SOCIAL MEDIA

8.8.19

Menyusui Dengan Keras Kepala.


Ketika hamil saya pernah baca tentang bagaimana seorang ibu harus menyikapi pemberian ASI dengan keras kepala. Waktu itu sih hanya baca sekilas dan agak tidak acuh kayak ya, ya, ya gitu aja. Karena kenapa sih mesti keras kepala? Santuy lah (wkwk). Lalu seminggu belakangan ini timeline instagram kayaknya rame banget ngomongin tentang ASI dan topik menyusui dengan keras kepala pun kembali muncul. Oh ternyata lagi Breastfeeding Week.

Sebenernya nggak langsung ke-triggered nulis tentang ini juga di momen Breastfeeding Week sih. Tapi sekaian ajalah karena di bulan Agustus ini tepat setahun saya menyusui baby D, hehe.

Oke, mulai dari mana yak? Oh ya, menyusui dengan keras kepala.

Menurut saya, sikap kekeuh atau keras kepala dalam menyusui dimulai dari tekad Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Jadi proses ini berkaitan dengan pemilihan tempat bersalin. Saya kebetulan kerena lahiran di-cover asuransi, jadi milih rumah sakit. Untuk IMD ini, saya pun memastikan berkali-kali ke dokter, bidan, dan suster rumah sakit. Dan Alhamdulillah semuanya mendukung IMD (ya program pemerintah juga, kalau nggak diikutin siap-siap kena pengaduan aja 😅).

Jadi mindset udah sama ya, IMD itu penting dan perlu dilakukan. Ndlalahnya ketika lagi aduhai merasakan kontraksi di RS, saya dikabarin bidan kalau saya kena Hepatitis B. Googling sendiri lah ya apa itu hepatitis B buat yang belum tau (emosi kalau inget lagi haha). Saya awalnya santai karena fokus ke kontraksi. Tapi pas suster bilang kalau penderita Hepatitis B nggak bisa menyusui sebelum anak diberikan vaksin, seketika itu hati saya langsung hancur. Benar-benar berantakan kayak digilas truk tronton. Pihak RS pun mengupayakan vaksin Hepatitis B untuk baby D tapi banyak sekali drama nggak pentingnya sehingga vaksin itu baru bisa didapatkan beberapa jam setelah baby D lahir.

Baca juga: 9 Bulan yang Tak Terlupakan

Long story short, baby D lahir dan saya tidak IMD. Bayangin gimana sedihnya saya yang sudah mempersiapkan semuanya. Gak terima banget lah. Sepulang dari RS saya langsung cek darah di dua lab yang berbeda dan hasilnya SAYA NEGATIF Hepatitis B. Bayangin lagi coba gimana hancurnya pikiran saya saat itu. Emosi, marah, kesal, bahkan sumpah serapah seluruh alam semesta dan kebun binatang beserta isinya sudah saya keluarkan. Karena ini masalahnya lebih daripada IMD, tapi kelalaian. Tapi ya mau semarah apapun semuanya nggak bisa mengubah keadaan.

Asumsi yang saya punya di awal tadi mengenai menyusui dengan keras kepala buyar ketika pertama kali saya bertemu baby D. Tapi saya nggak bisa sedih berlama-lama, nggak guna juga. Kalau nasi sudah menjadi bubur, tinggal taburin ayam, bumbu, dan sambal aja biar makin sedep. Iya nggak? 😋 Lalu mari kita keras kepala lagi.

Tetap Kekeuh.
Pertama kali saya menyusui baby D adalah di hari ketiganya, di saat kami sudah pulang dari rumah sakit. Ada yang bilang kalau ASI saya nggak akan keluar karena saya lahiran sesar. Haha, miris banget nggak sih dikatain gitu setelah apa yang menimpa saya. Kalau ada yang bilang ibu baru melihairkan itu sensitif, ya emang, dan jangan ditambah ngomong yang aneh-aneh deh kalau nggak punya data. Memang omongan seperti itu selalu saya sanggah, tapi tetap aja bikin kepikiran. Dengan sikap bodo amat saya tetap kekeuh nenenin Baby D dan Alhamdulillah banget saya diberikan ASI yang cukup, berlebih malah, sampai ngocor dan bisa rutin pumping. IN YOUR FACE, JULIDERS!😏 Oh ya awalnya saya nggak siap pumping, tapi dada rasanya sesak dan saya takut banget kena mastitis. Akhirnya saya membujuk suami buat beli alat pumping yang mana ini ditentang keras oleh Mamake.

Kalau tinggal dengan orang tua mungkin banyak mengalami hal yang sama, beda pendapat karena beda generasi. Mamake bilang nggak usah beli alat pompa karena nggak kepake, dan zaman dulu nggak ada pompa-pompaa -_- tapi saya kekeuh karena susunya selalu netes tiap 2 jam. Masa dikewer-kewer mbrebes terus. Keras kepala lah, dan bilang “ini dibeliin suami” (padahal ogut yang minta) udahlah skak mat dan pumpingan sudah aman di tangan wkwk.

