SOCIAL MEDIA

10.2.19

Hal yang Sebelumnya Saya Tidak Tahu Tentang Menjadi Seorang Ibu Rumah Tangga



Saya besar di keluarga dengan kondisi kedua orangtua bekerja. Orang tua saya dua-duanya guru, jadi bisa dibayangkan dong jam kerja mereka yang sebenarnya sama seperti anak sekolahan. Jam tujuh pagi harus udah ada di sekolah, dan bisa pulang kalau sudah tidak ada jam mengajar atau bahkan sampai jam empat sore kalau sedang ada pelajaran tambahan.


Inget banget gimana hectic-nya dulu tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah mulai dari rebutan mandi, setrika baju batik karena kelupaan dicuci, milihin buku karena semalam malas (wkwk), dan lain sebagainya. Nggak cuma itu, saya juga harus rela ngambil rapot paling belakangan (atau menyusul di semester depan) karena orang tua saya disaat yang bersamaan juga menjadi wali kelas. Tapi diantara kehebringan itu semua, paling enak banget kalau liburan kenaikan kelas dan lebaran karena jadwal libur kami sama-sama panjang. Hehehe...

Selama membesarkan saya dan adik, orang tua nggak pernah punya Asisten Rumah Tangga (ART). Dulu pernah ada beberapa untuk ngemong saya pas kecil, tapi udah lama banget deh kayaknya, mungkin terakhir pas saya awal masuk SD. Karena itulah saya nggak terbiasa dengan keberadaan orang lain di rumah selain keluarga. Sementara itu pekerjaan rumah dibagi antara saya dan Mamake. Let’s say, mamake itu Ibu-Ibu Jawa banget yang memegang prinsip pekerjaan rumah halus (dapur, bebersih, dll) itu HARUS dikerjakan perempuan. Walaupun saya lebih banyak durhakanya ketika diminta tolong nyapu, ngepel, atau cuci piring, tapi rumah kami tidak pernah chaos tak ter urus. Yaaa, paling banter kayak ‘kapal pecah’ lah, meminjam istilah Mamake. Hehehe.

Besar dengan ritme lingkungan seperti itu, sedikit-sedikit tertanam di benak saya kalau saya besar nanti saya juga akan seperti itu. Mampu meng-handle pekerjaan kantor juga anak dan rumah tangga tanpa ART. Nggak pernah terlintas di pikiran saya untuk nggak bekerja kantoran alias jadi Ibu Rumah Tangga (IRT) dan fokus ngurusin anak 24/7 365. Sampai sekarang pun, deep inside my messy heart, bekerja kantoran adalah candu yang harus terpenuhi.

Sampai pada akhirnya semesta lazuardi (wkwk) berkata hal yang sebaliknya. Ketidakmampuan saya menyerap perubahan yang begitu cepat membuat saya sedikit kikuk beradaptasi dengan title baru, IRT. Dari yang tadinya lebih sering berhadapan dengan meeting-pitching-eksekusing (?) dan berjam-jam memandangi laptop dan handphone, kini ada satu krucil gemes yang nggak bisa lepas dari dekapan saya dan beribu pekerjaan IRT lainnya yang harus dibereskan.

Kaget? Tentu tidak, karena sudah terbiasa dengan ritme seperti itu sebelumnya (tanpa kehadiran anak dan title ibu tentunya). Tapi saya merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak ada yang nyebelin untuk dipisuhi, tidak ada teman makan siang dan ngobrol-ngobrol gabut, tidak ada yang bisa diajak patungan untuk gofood kopi-kopi kekinian, tidak ada lagi deadline yang mengejar, dan yang paling sedih, tidak ada lagi yang transfer ke rekening saya tiap tanggal 25 (wkwk, curhat bundaaa 😂).

Nope, nope, uang bukan jadi masalah terbesar (amit-amit sih jangan sampe). Sejauh ini gejolak batin (?) dengan pikiran sendiri lah yang masih menjadi musuh terbesar. Menjadi IRT yang berada JAUH dari orang-orang tersayang membuat saya merasa sendiri, kecil, dan kesepian. Suami yang sedang qerja qeras baghai qudha tentu pergi saya ridhoi ikhlas untuk mencari berlian demi keluarga. Tapi batin saya masih berperang diantara dua idealisme masa depan yang terakumulasi. Masih galau, cenah. Gils ya, nggak malu sama umur. Hahahaha.

Tapi setelah hampir 6 bulan di jalani saya survive-survive aja kok. Ya, walaupun kadang ada bumbu kesepiannya sih yang bikin baper. 6 bulan yang singkat ini seolah membuka pintu baru akan kemampuan terselubung yang ternyata ada dan bisa diterapkan.

Baca juga: 3 Bulan yang Menyenangkan

Baca juga: 6 Bulan yang Mendebarkan

Baca juga: 9 Bulan yang Tak Terlupakan

Dari bangun tidur, bikin sarapan, mandiin baby, main sama baby, beres-beres pekerjaan rumah, sering banget mbatin ini kok nggak ada habis-habisnya. Lalu suatu hari saya sadar, untuk tetap waras saya nggak perlu sempurna-sempurna amat (karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, takdumces~). Bener lho. Kalau capek, ya istirahat. Atur napas, mikir bentar tadi udah ngapain aja, bersyukur karena udah bisa ngerjain ini-itu, mainan hepi-hepi sama baby, lalu kalau udah ke-charge lagi, mulai lanjut pekerjaan yang tertunda tadi, atau kalau capek ya tinggal tidur aja atau minta bantuan suami sehabis pulang kerja nanti. Semua harus bahagia biar tetep waras.

Trus saya menggumam lagi, nggak ada yang bisa dipisuhi? Nggak masalah berarti dosa saya sediiiiiikit berkurang karena gak ngomongin orang. Ya, kalau mau misuh-misuh-canteq tinggal scrolling humor-humor receh twitter aja dah (lah nambah dosa lagi, wk). Nggak ada temen yang bisa diajak gofood kopi-kopi kekinian? Nggak masalah juga karena sekarang udah punya grinder manual dan banyak stok susu buat bikin kopi sendiri (ibu hemat detected). Nggak ada deadline yang harus dikejar? Nggak juga karena alhamdulillah ada aja kerjaan freelance yang datang. Btw, nyetok makanan pokok seminggu dan sebentar lagi baby D mau MPASI juga termasuk deadline pekerjaan ya. Hahaha.

Intinya, saya mulai bisa berdamai dengan diri sendiri. Sungguh, tulisan ini bukan untuk mendeskriditkan siapapun, ibu manapun, karena saya percaya semua ibu adalah ibu yang baik, dan tentu sebagai sesama perempuan harus: mom empower moms! Tulisan ini murni karena kegelisahan gejolak batin (?) saya yang enggan menghilang aja walau udah curhat ke suami ribuan kali. 

Jadi tahu kan kalau berdamai juga butuh proses, sekalipun itu berdamai dengan diri sendiri :)

I am happy to be a mom.

2 comments :

  1. Sumpaah mba, aku terharu banget baca blogpost ini "sekalipun itu berdamai dengan diri sendiri :)"
    Apapun title-nya seorang wanita adalah jantung keluarga, sekarang dan sampai kapanpun..

    Salam Kenal
    Dine Aisah <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbak, terima kasih sudah berkunjung :)

      Salam kenal juga ya :)

      Delete