SOCIAL MEDIA

18.7.19

Definisi Bahagia


Pemikiran ini muncul beberapa tahun lalu saat sedang menjenguk teman yang baru melahirkan. Saya datang ke rumahnya, ngobrol seperti biasa dan main dengan dedek bayi. Semuanya berjalan normal, tidak ada yang aneh, sampai pada akhirnya teman saya cerita bahwa rumah yang ia tempati ini adalah hadiah dari keluarganya, begitu pula dengan kendaraan motor dan mobil yang terparkir di garasi depan.

Di perjalanan pulang, teman saya yang lain memulai pembicaraan bahwa dirinya tidak akan pernah seperti teman saya yang baru melahirkan tadi. Dia bilang bahwa orang tuanya tidak memiliki rumah lain untuk diwariskan kepadanya selain yang sedang mereka tempati di kampung. Apalagi membelikannya kendaraan roda empat! Mimpi banget bisa dibeliin sama orangtua, katanya. Lalu ia bertekad kerja lebih keras lagi untuk mendapatkan hunian dan kendaraan masa depan yang baik.

Saat itu saya hanya menyimak saja sambil dalam hati bergumam setuju, karena saya tahu, ketika menikah nanti saya juga akan memulai semuanya dari awal.

*   *   *

Well, pikiran ini melintas lagi aja gitu di pikiran saya saat lagi riweh-riwehnya nyari kontrakan 😂 Out of nowhere. Mungkin karena merasa lebih relevan sekarang kali ya, setelah menikah dan tinggal mandiri. Memang bener, we started this journey bener-bener dari awal. And honestly we’re totally fine about it.

Panutannya selalu orang tua. Saya selalu ingat cerita orang tua dulu ketika baru menikah dan saya masih berusia dibawah setahun. Mereka sangat struggle. Pindah ratusan kilometer meninggalkan kampung halaman dari Jawa Tengah, merantau dan bekerja di tempat asing yang bahkan namanya belum pernah mereka dengar sebelumnya. Jangankan rumah, untuk mencari kontrakan saja kedua orang tua saya galau mesti gimana dan kemana karena benar-benar nge blank 😭

Disitulah Mamake selalu berpesan ke saya, “Jangan takut memulai dari awal ketika berumah tangga nanti.”

Ini beneran jadi pecut dan terpatri di pikiran banget sih. And somehow this words makes me work my ass off to spend the money on the right things. 
Dan belasan tahun kemudian, ketika sudah berumah tangga, juga jauh dari keluarga dan zona nyaman, bahkan tidak bekerja kantoran dan lagi galau cari kontrakan, pikiran dan memori ini nyampur jadi satu.

Iseng saya tanya ke suami beberapa hari yang lalu, “Yang, enak ya si X baru nikah udah punya rumah dan mobilnya lebih dari 1. Trus si Y juga enak ya rumahnya gede, punya ART, masih pada kerja lagi. Trus si Z jalan jalan moloo kayak gak ada cicilan.”

D diem dan cuma jawab datar, “Ya gini lah kita, sama-sama dari awal, enak.”

Yaaa jelas saya bete, kan mau ngajakin gibah (?) malah dibantah 😂

Hahaha. Ya sebenernya nggak ada yang salah juga sih mau dengan keadaan mulai dari awal, mau sudah ada “warisan” dari orang tua, atau sudah punya modal untuk punya rumah, kendaraan, dll. Yang penting jangan lupa bersyukur karena kalau termasuk dalam kategori seperti temen saya di atas tadi berarti kalian nggak perlu repot-repot mikirin pindah dan cari kontrakan. 😂

Dan kayaknya nggak perlu minder juga deh karena minder tidak akan membawamu kemana-mana. Karena di sisi lain dengan kondisi yang sekarang juga saya merasa lebih bebas karena bisa mandiri mulai dari mengatur keuangan, tabungan hingga investasi. Semuanya tanpa intervensi atau perasaan “hutang” entah harus membayar ke orang tua atau harus membuatkan anak rumah di masa depannya nanti.

Jadi inti tulisan ini apa sih? 😂 

Ya jangan lelah bersyukur. Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah (auto nyanyi). Karena saya kadang suka lupa bersyukur pada hal-hal yang dianggap kecil tapi ternyata “besar”.

Bersyukur bisa bersama D 24 jam penuh, bersukur diberikan ASI yang deras dan banyak, bersyukur tiap hari bisa memasak untuk keluarga terutama untuk baby D (oh ya sekarang saya suka sekali memasak!), bersyukur kulkas nggak pernah kosong, bersyukur tinggal di daerah yang bebas dari polusi udara, bersyukur masih bisa sesekali traveling melepas penat, dan syukur-syukur yang lainnya, yang tidak selalu berupa materi.

Bersyukur juga berkaitan erat dengan bahagia karena believe it or not, bahagia itu bersumber dari pikiran kita sendiri, bukan validasi sekitar apalagi dunia maya. Make your own standard then you'll be happy. Kalau terlalu banyak mikirin kata orang, merujuk pada standar kebahagiaan orang, believe me, you'll be lost in the jungle of sadness. It's true, karena jujur saya bukanlah orang yang bisa cuek dengan perkataan orang dan kadang terlalu "pusing" mikirin perkataan orang lain walau terlihat baik-baik saja. Itulah kadang walau saya lagi nggak kemana-mana ataupun lagi diem, pikiran saya bisa aja lagi semerawut dan ruwet memikirkan hal-hal nggak jelas yang malah berdampak negatif. Agak lama sih, lalu saya menemukan kata "bersyukur", dan ketika direnungi dan kembali dipikirkan, oke, saya bersyukur dan bahagia dengan apapun kereuwetan yang terjadi sekarang.
Lalu apakah itu bahagia? Mungkin rasa aman, mungkin tanpa tekanan, mungkin juga menjalankan hidup tanpa beban. Yang pasti, bahagia itu sulit dicari kalau pikiran ini sedang dalam masa aktif-aktifnya terbabani stigma yang terlalu berat disandarkan oleh pemikiran sendiri atau standar sosial. 

Lucu deh, karena memang hidup dengan double standard itu jauh lebih sulit. Duh saya juga gatel pengen nulis tentang double standard, lain kali ya. 

Well, Pada akhirnya semuanya harus related: bersyukur, pemikiran positif dan bahagia. Jadi, jangan lupa bahagia hari ini! :)

Source

6 comments :

  1. Setuju Mbak. Hidup memang harus banyak bersyukur dan kebahagiaan itu datangnya dari rasa syukur :)
    Kalau lihat kehidupan orang lain sih gak akan ada habisnya. Terlihat kehidupan orang lain serba enak tapi kita tidak tahu 'dalam' nya bagaimana. Taunya 'luar' nya saja yang tampak sempurna. Daripada gtu kan lebih baik banyak-banyak bersyukur atas kehidupan kita sendiri ya Mbak. hehehe. Terima kasih telah berbagi topik yang kaya gini. Sukses dan bahagia selalu Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Terima kasih kembali sudah membaca dan mampir ya mbak :)

      Delete
  2. banyak duit bikin bahagia. dum.

    ReplyDelete
  3. Thank you for sharing, Mbak! Beneran ya, kadang saya sendiri juga lupa untuk bersyukur pada hal-hal kecil yang ternyata 'besar' :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mbak, terima kasih sudah berkunjung..
      Iya... dengan bersyukur rasanya jadi lebih enjoy hidupnya hehehe :)

      Delete