0-6 Bulan
Maka hari-hari yang panjang pun dimulai. Di 4 bulan pertama baby D selalu menyusu tiap 2-4 jam sekali. Tiap lepas nen pasti tidur dan tiap melek tanpa nenen dia pasti nangis. Jadi nggak ada ceritanya bayi anteng tanpa nangis yang ngeluarin ekspresi lucu karena literally tanpa nen D selalu nangis 😅

Saya sempet iri sama temen-temen yang update video baby newborn-nya bisa melek anteng tanpa nangis minta nen sementara baby D nggak bisa gitu. Capek banget rasanya, nggak bisa kemana-mana, selalu laper membabi buta, gitu deh! Tapi banyak yang bilang kalau masa-masa ini harus dinikmati. Awalnya sih bergejolak kayak, GIMANA BISA MENIKMATI? Tapi lama-lama bener juga ya, ini momen baby D sekali seumur hidup dan ketika menikmati itulah saya baru sadar kalau saya suka proses menyusui. Saya benar-benar menikmati proses nenen.

Ya walau ada saatnya saya capek seperti itu, tapi semua terbayar dengan pertumbuhan baby D yang sehat, aktif, dan menggemaskan 😙 Di 4 bulan pertama kan saya tinggal sama Mamake ya, selama itu pula saya habis tuntas membaca ulang buku Harry Potter ketujuh-tujuhnya. Semuanya saya lakukan sambil nenenin baby D. Iya, se-pewe itu 😃

Oh ya, bengkak payudara dan lecet puting bukan hal asing lagi. Walau Alhamdulillah tidak begitu sering, tapi tetap aja ada dramanya seperti berdarah, meriang, dan lain sebagainya. Beruntung banget sekarang tinggal di zaman digital yang semua-muanya bisa dicari diinternet termasuk ilmu menyusui. Saya juga diajak gabung di grup Pejuang Asi Indonesia yang diinisiasi oleh dokter Armeetha Drupadi, dimana ada banyak support system yang sama-sama saling menguatkan dan mengedukasi dalam pemberian ASI.

Di 4 bulan pertama juga saya selalu pumping di sepertiga malam terakhir. Karena Baby D pasti bangun minta nen dan habis itu saya gak bisa tidur lagi. Kadang ada juga yang tanya “nGaPaiN pUmPINg kAn iBU rUmaH tAnG9A?” ya malih, mainnya kurang jauh sih. Buat saya pumping itu nggak hanya sekedar stok, tapi untuk memenuhi prinsip supply-demand nya ASI dimana ketika payudara terus dikuras, payudara juga akan kembali mengisi (CMIIW). Jadi bukan buat pamer di medsos: “dUh StOk aSiPquW dAh bWAnYak”. Lagipula saya tidak pernah upload stok asip sekalipun di medsos karena saya tahu mindernya orang yang tidak sepengalaman dengan saya dari kasus video baby yang anteng tadi. Tapi yah yang mau upload juga gak papa sih, ini cuma sayanya aja yang gak mau, inget, saya yah, saya pribadi, pendapat saya, kemauan saya. Hehe.

Baca juga: Hal Yang Sebelumnya Tidak Saya Tahu Tentang Menjadi Seorang Ibu Rumah Tangga

Ketika stok asip sudah lumayan terkumpul sempet-sempetnya saya izin mamake buat nonton bioskop ke Bogor (Sukabumi gak ada bioskop, plis) dan diizinkan! Wuih senengnya bukan main! Walau sepanjang perjalanan saya kangen Baby D dan tetap pumping (di dalam bioskop pun! 🙌🏽), tapi saya benar-benar menikmati me time-nya dan pulang dengan stok asi hampir 1liter! Gokil kan! Emang yang paling berpengaruh ke kuantitas asi tuh ya Ibu yang happy (halah, sok banget lu yaz! 😅)

Saya akui untuk konsisten pumping itu berat, sangat berat. Karena selain harus disiplin memompa (baiknya 3 jam sekali), kita juga harus menyiapkan keperluan lainnya seperti cuci steril alat pumping, beli botol/plastik asi dan perintilannya seperti ice gel, bahkan ada yang sewa atau beli freezer khusus ASI. Belum lagi kalau lagi padam listrik, duh ketar-ketir pasti ingat stok ASIP di freezer. Makanya saya suka salut gitu dengan ibu bekerja yang bisa rajin pumping dan mengusahakan ASI untuk anaknya. Ada yang kerja di depan komputer sambil pompa, ke ruang laktasi dengan tetap bawa kerjaan, saat meeting, di jalan, pokoknya segala dilakukan untuk tetap disiplin pumping. Kalian keren! 😙

