hari saya makin buruk. Jadi tetap, solusinya masih satu: literasi media.




You Might Also Like

0 comment(s)

So, what do you think? Leave your comments below!