SOCIAL MEDIA

10.5.19

Memulai MPASI


Memasuki usia ke-5 bulan rasanya udah deg-degan aja gitu antara excited mempersiapkan MPASI pertama D dan deg-degan apakah saya SANGGUP membuatkan MPASI setiap hari? Duh, memang kalau orang-orang bilang new mom itu banyak bingungnya YA EMANG BENER. Jangankan new mom, old mom (?) juga suka masih banyak bingungnya kok.



Belum lagi ditambah dengan kebingungan kapan memulai MPASI yang tepat. Yes yes saya tahu kalau MPASI itu mulai diberikan di waktu bayi berusia 6 bulan. Tapi ada aja gitu saran, komentar, dan pendapat orang soal waktu pemberian MPASI pertama. Ada yang bilang: “itu anaknya udah mangap-mangap udah mau makan kasih aja kasihan lapar”, “asinya udah dikit kali jadi nangis terus karena lapar”, “itu tangannya dimasukin ke mulut terus, lapar tuh”, “anaknya ngeliatin terus pas makan tuh, lapar tuh.” Dan masih banyak komentar serupa, yang, mungkin berniat baik, tapi, sorry not sorry, membuat saya risih.

Habis gimana ya, telinga ini rasanya keri denger omongan "katanya-katanya-katanya", "kelihatannya-kelihatannya-kelihatannya." Padahal kan pemberian MPASI juga ada ilmunya, nggak sembarangan, udah pada baca belum? Ngasih makannya juga nggak bisa sembarangan kayak “itu kasih aja sedikit yang lagi di makan, anaknya laper” ya kali. Teksturnya gimana? Apa yang dimakan? Kebutuhan nutrisinya gimana? Emang nggak dipikir sampe situ? *lah jadi emosi, hahaha.

Well kalau udah gini mah memang paling tepat konsultasikan ke ahlinya. Waktu D usia 4 bulan saya mengunjungi dokter anak untuk meminta surat izin terbang sekalian konsul dan dokternya memantapkan saya untuk memulai MPASI di usia D 6 bulan, TEPAT 6 bulan, tidak lebih dan tidak kurang. 

Lalu di usia D 5 bulan, saya kembali ke DSA yang berbeda untuk jadwal imunisasi wajib dan dokternya bilang harus sudah mulai MPASI seminggu lagi. WHAT? To be clear, ya, memang ada satu-dua kondisi tertentu yang menyebabkan anak harus MPASI dini. Tapi di saat itu saya melihat D sebagai anak yang tidak memerlukan MPASI dini: berat badan naik tiap bulan dengan signifikan, tidak sedang sakit atau membutuhkan konsumsi obat atau suplemen tertentu, jadi kenapa harus memajukan jadwal? Alasan dokternya waktu itu karena takut kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi, jadi harus dikejar secepat mungkin (note: waktu konsul ini saya sama sekali tidak sedang melakukan atau baca hasil tes darah atau tes kesehatan lainnya). 


Akhirnya saya iya-iyain aja kata dokternya dan pulang ke rumah dengan perasaan gundah gulana. Sebenarnya masih denial dengan saran dokter yang terakhir karena saya rasa tidak ada faktor yang membuat D harus MPASI awal.

Karena nggak puas, saya lalu kepo. Saya ubek-ubek internet, baca beragam referensi dan terus bacain satu-satu IG Storiesnya dokter Meta (dokter andalanque) supaya malam itu bisa tidur nyenyak. Lalu beberapa hari kemudian saya dan suami sepakat untuk mengikuti saran dokter yang pertama: memberikan asi eksklusif selama 6 bulan dulu lalu baru mulai MPASI.

Baca artikel ini deh, dulu memang pemberian MPASI disarankan oleh WHO dan IDAI bisa dimulai dari usia bayi 4 bulan. Tapi sejak 2012 diubah menjadi 6 bulan karena berdasarkan penelitian manfaat ASI eksklusif selama 6 bulan jauh lebih banyak dan lebih protektif dibandingkan dangan 6 bulan. Tapi seperti yang saya tulis sebelumnya, ada beberapa kasus yang memang baby nya disarankan untuk MPASi dini dan ya nggak papa juga. Kalau ragu pokoknya konsultasi ya, tanyakan ke ahlinya, jangan pakai ilmu sotoy :p.

(dikutip dari website www.idai.or.id)




Oh ya, untuk menu MPASI nya saya menggunakan menu 4 bintang, alias terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur. 




Lalu gimana reaksi makan pertamanya? Nangis kejerr dan GTM parah! Hahaha, gini terus selama 2 minggu karena ternyata D lagi tumbuh gigi (langsung 2!) dan saya sempat stress juga. Cerita ini akan saya tulis secara terpisah nanti, ya.

Segala macam cara rasanya sudah dicoba: gonta ganti resep, ganti tekstur, pakai gula garam, mpasi instan, pakai metode BLW, you name it and it still not work. Hahaha :') Semua orang selalu bilang ke saya untuk sabar karena masa awal MPASI adalah masa perkenalan tekstur dan rasa, dari ASI menjadi makanan telan. Iya sih saya juga paham, tapi tetap aja rasanya galau tak berkesudahan gitu kalau ngelihat anak nggak mau makan. Tapiii, ini nggak lantas membuat saya memaksa D untuk makan, saya nggak mau D nantinya malah stress atau tertekan karena dipaksa. Saya pengen dia tahu kalau makan itu juga adalah sebuah proses, makanya saya selalu stop kalau D sudah mulai bosan atau mau nangis. Biar mood-nya happy lagi, biasanya makanannya dijadiin mainan aja sama dia :’)

Siklus ini terus berulang selama dua minggu sebelum akhirnya mau mulai makan, yeay! So far yang paling cocok di D tetap menggunakan metode responsive feeding dengan tekstur makanan yang lembuuuuut banget. Semua di blender gitu. Alhamdulillah rasanya bahagia banget! Perlahan D mulai naik tekstur mulai dari saring, dan sekarang udah mulai coba-coba makanan ulek (usia 8,5 bulan). 

Cuma ya kalau ada kendala tertentu seperti lagi tumbuh gigi (tumgi) atau lagi traveling yang nggak memungkinkan masak, saya menyesuaikan saja. Ibu juga harus tetap waras, hei. Hehehehe. 

Anyhoo, pengalaman memulai MPASI ini membuat saya banyak merasakan hal-hal baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Seperti ngerasain galau saat  D nggak mau makan, capek tapi harus ikhlas saat makanan yang saya buat dengan penuh luv nggak habis dimakan, sampai kegirangan saat D mau lahap makan! Momen ini juga membuat saya terus belajar, belajar, dan belajar lagi karena masih banyak sekali ilmu yang harus dikejar. Bener deh, punya anak itu memang membuat mata lebih membelalak dua kali lipat. Dan berada di periode ini rasanya sebenarnya bukan saya yang mengajari D makan, malah D yang mengajari saya untuk terus memberdayakan diri, untuk membaca dan terus belajar memahami tiap gerak-geriknya.

Terima kasih, D. Tetap lahap makan, ya!



Post a Comment