6 - 12 Bulan
Ketika memasuki masa MPASI, kegiatan menyusu tentu dikurangi agar anak mau makan. Sebenarnya menyusunya tetap banyak, tapi sekarang lebih disiplin aja di pengaturan jam nya supaya Baby D mau makan. Di awal MPASI sempat susah makan karena tumbuh gigi, tapi ya itu cerita lain ya (masih malas nulis pengalaman menghadapi anak GTM 😅). Mungkin karena sudah terbiasa, tidak ada drama yang bergitu berarti ketika menyusi di usia ini. Yang paling terasa bedanya hanya di intensitas dan "gaya" nenen-nya yang makin ada aja. Duduk, nungging, tengkurep, ya sakkarepmu, Le, sing penting nenen 🤣. 

Baca juga: Memulai MPASI

Kadang tantangan berat yang paling susah dilakoni adalah menjaga makanan yang bergizi untuk saya. Karena gimanpun apa yang saya makan akan menjadi "bensin" untuk memproduksi ASI. Kalau udah nggak ke kontrol pasti saya langsung minum banyak air putih dan sesekali minum susu mamabear.

Untuk durasi nenennya sendiri sih beragam, dan kalau kita lagi di luar dan Baby D pengen nen, SELALU saya kasih. Kayak anytime, everywhere gitu lho. Saking kekeuh-nya saya pernah nenenin di tempat makan, mall, bahkan taman. Nggak usah malu, toh besok nggak akan ketemu lagi dengan orang yang ngeliatin itu kok #prinsip. Makanya, baju pun harus yang men-support kegiatan nenen. Enak banget sekarang udah banyak dijual baju menyusui yang ada lubang bukaan samping. Tinggal lep gitu. Walaupun hanya punya beberapa, gak peduli deh pake yang itu lagi-itu yang penting mak slep gitu kalau mau nenen.

Pada akhirnya saya sih berharap kegiatan nenen ini terus berlanjut setidaknya sampai D berusia 2 tahun. Kenapa sih harus kekeuh banget? Karena kalau menurut saya ya, pertama, ASI itu hak anak dan terbukti memiliki kandungan yang luar biasa buat anak. Jadi nggak ada alasan gengsi nggak mau nenenin. Yang kedua, karena ini juga perintah agama. Kalau orang Muslim kan ada perintahnya langsung di Quran untuk menyusui anak sampai usia 2 tahun 😄

Saya yakin semua orang tua, semua ibu, pasti mengupayakan yang terbaik untuk anaknya. Pun demikian tentang ASI. Saya paham ada beberapa kondisi Ibu yang tidak memungkinkan untuk memberikan atau melanjutkan pemberian ASI eksklusif, 1 tahun, maupun 2 tahun. Selama ada indikasi yang valid dan tidak mengancam keselamatan bayi, ya fine-fine saja. Jangan saling judge antara Ibu menyusui dan yang sudah tidak lagi menyusui. Kita harus saling support, moms 😇 Kalau ketemu yang tetap julid silakan lawan dengan data. Seperti kutipan dari dokter Apin:

Kita semua sudah paham dan sepakat pentingnya ASI, dan kita pun paham bahwa tiap ibu dan bayinya adalah unik. Tidak ada yang sama antara satu dengan lainnya. Tapi satu hal yang pasti disepakati semua adalah: SEMUA ibu pasti menginginkan dan BERUSAHA yang terbaik bagi bayinya. Dan satu hal yang SAMA berlaku bagi semua bayi adalah: mereka akan tumbuh baik apabila diberi NUTRISI yang tepat. Being fed properly. Appropriately. Jadi, “stop judging others!” 

Akhir kata, selamat mengasihi untuk semua ibu-ibu! Semangat menyusui dengan keras kepala! 😄



View this post on Instagram

A post shared by Dyah Prawesti (@dokterpitha) on

4 comments :

  1. Aku sudah sapih anakku dari 3 bulan yang lalu. Sekarang jadi kangen menyusui :)) Asiku termasuk yang sedikit, tapi entah kenapa anakku termasuk gendut. Mungkin asinya banyak lemak hehe. Aku juga nggak pernah foto stok asip di kulkas karena memang asiku sedikit dan gak bisa nyetok (padahal udah menyusui dan pumping sesering mungkin). Udah kenyang dibilang “kurang berusaha” dll. Tapi asi itu rezeki, setiap orang rezekinya beda-beda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nabhan roti sobekku~ :3

      Tetap semangat Di, as I said, setiap ibu tahu yang terbaik untuk anaknya. Yang penting tumbuh sehat dan gizi terpenuhi. Hempaskan aja orang-orang julid yang cuma bawa dampak buruk tapi nggak tau apa-apa! Hush hush~

      Delete
  2. Selamat meng-ASI-hi kaka ^^ semangat pumping nya ya 💪

    ReplyDelete